
Setelah membersihkan diri, Khaira sedang berbaring telungkup di atas kasur dan juga menyangga dagunya dengan kedua tangan. Begitu juga yang dilakukan Mita.
Keduanya sama-sama melihat lembaran uang merah dalam jumlah satu juta lima ratus ribu rupiah.
Lamanya Mita menatap uang yang dibilang Khaira pemberian Kevin membuatnya ikut-ikutan limbung. Ia lantas beralih duduk menyila, “Hahh gue ikut-ikutan bingung, Ra!”
Khaira pun ikut terduduk menyila menatap Mita dan sepintas melirik uang yang ada di atas kasur. “Kamu aja bingung apalagi aku?” dihelannya nafas panjang. “menurut kamu uang ini termasuk sogokan nggak sih? Aku takut, kalau aku keseringan di kasih uang sama Mas Kevin nanti malah dia minta balas budi?”
“Iya, aku juga bingung kenapa selalu Budi yang harus membalas, padahal kan kamu yang nerima uang, bukan si Budi, mestinya balas Khaira, gitu yah?” Mita kembali menyangga dagunya. Diliriknya Khaira yang masih meratapi uang di atas kasur.
Khaira mendengus kesal, “Ih Mita! Orang lagi serius, kamu malah bercanda!”
“Iya-iya,” jawab Mita singkat, “tapi kenapa kamu berpikiran buruk kalau uang ini merupakan uang sogokan supaya kamu mau tidur bareng sama dia, siapa tau si Kevin emang ikhlas ngasih lo duit ini buat belanja kebutuhan rumah,” uraian Mita mencoba untuk membuat Khaira menerima uang yang diberikan Kevin.
Khaira manggut-manggut, “Aku juga nggak begitu berpikiran buruk juga Mit, tapi aku takut aja kalau dia minta yang aneh-aneh,”
Mita mengalihkan atensinya dari menatap lembaran uang kini menatap Khaira, “Maksud lo aneh gimana?”
“Hah susah dijelasin,” Khaira kembali tidur terlentang di kasur busa, menatap plafond putih kos-kosan kamar Mita.
“Lo udah jatuh cinta belum sama Kevin? Secara kan dia ganteng, gue yakin siapapun wanitanya bakalan klepek-klepek kalau dilihat sama dia?” tanya Mita penasaran mencoba mengorek hati sepupunya. Ia pun ikut berbaring terlentang di samping Khaira.
“Aneh-aneh aja si kamu Mit, mana ada ya aku jatuh cinta secepat kilat kayak petir menyambar. Baru juga satu mingguan aku kenal Mas Kevin, jangan-jangan kamu yang jatuh cinta sama Mas Kevin?” dengan suara mengantuk Khaira malah berbalik bertanya pada Mita, siapa tahu sepupunya itulah yang telah jatuh cinta pada suami dadakannya.
“Ngaco lo Ra! Gue kagak gampang jatuh cinta, gue udah punya seseorang di hati gue. Dan lagian kalau pun si Kevin suami beneran ataupun suami dadakan lo, mana mungkin gue rebut dari sepupu gue sendiri!” Mita menjawab Khaira dengan suara menggebu-gebu.
Khaira berbaring miring ke sebelah kanan, karena itu Sunnah Rasulullah, “Terus siapa cowok yang jadi tambatan hati kamu, apa itu Bos Rezki?”
“Itu lebih ngaco lagi, mana mungkin gue jatuh cinta sama Bos duda dua kali itu, bukan hanya statusnya yang duda nikah dua kali, si Rezki juga duda playboy!” jawab Mita, ia menyenggol lengan Khaira, “menurut lo jatuh cinta itu apa sih Ra?” tanya Mita, merasa tidak adanya sahutan dari Khaira, Mita beralih duduk dan melihat sepupunya itu sudah tertidur pulas.
Mita memandangi sepupu satu-satunya, ia kasihan melihat Khaira yang harus menjalani hidup dengan susah payah. Di tinggalkan Ibunya saat usia Khaira masih sangat kecil, tidak bisa melanjutkan pendidikan dikarenakan terhambat masalah ekonomi, dan kini ia terjerat ke dalam pernikahan dadakan.
Niat Khaira untuk melarikan diri dari Paman Bonar, nyatanya tak semulus yang diharapkan. Mita geleng-geleng kepalanya ringan, “Kasihan banget sih hidup yang harus lo jalani Ra, semoga lo bertemu jodoh yang bisa membahagiakan lo.”
Notifikasi pesan masuk, membuat layar ponsel Khaira yang sudah retak menyala. Mita melihat siapa nama pengirim pesan yang tertera di layar monitor ponsel, (Tuan arogan)
Keningnya mengerut melihat nama yang tertera dilayar ponsel Khaira, Mita melihat Khaira dan kembali melihat ponsel sepupunya yang tergeletak di lantai, ia lantas mengambilnya.
Mita merasa nama si tuan arogan adalah Kevin.
__ADS_1
“Maaf ya Ra, gue buka pesannya. Bukannya gue kepo sama isi hape lo, tapi gue sayang banget ama lo, gue cuma pengen ngirim pesan ke si Kevin, supaya Kevin memperlakukan lo dengan baik.”gumamnya lirih melihat Khaira yang terlelap.
Mita pun mengirim balasan untuk Kevin. Setelah mengirimkan balasan yang menurut versinya sendiri, Mita menaruh kembali ponsel Khaira yang sedang mengisi daya di lantai.
Ia beralih melihat uang yang masih berada di atas kasurnya, Mita membereskannya lantas menaruh uang-uang berwarna merah di dalam tas selempang Khaira.
“Meskipun hidup gue nggak sekaya anak konglomerat. Tapi jujur, gue sangat beruntung memiliki keluarga yang utuh serta harmonis, meskipun kerap kali pertengkaran kecil pasti ada di antara Ayah sama Ibu. Gue lebih beruntung dari lo Ra, dan gue salut sama lo. Lo mampu menjalani hidup lo tanpa pernah mengeluh.” ucap Mita mengamati Khaira yang tidur sangat pulas tanpa memakai hijab.
~~
02:45
Hampir semua tamu diskotik pun meninggalkan tempat hiburan ini, permainan musik DJ telah selesai lima belas menit yang lalu. Kini Kevin masih berdiri di depan meja DJ, ia hanya terdiam dan merunduk lusuh.
Sepanjang memutar musik DJ nya, Kevin terus saja terbayang-bayang tentang Khaira. Ada rasa bersalah karena tidak bisa menjemput gadis itu, di tambah lagi setelah membaca pesan yang di balas oleh Mita.
Ia merasa bersalah pada Khaira sangat-sangat merasa bersalah sudah menyebabkan kekacauan ini terjadi.
Tidak juga mengartikannya sebagai penyesalan telah menikahi gadis itu, karena Kevin berspekulasi bahwasanya Khaira adalah gadis yang baik. Akan tetapi, entah jika sudah lama mengenal Khiara, akankah masih terus baik atau justru keluar kegilaan dari gadis itu.
Maksud dari kata kegilaan, biasanya. Saat baru pertama kali kenal, masih terlihat batas wajar dan kalem. Tapi jika sudah lama mengenal seseorang biasanya barulah terungkap, seseorang itu termasuk orang yang humoris, pemarah, atau kebiasaan-kebiasaan yang terkadang unik bin ajaib.
Padahal Kevin sudah berusaha mencari informasi yang sekiranya dapat membuktikan bahwa ia telah dijebak. Tapi mengapa belum ada informasi mengenai apa pun yang membuatnya sampai ke kampung Rawa Dengklok? Dan siapa yang sudah menjebaknya?
Lapor polisi pun percuma, mana mungkin polisi akan menindaklanjuti laporan yang tidak jelas asal-usulnya.
“Masih kayak mimpi!” gumam Kevin. Ia teringat sesuatu, “kenapa baru kepikiran?”Kevin segera berlari menuju luar diskotek.
Kevin memandangi CCTV di tiang-tiang yang langsung mengarah di area diskotek. Apakah dengan tayangan CCTV itu bisa menjawab bahwa memang ia telah di jebak. Dan kenapa harus di kampung Rawa Dengklok?
“Vin!” seru seseorang memanggil Kevin.
Kevin menolehkan kepalanya ke samping, tepat dimana Brian berdiri berjarak dua meter darinya. Tidak menjawab, Kevin kembali fokus melihat CCTV.
Brian pun mendekati Kevin, ia melihat kemana arah pandang Kevin, “Kenapa sama CCTV itu? Apa ada yang salah?” tanya Brian penasaran dengan apa yang diamati Kevin, “Oh iya gue denger-denger lo kemarin sempet ngilang, lo kemana? Kata Stefan motor lo di tinggal pula?”
“Iya gue ngilang, dan gue terdampar!” jawab Kevin sekenanya.
Brian menyepelekan ucapan Kevin, “Halah palingan lo terdampar di pulau kapuk bersama Sonia, si parasit itu. Iyakan?”
__ADS_1
Kevin dleming, ia enggan menjawab celotehan teman masa kecilnya itu, ia lantas berlalu begitu saja dari hadapan Brian lalu menuju tempat pos satpam sekitar.
“Lah tu bocah di tanya malah ngeluyur, gue di tinggal sendirian!” Brian pun menyusul Kevin.
Sesampainya di pos satpam, Kevin segera meminta tolong kepada seorang satpam muda yang sedang berjaga.
“Bro bisa minta tolong nggak, tolong di cek rekaman cctv satu minggu yang lalu, tepatnya pada malam Sabtu lalu,”ujar Kevin meminta kepada petugas keamanan bernama Rudi Budianto.
“Maaf gue kagak ada waktu!” jawab Rudi berlagak sibuk.
Merasa satpam itu nyolot membuat Kevin geram, ia mencengkram kerah putih kemeja si satpam, “Hey Bro, gue udah minta tolong baik-baik, kenapa lo jawabnya nyolot!”
Rudi berdiri, membusungkan dada, “Gue kan tadi udah bilang gue kagak ada waktu, kenapa lo maksa!”
Kevin melotot, ingin rasanya membogem wajah pas-pasan itu, “Lo tuh!” umpatan Kevin mengambang kala Brian menahan tangannya yang akan melayangkan tinju pada satpam.
“Vin udah Vin!” Brian menarik paksa Kevin, agar tidak terjadi perkelahian.
“Udah sana pergi! Gue sibuk!” Rudi mengusir Kevin dari ruangan pos.
Terpaksalah Kevin keluar dari ruang pos satpam, membersamai perasaan marah dan geram pada satpam blagu itu!
“Lepasin!” seru Kevin menghempaskan tangan Brian yang sejak tadi menariknya dari pos satpam.
Brian heran melihat Kevin yang terlihat sangat emosional dan berkeinginan melihat rekaman video cctv, “Lo kenapa si Vin? Apa yang sedang lo cari?”
~
Sementara itu, Rudi si satpam yang menjaga pos. Ia menghubungi seseorang, “Sudah beres Non! Kevin nggak bakalan lagi tau isi cctv minggu lalu.”
~
Sementara itu, diseberang jalan ada seorang wanita muda sedang berada di dalam mobil mewah sedang mengintai area diskotek Valencia. Lebih tepatnya, mengintai Kevin yang baru saja keluar dari pos satpam.
Ia meletakkan ponselnya di jok samping kemudi setelah menghubungi satpam yang bertugas di sana.
"Apapun akan gue lakuin supaya lo jatuh ke dalam pelukan gue, Vin."
__ADS_1
Bersambung