Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Ibu


__ADS_3

Setelah merasa hari sudah mulai senja, Kevin dan Khaira memutuskan untuk pulang.


Khaira memeluk pinggang Kevin, bukan karena takut jatuh, akan tetapi sejak ia memberitahukan Kevin tentang kehamilannya, Kevin menjadi suami overprotektif.


"Kemesraan ini janganlah cepat berlalu." Kevin bersenandung kecil.


Dan di sambung oleh Khaira. "Kemesraan ini, ingin ku kenang selalu. Hati ku damai, jiwaku tentram di samping mu, hatiku damai, cintaku tentram bersamamu."


Saat menikmati semilirnya angin dan panorama senja, dengan mengendarai motor berkecepatan lambat. Ada yang membuat Kevin merasa ganjal. Kala maniknya melihat dari kaca spion. Mobil kijang melaju dengan kecepatan tinggi dan seperti sengaja akan menabraknya dari belakang, Kevin segera tanggap dengan melakukan pengereman mendadak sampai ban motornya ngeslit.


Khaira tercengang dengan aksi heroik yang dilakukan Kevin, sampai membuatnya hampir jantungan. "Ada apa Mas?"


Khaira mengikuti arah pandang Kevin yang sedang memperhatikan laju mobil berkecepatan tinggi serta dikendarai dengan ugal-ugalan. Siapa yang bisa menyangka, mobil jenis kijang itu hilang kendali dan menabrak sebuah pohon besar yang ada disisi kiri jalan.


BRAK!!!


Seketika mobil kijang ringsek di bagian depan, dan mengeluarkan asap tebal serta percikan api kemudian membakar mobil hingga tak terlihat siapa yang mengendarainya. Namun, mata Khaira begitu jeli melihat plat nomor mobil yang tertera.


"Paman!" gumamnya terkejut, ternyata sang pengendara mobil ugal-ugalan adalah Paman Bonar.


Kevin dan juga Khaira masih terdiam mematung, seperti ada paku besar yang menancap di tempatnya berdiri disisi kanan jalan pedesaan. Mereka melihat si jago merah melahap keseluruhan body mobil.


Semua orang yang melihat kecelakaan tidak berani mendekat ke arah mobil kijang yang terbakar.


Tak lama polisi dan juga pemadam kebakaran yang sudah dihubungi mulai memadamkan api dan polisi yang menggelar kejadian perkara. Memintai keterangan saksi yang melihatnya. Mau tidak mau Kevin memberikan keterangan, pada pihak kepolisian.


"Apakah saudara mengenal korban yang meninggal?" tanya pihak kepolisian.


"Beliau Paman dari istri saya." jawab Kevin, lalu memberikan keterangan mengenai kronologi kecelakaan secara jelas dan gamblang.


~~


Setelah semalaman melaksanakan tahlilan yasinan. Kini jazad Bonar telah dimakamkan.


Gundukan tanah masih basah, aroma bunga semerbak harum di atas gundukan tanah yang mengubur jazad seseorang yang tak lagi bernyawa. Meninggalkan alam jagad raya. Abah, Kevin, dan warga yang lain ikut mengantar Bonar ketempat peristirahatan yang terakhir.


Suasana berkabung di rumah yang cukup besar di deretan bangunan rumah warga, seorang wanita paruh baya menangis tapi tidak bersuara, dan ditemani oleh anak laki-lakinya.


"Bulek." ucap Khaira, memanggil istri paman Bonar.


"Ningrum." suara parau istri Bonar terdengar lirih memanggil keponakannya.


"Sabar Bulek, istighfar." ucap Khaira pada wanita yang sudah mulai terlihat uban di bagian rambutnya. Pandangan berikutnya tertuju pada seorang wanita yang seperti tidak asing dalam pikirannya.


Sama-sama terjebak dalam pusaran waktu yang membelenggu. Wanita yang memakai kerudung hitam tidak berani menyapa gadis yang tidak jauh darinya berada. Hingga suara seseorang membuyarkan tatapannya,


"Ning." panggil Abah, seketika tatapan Khaira dan Wanita yang terlihat sudah menua menatap Abah di ambang pintu rumah Paman Bonar.


Kini pandangan Abah beralih menatap wanita yang sudah lima belas tahun meninggalkannya juga putrinya. Tertegun, ada rasa mengganjal yang menyeruak dari relung hatinya. "Purwasih?" gumam Abah tercengang melihat wanita yang dinikahinya 23 tahun silam.


~

__ADS_1


Di rumah Abah.


Dingin, kaku dan senyap. Itulah gambaran ruang tamu saat ini. Abah dan Purwasih tidak menatap satu sama lain, pandangannya kosong menatap lurus kedalam lukisan.


"Untuk apa kamu datang?" sinis Abah, pada untaian pertanyaannya.


"Maaf..." hanya itu kalimat yang mampu diucapkannya, wanita paruh baya dengan hijab hitam ini menunduk tidak berani menatap seorang pria yang ia tinggalkan.


"Masih ingatkah kamu dengan anakmu?" Abah bertanya dengan suara datar.


"Sungguh, selama lima belas tahun aku meninggalkan kalian, aku sangat merasa bersalah dan menyesal." ungkap Purwasih bersuara parau, gejolak sedih hatinya tak terbendung lagi.


Abah mengedarkan pandangannya menatap pintu rumah. Mendengar kata menyesal yang diucapkan Purwasih membuat Abah tertawa kecil, tentu bukan tawa bahagia melainkan tawa kesedihan yang teramat sangat mendalam.


"Setelah lima belas tahun, kamu baru bilang menyesal sekarang?" kata Abah sinis, kelopak matanya sudah mulai mengumpulkan genangan air mata.


Purwasih tertunduk lusuh, rasa bersalah dan menyesal memang tidak bisa mengembalikan suasana hangat seperti dulu lagi. Ia pergi dengan keegoisannya sendiri. Purwasih memaklumi jika Khaira dan Ahmad tidak lagi menerima keberadaannya.


Sementara Khaira yang ditemani Kevin sedang berada di kamarnya. Duduk ditepian ranjang yang terbuat dari kayu jati. Khaira tidak percaya selama hampir enam belas tahun meninggalkannya juga Abah. Kini wanita yang telah melahirkannya kembali pada saat yang bersamaan Paman Bonar meninggal.


Masih dengan perasaan gamang, membuka kembali goresan luka yang menganga. Remasan tangan di ujung pakaian hitam yang dikenakan semakin membuatnya lusuh berantakan. Tidak menangis tidak pula berkata, Khaira diam seribu bahasa.


Kevin tak banyak bicara, ia terus mendekap istrinya yang tidak menangis juga tak bersuara.


Melihat tangan istrinya yang gemetar, sambil meremas ujung pakaian yang dikenakan. Membuat Kevin mengerti bahwa saat ini Khaira tengah merasakan dilema merana seperti dirinya saat bertemu dengan Papa Basuki. Kevin menggenggam tangan istrinya yang gemetar, tangan kirinya mengangkat dagu dan melihat dari sorot manik mata hitam Khaira yang seperti busur panah. Kini, Kevin melihat ada yang mengambang dimata Khaira lalu pelan-pelan menetes di pipi.


Khaira tidak lagi menahan gejolak, menjadi sebuah rasa yang sesak, kian membuncah menjadi tangisan yang terisak.


"Aku sudah nggak lagi membayangkan ada sosoknya dalam hidupku. Dari kecil, yang ku tahu aku hanya mempunyai Abah. Kini, setelah semua susah payah yang kami lalui, mendadak ada orang yang disebut Ibu? Apakah aku bermimpi. Apakah sama halnya seperti yang dirasakan Mas Kevin saat bertemu dengan Papa Basuki?" lirih Khaira berucap. Linangan air mata membasahi pipinya.


Kevin mengusap air mata di pipi istrinya.


"Dulu, aku selalu membayangkan bagaimana rasanya menyebut kata Ibu. Aku merindukan itu. Hingga waktu membekukan hatiku. Aku tak lagi berharap apa pun tentang sosok Ibu. Ada Abah di sampingku sudah cukup." begitu lirih yang diucapkan Khaira, hingga membuatnya terlihat sangat lemah.


Kevin kembali memeluk Khaira, dan mengusap punggung istrinya. "Kamu harus bisa melapangkan hatimu sayang, dan hari ini hari keberuntungan mu bisa bertemu dengannya."


Khaira kembali mengingat ucapannya yang pernah dikatakan saat menghibur Kevin. Khaira memeluk suaminya sangat erat, lalu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


Kevin melihat Abah berdiri di ambang pintu kamar.


Netra Abah melihat putrinya yang menangis dalam diam. Membuat hatinya terasa seperti teiris.


"Ning, temuilah Ibumu." ujar Abah, yang melihat Khaira menunduk dalam dekapan Kevin.


Khaira perlahan mengangkat pandangannya, dan menangkap raut wajah Abah, ada guratan kesedihan yang terukir di wajah keriput Abah. Atas permintaan Abah, Khaira mencoba menyusun kepingan-kepingan masa lalu yang kelam.


Duduk berhadapan, membuat jantung Khaira berdebar dan tangannya berkeringat. Pada awalnya, wanita yang telah melahirkannya nampak gugup dalam bicaranya. Namun, semakin lama, cerita mengalir, seperti air yang menyirami isi didalam dada Khaira hingga membuatnya semakin merasakan sesak.


"Maaf kalau dulu Ibu terpaksa pergi, percayalah Nak, tak ada niatan Ibu meninggalkan mu."


Wanita paruh baya itu menceritakan kisahnya. Mulai dari pertama keluar rumah dan meninggalkan suami serta putri semata wayangnya. Hidup yang begitu sulit ia lalui di negara orang, hingga harus menikahi Pria di sana untuk mendapatkan perlindungan agar tidak terjebak dalam kasus deportasi. Purwasih menceritakannya dengan perasaan sedih, menatap putrinya yang sudah menjadi gadis dewasa yang sudah menikah.

__ADS_1


"Memalukan." Purwasih memaki dirinya sendiri. "dan, iya inilah alasannya kenapa Ibu tidak menemui mu. Ibu merasa malu dan tidak pantas. Ibu bukan orang tua yang baik untukmu. Apalagi saat Ibu pernah mengabari Abahmu, dan Abahmu sudah mewanti-wanti, kalau Ibu tidak boleh menemui apalagi membawamu bersama Ibu."


Belum ada satu katapun yang Khaira ucapkan. Khaira menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya.


"Ibu bersyukur, kamu dibesarkan Abahmu hingga jadi anak yang baik. Itulah alasan Ibu tidak lagi kesini, Abahmu sangat baik dan Ibu sebagai istri telah mengecewakannya.” jelasnya lembut.


Abah terdiam duduk tak jauh dari Khaira dan wanita yang sebenarnya masih berstatuskan istri, tapi Abah tidak secuil pun berpikir untuk kembali merajut hubungan yang jaraknya seperti lautan membentang, sudah cukup Purwasih menorehkan luka. Duduk bersama dengan Kevin, kedua Pria ini sibuk dalam lamunannya masing-masing.


"Ibu minta maaf kalau Ibu menikah lagi." Purwasih bicara lagi.


Mendengar pengakuan Ibu yang telah meninggalkannya. Membuat Khaira seperti dipaku pada kursi kayu, merasakan perasaan ganjil yang memenuhi hatinya. "Jadi wanita ini datang hanya ingin mengatakan kalau dia punya suami lagi? Setelah selama ini meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Ibu?"


Dalam diamnya Khaira menunduk, ia bukan hanya memikirkan rasa kecewanya. Akan tetapi juga memikirkan perasaan Abah yang telah dikhianati selama ini oleh wanita yang sangat Abah cintai.


"Sekarang, setelah suami Ibu meninggal satu tahun yang lalu, Ibu berniat kembali ke Desa dan tinggal tak jauh dari rumah Bulek. Jadi kalau kamu berniat untuk tinggal dengan Ibu, Ibu akan senang sekali. Tapi, Ibu tak memaksa seandainya kamu menolak. Ibu juga sudah mendengar kalau kamu sudah menikah di Kota." dalam dilematis, Purwasih masih berharap agar putrinya mau membuka pintu maaf untuk dirinya. Yang kini tinggal di rumah yang ia beli tak jauh dari rumah Adiknya.


"Ibu benar-benar minta maaf." kalimat yang sama itu entah untuk berapa kali terucap dari bibir Purwasih yang sungguh-sungguh ia ucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Tiba-tiba ada senyap diantara Ibu dan anak yang sudah lama tidak berjumpa.


Masih diam sangat lama dalam kecanggungan. Hingga akhirnya Khaira mendapati suaranya sendiri yang mengambang di udara.


"Ya." pandangannya mulai mengabur. "Khaira maafkan... Ibu." Khaira menangkap gerakan Abah yang menoleh kearahnya. Air mata mengalir di pipi, lalu jatuh ke punggung tangan di pangkuannya.


"Apa yang ku ucapkan tadi? Beginikah rasanya menyebut kata Ibu?" batinnya bergejolak.


Dan, Khaira merasakan sesuatu yang semula mengganjal di tenggorokannya pelan-pelan terangkat, semakin lama semakin ringan.


Purwasih sangat senang setelah sekian lamanya, ia kembali mendengar suara putri kecilnya. Lalu beranjak dan menghampiri serta memeluk Khaira.


Dalam pelukan sang Ibu, Khaira tidak membalasnya. Hanya ada air mata dan isak tangis.


~~


Bermenit-menit setelah wanita yang Khaira panggil Ibu pergi. Khaira masih duduk di teras, menatap dedaunan dari pohon mangga dengan semburat kuning mulai berserakan dihalaman rumah. Meskipun ia sudah memaafkannya, tapi Khaira tahu pilihannya. Untuk tidak menyakiti perasaan Ibu yang sudah melahirkannya.


Khaira merasa baru saja terbangun dari mimpi panjang yang bermacam-macam. Ia merasa butuh waktu untuk merunutnya kembali, satu persatu. Menikah dengan Kevin, kehamilan, Paman Bonar meninggal, dan Ibunya yang telah lama pergi kini telah kembali.


Kevin memeluk istrinya dari belakang, dan berbisik di telinga Khaira. "Ada aku yang akan selalu ada untukmu My Delf, ikhlas kan segala lara. Dan rasakan cinta kita adalah cinta yang terbaik karena engkau telah membuat imanku meningkat."


...~~...


...SEKIAN...


...dan...


...TERIMAKASIH...


Saya ucapkan banyak-banyak Terimakasih sudah sangat menyemangati saya sampai sejauh ini. Saya berpikir, untuk rehat sejenak seraya memikirkan konsep menggabungkan cerita anak Kevin dan Khaira dalam cerita season 2.


Terimakasih sedulur semuanya atas jejak dan partisipasinya.. Saya tahu dan sadar diri, jika karya saya masih banyak kekurangan. Maka sebab itulah, saya mohon maaf, apabila ada ucapan atau penyampaian yang tidak berkesan dan bertele-tele.

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan...


__ADS_2