
Istirahat siang pun digunakan Khaira untuk makan namun tidak sholat dikarenakan masih datang bulan. Pasca makan ia menelpon Abah meskipun hanya sekedar bertukar kabar dan menanyakan kesehatan Abah yang sedang menurun.
Khaira beringsut duduk dan bersandar pada tiang besi di taman belakang restauran. Menerawangkan pandangannya menatap dedaunan yang ditanam dalam media pot.
Ia sangat sedih mendengar kabar kesehatan Abah menurun, kendati Abah mengatakan baik-baik saja dan telah meminum obat. Namun tetap saja rasa khawatir menyeruak menusuki relung hatinya.
Entah ke berapa kalinya ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sangat dipahami olehnya, jika Abah sering didera rasa sakit kepala semenjak empat tahun belakangan ini. Pada awalnya Abah hanya mengonsumsi obat yang dibeli dari warung semacam Bodrex dan Oskadon.
Namun obat tersebut hanya sesaat meredakan rasa nyeri. Dan rasa sakitnya kambuh lagi. Khaira mengerti Abah anti dengan yang namanya periksa kesehatan ke petugas medis.
Karenanya merasa kasihan melihat Abah kesakitan. Khaira gemas dan sudah seringkali ia memaksa agar Abah memeriksakan kesehatan diri ke dokter. Dan barulah ketahuan, jika Abah terkena gejala vertigo.
Dari situlah salah satunya, untuk Khaira sangat keberatan ketika Abah menyuruhnya pergi guna menghindari Paman Bonar.
Mita baru saja selesai makan, ia menghampiri sepupunya. “Ra!”
Khaira menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Mita berjalan kearahnya.
“Lo kenapa? Roman-romannya wajah lo ini lagi menggambarkan suasana hati lo yang gundah gulana?” tanya Mita, setelahnya ia duduk di sebelah Khaira, dilihatnya wajah sepupunya itu nampak murung.
Khaira kembali melihat dedaunan yang meliuk-liuk tertiup angin yang dirasa gersang karena pencemaran udara, “Abah sakit Mit,”
“Terus gimana sama Paman, apa sudah membaik?”Mita melihat Khaira menggeleng.
__ADS_1
“Kata Abah sudah mendingan, tapi aku masih khawatir,” jawab Khaira tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
Mita menepuk pundak sepupunya, “Sabar Ra, gue yakin Paman akan segera sembuh dan semoga kembali sehat,”
Khaira manggut-manggut, “Amin.”
“Terus gimana kepindahan lo dari rumah Kevin, jadi? Orang yang sebelumnya tinggal di kontrakan yang mau lo sewa sudah pulang kampung,” kata Mita menginformasikan tempat Khaira akan menyewa kontrakan.
“Sesegera, aku akan pindah dari rumah Mas Kevin. Besok juga bisa,” jawab Khaira.
“Nggak perlu tergesa-gesa, lo masih punya waktu tiga hari lagi dan lo nggak mau meninjau kontrakannya dulu Ra?”kata Mita memberikan saran.
Khaira menggeleng pelan, “Nggak usah, kan waktu itu udah pernah lihat sama kamu. Jadi aku rasa nggak perlu ninjau lagi,”
“Tapi kan lo baru lihat sekali dan dari luar? Yah lo lihat aja sekali lagi siapa tau mau memastikan kenyamanannya di dalam kamar?” tanya Mita sekali lagi.
“Kenapa sih lo nggak tinggal aja di rumah Kevin, kan di sana lo nggak perlu bayar kontrakan, apa karena Kevin menakut-nakuti lo?”
Terlintas ingatan saat Kevin memasuki kamar apartemen. Meskipun tidak ingin berpikiran buruk dan ingin bertanya perihal apa yang dilihatnya kepada Kevin. Akan tetapi Khaira mengurungkan niatnya untuk bertanya, ia takut akan menyerempet tentang hal pribadi Kevin.
“Mita, kan aku pernah jelasin sama kamu, kalau aku emang mau mandiri. Lagian aku ngerasa nggak enak hati numpang hidup terus di rumah Mas Kevin. Aku berasa jadi beban buat dia,”
Mita memukul lengan Khaira, “Lha gimana lo kata beban, pan dia suami lo?!”
“Memang iya dia suamiku, tapi aku merasa, aku hanya beban buat dia. Apalagi kalau sampai beban yang membuat jodoh Mas Kevin menjauh,”
__ADS_1
“Gimana kalau ternyata jodohnya Kevin itu elo?” tanya Mita spontanitas.
Khaira dleming, ia menyangsikan ucapan Mita. Ia mengangkat pundaknya tak acuh, “Hemm... entahlah. Jodoh itu rahasia Allah.”
“Lha itu, lo bilang sendiri kalau jodoh itu rahasia Allah. Lo juga sering dinasehati Paman, jika rezeki, jodoh dan maut itu rahasia Allah, kenapa lo putus asa?” Mita masih ingin Khaira menjelaskan yang sesungguhnya, ia merasa ada suatu hal yang Khaira tutup-tutupi.
Khaira terdiam, ia menghela nafas panjang guna menetralkan perasaannya yang gamang dan bimbang.
Mita melihat Khaira yang diam saja, ia lantas menepuk punggung sepupunya, "Lo sebenarnya kenapa? Lo bimbang kan? Apa karena lo masih menyimpan rasa sama Asep? Makanya lo jadi begini?"
Khaira bersitatap dengan sorot mata Mita, namun ia masih diam saja. Mencerna setiap perkataan yang Mita katakan.
"Apa karena trauma tentang pernikahan?" Mita mengedarkan pandangannya menatap pot-pot tanaman hias, detik berikutnya ia menatap Khaira, "jangan jadikan itu alasan buat lo membentengi diri buat nggak menerima cinta dari yang sudah di takdir kan. Kalau lo terus menerus mempertanyakan mengapa dan bagaimana Bulek Purwasih sampai pergi dari rumah, sampai kapan pun lo nggak bakal menemukan jawabannya. Kalau bukan Bulek sendiri yang mengatakan apa sebab musabab dia ninggalin lo dan Paman, pasti ada alasannya Ra,"
Khaira mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan taman belakang restauran, "Apapun alasannya, paling enggak tulislah pesan atau surat, agar aku nggak berharap. Lima belas tahun Mita, lima belas tahun, wanita itu mengabaikanku. Salah, kalau aku bertanya-tanya? Salah kalau aku takut menikah dan pasangan ku nantinya meninggalkan ku jika aku lagi sayang-sayangnya, kamu tahu Mita. Selama ini aku melihat hidup Abah seperti sebuah tong kosong, hanya raganya yang ku lihat, tapi hatinya kosong, Mita,"
"Tapi tetap saja, lo nggak boleh menyamaratakan semua orang sama seperti Bulek Purwasih. Lo juga nggak boleh menyamaratakan hidup lo sama seperti Paman, lo harus mempunyai pendirian," kata Mita bersungut-sungut, dihirupnya nafas dalam-dalam dan menghembuskannya agak kasar.
Mita kembali berkata, tanpa memberikan Khaira kesempatan untuk bicara, "Mana Khaira yang gue kenal semangat membara, kuat dan optimis. Gue bahkan iri sama lo, karena gue nggak pernah dengar lo mengeluh. Dimana Khaira yang selalu menyemangati gue saat gue terpuruk? Lo tahu, meskipun kita saat remaja nggak sekolah sama-sama, nggak tumbuh besar bareng, tapi melalui telepon gue serasa deket banget sama lo, lo selalu mau mendengarkan keluh kesah gue Ra. Gue kangen ama lo yang selalu optimis!"
Ditatapnya Mita yang terus berbicara tanpa memberinya kesempatan untuk menyela, membuat Khaira mengurungkan niatnya untuk berbicara, ia menadahkan wajah, netranya merasa silau, ditatapnya hamparan langit dan awan yang berarak mengumpul seperti kapas.
Melihat Khaira diam membuat Mita menoyor kepala sepupunya, "Eh Ra! Gue udah ngomong panjang lebar. Jangan bilang lo kagak denger apa yang gue omongin?"
__ADS_1
Bersambung