Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Peluit keamanan.


__ADS_3

Melihat Khaira sedang berdiri di meja dapur, sedangkan tangan Khaira sedang mengupas bawang putih, membuat Kevin mempunyai rencana, Kevin sendiri sedang memegangi alat pencukur kumis.


"Ra!" panggil Kevin kepada istrinya.


Khaira menolehkan kepalanya melihat Kevin yang sedang berdiri di sekat masuk dapur, "Ada apa?"


Kevin melihat peluit yang Khaira kalungkan di leher, ia lantas menunjuk peluit seraya berkata, "Kenapa mesti kamu kalungkan peluit itu? Memangnya kamu mau jadi tukang parkir?"


Khaira melihat peluit di depan dadanya, tak menyangka keisengannya guna membeli peluit di pedagang asongan kemarin sore ada gunanya juga, "Baguskan peluitnya?"


Kevin mencebikkan bibirnya, "Dih bagus apaan, berisik iya. Nih kuping gue sakit sampai sekarang,"


"Ini namanya peluit keamanan diri," kata Khaira meringis, lalu melanjutkan aktivitasnya dalam mengupas bawang putih, untuk memasak menu paginya sebelum berangkat bekerja.


"Keamanan apanya?" balas Kevin, dilihatnya Khaira dengan seksama, dari ujung kaki sampai ujung kepala, gadis yang saat ini memakai celana kulot warna hitam dan kaos berlengan panjang waran biru tak ketinggalan hijab warna hitam.


"Ada-ada aja kelakuan bini gue, masa pakai peluit! Kek wasit." monolog Kevin membatin.


Kevin menyandarkan kepalanya melihat Khaira yang sedang sibuk mengupas bawang.


"Ra?" ucap Kevin memanggil Khaira.


Khaira menghela nafas panjang, detik berikutnya menoleh kearah Kevin. Ia menatap Kevin dengan tatapan malas, "Sebenarnya Mas Kevin ini maunya apa to? Tolong jangan gangguin aku dulu, aku mau masak habis itu mau berangkat kerja. Sana to le cah bagus tidur lagi aja sana, kan tuh mata juga kelihatannya ngantuk banget, sudah gih tidur lagi,"


Kevin memang merasakan kantuk, tapi kali ini ia tidak mau tertidur sama seperti biasanya, melewatkan kesempatan untuk mengantar Khaira bekerja. Tinggal menghitung hari lagi, Khaira pindah. Sangat disayangkan.


"Nih cukurin berewok gue?" kata Kevin seraya menunjukkan alat pencukur kumis kepada Khaira.


Dilihatnya alat pencukur kumis berwarna biru yang sedang dipegang Kevin, Khaira mengernyitkan dahinya heran, "Kan Mas Kevin biasanya cukur berewok sama kumis sendiri,"


"Kan biasanya," balas Kevin, ia mendekati dan diambilnya pisau dari tangan Khaira lantas meletakkan pisau di meja dapur, "Lo nggak inget, apa syarat yang gue ajukan kemarin sebelum lo pergi. Lo bebas mau pergi dari rumah ini kan? Tapi lo harus menuruti syarat gue, nggak sulit kok?" lanjutnya berkata, seraya menyerahkan alat pencukur kumis ke tangan Khaira.


Khaira mendengus gemas akan sikap Kevin si tukang pemaksa, "Dasar Kang maksa!" gerutunya geram.

__ADS_1


Tak ingin pikir panjang, Kevin menggenggam lengan istrinya agar mau mengikutinya untuk menuju ke depan kamar mandi. Lebih tepatnya di sebelah wastafel.


Mau tidak mau Khaira menurut bahkan mengikuti Kevin hingga sampai ke depan kamar mandi, dilihatnya Kevin yang menarik bangku plastik warna biru.


"Tapi kan Mas Kevin, aku mau masak untuk sarapan. Ini juga udah siang, kan aku mau berangkat kerja, kan kemarin aku udah izin buat pulang sore, malu lah Mas Kevin, masa hari ini aku telat masuk kerja. Lama-lama aku bisa dipecat sama Bos Rezki," rengek Khaira berjalan mengikuti Kevin yang membawanya menuju depan kamar mandi.


"Ya lo kan istri gue, gue berhak meminta tolong sama istri gue sendiri, kan kata ustadz membantu suami bisa dapet pahala," kata Kevin. Ia lantas duduk di bangku plastik.


"Mas Kevin denger ceramah itu pas masih SMA kan?" balas Khaira.


"Enggak, siapa bilang. Habis ngaterin kamu kerja kemarin aku lihat ceramah," jawab Kevin, membantah sangkaan Khaira.


Khaira terkejut mendengar jawaban Kevin, "Hah masa di mana majelis ta'lim mana Mas Kevin denger ceramah, terus tema dari dakwah nya apa?"


"Gue denger di YouTube, dan gue lupa apa tema'nya. Kalau kagak salah, tema'nya kagak jauh-jauh dari problematika rumah tangga,"


Khaira berdecih, "Cih, aku kira di majelis ta'lim. Tapi okelah, kan dengar cemarah dimana pun kita berada, masih bisa dapet pahala, walaupun setengah."


"Ya udah daripada kelamaan mending langsung cukur aja," balas Kevin, seraya mengambil jel untuk melumuri dagunya agar tidak menimbulkan iritasi.


"Nanti gue bantu," jawab Kevin tanpa melihat wajah Khaira, dikarenakan Kevin menatap lurus ke depan, pandangannya tertuju pada dada Khaira, ia mengulum senyumnya. Meskipun tertutupi baju dan hijab yang menutupi area gunung kembar, namun sudah membuatnya senang, "Anjir... hehe." selorohnya dalam hati.


Melihat Kevin tidak merespon ucapannya, membuat Khaira terus menatap Kevin. Ia baru menyadari, lalu mundur dua langkah seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lantas meniup peluitnya.


Priiiiittt Priiittt Priiiiittt!!!


Secara refleks Kevin menutup telinganya, dilihatnya Khaira yang sedang meniup peluit panjang, "Hey Ra, berisik tahu! Peringatan macam apa itu, masa pakai peluit?"


Khaira melepaskan peluit dari bibirnya, ia menatap Kevin tajam, "Habis Mas Kevin selalu bikin kesal!"


Kevin menggidik pundaknya seraya mengangkat kedua tangannya yang terbuka, "Lho kesal kenapa? Gue kan diam-diam bae,"


"Dih apaan? Mas Kevin diem tapi matanya liar! Jangan selalu berpikiran mesum Mas Kevin!" sergah Khaira geram.

__ADS_1


"Lha pelit amat, cuma lihat dikit doang tadi. Itupun masih tertutupi baju sama hijabmu," balas Kevin seraya menunjuk hijab yang Khaira kenakan.


"Kalau begitu terus, nih cukur sendiri!" ucap Khaira sembari menyodorkan alat pencukur kumis.


Kali ini tiada cara lain selain pasrah, Kevin tak ingin lebih memaksa Khaira, "Iya, iya nggak lagi," ujarnya melunak.


"Tutup mata!" pinta Khaira menunjuk singkat mata Kevin.


"Mana ada cukur berewok aku tutup mata?" enggan Kevin menuruti keinginan Khaira.


"Ada, cepetan tutup mata, kalau masih mau aku bantuin cukur kumis dan berewok," keukeuh Khaira bersikeras agar Kevin mau menutup mata.


Kevin menghela nafas kasar, "Baiklah-baiklah, aku tutup mata. Puas!"


"Puas sangat!" dilihatnya Kevin sudah menutup mata, Khaira kembali mendekati Kevin.


~~


Hasilnya lumayan bersih, meskipun tidak sebersih mencukur sendiri. Kevin melihat wajahnya sendiri di pantulan cermin, "Oke juga."


Khaira menatap Kevin malas, "Nih." ucapnya sambil memberikan pencukur kumis kepada pemiliknya.


"Makasih." balas Kevin tersenyum sumringah.


Khaira melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07:55 wib. "Alamak udah siang." ucapnya segera bergegas menuju dapur, namun panggilan Kevin menghentikan langkahnya yang baru berjalan tiga langkah.


"Nggak usah masak, kita makan bubur di luar," ujar Kevin melihat punggung Khaira.


Khaira segera saja memutar balikan tubuhnya menghadap Kevin yang masih duduk di bangku biru, "Bubur?" sejenak Khaira berpikir, "bagus juga idenya Mas. Kebetulan udah lama banget aku nggak makan bubur."


Kevin beranjak dari duduknya, ia mengangguk singkat, "Siap-siap sekalian gue anterin lo berangkat kerja," ia berjalan melewati Khaira, kemudian ia berbalik badan, "tapi lo yang traktir buburnya."


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2