Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sabar tak bertepi


__ADS_3

05:40


Penyesalan tidak akan berarti, tanpa adanya keinginan memperbaiki.


Kevin duduk di taman tak jauh dari kompleks rumahnya. Sesekali ia menunduk dan sesekali ia menadahkan wajahnya menatap luasnya langit biru berwarna tembaga melabur dengan semburat warna kuning keemasan.


Burung bebas terbang ke sana kemari, mengepakkan sayap kecilnya. Tanpa takut terhadap tekanan udara yang mengekang di atas sana.


Ia tidak sendirian duduk di taman kecil ini, Kevin melihat ada beberapa orang-orang yang sengaja keluar untuk olahraga atau hanya sekedar menikmati suasana pagi hari, sebelum beraktivitas pada pekerjaan.


Kevin menyandarkan punggungnya di sandaran bangku memanjang taman. Sesekali ia meremass rambutnya, menyesal pun percuma. Karena tidak berpikir panjang untuk kembali melakukan hal itu kepada Khaira, mungkin kah gadis itu membencinya kini?


Bukannya memperbaiki keadaan, ia justru semakin terjebak dan kini bahkan ia malu untuk pulang. Malu untuk bertemu dengan Khaira, malu sampai-sampai Kevin ingin menyembunyikan wajahnya ke dalam saku Hoodie nya.


Kevin menundukkan kepalanya. Mencoba mengembalikan keberanian untuk berhadapan dengan gadis itu, mengapa tak seberani saat ia berhadapan langsung dengan preman atau bekal bengis. Mengapa seolah wanita jauh lebih menakutkan ketika marah dan melebihi dari pada begal.


“Vin!” seorang Bapak-bapak berkaca mata membuyarkan lamunan Kevin.


Kevin segera menadahkan wajahnya dan melihat seorang pria paruh baya sedang berdiri dihadapannya dengan jarak satu meter. Pria paruh baya itu teman dari Papanya yang bekerja di kantor Kementerian agama, “Om Wisnu?”


Pria paruh baya bernama Wisnu tersenyum kepada anak dari teman lamanya yang sudah lama tidak berjumpa dengan orang tua Kevin. “Om boleh duduk di sini?” Pak Wisnu menunjuk bangku kosong di sebelah Kevin.


“Silahkan Om Wisnu,” Kevin sedikit menggeser ke sisi kiri.


Pria berusia 54 tahun ini lantas duduk di sebelah Kevin, “Bagaimana kabar mu Vin, Om rasa sudah sangat lama tidak bertemu denganmu,”


Kevin memaksakan untuk tersenyum, kendati hatinya enggan untuk melakukan itu, “Baik Om, Om Wisnu sendiri bagaimana, sehat Om?”


“Seperti yang kamu lihat sekarang ini Vin, jalan Om pun sudah di tambah satu kaki lagi,” Pak Wisnu menunjukkan tongkat kayu yang ia pegang.


Kevin manggut-manggut, ia sekilas melihat tongkat berwarna cokelat tua yang di tunjukkan teman lama papanya, “Apa sekarang Om Wisnu masih bekerja di kantor kementerian agama?”


Pak Wisnu tersenyum, ia mengedarkan pandangannya menatap pohon Cemara yang tidak jauh darinya, “Dua tahun lalu, darah tinggi saya sangat tinggi, dan menyebabkan saya terkena stroke, di situlah saya di uji, harus melepaskan tanggung jawab saya di kantor,”

__ADS_1


Kevin terkejut, entah sudah berapa lamanya setahun, dua tahun, atau bahkan setelah ia berduka atas kepergian almarhumah Mama dan Kirana ia menutup diri, dan tidak bertemu ataupun bertegur sapa dengan orang-orang yang dulu dekat dengan kedua orangtuanya.


“Lalu sekarang apa Om Wisnu sudah kembali sehat?”tanya Kevin menatap wajah yang sudah penuh keriput bukan hanya keriput, akan tetapi juga bibir bagian kiri Pak Wisnu nampak miring.


Pak Wisnu menepuk pundak Kevin, “Bagaimana apa kamu merasakan sakit? Jika kamu merasakan sakit berarti saya sudah kembali sehat,”


Kevin tidak ingin berpura-pura meringis seakan-akan merasa sakit mendapat tepukan dipundaknya dari tangan Pak Wisnu. Ia tidak ingin berdusta hanya untuk membahagiakan orang lain. Kevin menggeleng, dan mengembangkan senyumnya, “Sepertinya memang Om Wisnu harus banyak istirahat dan kemoterapi, mungkin dengan begitu Om Wisnu bisa segera pulih,”


Pak Wisnu sama sekali tidak tersinggung atas ucapan anak dari cepat lamanya. Kejujuran Kevin memang sudah mendarah daging dari saat ia mengenal keluarga Basuki 25 tahun silam.


“Kamu memang masih berpegang teguh pada kejujuran mu Vin, kamu tidak membahagiakan seseorang dengan dusta, mengapa kamu tidak mau bekerja di kantor KPK, saya yakin kejujuran kamu bisa menangkap para bandit korupsi di negeri ini,” ujar Pak Wisnu, sekiranya pekerjaan yang pas untuk orang jujur seperti Kevin.


Kevin menyunggingkan senyumnya, “Saya hanya merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu Om Wisnu, pekerjaan itu terlalu bersih untuk saya. Saya takut, malaikat nantinya tidak adanya pekerjaan yang bisa dilakukan untuk menulis kesalahan dan dosa orang-orang yang korup, karena sudah didahului saya,”


Pak Wisnu tertawa renyah, seolah tidak ada beban yang menyangkut penyakitnya kini, “Hahaha... kamu memang humoris seperti Basuki Papa mu, Kevin,”


Kevin ikut tertawa kecil, “Hahaha... saya senang telah membuat anda tertawa Om Wisnu,”


Pak Wisnu mengedarkan pandangannya menatap bunga-bunga di taman dan kembali menatap Kevin, “Bagaimana kabar Papa mu, Vin?”


“Apa masih di Singapura?” tanya Pak Wisnu.


Kevin mengangguk singkat.


Pak Wisnu menangkap kesedihan yang tersirat dari wajah Kevin yang enggan menatapnya. Mungkin saja setelah kepergian Lusiana dan Kirana, serta Andi yang sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri, juga Basuki yang memilih hidup di negara lain membuat Kevin merasakan kesepian.


“Kamu masih ingat Wanda?” tanya Pak Wisnu pada Kevin untuk mencairkan suasana sedih yang tiba-tiba saja seperti datang menghampiri percakapan antara dirinya dan anak muda yang duduk disebelahnya.


Kevin menatap Pak Wisnu, keningnya berkerut, “Wanda Silviana, si centil itu?”


Bukan hanya antara orang tua yang berteman, Kevin juga berteman dengan anak-anak Pak Wisnu, dan salah satunya anak bungsu Pak Wisnu yang lebih akrab ia panggil centil, karena pada saat dulu. Ia mengenal Wanda yang usianya lebih muda empat tahun darinya memanglah gadis kecil yang centil.


Pak Wisnu terkekeh, ternyata Kevin masih sama. Masih memanggil anak bungsunya seperti dulu, “Iya, Wanda sekarang bekerja sebagai Pramugari,”

__ADS_1


Kevin manggut-manggut, “Saya rasa memang Wanda cocok sebagai pramugari, karena dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan cara bicaranya pun luwes,”


Pak Wisnu melihat Kevin dari samping, ia mengamati pria muda ini, “Apa kamu ingin bertemu dengan Wanda? Dia akan pulang sekitar satu bulan lagi?”


Kevin langsung mengalihkan pandangannya dari menatap bunga-bunga di taman, kini beralih menatap Pak Wisnu, “Jika memang ada waktu dan diberi kesempatan untuk itu. Maka tidak adanya alasan bagi saya untuk sungkan bertemu teman lama saya Om,”


Pak Wisnu tersenyum simpul, “Wanda juga belum mempunyai pandangan terhadap pria manapun. Wanda cukup dekat dengan saya, maka Wanda pun bercerita, bahwa dia sedang menunggu untuk bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, karena Wanda menyimpan rasa,”


Kevin cukup terkejut, ada juga memendam rasa sedari kecil. Ternyata itu bukan hanya sekedar terjadi di dunia pernovelan, “Benarkah? Saya menunggu hari baiknya. Semoga Wanda dapat bertemu kembali dengan teman semasa kecilnya,”


Pak Wisnu tersenyum penuh arti, dan berdoa dalam hati. Semoga itu terjadi. “Bagaimana dengan kamu sendiri, Vin? Apa kamu sudah mempunyai rencana untuk menikahi siapa?”


Sejenak Kevin menunduk, ia kembali menatap bunga-bunga yang bermekaran di taman. “Saya hanya sedang berusaha memperbaiki keadaan, Om Wisnu,” ia sekilas melihat pria paruh baya yang sedang menatapnya, “dan saya berharap keadaan yang sedang saya alami tidak akan menjadi lebih rumit,”


Mata Pak Wisnu berkaca-kaca, ia beranggapan keadaan yang Kevin alami, adalah keadaan dimana pria muda itu melewati hidupnya yang memang sangat sulit. Ditinggal pergi oleh semua anggota keluarga, adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.


“Terkadang hati melihat apa yang tidak terlihat oleh mata, Kevin.” ucap Pak Wisnu.


Kevin menadahkan wajahnya menatap hamparan langit yang luas, cerahnya sang mentari nampaknya kini sudah mulai menghangatkan bumi yang diam membeku dalam dinginnya malam.


“Om Wisnu memang selalu bijak dalam memaknai hidup,” ia mengalihkan pandangannya, kini menatap pria paruh baya disampingnya, “Saya masih ingat kata-kata bijak Om Wisnu dulu. (Sabar tak bertepi, syukur tak berujung. Tak ada kebahagiaan yang datang terus menerus, demikian juga sebaliknya. Teruslah melangkah, jangan mundur. Sepahit apapun hidup, jika dengan iman. Hadapilah, Allah akan menolong mu). Kata-kata itu, Om Wisnu katakan pada saat saya sedang berduka atas musibah yang terjadi pada almarhumah Mama dan Kirana.”


Pak Wisnu tersenyum simpul, ia kembali menepuk bahu Kevin, “di balik pedihnya ujian, ada hikmah yang tertanam. Dibalik sesaknya menahan luka, ada Allah yang lebih paham. Berdoalah agar hati senantiasa dikuatkan, berdoalah agar lebih ikhlas menerima segala ujian.”


Setelah mengatakan itu, Pak Wisnu pun berdiri dengan susah payah, dikarenakan ia tidak lagi senormal dulu.


Melihat teman lama papanya yang tengah kesulitan untuk berdiri, Kevin segera berdiri dan membantu Pak Wisnu.


“Mari saya antar Om,”ujar Kevin menawarkan diri untuk membantu mengantarkan Pak Wisnu pulang, karena memang rumahnya dengan rumah Pak Wisnu hanya berbeda kompleks perumahan.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2