Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kabar buruk


__ADS_3

"Apaaa..? Yang benar?"


"Hah..., entahlah? Semua gara- gara baju jaring- jaring yang mama kasih."


Ucap silla beranjak meninggalkan mamanya yang masih duduk di bangku taman.


"Eh..., tunggu mama!"


Entah mengapa celotehan silla beranjak pergi meninggalkan ine sendirian.


"Gimana..., apa suami mu menyukainya?"


"Bukan menyukainya lagi bahkan sa...ngat menyukainya."


"Aaa..., bagus. Mama masih punya model yang lain."


Bisik ine tepat di samping silla yang berjalan menuju ruang rawat inap ane.


"Boleh..., tapi silla pastikan tak akan memakainya."


Silla tersenyum mengedipkan matanya.


"Kenapa? Bukannya rafa menyukainya?"


"Iya..., memang benar. Tapi..., silla pastikan mama tak kan cepat mendapatkan cucu."


Ucap silla mengedipkan sebelah matanya.


"Haa...., kenapa? Bukan nya bagus lembur setiap hari?"


"Mama...., keseringan juga nggak bagus."


Benar apa yang dikatakan silla, jika terlalu sering juga tidak bagus.


"Yah..., gagal deh harapan mama."


Mereka sampai di depan ruang rawat ane yang mana stela telah pamit pulang tanpa memberitahu silla maupun mama ine karena baby safa rewel.


"Ma."


Suara yang tidak asing bagi ine namun tidak untuk silla. Ine membalikkan badan nya pada sumber suara yang memanggilnya.


"Kau... ."


Ine terkejut stevi masih berani datang menemuinya bahkan berkunjung ke rumah sakit disaat menantu aslinya terbaring lemah ditempat tidur. Bahkan tak mengenal dirinya sendiri.


"Ma...? Kau panggil mama ku mama?"


"Adik ipar..., mama yang menyuruhku memanggilnya mama."


Jawab stevi dengan ketenangan nya.


"Ya..., memamg benar aku yang menyuruh mu dan itu sebelum mengetahui kebohongan mu."


Ucap ine yang melakukan hal yang sama dengan stevi.


"Tapi..., tidak untuk sekarang. Pergilah jauh- jauh dari keluarga putraku! Jangan kau ganggu mereka!"


" Aku tidak mempermasalahkan kartu kredit yang sudah kau gunakan."


" Apaa..., mama memberikan nya kartu kredit?"


Silla terkejut mendengar ucapan mamanya sendiri.


" Hah..., itu dulu sill. Sebelum mengetahui kebenaran nya, tapi sekarang mama susah memblokir kartu itu."


Jawab ine menghela nafas panjang nya.


Silla menyipitkan kedua matanya menatap ke arah stevi.


"Bagaimana mama bisa mengusirku?"

__ADS_1


Ucap stevi dengan nada mengejek dan juga senyum kemenangan.


"Stop!! Jangan panggil aku mama! Kau tak layak memanggilku seperti itu setelah kebohongan mu."


Ine terlihat sangat marah saat stevi masih memanggil nya dengan sebutan mama.


"Hahahaha..., tapi aku juga akan menjadi menantu mama. Bagaimana aku tak memanggil nenek dari janin ku dengan sebutan mama?"


"Apa maksudmu? Kau jangan terlalu banyak berhayal nona! Nanti terjatuh sakit loh."


Ucap silla menyilangkan kedua tangan nya di bilah dadanya.


"Hahaha..., jangan begitu adik ipar. Kalau aku jatuh, kau pasti akan menolongku."


Entah keberanian apa yang ada dalam diri stevi setelah kebohongan nya terungkap masih berani menampakkan diri. Bahkan gelak tawa yang terdengar seakan mengejek lawan bicaranya.


"Adik ipar...? Suh..., suh..., pergi..., pergi! Aku tidak sudi dipanggil adik ipar olehmu, lagi pula aku sudah punya kakak ipar. Dan camkan baik- baik, kakak ipar ku hanya kak dena!!"


Silla menahan amarah nya karena saat ini berada di rumah sakit, pergi meninggalkan mama dan juga stevi.


"Sebaiknya kau segera pergi atau aku akan memanggil security untuk mengusirmu!"


Ucap ine pergi meninggalkan stevi yang masih berbangga diri mengakui dirinya sebagai menantu keluarga mahendra.


"Stevi hamil ma, dan janin ini bryan yang menabur benih saat stevi tak sadarkan diri."


Ine tercengang berhenti saat stevi mengatakan kalau ia sedang mengandung benih bryan. Rasa tak percaya tentu saja iya, karena ine mengetahui perangai putra nya itu.


Brukk...


"Eh..., eh..., tante..., kakk...., ma..., tante della pingsan."


Bryan yang mendengar teriakan silla bergegas keluar melihat apa yang sedang terjadi. Begitu juga ine yang berlari menghampiri silla yang tengah menggoyang- goyangkan lengan della.


"Ada apa sill?"


"Semua karena perempuan itu."


"Sudahlah, bawa dulu della ke dalam!"


"Iya, ma."


Bryan dan silla membawa della ke ruang rawat ane, membaringkan nya di sofa panjang yang ada ditempat itu.


"Kau jangan terlalu banyak berhayal, nona! Aku ini seorang ibu yang membesarkan putranya dengan tangan sendiri. Dan tidak mungkin bryan menghamili gadis yang bukan istrinya."


Ucap ine.


"Apa kau sangat tergila- gila dengan putraku? Sehingga kau menghalalkan segala cara."


" Tidak, ma. Stevi benar- benar hamil, lihatlah hasil pemeriksaan ini!"


Stevi sengaja menunjukkan hasil tes laboratorium dan seorang dokter kandungan pada ine. Ine menarik kertas itu melihatnya secara teliti dan hampir saja ine teroengaruh dengan hasil tes tersebut.


"Benarkah kau hamil anak ku?"


Ucap bryan tak kalah tenang dengan stevi menyilangkan kedua tangan nya di bilah dadanya.


"Iya, bryan. Ini anak mu, aku tidak melakukan dengan siapapun kecuali dengan mu."


Jawab stevi dengan senyum simpul dengan harapan bryan akan mempercayainya.


"Hahahaha. Oh... sayang, kau sungguh hamil anak ku. Ma..., kau akan mempunyai cucu yang lain."


Ucap bryan mulai mendekati stevi yang tertunduk tersipu malu merasa yakin bryan percaya padanya. Sedangkan ine tercengang dengan ucapan putranya yang tak menyangkal sama sekali bahkan mengiyakan peryataan stevi.


"Bryan..., ini tidak benar kan?"


Tanya mama ine disela keterkejutan nya.


"Lakukan saja tes dna agar kita semua tahu bayi siapa itu!"

__ADS_1


Ucap silla menyilangkan kedua tangan nya berdiri di pintu menatap sinis stevi yang seketika tercengang dengan ucapan silla.


"Benar itu. Mama tidak percaya putra mama melakukan hal seperti itu."


Ucap ine.


Bryan tersenyum sinis menghampiri stevi yang masih tercengang dengan hati yang berdebar- debar.


"Kau dengar itu! Ikutlah dengan ku! Kita akan melakukan tes dna untuk menyakinkan dirimu."


Ucap bryan berdiri di depan stevi.


"Tapi bryan..., janin ini masih terlalu kecil. Aku takut terjadi sesuatu dengan nya, lagi pula dia juga benih mu."


"Hahaha..., sepertinya kau terlalu banyak tidur hingga bermimpi sangat indah, nona."


Silla sedikit terbahak melihat sebuah akting yang patut di perankan seorang artis.


"Jangan terlalu ke pinggir nanti jatuh! Ups..., sakit."


"Asal kau tahu nona, kakak ku tak pernah meninggalkan istrinya sedetik pun. Bagaimana mungkin dia menghamili mu? Apa saat itu kau sedang menghayal melakukan nya dengan nya?"


Ucapan silla yang terlihat santai namun sangat pedas bahkan nada ejekan tajam pada seorang yang sangat berambisi mendapatkan seseorang yang di inginkan nya.


"Kau juga tak sebanding dengan kakak ipar ku."


Ucap silla yang begitu tajam bahkan menunjukkan ibu jarinya ke arah bawah setidaknya mampu mempengaruhi amarah stevi hingga meremas bagian gaun yang dikenakan nya.


"Aku orang pertama yang akan melindungi pernikahan kakak ku dari wanita penggoda seperti mu. Camkan baik- baik itu!!"


Ucap silla menghilang dibalik pintu.


"Kau dengar itu! Ayo ikutlah dengan ku!"


Stevi yang terlihat sangat geram tak berpikir panjang bahkan ditengah gemuruh amarah di dalam hatinya mengikuti langkah bryan.


"Tunggu!!"


Langkah mereka terhenti dengan suara mama ine yang menghentikan nya. Baik bryan maupun stevi membalikkan badan nya menatap ine yang terlihat sangat kecewa dan marah.


"Jangan pernah berharap menjadi menantu keluarga mahendra! Meskipun janin itu milik bryan."


" Aku akan pastikan itu, jadi... camkan baik- baik!!"


Setelah berkata demikian ine meninggalkan stevi yang tercengang dengan ancaman nya.


Bryan tersenyum simpul menyipitkan matanya mendengar ancaman mama nya. Dia lalu berbalik berjalan ke bagian obygen untuk menjalankan rencana nya tes dna pada janin yang tengah di kandung stevi.


"Dasar wanita sialan. Awas kau!! Akan ku pastikan juga hidupmu tidak akan tenang setelah aku berhasil membuktikan nya."


Gumam stevi dalam hati menatap geram pada punggung ine yang perlahan hilang di balik pintu.


Stevi hanya mengikuti langkah bryan ke tempat tujuan yakni bagian obygen. Tentu saja harus mengikuti serangkaian prosedur yang berlaku di rumah sakit tersebut.


Stevi tak merasa curiga sedikitpun, tetapi berbangga hati dapat membuktikan ucapan nya dan juga membungkam ucapan adik iparnya. Pikiran stevi yang membayangkan hal- hal manis dengan bryan terputus saat bryan membisikkan sesuatu di telinga nya.


"Kau yakin aku yang melakukan nya? Sementara aku menginap di hotel bersama istriku."


Bisik bryan, sementara stevi tercengang dengan bisikan tersebut.


" Apaa..., kau masih tidak percaya dengan ku?"


" Tidak, bukan seperti itu. Lihatlah!"


Bryan menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan bukti check in di hotel suite pretidential room.


Stevi ternganga melihatnya bahkan tak percaya dengan ucapan nya yang mempengaruhi pikiran nya.


" Tidak mungkin. Jika benar bryan tak ada disana, lalu siapa yang berdansa padaku saat itu?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2