
Degh...
Ditatapnya wajan yang sudah ia masukkan minyak goreng, apa yang sudah kadung menyala membuat asap mengepul dari wajan. Segera saja Khaira mematikan kompor, ucapan Kevin membuatnya terbengong.
"Keyakinan apa yang Mas Kevin punya, untuk menemui Abah?" tanya Khaira tanpa menoleh kearah Kevin. Ia masih menghadap kompor.
"Gue cuma mau menegaskan pernikahan kita," jawab Kevin, dilihatnya punggung Khaira.
Menegaskan? Khaira membalikkan tubuhnya menghadap Kevin berjarak tiga meter dari meja makan.
"Apa yang ingin kamu tegaskan Mas Kevin? Apa hanya karena kamu ingin menjamahku, meminta hak penuh atas diriku? Sudahkah kamu bertanya tentang hatimu? Sudahkah kamu benar-benar mencintaiku?" cecar Khaira menggebu-gebu menatap pria yang sedang duduk di kursi.
"Kamu sepertinya sudah salah memahami maksud dari ucapanku, Ra," kata Kevin menatap Khaira.
Khaira menggeleng, menyanggah pendapat Kevin.
"Kamu jelas tau Mas Kevin, yang sesama jatuh cinta saja bisa berpisah. Apalagi orang yang hanya sekedar ingin merasakan sensasi hasratnya saja! Atau kamu menganggap ku hanya pelampiasan dari cintamu yang telah kandas?" lagi Khaira mencecar pertanyaan kepada Kevin.
Pernikahan orang tuanya sudah cukup membuat Khaira belajar. Bahwasanya yang saling jatuh cinta saja bisa dengan mudahnya berpisah, apalagi jika tidak adanya perasaan.
Kevin berdiri ia menghampiri Khaira, ia tahu bahwasanya Khaira mungkin saja sedang mengekspresikan rasa kecewa atas perpisahan Ibu yang telah meninggalkan Khaira dan juga Abah. "Maafin aku, kalau ucapanku telah salah." ditatapnya Khaira yang menunduk.
Khaira diam membisu.
Hening. Itulah gambaran situasi saat ini.
"Maafkan aku Mas Kevin." ucap Khaira parau, ditatapnya wajah yang mempunyai sorot mata teduh, Khaira menyadari bahwa Kevin tidaklah salah. Kevin memang mempunyai hak atas dirinya. Kevin memang suaminya.
Namun ketakutan akan perpisahan seolah menjadi benteng pertahanan yang sangat kokoh. Untuk bisa menerima Kevin dengan lapang dada, ditambah lagi perasaan yang seperti terombang-ambing oleh perasaannya terhadap Asep. Khaira kembali menunduk.
"Hey, kenapa kamu minta maaf?" Kevin memegang dagu Khaira agar mau menghadapnya.
"Beri aku waktu," ucap Khaira pelan, "aku akan mencoba menerima mu dalam hatiku, aku akan memantapkan diri untuk bisa mencintaimu," sambungnya lagi bersitatap dengan netra Kevin.
Kevin mengangguk, ia menghambur memeluk Khaira. Lamat-lamat terdengar suara tangisan yang tertahan dari Khaira, membuat hati Kevin tergelak, matanya membulat. Diusapnya belakang kepala serta punggung Khaira lembut.
Khaira membalas pelukan Kevin, ia memeluk bahkan memeluk pria ini erat. Rasanya dada bidang Kevin yang dibalut kaos distro seolah menjadi wadah bagi air matanya.
"Maafin aku Mas Kevin, maafin aku. Aku belum sepenuhnya bisa menjadi istri mu, maafin aku. Karena aku masih saja terjerembab dalam perasaan ku sendiri," tukas Khaira disertai dengan isak tangis.
Kevin mendengarkan semua hal apapun yang akan dikatakan Khaira, ia menghela nafas panjang, lantas diusapnya punggung Khaira dan beralih mengusap belakang kepala istrinya yang kali ini sudah tidak lagi memakai kerudung di dalam rumah.
"Aku juga minta maaf, karena selalu memaksamu. Maafin aku my Delf, aku sungguh minta maaf, aku akan meyakinkan hatiku untuk lebih bisa menghargai serta memartabatkan kehormatan mu." ungkap Kevin bersungguh-sungguh berasal dari dalam hati kecilnya, bahwa setelah ia sempat memaksakan diri untuk menjamah Khaira, setelahnya ia sangat menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Kevin mengurai pelukannya, ia memegang kedua pipi Khaira. Dilihatnya wajah yang sembab, diusapnya air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Jangan lagi menangis, Delf. Sungguh aku sangat menyesal telah memaksamu, aku sungguh minta maaf," ungkap Kevin lagi, ia menunduk seraya memejamkan matanya dalam-dalam.
Ditatapnya wajah Kevin yang menunduk lesuh, sendu masih terpancar di sana, di wajah Kevin yang terlihat lelah. Khaira menggelengkan kepalanya menandakan apa yang Kevin sesali tidak akan mengubah apapun, kecuali dari sendirilah yang mengubah.
"Kita bukan hanya perlu menjadi lebih baik Mas Kevin," kata Khaira bersuara pelan.
Kevin mengangkat wajahnya, bersitatap dengan mata sembab Khaira.
"tapi kita memang harus membedakan mana cinta mana sekedar suka, karena dari sekian banyaknya pasangan terjebak dalam situasi yang mereka anggap cinta, namun setelah disadari hanyalah sekedar suka sekejap mata terkesima, lalu diakhiri dengan sebuah pertengkaran dan saling menyalahkan." sambung Khaira, ditatapnya manik mata Kevin yang berkaca-kaca.
Sekejap Kevin berkedip, ia menghela nafas panjang lantas mengangguk singkat, "Aku mengerti."
Tak kuasa dalam menatap dalamnya netra Kevin, Khaira memilih untuk beranjak dan mengakhiri percakapannya dengan Kevin.
Dengan langkah gontai, Khaira berjalan menuju kamar yang ditempatinya saat ini, seolah telah melakukan perjalanan panjang yang begitu sangat melelahkan.
Tak pernah disesalinya selama apa yang ia punya, tapi Khaira menyadari ada lubang dihatinya. Ia masih mencari seseorang yang mampu melengkapinya. Benarkah Kevin adalah obatnya, atau disadari olehnya bukan itu yang sebenarnya membuat bahagia.
Apa itu Kevin ataukah Asep? Yang sedang memantapkan jawabannya pada lubuk hatinya, apakah rasa cinta itu ada? Apakah mampu membuatnya membedakan apakah cinta ataukah hanya sekedar cita dan suka?
~
Tak berdaya, lunglai lesuh meratapi perasaannya, seolah telah terbuai dengan harapan yang telah hilang. Terjatuh dalam keindahan penantian panjang.
Tidak bisakah ada seseorang yang menemaninya dalam mengarungi arti hidup ini? Kembali kesunyian menelusup masuk kedalam rongga jiwanya.
Dapat diartikan olehnya, bahwa terucap keraguan hati yang bimbang dalam diri Khaira. Kevin merasa apakah memang ia tak layak untuk mendapatkan cinta yang murni dan tulus.
Kevin merasa telah hilang, dan hilang selalu dalam dilema selama ini. Penantiannya untuk siapa? Rasa cintanya akan berlabuh dimana? Adakah sekeping hati yang mau mendengarkan permintaan hati yang teraniaya sunyi.
Dan memberikannya arti pada hidupnya yang terhempas, yang terlepas, sampai pada akhirnya dapat memeluk, bersama, selamanya.
Seyogyanya tidak ada lagi merasa hilang, tiada lagi merasa kehampaan. Kevin tersenyum meratapi nasibnya, perasaan, dan rasa cintanya yang tak bertuan.
~~
Malam semakin larut, diambilnya Hoodie yang tergantung di gantungan baju. Ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas ranjang berbunyi.
Kevin melihat layar ponselnya yang menyala, terlihat dari layanan delivery makanan, lantas mengambil ponsel dan menggeser tombol warna hijau.
"Ya." jawab Kevin singkat, lalu mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Berjalan keluar dari kamar, langsung saja menuju pintu dan setelah membuka pintu ia melihat seorang pria yang biasa mengantarkan makanan pesanannya dari restauran Padang Bulan.
Kevin memberi tip, dan mengambil makanannya.
"Makasih Mas." kata pria yang mengantar makanan.
Tanpa menjawab alias bersikap seperti biasanya, Kevin langsung menuju teras rumah dan masuk.
Mengambil tiga piring dan menyiapkan makanan yang dipesannya di atas piring. Kevin melihat pintu kamar yang ditempati Khaira dari balik kaca lebar dapur.
Nampak sejak tadi sore Khaira tidak keluar dari kamar. Kevin berpikir mungkin saja gadis itu sedang tidak dalam mood yang baik-baik saja. Ditambah lagi luka di pergelangan tangan.
Kevin menghela nafas panjang, dan berjalan menuju kamar Khaira. Di tatapnya kamar berwarna cokelat, "Apa dia sudah mengganti perbannya? Dia juga belum makan dan mungkin juga belum minum obatnya." gumamnya.
Dipegangnya gagang pintu, lalu memutar dan ternyata pintu tidak di kunci. Lantas dibukanya pintu, netra Kevin langsung tertuju pada Khaira yang sedang terlelap di atas tempat tidur tertutupi selimut sampai setengah badan.
Kevin masuk kedalam kamar, ia duduk ditepian ranjang dan diamatinya dengan seksama wajah Khaira yang sembab. Lagi-lagi helaan nafas Kevin lakukan.
Ia mengangkat tangannya, lantas menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipi Khaira.
"Semoga kamu temukan kebahagiaan mu, meskipun nantinya tak bersamaku." ucap Kevin bersuara lirih.
Setelah melihat kondisi Khaira, Kevin beranjak dan keluar dari kamar yang ditempati Khaira. Ditutup pintunya kembali.
Khaira membuka matanya, ia merasakan semua kehadiran dan merasakan usapan lembut tangan Kevin. Bahkan ucapan yang Kevin katakan ia mendengarnya.
Ia memejamkan matanya kembali membersamai dengan helaan nafas panjang. Dirasakan perutnya kembali keroncongan, ia juga teringat belum minum obat.
Meskipun malas untuk bangun, akan tetapi ia harus makan dan minum obat. Agar lukanya bisa segera sembuh dan bisa segera pergi dari sini.
Berjalan menuju dapur dengan langkah gontai. Pada saat melewati meja makan, ia melihat tudung saji. Dan dilihatnya kertas putih di atasnya. Khaira mengernyitkan dahinya heran, ada apakah gerangan di bawah tudung saji dan kertas kecil.
Diambilnya kertas kecil yang ditulis tangan oleh Kevin.
"Ini bukan masakan ku, aku memesannya. Setelah makan jangan lupa minum obat, dan semoga lekas sembuh."
Khaira tersenyum tipis melihat kertas bertuliskan tangan Kevin. Dibukanya tudung saji dan melihat menu masakan seperti yang tersaji di restauran tempatnya bekerja.
"Semoga Allah selalu melindungi dan senantiasa membalas kebaikanmu, Mas Kevin."
__ADS_1
Bersambung