Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sang peneror


__ADS_3

Teror yang kerap terjadi belakangan ini membuat Khaira resah, bahkan membuatnya tidak bisa tertidur pulas.


Terhitung dalam hampir tiga minggu terakhir ini. Kerap kali dalam dua hari seminggu sekali Khaira terbangun dan mendengar suara ketukan di pintu.


Bahkan ia pernah mendapatkan teror kardus berisikan kucing mati berlumuran darah. Tak hanya itu, ada juga kata-kata makian yang ditujukan bukan untuk sang pemilik rumah, melainkan untuk Khaira.


Namun pada saat Khaira meminta Kevin untuk tetap di rumah dalam mengamati situasi dan kondisi serta dalam menggali informasi siapa yang telah melakukan aksi teror.


Pada saat Kevin berjaga, suara ketukan pintu bukan berasal dari seseorang yang sudah beberapa kali ini meneror Khaira.


Melainkan hanya dua orang satpam kompleks perumahan yang mengonfrontir dari keterangan warga komplek perumahan adanya orang baru di dalam rumah Kevin.


Selama tiga malam full, Kevin stand by di rumah. Khaira merasa aman, karena teror tidak terdengar lagi.


Panas yang sangat menyengat kulit. Di siang menjelang sore, Khaira merasa tubuhnya serasa lunglai. Kepalanya terasa berat, dikarenakan kurang tidur. Membuat pandangannya agak berkunang-kunang ditambah lagi terkena sinar matahari siang yang nampak gersang.


Saat sedang membuang sampah, dan membayangkan siapa sang peneror itu. Khaira dikejutkan dengan suara seorang wanita.


"Permisi Mbak."


Khaira menoleh kebelakang, dilihatnya seorang wanita cantik nan masih muda, terlihat dari pakaian yang di pakai wanita muda yang menyapanya merupakan wanita kelas atas.


"Iyah." jawab Khaira.


Wanita muda mengulurkan tangannya dihadapan seorang wanita berkerudung hitam di depannya, "Namaku Clara," ujarnya.


Ditatapnya tangan putih bersih nan mulus serta kuku yang memakai polesan warna merah dihadapannya, Khaira mengernyitkan dahinya heran.


Namun dalam keadaan kebingungannya, Khaira tetap menjabat tangan wanita muda yang menyebutkan diri bernama Clara.


"Aku Khaira," jawabnya. Khaira menarik tangannya yang telah menjabat tangan dari wanita muda bernama Clara, spekulasi muncul dalam benaknya.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Khaira pada wanita muda asing dihadapannya.


Seramah mungkin Clara melancarkan aksinya, "Saya dari perusahaan asuransi, dan semua karyawan di restauran Pak Rezki sudah mengenalkan diri kepada saya, kecuali Mbak Khaira,"


Asuransi? Khaira memang pernah mendengar mengenai asuransi. Tapi ia tak mengerti apa maksud dari wanita muda yang ada didepannya.


"Maksudnya apa ya Mbak? Aku kurang begitu paham?" tanyanya sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Akan saya jelaskan, tapi sebelum itu boleh tidak saya meminta nomor telepon Mbak Khaira, untuk konfirmasi lebih lanjut mengenai asuransi kesehatan selama Mbak Khaira bekerja di restauran Pak Rezki," tukas Clara menjelaskan kepada targetnya.


Nomor handphone? Ada apa ini? Kenapa perasaannya tidak enak. Sebelum dapat memberi jawaban terhadap wanita asing bernama Clara, Khaira dipanggil oleh rekan kerjanya.


"Ra!" dialah Vita yang memanggil Khaira.


Dilihatnya oleh Khaira rekan kerjanya itu sedang melambaikan tangan guna memberikan kode agar ia kembali bekerja, "Iya." sahut Khaira, lalu kembali menatap wanita muda yang ada didepannya, "maaf Mbak lain kali saja. Aku harus kembali bekerja."


Khaira melenggang pergi dari hadapan Clara, ia juga tidak tahu menahu apa yang dimaksud asuransi kesehatan.


Dilihatnya Khaira yang pergi dari hadapannya, Clara cukup kesal. Ia menghentakkan kakinya di pelataran restauran.


"Sial!" berangnya menahan emosi, "gue bakal buat lo menjahui Kevin!" umpatnya kesal, terus menatap restauran yang saat ini memang lumayan ramai.


Dalam beberapa hari ini, ia selalu saja gagal, manakala akan melancarkan aksinya dalam meneror Khaira. Dikarenakan Kevin selalu berada di rumah.


Clara memikirkan cara lain, agar Khaira menjauh dengan sendirinya dari kehidupan Kevin.


~~


"Ketemu sama siapa lo tadi siang, Ra?" tanya Vita pada Khaira setelah selesai bekerja.


"Asuransi?" seru Mita, setelah meletakkan seragam kemeja kerjanya di dalam lemari, ia menghampiri sepupunya.


Khaira mengangguk, lalu menutup loker, "Iya asuransi, katanya semua karyawan di sini sudah di asuransikan kesehatan?"


"Iya memang, tapi kayaknya petugasnya nggak modis kayak tadi siang deh," tukas Vita, ketika sekilas menatap wanita muda nan modis yang sedang berhadapan dengan Khaira siang tadi.


"Benarkah?" jawab Khaira.


"Mungkin itu orang baru kali, Vit." kali ini Silla ikut bergabung.


Vita mengangkat kedua bahunya tak acuh, "Yah bisa jadi."


~~


Setelah melaksanakan sholat magrib, Khaira sedang duduk melamunkan diri membayangkan kehidupan yang ia jalani kini. Jika dihitung-hitung, ia hampir satu bulan. Dan kehidupan yang sangat berbeda ketika ia berada di desa.


Di desanya tinggal masih terdapat banyak ladang persawahan, dan perkebunan.

__ADS_1


Masih Khaira dengar suara kodok setelah turun hujan, masih ia mendengar suara jangkrik setelah panen padi.


Khaira sedang memandangi rintik hujan di kala malam hari, ia memang tidak sendirian di depan restauran yang langsung menghadap ke arah jalan raya.


Hujan mengguyur kota metropolitan saat ini. Membuat sebagaian karyawan mengurungkan niatnya untuk pulang.


Khaira merasa hari demi hari berlalu begitu saja. Waktu terasa cepat bagi yang bahagia. Terasa lambat bagi yang tersiksa. Terasa sesak bagi yang menunggu. Terasa lama bagi yang menanti.


Dan seperti kopi, senikmat apapun kehidupan pasti ada pahitnya. Begitulah jalannya yang mau tidak mau, suka tidak suka memang harus di lalui, dan acap kali tidak menentu, kadang sedih kadang senang. Dan seringkali membanding-bandingkan dengan hidup orang lain. Padahal perbandingan adalah perusak kebahagiaan.


Bahwasanya kesulitan itu seperti air keruh, bersabarlah jangan mengaduknya, karena sebentar lagi akan menjadi jernih.


Menjadi apa adanya, tidak merendah walau tak punya dan tidak malu walau kekurangan. sebab orang yang menghargai apa yang ia miliki lebih baik daripada orang yang memaksakan diri untuk sebuah pujian.


Khaira masih menatap jalanan yang terlihat licin dikarenakan hujan terus mengguyur. Memanglah sudah mulai reda, namun gerimis masih melanda.


Restauran kala hari weekend memang tutup lebih sore, sekitar pukul 18:30 wib. Dan semua karyawan yang sebagian adalah wanita sangat senang menyambut malam minggu ini. Ada yang sudah memiliki jadwal akan kemana? Ada yang hanya ingin beristirahat lebih dulu. Dan masih ada beberapa lagi yang entah akan menghabiskan waktu malam weekend kemana?


Di sekitar restauran tempat Khaira bekerja banyak gedung-gedung perkantoran, mungkin inilah yang menjadikan restauran cukup ramai ketika jamnya makan siang, bukan hanya tempatnya yang lumayan nyaman, akan tetapi juga harganya yang tidak terlalu mahal.


Kebanyakan dari yang di sajikan merupakan masakan khas Padang yang disajikan berbeda dari sajian di rumah makan Padang. Karena memang sang pemilik restauran adalah orang Padang yang sudah lama menjadi bermukim di Ibu kota.


Hujan yang mengguyur dari pukul 16:45 wib. Kini sudah mulai reda pukul 19:15 wib. Khaira dan para rekan kerjanya terjerembab di restauran sekiranya sudah hampir dua jam. Dan kini satu persatu sudah mulai meninggalkan restauran.


Begitu juga dengan Khaira dan Mita.


“Ra, malam mingguan yuk?” ucap Mita yang sudah mempunyai rencana sedari siang.


Khaira menatap sepupunya tak bersemangat, ingin rasanya langsung pulang dan tidur. Dikarenakan sang peneror yang mengganggu tidurnya.


Mita mengalungkan lengannya di lengan Khaira, "Ayolah Ra, gue yakin lo bakal seneng banget,"


"Emang iya?" jawab Khaira malas.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2