Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Tertunda lagi


__ADS_3

Acara telah selesai pukul 21:00 wib.


Malam pertama?


Ah Iya, malam pertama selalu diidam-idamkan bagi khalayak umum pasangan yang baru menikah. Meskipun terbilang bukan pengantin baru. Dan itulah yang sedang di pikirkan oleh Kevin, apakah terkesan pria ini mesum?


Yah, mesum tidak mesumnya bagi seorang pria tulen yang bekerja sebagai disc jockey. Sangat kental dengan dunia malam dan hingar-bingar prostitusi online maupun offline, yang sewaktu-waktu kapan saja bagi Kevin untuk memesan sang pemuas nafsuu.


Tapi itu tidak ia lakukan. Meskipun urakan dan ia mengakui jarang beribadah dan baru-baru inilah rajin sholat, itupun atas ajakan sang istri.


Benar nggak sih?


Kalau orang yang saling mencintai pasti akan selalu mengingatkan tentang kebaikan, selalu membawa pada hal-hal positif, dan tak segan untuk menegur bila kita melakukan kesalahan?


Agaknya memang kini Kevin sedang merasakannya apa itu cinta sesungguhnya, apa itu cinta tulus dan apa itu cinta positif dalam hidup.


Yang mendekatkannya dengan kebaikan dan kini ia lebih rajin Ibadah. Hal yang seharusnya wajib bagi setiap pemeluk umat beragama adalah Ibadah.


Dan kini ketika banyak sekali pikiran-pikiran yang bergelayut manja di otak Kevin. Ia berpikir untuk cara apa memberikan pelayanan terpadu dan memuaskan pada istrinya yang terlihat masih sangat lugu. Terbilang juga ini hal pertama kali baginya selama hidup menjadi seorang pria, dan memang ia pria tulen sejak lahir.


Kerisauan tidak lagi menghantuinya. Karena ia telah memiliki seseorang yang telah halal dan bisa di jamah kapan saja ia mau, tentunya dengan cara yang baik. Kevin sudah tidak sabaran ingin merasakan hal itu, hal keintiman.


Tapi?


Tapi?


Dan tapi?


Apalah daya, kedua keponakan kembarnya sedang tidur di kamarnya. Kevin hanya bisa pasrah, karena memang tidak bisa menyuruh Abang Andi dan iparnya pulang di jam yang sudah larut malam dan juga rumah Abangnya terbilang cukup jauh.


Andi baru saja keluar dari kamar Kevin dan melihat Kevin sedang duduk di kursi dapur, terlihat adiknya itu nampak lelah. Andi menghampiri dan menepuk pundak Kevin.


"Maaf Vin, gue udah ganggu waktu lo. Lo pasti capek."

__ADS_1


Kevin menoleh kearah Abangnya dan tersenyum kecut. "Nggak pa-pa Bang. Meskipun malam pertama harus gue tunda."


"Maksud lo?" Andi terkejut dengan ucapan Kevin. "Apa jangan-jangan lo belum pernah belah duren selama lo menikahi Khaira?" Andi mendelikkan matanya menatap wajah Kevin.


"Enggak." sahut Kevin singkat.


"Kenapa? Apa yang lo dan Khaira lakukan di pernikahan kalian yang sudah dua bulan ini? Jangan-jangan lo nggak jantan?" Andi heran jika selama dua bulan insan manusia yang telah menikah bisa menahan hasratnya. Sedangkan pasangan muda-mudi yang belum menikah saja bisa melakukan hal zina kapan saja.


Kevin mendengus dingin, "Enak aja lo gue kagak jantan."


"Lha terus?" Andi menuntut jawaban.


Kevin mengedarkan pandangannya menatap perabotan dapur. "Bukan begitu, di antara gue dan Khaira selama dua bulan lebih kearah hubungan adik dan kakak."


"Hah kok bisa?" kejut Andi, sekilas melihat istrinya keluar kamar. Itu pertanda bahwa kedua anak-anaknya sudah tertidur.


"Ya begitulah." jawab Kevin enggan menjelaskan lebih detail. "Lagian gue juga kagak bisa melakukan hubungan begitu, ketika banyak orang."


Pandangan Andi mengedar, ia merasa apa yang dikatakan adiknya adalah benar. Masih ada orang tua Mita beserta Mita, dan orang tua Khaira sedang berbincang di ruang tamu.


Andi mengangguk, lalu menyusul Kevin yang sudah jalan lebih dulu.


Kevin langsung menempatkan diri untuk duduk di semula ia duduk di sebelah Khaira. Ia tersenyum tipis, ada gejolak yang harus ia tahan kala melihat istrinya yang sudah sah.


Abah melihat adik dan iparnya. Beliau tidak habis pikir, mengapa dari Joko maupun Rukiah tidak ada yang berniat membocorkan masalah yang menimpa Khaira yang harus menikah karena jebakan.


"Maafkan saya Kang, sebelumnya saya merasa pernikahan Khaira akan segera berakhir karena sebelumnya mereka menikah hanya karena formalitas untuk warga di kampung Rawa Dengklok." kata Pak Joko, selaku adik dari Abah Ahmad.


Bu Rukiah juga ikut menimpali ucapan suaminya. Ia dan suami merasa sedang di interogasi oleh iparnya.


"Iya Kang, beneran lho, saya juga mengira pernikahan siri Khaira dan nak Kevin hanya bertahan satu atau dua mingguan. Eh nggak taunya, mereka beneran jodoh. Itukan bagus Kang." surah Bu Rukiah menjelaskan.


Sorot netra tua Abah melihat adik dan iparnya. "Saya indak bermaksud menginterogasi kalian. Saya hanya ingin tahu saja, kalian menjadi wakil saya untuk menikahkan anak saya apa endak?"

__ADS_1


Pak Joko mengangguk kecil.


"Jadi kamu Joko, dengan begitu kamu menganggap Kakang mu iki sudah tiada?" kata Abah tegas namun dengan suara rendah.


Pak Joko mengangkat wajahnya menatap wajah Kakak kandungnya yang jarang sekali dilihatnya semenjak tinggal di kota setelah menikahi Rukiah 24 tahun silam.


"Bukan seperti itu Kang Ahmad, saya hanya bingung karena kejadiannya sangat singkat. Dan saya juga sangat terkejut, saat dikabari oleh Khaira bahwa dia akan menikah dengan seorang pria asing." kata Pak Joko menjelaskan tentang kejadian waktu itu. Waktu yang telah menjadikan Khaira dinikahi oleh Kevin secara siri.


Khaira menatap Abah nanar, ia tak menyangka orang tua tunggalnya akan berkata demikian. "Abah bukan seperti itu Abah. Ning takut kepergian Ning ke kota untuk menghindari Paman Bonar, dengan kejadian ini akan semakin membuat Abah khawatir."


"Abah tegaskan Ning anak Abah," Abah memandangi wajah putri kecilnya yang sudah menjelma menjadi wanita dewasa. "Abah endak marah, Abah hanya kecewa karena Abah ndak diberitahu olehmu maupun oleh orang-orang yang mengetahui tentang pernikahan siri mu, Ning. Dan Sekarang Abah lega, kamu sudah meresmikan pernikahan mu." Abah melihat Kevin seolah memberi isyarat bahwa Khaira adalah tanggung jawab pria yang telah menikahi putrinya.


Kevin mendekat, ia sungkem di kaki Abah. Namun, Abah mencegahnya.


"Bangunlah anakku, kamu sekarang sudah menjadi suami dari Khaira Ningrum. Jadi kamu pun sudah menjadi anak saya." Abah mengusap pucuk kepala Kevin. Seminggu tinggal bersama dengan Khaira dan Kevin. Abah tahu bahwa pria yang menikahi anaknya juga mengalami masalah yang sulit.


Kevin terharu mendengar untaian kata indah dan bijak dari Abah. Ia seolah telah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah yang telah lama menghilang di negeri orang.


Kevin memandangi wajah Abah yang menggambarkan guratan garis-garis keriput yang nampak jelas. Ia berkata sangat lembut. "Dengan segenap hati dan jiwa raga saya. Saya akan menjaga, mengayomi dan melindungi Khaira. Saya tidak berjanji, tapi saya akan berusaha keras untuk menepati apa yang saya ucapkan tadi, Abah. Maafkan saya, karena saya kekacauan dan pernikahan siri dua bulan lalu terjadi."


Khaira terkesima melihat wajah Kevin yang sendu, mata suaminya itu berkaca-kaca. Namun, seperti biasa seorang pria memang selalu bisa menahan air matanya, kendati air mata bahagia.


"Paman rasa kamu dan Kevin memang berjodoh Khaira. Paman berharap, seberat apapun cobaan dan ujian yang menimpa rumah tangga kalian. Kalian akan selalu sabar dan saling introspeksi diri, jangan saling menyalahkan." kata Pak Joko memberi wejangan agar kedepannya lebih diperhatikan ketika cobaan dan ujian menguji kesetiaan dan kesabaran pernikahan.


"Betul itu Khaira dan nak Kevin. Kalian harus selalu sabar." Bu Rukiah juga ikut bersuara.


Sedangkan Mita, dia sedang merenungi nasibnya jomblowati yang seolah masih melekat kuat dalam dirinya. "Begini amat nasib gue, sama siapa gue nikah?"


"Makasih Pak'le, makasih Buk'le. Maaf karena Ning selalu merepotkan kalian." ujar Khaira.



__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2