Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Menyambungkan silahturahmi


__ADS_3

Setelah membuatkan Papa Basuki dan Mama Julia minuman beserta kudapan yang ia buat pagi tadi, kini di kamar. Khaira sedang membujuk suaminya yang terlihat sangat ngambek seperti anak kecil.


"Mas Kevin, jangan seperti inilah Mas. Kenapa Mas Kevin bersikap tak perduli atas kedatangan Papa Basuki dan Mama Julia, meskipun sudah lama kalian nggak bertemu, tapi enggak juga memutuskan ikatan darah di antara kalian," Khaira duduk di sebelah Kevin yang sedang memandangi bingkai foto.


Kevin masih terdiam.


"Ingat Mas, adanya Mas Kevin di dunia ini karena Papa Basuki. Terlepas dari apa yang dilakukannya, mengapa beliau lama nggak kembali ke Indonesia, pasti punya alasan lain, selain fobia menaiki pesawat." bujuk Khaira panjang lebar tentunya dengan suara super halus, bila dijabarkan sudah seperti kain sutra.


Kevin bergeming matanya fokus menatap foto mendiang Mama Lusiana dan adiknya Kirana. Setetes air mata meluncur mulus jatuh di kaca bingkai foto.


Nanar kala melihat Kevin seperti ini, Khaira melihat tangan Kevin memegang erat foto kedua orang yang telah tiada. Hatinya seperti tergores kepiluan, dilihatnya juga setetes air mata di atas kaca bingkai foto.


Khaira memegangi tangan Kevin dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan memegangi pipi Kevin agar menghadapnya. Netranya melihat sorot kesedihan dari sorot mata Kevin yang membendung seperti sekumpulan air mata yang siap menetes, namun pria selalu bisa untuk menahan diri agar tidak menangis.


Kevin terdiam memandangi dalamnya manik mata hitam istrinya. Pikirannya sedang karut marut, tentang menerima dan tidak menerima kehadiran sosok sang ayah yang sudah lama tak acuh padanya.


Kevin menyandarkan keningnya di pundak Khaira. Ia memejamkan matanya dalam-dalam membersamai dengan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Rasanya sangat berat, sayang."


Khaira mengecup rambut suaminya. Tangannya mengusap punggung Kevin sangat lembut, Khaira memeluknya erat. "Kamu sendiri yang bilang, kita harus bisa menerima dengan segala kemungkinan yang akan terjadi."


"Tapi kenapa sekarang sangat sulit." ucap Kevin parau. "ada gejolak batin yang sangat pedih, aku sangat-sangat kehilangan sosok Mama Lusiana dan Kirana, aku merindukan mereka. Aku sangat kecewa dengan ayah macam dia." masih ingat dengan sangat jelas, saat beberapa bulan Almarhumah Mama Lusiana dan Kirana meninggal, Papa Basuki mengabarkan menikah lagi dengan seorang wanita bule yang menetap di Singapura.


"Karena kita harus mempunyai hati besar untuk menerima kenyataan." ujar Khaira lembut, masih mengusap punggung sampai membelai kepala Kevin. Khaira mendekapnya erat.


Kevin menarik dirinya kembali duduk, tapi tidak tegap. Menatap dalamnya manik mata sang istri, membuat hatinya lebih tenang. "Seandainya kamu bertemu dengan Bu Purwasih, apa kamu akan menerimanya kembali?"


Khaira tercenung mendengar pertanyaan Kevin. "Aku harus melapangkan hatiku, sebelum bertemu dengannya, jika aku masih di berikan kesempatan untuk melihat wajah Ibu yang telah melahirkan ku. Maka apa yang bisa aku lakukan selain menyambungkan silahturahmi."


Kevin mencerna semua perkataan Khaira. Ia merasa apa yang di ucapkan istrinya benar, hanya saja pertemuannya ini sangat mendadak hingga membuatnya terperangah dan sulit untuk menerima.

__ADS_1


"Narik nafas dan hembuskan perlahan, Mas." ucap Khaira sambil menepuk bahu suaminya agar duduk tegap.


Kevin menuruti perkataan Khaira, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Hal ini dilakukannya sebanyak tiga kali.


"Bagaimana apa sudah lebih tenang?" Khaira melihat wajah Kevin yang sudah lebih rileks dan juga mendapati Khaira mengangguk pelan.


"Ayo, Papa Basuki dan Mama Julia sudah menunggu kita cukup lama." bujuk Khaira lalu beranjak dari duduknya.


Di ruang tengah Papa Basuki mengamati ruangan yang tidak jauh berbeda pada saat ia meninggalkannya 7 tahun yang lalu. Semua furniture masih sama, foto keluarga juga masih sama, Almarhumah Lusiana dan Kirana tersenyum bahagia di foto.


Hanya saja, ada dua bingkai foto pernikahan Kevin, yang tentunya hanya bisa dilihat dari foto. Tanpa bisa menghadiri acara pernikahan putranya, karena kesehatannya yang menurun.


Dan untuk pertama kali bagi Mama Julia datang ke rumah ini, ia mengamati foto keluarga yang terpanjang di ruang tengah. Lalu melihat Basuki yang sedang menatap foto pernikahan Kevin dan juga Khaira.


"Harusnya kita menghadiri pernikahan Kevin kemarin, Juli. Wajar jika Kevin marah padaku, karena seharusnya aku yang menjadi wali nikahnya bukan Andi." Basuki berkata sangat sedih.


"Kamu belum lama menjalani operasi ginjal, dan saya beserta tim Dokter yang menangani operasi ginjal mu, tidak menyarankan untuk mu melakukan perjalanan jauh." jawab Julia berdiri di sebelah pria yang dinikahinya hampir enam tahun lalu.


"Siapa yang baru melakukan operasi ginjal?" Kevin berjalan bersama dengan Khaira mendekati ruangan tengah.


Papa Basuki dan Mama Julia langsung menoleh kearah sumber suara, dan di dekat sofa Kevin sudah berdiri. Keduanya saling bersitatap dan kembali menatap Kevin juga Khaira.


Mama Julia membantu Papa Basuki untuk duduk di sofa. Dilihatnya Kevin juga ikut duduk dan disusul Khaira.


"Siapa yang telah menjalani operasi ginjal?" Kevin bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi benar.


"Maafkan Papa Kevin, Papa tidak menghadiri dan menjadi wali nikah mu. Wajar jika kamu marah dan benci terhadap Papa mu ini." Basuki menjelaskan tentang penyesalannya yang tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya.


Ada kesedihan dan penyesalan yang tergambar jelas di wajah Papa Basuki. Kevin tersentuh mendengar penjelasan Papanya. Tapi buka itu pertanyaannya.

__ADS_1


"Pa, siapa yang belum lama menjalani operasi ginjal?" Kevin bertanya menuntut jawaban, netranya hanya fokus menatap Papa Basuki.


Papa Basuki menghela nafas panjang, lalu menundukkan memandangi tangannya yang pucat. Karena memang kurangnya asupan air guna memenuhi tubuhnya menjadikan tangannya lebih kering dan pucat.


Julia melihat kesedihan dalam diri Basuki, ia menjawab pertanyaan Kevin. "Hampir tujuh tahun lamanya Papamu menderita gagal ginjal dan mengharuskannya menjalani serangkaian cuci darah secara rutin. Dan selama hampir enam tahun lamanya kami mencari donor ginjal yang cocok, dan kami bersyukur sebulan lalu Papamu mendapatkan donor ginjal."


Khaira tergelak mendengar penjelasan Mama Julia. Terlebih Kevin, ia tidak menyangka selama ini telah salah paham terhadap Papanya.


"Itukah alasan Papa nggak mau pulang ke Indonesia?" Kevin bertanya untuk memastikan.


Papa Basuki mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan sorot mata putranya, ia mengangguk kecil membersamai dengan helaan nafas.


"Kenapa Papa menggunakan alasan fobia menaiki pesawat?" tanya Kevin lagi.


"Karena Papa tidak mau membuat mu bertambah sedih Kevin. Kepergian Mama dan adikmu yang tragis sudah meninggalkan kehilangan yang sangat mendalam." jelas Papa Basuki.


"Jika Papa bilang, Papa membutuhkan donor ginjal, kenapa Papa nggak bilang sama Kevin, Kevin rasa ginjal Kevin cocok dengan ginjal Papa." ujar Kevin melihat wajah Papa Basuki yang pucat.


"Itulah yang Papa takutkan anakku, masa depanmu masih panjang. Papa tidak mau kamu menawarkan diri untuk mendonorkan ginjal." Papa Basuki menatap putranya, lalu beralih menatap Julia. "Papa juga bersyukur, dokter Julia mau menemani hidup Papa di sana."


"Itu bukan apa-apa, Basuki. Dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan terhadap anakku." ucap Julia, mengenang saat Basuki menyelamatkan anaknya yang akan tertabrak mobil 7 tahun lalu, itulah mengapa ia akhirnya mengajukan diri untuk menjadi istri Basuki dan melepas status single mother nya.


Kevin semakin di buat tidak mengerti dengan semua rangkaian cerita yang masih seperti puzzle ini. "Lalu dimana anak anda Tante Julia?"


"Damian sedang ikut studi di universitas, jadi dia tidak bisa ikut." jawab Julia, tak merasa keberatan dengan sebutan yang disebut Kevin untuknya.


Obrolan Papa Basuki dan Kevin terus berlanjut, meskipun sedikit kaku karena memang sudah lama tidak berjumpa dan jarang sekali berkomunikasi. Karena Kevin terus menghindari telpon Papa Basuki karena rasa kecewa. Tapi kini, setelah mengetahui apa yang terjadi pada Papa Basuki, Kevin merasa bersalah dan kasihan.


Sedangkan Khaira dan Mama Julia melakukan kegiatan memasak bersama untuk makan malam.

__ADS_1


...~~~~...


Bersambung...


__ADS_2