Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Berandalan


__ADS_3

Melihat Khaira diam membuat Mita menoyor kepala sepupunya, "Eh Ra! Gue udah ngomong panjang lebar. Jangan bilang lo kagak denger apa yang gue?"



Khaira mengalihkan atensinya, ia menatap Mita seraya mengusap kepalanya yang ditoyor Mita cukup keras, Khaira mendengus, "Iya, iya aku denger Mita, aku denger semua rentetan ucapanmu dari A sampai Z, aku denger semua Mita,"



"Kalau lo denger kenapa lo diem bae, kayak kambing conge?" hardik Mita merasa kesal.



"Lha terus aku harus apa Mita? Bahkan kamu nggak memberiku kesempatan buat bicara, kamu terlalu bersemangat guna menyampaikan pendapatmu tentang ku, kalau aku jangan selalu menyamaratakan semua orang seperti Ibu. Bahwa aku nggak boleh menyamakan hidupku seperti Abah, itukan yang jadi kamu sampaikan?" jelas Khaira memberikan tanggapan mengenai nasehat-nasehat panjang kali lebar.



Mita sedikit merasa puas, "Ternyata sebulan tinggal di kota nggak membuat otak lo ngebleng."



"Kalau ngebleng ya di cas," jawab Khaira spontan.



"Eh gimana sama acara lo kamerin sore, lancar? Kagak ada yang berebut buat dapet nasi kotak yang lo bagi, kan?"



Khaira mengangguk singkat,



"Alhamdulillah lancar, kan aku juga di bantuin sama Mas Kevin, dan nggak ada yang perebut," kata Khaira sumringah.



"Syukur deh," jawab Mita ikut merasa senang.



"Eh tapi kamu tahu nggak Mit, ternyata orang-orang yang ku bagikan nasi kotak, juga mengenal Mas Kevin lo, salah satu dari mereka berbisik dan berkata padaku, kalau Mas Kevin adalah orang yang baik." kata Khaira mengingat saat membagikan nasi kotak.



Mita antuasias, "Oh ya, memang apa yang udah Kevin perbuat? Kenapa sampai mereka mengenal Kevin?"



Khaira menggeleng, "Enggak tau, seorang Ibu-ibu yang berbisik padaku hanya mengatakan itu,"



"Nah itu lo dengar sendiri kalau Kevin orangnya baik, kenapa bersikekeh untuk pindah?" tanya Mita heran akan sikap Khaira yang bersikeras ingin pindah.



“Kalau kamu membolehkan ku tinggal di kosan mu, itu jauh lebih baik Mit. Tapi sayangnya warga di sana pasti bertanya ini dan itu. Dan aku males ditanya ini dan itu. Apalagi kesalahan yang bukan kesalahan ku,”



Mita manggut-manggut, ia melihat memang tekad Khaira sudah membulat. Atau memang sepupunya itu enggan berhubungan dengan Kevin.



Meskipun Khaira jarang menceritakan tentang Kevin, tapi entah mengapa Mita berasumsi dari sudut pandangnya Kevin sudah cukup baik dengan adanya pria itu mau mengantar dan menjemput Khaira.



Tapi sekali lagi, Mita tegaskan dalam dirinya. Bahwa ia tidak ingin ikut campur terlalu dalam terhadap hubungan Kevin dan Khaira. Ia beranggapan Khaira pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya.



Dilihatnya jam tangan, jam istirahat telah usai. Sudah saatnya ia kembali bekerja untuk bergiliran dengan rekan kerjanya yang lain. Khaira menepuk punggung Mita, “Udah waktunya kembali kerja Mit,” ucapnya.


__ADS_1


Mita mengangguk, lantas menyusul Khaira berdiri. Ia merangkul pundak sepupunya, “Yuk.”



Kedua gadis yang beda usia tahun ini pun kembali kepada aktivitas dan tugasnya masing-masing.



~~



Malam hari pukul 21;15 wib, saatnya semua karyawan pulang. Begitu juga dengan Khaira. Namun tidak dengan Mita, karena sepupunya itu telah meminta izin untuk pulang lebih awal dikarenakan adanya kepentingan.



"Dah Khaira, dah Vita, dah Susi, aku pulang dulu yah." kata Silla melambaikan tangan kepada para rekan kerjanya setelah doi menjemputnya.



"Iyah, peluk dong peluk!" heboh Vita dan Susi membalas Silla dengan kehebohan beserta ledekan agar Silla memeluk doi.



Sedangkan Khaira membalas lambaian Silla hanya dengan lambaian tangan saja.



Khaira lantas berjalan beriringan dengan Vita dan Susi. Pastilah ada obrolan yang mengiringi perjalanan ketiganya dari pelataran restauran menuju halte.



Akan tetapi Khaira cenderung diam. Karena ia tak memiliki selera jika hanya sekedar membahas perihal pria tampan dan gebetan.



Jika bisa membanggakan soal ketampanan, suaminya juga sangat tampan. Tapi Khaira lebih memilih tak melakukan itu, karena ia hanyalah sekedar formalitas saja.




"Ra, lo nggak pulang sekalian?" tanya Susi.



"Enggak, aku lagi nunggu jemputan," jawab Khaira.



"Kalau gitu, kita pulang dulu ya Ra." kata Vita melambaikan tangan kearah Khaira.



Khaira melambaikan tangan sekilas untuk membalas Vita dan Susi, ia akhirnya hanya sendiri dari rombongan rekan kerjanya. Dan hanya ada dua orang lainnya yang sepertinya sedang menunggu angkutan juga.



Namun, setelah sekian lamanya Khaira menunggu. Ada seorang pemuda yang nampak seperti berandalan berkaos lengan pendek terlihat bertato di seluruh lengan.



Penampilan yang terlihat urakan didukung dengan celana jeans pendek usang juga dipenuhi dengan sobek-sobekan di bagian lutut.



Pada awal mula Khaira tidak menggubris, toh tidak baik memandang seseorang hanya dari penampilan.



Namun lama-kelamaan ia merasa bergidik ngeri, manakala dua orang yang juga menunggu di halte sudah pergi ketika angkutan umum yang dituju datang.



Kini, hanya ada Khaira dan seorang pemuda berandalan. Khaira mencoba bersikap santai dan rileks, seolah ia tidak melihat pemuda berandalan itu.

__ADS_1



Namun sikap rileksnya itu tak berlangsung lama. Ketika saatnya berandalan itu mendapatkan kesempatan, karena halte sudah dalam keadaan lengang, berandalan itupun, mulai memepet dan hendak mengambil tas selempang Khaira.



"Copeet...!” teriak Khaira, sekeras mungkin, suara teriakan yang berbaur dengan bisingnya suara klakson dan kendaraan yang memadati jalanan Ibu Kota.



"Lo, lebih sayang nyawa lo, atau tas lo?” ucap si pemuda berandalan dengan suara seperti perintah lalu mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya.



Khaira menggelengkan kepala, sekuat mungkin ia ingin mempertahankan tas selempangnya.



"Nggak bakalan aku serahin, aku sayang tasku juga nyawaku!” sergah Khaira, enggan mengalah begitu saja.



"Cepet serahin, atau lo mau pisau ini menggores di wajah lo" titah berandalan bengis.



"Nggak bakalan aku serahin! Kalau kamu mau uang ya kamu harus kerja" kata Khaira gugup, dengan perasaan takut, melihat pisau lipat yang dipegang oleh berandalan.



"Alah, banyak bacot lo" mendadak berandalan mengayunkan pisau kepada sasarannya.



Khaira membelalakkan matanya, ia mengeluarkan jurus silatnya. Ia mengayunkan kakinya ke atas dan tepat waktu, tendangannya menghalau pisau yang dipegang oleh berandalan. Pisau lipat terpelanting ke jalanan.



"Kurang ajar!" berang berandalan sengit menatap gadis itu melawan.



Perkelahian tak terhindarkan. Sebisa mungkin Khaira melawan, kendati tenaga berandalan sangatlah melebihi kecepatannya.



Khaira terjatuh ke jalanan akibat tendangan yang diayunkan oleh berandalan tepat mengenai perutnya.



"Arrhhh..." erang Khaira menahan sakit di perut juga pantatnya yang menghantam kerasnya trotoar.



Berandalan tersenyum tipis melihat korbannya telah terjatuh. Ia kembali menghampiri korbannya hendak merampas tas selempang.



Khaira tercengang pada saat ia akan beranjak, berandalan itu mendekatinya. Sebisa mungkin Khaira mempertahankan tasnya, ia pegang kuat-kuat, "Jangan pernah berani untuk mengambil barang ku !" tegas Khaira memperingati si berandalan.



"Ternyata lo lebih sayang tas lo, daripada nyawa lo hah?" teriak berandalan garang.



Namun suara seorang pria mengejutkan Khaira juga si berandalan.



"Khaira!" seru seorang pria datang dari arah kiri halte bus.



Bersambung

__ADS_1


__ADS_2