
Clara mengangkat wajahnya melihat sayu wajah Papa Erik, "Kevin telah menggoda Clara, Pa. Kevin memperdaya Cla, dan dia nggak mau bertanggung jawab atas kehamilan ini..."
"Bangsat!" Erik geram, mendengar pengakuan Clara, bahwa Kevin tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan bejadnya, Erik mengusap pucuk kepala Clara, "tenanglah anakku, kamu pasti akan menikah dengan Kevin, Papa janji. Akan membuat Kevin mempertanggungjawabkan perbuatannya padamu," lanjutnya lagi meyakinkan Clara, bahwa putrinya tidak perlu cemas.
Dalam diam dan tangisnya, Clara tersenyum puas, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki hatinya. Clara menunduk dan membayangkan betapa bahagianya jika benar janji Papa Erik menjadi kenyataan, ia juga tahu. Bahwasanya sebisa mungkin Papa Erik akan menepati janjinya.
"*Kevin sayang, gue harus mengkambinghitamkan lo. Karena gue cinta banget sama lo, gue pengen lo jadi satu-satunya buat gue. Dan untuk perempuan kampungan itu, harus enyah*!" monolog Clara dalam hati.
"Sekarang kamu tidak perlu cemas, dan makan makanan yang bergizi secara teratur agar kamu sehat dan cucu Papa juga sehat." kata Erik, seraya mengusap perut Clara yang masih rata.
Terbesit rasa bahagia mendengar putrinya hamil dari seorang pemuda yang didambakan Papa Erik untuk menjadi menantunya.
"*Kevin adalah pria yang baik. Saya rasa sebabnya dia belum mengakui kehamilan Clara karena belum adanya tali pernikahan yang mengikat. Saya harus segera mengatasi keraguan pemuda arogan itu. Basuki, kita akan jadi besan*." Erik membatin senang.
Clara merasa senang, dilihatnya empat asisten rumah tangga yang sedang membawa nampan, "Kemarilah." titahnya pada empat asisten rumah tangga yang ditugaskan untuk menjaganya.
Sigap, empat asisten rumah tangga mendekati sang Nona, dan menyajikan menu makanan yang telah di buat di atas meja kaca kristal.
Melihat Clara makan, sudah membuat Erik senang, "Kalau begitu Papa pergi dulu, ada pertemuan dengan para pemegang saham," pria setengah baya yang masih nampak gagah ini beranjak dari duduknya.
Sebelum Papa Erik pergi, Clara bertanya, "Tapi Pa, bagaimana dengan Kevin?"
Erik kembali melihat putrinya, "Kamu tenang saja, biar Beni yang mengurusnya. Sekarang tugasmu habiskan makanan mu, dan jaga cucu Papa, agar dia tetap sehat. Sesegera Papa akan menghubungi calon mertuamu."
"Benarkah itu Pa?" terbesit rasa senang mendengar kata mertua, yang tak lain adalah Basuki Papa dari Kevin.
Papa Erik mengangguk.
"Iya." jawab Papa Erik, lantas berlalu dari hadapan Clara.
Clara melihat Papa Erik berlalu dari hadapannya, ada rasa senang namun ada rasa yang seolah tidak puas hati mendengar jawaban Papa Erik yang menyerahkan urusan Kevin kepada ajudan terpercaya Papanya. Dilihatnya Papa Erik yang sudah pergi dari kamarnya, Clara kembali murka.
__ADS_1
"Sial! Kenapa harus Beni!"
Clara tidak sepenuhnya percaya kepada Beni, kendati demikian Beni telah menjadi ajudan Papa Erik sebelum ia dilahirkan ke dunia.
Dilemparnya sendok makan yang masih dipegangnya ke sembarang arah, hingga menimbulkan dentuman keras sendok yang menghantam lantai granit.
Empat asisten rumah tangga yang masih standby berdiri di sebelah sofa terkejut melihat tindakan brutal yang dilakukan Clara, Bik Siti sigap dalam mengambil sendok baru lantas menyerahkannya kepada sang Nona.
"Pakai sendok ini Non." kata Bik Siti menyerahkan sendok baru kepada Nona'nya.
Namun tidak di sambut baik oleh Clara, justru Clara membentak Bik Siti dan kepada semua asisten rumah tangga yang masih berdiri di dalam kamarnya.
"Pergi!" bentak Clara pada Bik Siti, detik berikutnya melihat ketiga asisten rumah tangga yang masih berdiri tidak jauh dari sofa, "enyahlah kalian dari hadapan ku!" bentaknya pada ketiga asisten rumah tangga yang lebih tua darinya.
Seketika karena merasa takut akan sifat Clara yang temperamental, ketiga asisten rumah tangga goes pergi dari kamar Nona'nya.
Namun Bik Siti masih setia.
Melihat Bik Siti masih berlutut di samping beda membuat Clara geram dan kembali berkata tanpa melunakkan suaranya, "Kenapa Bibik masih di sini? Mau cari muka iyah? Memang yah kalau mukanya pas-pasan, pantesnya tuh di cari!"
Terbiasa, bagi Bik Siti sudah terbiasa mendengar makian dan cemoohan dari Nona'nya. Namun jika mengingat kebaikan tuan Erik, yang telah membantu membiayai operasi dan pendidikan anak laki-lakinya membuat Bik Siti tak gentar mendengarkan makian dari Nona kecil yang sudah tumbuh menjadi Nona Clara yang temperamental.
"Masih ingatkah Nona dulu, sewaktu Nona Clara kecil usia delapan tahun. Nona Clara sangat lucu dan menggemaskan, dan betapa Nona panik saat gigi Nona copot?" kata Bik Siti bersuara lembut, dalam mengingat betapa lucunya Clara Kecil, "Bibik harap, jikalau bayi Nona lahir, Bibik masih berusia panjang dan bisa menjadi pengasuh bayi Nona," sambungnya bersuara parau menahan tangis.
Sejenak Clara terdiam, ia melihat seorang wanita yang telah merawatnya sejak ia lahir sampai sekarang. Namun, bukan Mama Margaretha yang mengurusnya membuat Clara sedih, pedih, ada yang menggerogoti hati nuraninya, emosinya kembali mendidih.
"Pergilah Bik Siti, aku nggak mau anakku di urus oleh Bibik yang sudah tua ini, pastilah aku akan mencari seorang baby sitter yang masih muda!" Clara menjeda ucapannya, ia melihat piring dan melemparkan nya ke lantai hingga piring beserta pancakes berserakan ke lantai.
Bik Siti terperangah netra tuanya melihat piring yang dilemparkan Nona'nya. Sampai piring menimbulkan bunyi keras menghantam lantai hingga pancake dan pecahan piring berserakan.
"jangan mengkhayal terlalu tinggi bahwa Bibik berarti dalam hidupku. Karena apa? Karena Bibik Siti hanyalah seorang pembantu, dan akan selamanya menjadi pembantu, jadi nggak perlu mencari perhatian dariku! Karena aku muak dengan orang-orang yang sok ramah dan sok baik, padahal dalam hatinya sedang menertawai ku!" sergah Clara masih tidak melunakkan suaranya.
__ADS_1
Bik Siti tertegun mendengar penolakan serta kembali mendengar cacian dari mulut pedas Clara, ia hanya terdiam dan menunduk. Tanpa teras buliran air mata membasahi pipi keriputnya, secepatnya Bik Siti menghapus jejak air matanya.
Namun Bik Siti menyadari, bahwasanya memang ia tak muda lagi. Tidak seperti 20 tahun lalu, pada saat ia di tugaskan oleh Nyonya Margaretha untuk mengurus Clara bayi.
"Bibik harap, jika Bibik tidak lagi menjaga Nona, Nona Clara selalu baik dan sehat. Bibik permisi Nona, mau mengambil sapu untuk membersihkan pecahan piring." ucap Bik Siti tulus, lantas pergi dari kamar Nona'nya.
Clara masih bersikap dingin melihat Bik Siti.
~~
Beni sang ajudan kepercayaan Erik, bisa dikatakan ialah tangan kanan sang tuan yang mempunyai tempat hiburan malam. Ia tidak sendiri, bersama dengan tiga ajudan Erik yang lain, ia sedang mengintai situasi rumah Kevin yang sepi di waktu pukul 11:15 wib.
"Sepertinya memang Kevin sedang tidak ada di rumah Bang Ben," kata Agus kepada Beni.
"Kita tunggu sampai pada jam 1, apabila Kevin tidak ada. Maka kita akan beralih ke studionya," jawab Beni yang sedang duduk di jok samping kemudi.
"Kita sudah di sini sejak dua jam lalu, Bang. Apa tidak sebaiknya kita langsung saja menuju studio, atau tempat-tempat biasa yang Kevin datangi," kata Ifan yang memegang kendali kemudi mobil.
Agaknya ucapan Ifan disetujui oleh temannya yang bernama Romeo, "Iya, saya cukup tau kemana saja tempat-tempat Kevin pergi, jika kita tetap di sini. Maka tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu dan terus menunggu,"
"Menurut saya ucapan Remeo ada benarnya juga Bang Ben," kata Agus ikut-ikutan terprovokasi.
Beni menanggapi perkataan tiga dari rekan kerjanya cukup santai namun tegas, "Diamlah! Belajarlah dari seekor singa, apa singa mendapatkan mangsanya dengan menimbulkan suara dan tergesa-gesa?!"
Jika ketegasan dari Beni sudah nampak, maka ajudan lain tidak ada yang berani menatap tangan kanan tuan Erik.
Benj menatap satu-persatu tiga pria yang lebih muda darinya, "Pakai otak kalian! Kevin bukanlah seorang pemuda yang gampang kita seret seperti anak kecil. Kalian bahkan tahu, jika Kevin cukup brutal dalam berkelahi!"
Sekecapun tiada yang membuka suara untuk membantah Beni. Agus, Ifan dan Romeo diam.
Bersambung
__ADS_1