
Dalam dua hari, Clara mencari tahu dengan mengerahkan hampir semua ajudan Papa Erik yang berjumlah delapan orang.
Dengan alasan yang sudah Clara susun agar Papa Erik tidak mencurigai adanya rencana mencari Ane sang mucikari.
Dalam dua hari juga Clara mendapati keberadaan Ane di rumah kontrakan kecil hanya berdiameter 4 meter. Di gang sempit kawasan padat penduduk.
Setelah kejadian malam itu, malam Ane memberikan segelas minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Ane tidak lagi menampakkan batang hidungnya, di diskotek milik Papa Erik.
Ditatapnya pintu yang sudah terlihat kusam, serta cat yang sudah mengelupas. Clara memberikan kode kepada ketiga ajudan Papa Erik guna mendobrak pintu kontrakan.
Seketika tiga pria bertubuh kekar, siap menjalankan perintahnya.
BRAK!!!
Pintu kontrakan pun terbuka lebar, dengan adanya penghuni kontrakan yang terkejut.
"Siapa kalian?" seru Ane tercengang, tidur siang nampaknya kedatangan tamu tak diundang. Ia melihat ketiga ajudan bertubuh kekar. Dari balik ketika pria di depan pintu kontrakannya, belum berhenti rasa terkejutnya.
Sang mucikari ini kembali dikejutkan dengan adanya Clara, seorang gadis yang sudah ia jebak. Ane langsung beranjak dari atas kasur dan mundur selangkah, sudah dapat Ane duga, pasti lambat laun Clara akan mencarinya. Guna menanyakan kebenaran.
“Halo Ane! Melihat reaksi lo yang terkejut ini. Menandakan lo masih ingat sama gue?” Clara masuk ke dalam kontrakan Ane yang hanya selebar kamar mandinya.
Sedangkan ketiga ajudan berjaga-jaga di depan pintu kontrakan Ane.
“Da-dari mana kamu tau aku di sini?” gagap Ane berkata, ia berdiri sampai kepentok dinding kamar kontrakannya.
“Berapa lo dapet duit setelah menjual gue yang kagak sadarkan diri, hah?” geram Clara.
Ane menggeleng, ia menyangkalnya, “Enggak, Cla. Aku nggak mengerti apa yang kamu bicarakan?”
Clara lantas memangil salah satu ajudan yang berdiri di depan, “Joyo!”
Ajudan yang dipanggil Clara dengan sigap mendekati Clara. “Siap Non,”
Clara memberikan kode kepada Joyo. Dan langsung diangguki oleh sang ajudan.
Joyo mendekati Ane, lalu menarik secara paksa, dan mencengkram kuat kedua tangan Ane dan menahannya kebelakang punggung sang mucikari dan membuat Ane bertekuk lutut dihadapan Clara.
__ADS_1
“Lepas!” seru Ane, tentu saja Ane memberontak kuat-kuat, namun tak ada artinya karena badan besar ajudan Clara tidak sebanding dengan tubuhnya.
Clara lantas melayangkan ancamannya terhadap Ane agar mau membuka mulut perihal adakah rencana Ane dalam menjualnya ke pria hidung belang ataupun jebakan.
“Minuman apa yang lo kasih ke gue An? Dan kepada lelaki siapa lo menjual gue?” teriak Clara, dengan gejolak amarahnya.
Ane menatap sang ajudan yang tentu saja sudah dikenalnya dan beralih menatap Clara, ia memasang senyuman sinis.
“Alkohol dan obat tidur,” jawab Ane, ia bersitatap dengan sorot mata Clara yang membara-bara, “Tenang Clara, orang yang berhubungan int*m denganmu termasuk orang yang mencintaimu, tapi kamu sudah mencampakkan dia!”
Clara terdiam, ia mengingat siapa pria yang ia temui sebelum ia meminum minuman beralkohol yang diberikan Ane. Mata Clara terbelalak, jangan-jangan Anto?!
“Apa pria itu Anto?” tanya Clara memastikannya.
Ane melepas tawanya, “Hahaha... itulah akibatnya kalau kamu sudah mencampakkan bahkan kamu sudah menolak dengan perkataan hina terhadap Anto,”
Clara tercengang mendengar perkataan yang Ane lontarkan.
“Lidah itu tak bertulang Clara,” ucap Ane santai, “tapi lidah mampu membuat seseorang terluka, dan bisa jadi itu membahayakan mu sendiri. Karena mulut mu adalah harimau mu, Clara! Hahaha...”
Ane terus saja tertawa renyah melihat Clara yang nampak tercengang, ia melihat Clara memang gadis sangat cantik, tapi tidak dengan hati dan mulutnya yang suka berkata kasar dan begitu mudahnya menghina orang lain.
Mendengar Ane terus saja tertawa, membuat Clara emosional, “Diam Ane!” bentaknya.
Ane terkekeh kecil, ia bersitatap dengan gadis dihadapannya,“Aku adalah salah satu orang yang kamu hina-hina, dan aku memang yang sudah menjebak mu. Karena emang aku sangat membencimu Clara. Kamu sudah mengehina ku di depan Erik,”
Terlintas dalam ingatan ketika Clara menghinanya di depan Erik yang notabene adalah Papa dari Clara. Ane sangat menyimpan dendam kepada Clara sejak hari itu. Hari dimana ia dihina-hina.
“Dasar mucikari hina!”maki Clara sangat geram.
“Kamu tahu Cla, bahwa aku mencintai Erik tulus. Tapi kamu malah menghina ku di depan pria yang aku cintai! Lagipula Margaretha nggak pernah sayang padamu sebagai anaknya, dan kenapa kamu nggak terimaku jadi Ibu tiri kamu, aku bisa menjadi ibu yang baik untukmu, Clara.”tukas Ane bersungut-sungut.
Clara benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya, lantas menjambak sang mucikari wanita yang lebih tua darinya, Clara berkata kasar, layaknya seekor singa yang lapar.
“Lo berani, beraninya ngelakuin hal itu sama gue An. Lo bakal tau akibatnya!” hardik Clara.
Namun, bukannya takut Ane malah tersenyum tipis.
__ADS_1
“Bocah manja, yang hanya bisa menghamburkan duit orang tua, nggak tahu etika, dan nggak punya cara tata krama. Kamu pantes mendapatkan hal sekotor itu, cuwiihh!” kata Ane membuang ludahnya, menatap Clara tajam.
Clara pun menghempaskan tangannya yang mencambak rambut Ane, dan mengibas-ngibaskan tangannya seolah ia baru memegang debu yang sangat kotor.
Ane terhempas hingga wajahnya hampir berbenturan dengan lantai, ia hanya tersenyum miring, “Aku sudah terbiasa menghadapi masalah yang jauh lebih kejam dari ini, Clara!”
Ane mengangkat wajahnya menatap Clara yang nampak berwajah merah dan tegang.
“dari apa yang kamu lakukan saat ini, meskipun aku nggak punya lagi harga diri dan kehormatan, tapi aku nggak pernah mengemis cinta, dari orang yang bahkan nggak pernah nganggep kamu ada! Secara tulus aku cinta sama Erik dan nggak pernah mengemis cinta darinya, sedangkan kamu, heh..” jelas Ane yang sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan.
“Kamu jelas-jelas nggak punya harga diri dengan adanya kamu ngemis-ngemis cinta dari Kevin. Aku tahu semua tentangmu, dan aku bersyukur Kevin kagak membalas rasa cinta mu!” sambung Ane, sangat membenci Clara.
PLAK!!!
Clara menampar keras pipi Ane, hingga seketika meninggalkan bekas ruam kemerahan di wajah wanita yang sedang bertekuk lutut dihadapannya.
“Dengar Ane, sampai kapan pun lo tetap seorang pel*cur dan nggak pantes mencintai Bokap gue, apalagi jadi Ibu gue, karena gue kagak bakalan sudi punya Ibu macam lo!” makinya kasar, Clara kembali menampar pipi Ane sangat keras hingga tangannya pun serasa panas.
Ane merasakan sensasi panas dan terbakar di kedua pipinya, ia bahkan bisa merasakan darahnya keluar dari sudut bibirnya.
“Dengar Clara, sampai kapan pun kamu nggak bakalan mengerti apa itu cinta sejati. Dan kamu nggak bakal menjadi wanita yang dapat dicintai Kevin!” kata Ane tegas.
Mendengar perkataan Ane, Clara pergi dari hadapan Ane, secepat kilat Clara membuka pintu kamar kontrakan dan menutupnya dengan membanting pintu sekuat mungkin, sampai terlihat bagian pembuka pintu terlepas.
Joyo menyusul Clara keluar dari kamar kontrakan Ane.
Namun salah satu ajudan Clara yang masih berada di depan pintu kontrakan yang dibuka kembali oleh Joyo. Ajudan yang bernama Beni merasa iba kepada Ane.
Beni lantas menghampiri Ane yang bersimpuh di lantai, dan membantu Ane untuk duduk di atas kasur. “Saya rasa kamu terluka cukup parah An?”
Ane menggeleng, meskipun demikian rasa sakit di wajahnya akibat ulah tamparan keras dari Clara, “Gue baik-baik saja Ben.”
Sebelum Beni benar-benar pergi, Beni mengusap lembut pucuk kepala Ane, tepatnya bekas jambakkan Clara yang membuat rambut Ane acak-acakan.
__ADS_1
Bersambung