Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Bukan cinta, tapi ambisi


__ADS_3

Kevin melihat keberanian Clara membuatnya muak, ia melempar senjata api ke sembarang arah. Hingga dua butir peluru yang masih tersisa berserakan terpisah dari dalam senjata api.


Geram, berang, marah dan kecewa itulah yang ada di hati dan pikiran Kevin. Jika bukan Clara seorang gadis yang menjadi teman almarhumah Kirana, pastilah ia sudah berlaku kejam terhadap Clara yang sudah dianggapnya adik.


Bukan hanya satu peluru, ia akan menghabiskan semua peluru di dalam senjata api untuk merajam orang yang telah menjebaknya di kampung Rawa Dengklok, dan akibat jebakan yang salah sasaran. Kini ada seorang gadis desa yang tidak bersalah telah ikut terlibat.


Bagaimana jika sampai Khaira tahu? Kevin memejamkan matanya dalam-dalam menghirup aroma familiar diskotek.


Ketiga ajudan yang sejak tadi hanya berdiam, kini maju untuk menghajar Kevin, namun Clara sudah lebih dulu memberikan peringatan menggunakan tangannya kepada ketiga ajudan agar tidak perlu bertindak gegabah yang nantinya akan memperkeruh masalah antara dirinya juga Kevin.


Kevin berbalik arah, tak ingin melihat Clara lebih lama. Karena hanya akan membenamkan kekecewaan yang lebih dalam. Namun, sebelum ia melangkah kakinya untuk pergi dari diskotek, Clara sudah lebih dulu menghentikannya.


Clara bersimpuh dilantai sambil memegangi tangan Kevin,


“Maafin gue Vin....” ucapnya gemetar, ada yang menusuk-nusuki kelopak matanya yang serasa semakin memanas. Seperdetik kemudian menjadi buliran hangat di pipinya.


"Kata maaf lo nggak guna!" berang Kevin tanpa mengindahkan tangisan Clara.


Clara menunduk lesuh, derai air mata semakin luruh membasahi pipinya, “Gue benar-benar gelap mata Vin. Gue cinta mati sama lo, gue minta maaf Vin....”tangisnya kian pecah.


Kevin bergeming, ia menadahkan wajahnya ke atas seraya memejamkan matanya dalam-dalam.


"Lo harus sadar Clara, bahwa apa yang lo lakuin itu salah!" ucap Kevin penuh dengan ketegasan.


Salah? Ya, Clara tahu jika perilakunya telah salah dengan sudah menjebak Kevin yang ternyata malah mempertemukan sang pujaan hati dengan wanita kampung bernama Khaira.


Namun Clara tak ingin menyerah begitu saja, ia tidak ingin melepaskan Kevin begitu saja hanya untuk wanita kampungan itu.


“Gue putus asa Vin. Gue mengira orang yang tidur sama gue, dua bulan yang lalu itu elo-" ucap Clara, terbesit bayangan pada saat ia mengeluarkan hasrat terpendamnya untuk melakukan hubungan int*m dengan Kevin. Namun ternyata, pria yang telah merenggut keperawanannya bukanlah Kevin.


"Karena gue dalam pengaruh minuman alkohol berbahan dasar Absinth membuat gue berhalusinasi bahwa pria yang udah tidur sama gue itu lo-" ada jeda dalam ucapannya, Clara mengusap air matanya yang semakin tak tertahan mengalir begitu saja bagai sungai yang bermuara ke lautan.


“dan karena gue emang cinta sama Lo, gue pengen lo nikahin gue. Karena sekarang ini gue hamil...”sambung Clara bersuara parau, tangisnya semakin pecah. Kesedihan dalam hatinya tak dapat ia bendung lagi, berharap Kevin lah pria yang telah menaburkan benih dalam rahimnya.

__ADS_1


Kevin terkejut atas pengakuan Clara yang menyatakan bahwa Clara telah hamil, namun Kevin lebih memilih menahan diri dan tidak memberikan tanggapan.


“Waktu itu gue nyuruh orang, buat bikin lo nggak sadarkan diri, gue pikir dengan gue menyewa tempat kost di sana yang terkenal akan tradisi hukumnya, akan ngebantu gue, buat lo nikahin gue. Hanya lo yang gue mau Kevin!”


Kevin bergeming mendengar ucapan Clara, yang menurut Kevin tidak masuk logikanya. Bulshet cinta mati!


Clara pun kembali melanjutkan ucapannya, “Tapi kenyataannya, rencana gue nggak berjalan sesuai dengan rencana gue Vin. Lo nikah sama cewek kampungan itu, gue kagak bisa menerima itu Vin, Lo harus jadi milik gue seutuhnya.”


Kevin menarik nafas dan membuangnya kasar. Clara benar-benar sudah membangkitkan emosinya yang telah mencapai batas ubun-ubun.


Kevin menghempaskan tangan Clara yang bertaut di jemarinya, hingga membuat Clara kembali bersimpuh di lantai ketiga ajudan yang sejak tadi diam akan mendekati Kevin, namun Kevin sudah lebih dulu membentak ketiga ajudan Clara.


"Diam! Jangan ada satupun dari kalian yang ikut campur!"


Seketika tiga ajudan Clara diam dengan sorot mata nyalang menatap Kevin.


Kevin kembali menatap Clara yang menangis sesenggukan, “Lo bener-bener udah gila Cla! Mana mungkin gue tidur ama lo, dan bikin lo hamil. Sedangkan lo udah gue anggap adik gue sendiri, mikir Cla, mikir!”tegasnya berkata dengan gigi dikeratkan.


Clara bersimpuh dilantai, sadar tidak sadar. Kesalahannya memang sudah menyebabkan kesemrawutan, bukan hanya memiliki Kevin. Akan tetapi malah menerima makian dari pria pujaan hatinya.


Kevin mengusap wajahnya kasar, "Bulshet Clara, cinta mati tuh kagak ada! Lo bukannya cinta, tapi lo udah berambisi!"


"Tapi Vin..." kata Clara, hendak meraih tangan Kevin. Namun Kevin malah mundur selangkah.


“Sumpah demi apapun gue nggak nyangka lo bisa merancang rencana licik dengan sedemikian apik. Lo hebat Cla, sampai-sampai gue susah payah dan harus menunggu waktu sampai satu bulan untuk mengungkap siapa dalang yang udah ngejebak gue!" Kevin menghentikan ucapannya yang bernada marah. Ia sedikit membungkuk mendekati Clara.


Clara menatap Kevin dengan perasaan berkecamuk sedih.


"Lo tau Cla? Akibat dari rencana licik Lo. Ada seorang gadis yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kota ini. Dia harus mengorbankan diri, dan mendapat perlakuan yang kagak pantas dari warga di sana! Dia, harus menerima perlakuan seolah-olah dia kagak mempunyai kehormatan!” tukas Kevin lugas.


Tak sedikit pun bibir Clara berkata, rasa sedihnya kini kian bertambah. Bukan hanya cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Akan tetapi juga pria yang dicintainya kini telah mengetahui rencana piciknya, dan mungkin akan berbuntut pada kebencian.


“Kenapa lo nggak berpikir panjang terlebih dulu Cla! Dan udah berapa kali gue bilang, lo seperti adik gue sendiri. Kalaupun rencana lo berjalan sesuai keinginan lo. Gue lebih memilih di hukum cambuk sampai mati!” cecar Kevin, penuh emosi bak kobaran api yang membakar seluruh hati.

__ADS_1


“Maafin gue Kevin,” isak tangis Clara memohon agar Kevin memaafkannya.


Kevin sudah menduganya, bahwa benar ternyata memang jebakan, tapi yang membuat Kevin kecewa, mengapa yang menjebaknya adalah Clara! Salah seorang yang disayanginya sudah seperti keluarga.


Empat pegawai diskotik yang baru saja tiba pun dibuat tercengang melihat ruangan disco berantakan mirror ball pecah berserakan di lantai. Pandangan mereka langsung tertuju pada Clara dan Kevin yang terlihat sedang bersitegang, lalu melihat tiga ajudan yang berdiri tidak jauh dari Clara.


Dibelakang keempat pegawai diskotek, ada sang pemilik tempat hiburan malam yang terkenal di kota ini.


“Ada apa ini?” seru Erik bertanya. Pria berusia 48 tahu ini langsung menatap disc jockey handalannya sedang berdiri, dan beralih menatap putri satu-satunya. Yaitu Clara yang sedang bersimpuh dilantai seraya menangis tersedu-sedu.


Erik kembali menatap Kevin, emosinya tersulut. “Kenapa Vin?” tanyanya terdengar menggelegar.


Kevin menegaskan rahangnya, ia menatap Erik dan hanya melirik Clara yang masih bersimpuh dilantai. Enggan menanggapi pertanyaan Erik, Kevin langsung angkat kaki dan melenggang pergi.


Erik melihat Kevin tidak seperti biasanya, seperti ada api yang membara dalam diri pemuda itu. Pemuda yang sudah lama putrinya dambakan.


Ayah mana yang akan tega jika melihat putrinya dicampakkan seperti ini. Erik lantas menghampiri Clara yang semakin menangis tersedu-sedu.


“Clara,” Erik merengkuh putrinya. “Papa sudah bilang, lupakan Kevin. Dia memang pemuda yang Papa harapkan bisa menjadi menantu Papa, tapi lihatlah dia. Betapa sombongnya sudah mencampakkan mu. Sadarlah Clara! Pria di dunia ini bukan hanya Kevin!” entah berapa kalinya Erik menasehati putri satu-satunya. Bahwa Kevin memang tidak menaruh rasa cinta sedikit pun kepada Clara.


Biar bagaimanapun Erik sudah membujuk Kevin. Namun tetap saja perasaan memang tidak bisa di paksakan.


“Tapi Clara mencintai Kevin sudah sejak lama Pa, hanya Kevin,” tukas Clara, masih menangis sesenggukan.


Erik mengusap lembut rambut putrinya. Rasa cinta putrinya sudah menjadi rasa yang buta, “Tapi Clara, sekeras apapun kamu membujuk dan mengemis cinta Kevin. Perasaan memang nggak baik jika dipaksakan sayang,” nasehatnya lembut.


Clara menggeleng dalam dekapan sang Ayah, ia tidak menerima alasan apapun. Ia hanya mau Kevin seorang, kendati sekarang ia telah hamil anak yang tidak ia ketahui siapa pelaku yang sudah menghamilinya.


“Clara harus bisa menjadikan Kevin milik Clara seorang Pa, hanya Clara!” Clara menjauhkan dirinya dari sang Ayah. Ia berlari keluar tanpa alas kaki. Menapaki lantai disco dengan kaki putihnya.


Erik melihat kepergian putri satu-satunya. Hatinya sangat hancur melihat Clara seperti itu. Ternyata sifat keras kepala Margaretha menurun pada Clara.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2