Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kemarahan jack


__ADS_3

"Brengsek!! Sialan. Semua kacau karena gadis itu."


"Aaa...., sumber uang ku. Lelaki tampan ku."


"Bagaimana ini?"


"Hah..., tapi beruntung wanita itu tak melaporkan ku ke polisi."


"Bisa- bisa aku mendekam di penjara."


Stevi berulang kali memukul kemudi stir mobil yang dibawanya. Rasa kesal dan amarah dikeluarkan nya dengan membanting stir kemudi berulang kali.


Stevi tak menyangka keberuntungan tak berpihak padanya, dengan kata lain semua rencana nya gagal total bahkan hampir membahayakan dirinya.


" Aku harus memikirkan cara lain mencari sumber keuangan yang baru."


"Tak mungkin aku kembali ke bram. Laki- laki tua itu pasti sudah mencari yang baru."


"Hah..., nasib..., nasib."


Stevi masih saja tersulut api kemarahan atas apa yang terjadi hari ini.


Sementara ine terbengong duduk terkulai lemas tak berdaya atas kesalahan yang diperbuatnya. Ine hampir tak percaya melakukan kebodohan yang berakibat sangat fatal.


"Mbak..., apa yang terjadi sebenarnya?"


"Wid..., aku telah melakukan kesalahan yang fatal."


"Kesalahan apa mbak? Dan siapa gadis itu? Kenapa silla sampai semarah itu?"


Ucap widya.


"Wid belum pernah melihat kemarahan si mungil seperti itu.''


"Ma..., kemana semua orang kok tidak ada? Loh..., tante widya sudah datang?"


Stela sedikit terkejut melihat tante widya dan mama ine terlihat lusuh seperti dalam masalah.


"Tante..., apa yang terjadi?"


Stela berbicara pelan setelah melihat mama ine dalam keadaan tidak baik- baik saja.


"Entahlah? Tante juga tidak tahu persis nya."


Tak berapa lama rafa datang tergopoh- gopoh tampak berlari ke lantai atas.


"Rafa, bagaimana? Katakan pada mama! Apa ian berhasil mengejar ane?"


"I..., iya ma. Tapi."


Rafa tampak ragu mengatakan nya.


"Tapi apa?"


"Ane kecelakaan ma, ian dan silla membawanya ke rumah sakit."


"Haa..., tidak."


Ine terkulai lemas di lantai sementara rafa meninggalkan nya begitu saja berlari ke lantai atas mengambil kunci mobil yang tertinggal di kamar silla.


"Mbak, yang sabar."


"Ma, tante..., sebenarnya apa yang terjadi?"


"Mama melakukan kesalahan yang fatal, stel."


Ucap ine mengeluarkan airmata dari sudut matanya.


"Kesalahan? Maksud mama?"


"Fa, kau mau kemana?"


"Ke rumah sakit tante, rafa akan menyusul mereka."

__ADS_1


"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Mama..., kenapa duduk dilantai?"


Mahendra muncul dari balik pintu terkejut mendengar perkataan rafa.


"Ane kecelakaan pa."


"Apaaa...., ane kecelakaan? Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang pa, rafa mau menyusul mereka ke rumah sakit."


Ucap rafa.


"Rafa, tante ikut dengan mu."


"Iya, tante."


"Pa, mama ikut."


Mahendra tak mengatakan apa pun hanya mengangguk pelan. Namun mahendra kembali membalikkan badan nya saat melihat stela.


"Stel, dirumah saja ya. Kasihan safa kalau kamu ikut."


"Iya, pa."


Semua orang pergi ke rumah sakit, tapi tidak dengan stela dan baby safa. Mahendra tidak mengijinkan nya ikut serta karena baby safa.


"Non, makan non. Makanan nya banyak, nyonya masak banyak tapi semua ke rumah sakit."


"Iya, mbok. Kasihan mama terlihat sangat syok, dan stela tak tahu apa yang terjadi."


"Salahnya nyonya sendiri, non."


"Kok salahnya mama? Memang nya mbok tahu apa yang terjadi?"


"Tidak sih, non. Tapi sewaktu nyonya menyuruh mbok buat minuman, ada seorang gadis muda mengaku calon istri den bryan."


"Lalu...?"


"Lalu mbok bilang kalau den bryan sudah menikah, dan gadis itu bilang hanya untuk mengelabuhi nyonya."


"Ih..., mbok bikin kaget saja. Lalu gadis itu jawab apa mbok?"


"Nggak jawab, non. Mbok keburu lari ke dapur.''


"Yah..., mbok. Tapi mbok, memang nya mbok sudah pernah bertemu istrinya ian?"


"Sudah, non. Sewaktu menginap di rumah baru, orang nya cantik, mungil, ramah, tapi bukan gadis yang datang tadi."


"Begitu."


"Iya, non.


"Sayang..., kemana kok sepi? Katanya ada pertemuan penting?"


Jack secara tiba- tiba muncul di ruang makan.


"Den jack, makan den. Masakan banyak, kebetulan nyonya masak kesukaan aden."


Ucap mbok ijah melihat kedatangan jack.


"Terima kasih, mbok."


"Semua ke rumah sakit, mas."


"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?"


"Istrinya ian kecelakaan."


"Istrinya ian? Kok bisa?"


"Entahlah? Aku kurang tahu karena pada saat kejadian berada di lantai atas."


"Hem..., mama masih memasak makanan kesukaan ku. Meskipun aku bukan anaknya tapi mama sangat sayang padaku, tapi mengapa kalian harus berbohong?"

__ADS_1


Gumam jack dalam hati.


"Kenapa mama masih berpura- pura baik padaku? Apa ini sebagian dari sikap munafik mereka?"


"Tak mungkin kalau tidak ada alasan atau menutupi kesalahan, mereka berbuat baik padaku."


"Apa benar perkataan pak bram kalau mereka hanya menginginkan harta benda saja?"


"Hah..., entahlah? Jack, kau harus berpikir jernih. Tidak mungkin kalau mereka tidak menyayangi mu membesarkan mu dari bayi?"


Rupanya jack tengah bergelayut manja di dalam pikiran nya menerawang jauh ke angkasa. Menerka- nerka spa yang sebenarnya terjadi dan juga apa yang harus dilakukan nya. Dia bukan seorang kacang lupa kulitnya, tak tahu berbalas budi.


Tapi rekaman video dan percakapan serta apa yang di katakan bram dan juga bukti yang ditemukan nya di rumah kedua orang tua mahendra mempengaruhi jalan pikiran nya.


"Mas..., makan?"


"Tidak. Ayo kita pulang!"


Stela terkejut mendengar bentakan dari jack yang seumur pernikahan nya tak pernah stela dengar bahkan semenjak mereka pacaran.


"Tapi mas."


"Tidak ada tapi- tapian."


Stela terkejut dengan sikap jack yang berubah secepat kilat mengambil safa dari gendongan mbok ijah membawanya ke ruang tengah.


"Non, sudah turuti saja aden."


"Iya, mbok."


Stela yang belum selesai makan naik ke lantai atas mengambik perlengkapan safa yang berada di kamar jack.


Tanpa sepengetahuan mereka mbok ijah menyiapkan sedikit makanan untuk dibawa pulang stela.


"Non, ini bawa pulang. Biar nggak masak sampai di rumah."


Ucap mbok ijah pada stela memberikan paper bag pada nya.


"Tapi mbok."


"Tidak apa- apa, aden tidak akan marah. Sebenarnya aden merindukan masakan nyonya."


Stela hanya mengangguk pelan dan juga mengerti perkataan mbok ijah. Dengan terburu- buru stela mengambil paperbag itu, lalu menyusul jack yang telah berjalan keluar rumah ketika melihat stela turun dari tangga.


Jack memberikan safa pada stela setelah istrinya naik ke mobil lalu mengemudikan nya dengan kecepatan agak tinggi berbeda dari biasanya.


"Jack..., tolong pelankan sedikit! Aku takut."


Stela tak mengerti kemarahan yang ada di wajah jack karena masalah apa, hingga membuatnya menjadi korban pelampiasan.


"Ada apa dengan jack? Kenapa sikapnya berubah? Apa memang benar jack ada masalah dengan papa?"


Gumam stela dalam hati.


Jack tak mengeluarkan suara sedikit pun dalam perjalanan bahkan terlihat sangat cuek dan dingin.


"Sayang, bobok ya."


Gumam stela setelah sampai di rumah mereka, membaringkan safa di box bayi miliknya.


Setelah nya stela pergi ke dapur tanpa berbicara sedikit pun pada jack. Jika jack bisa marah tanpa sebab, maka ia pun bisa melakukan hal yang sama.


"Sayang..., maaf."


Stela tak mengindahkan suara jack yang meminta maaf pada nya, memilih pergi ke lain tempat menyantap makanan nya. Makanan yang sempat dibawakan mbok ijah pada nya.


Jack mengerti jack memendam kekesalan pada nya tetapi tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Maafkan atas sikapku sayang, aku belum bisa memberitahu secara langsung."


Gumam jack dalam hati melihat sang istri dari kejauhan.


"Aku berharap setelah mengetahui kebenaran nya, kau tidak akan berubah dan meninggalkan ku."

__ADS_1


Jack berlalu memilih pergi ke ruang kerja nya, entah kenapa ia begitu canggung dekat dengan stela setelah mengetahui kebenaran yang ditulis kakek saputra tentang riwayatnya.


Bersambung🙏😊


__ADS_2