Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Akibat cidera


__ADS_3

"Sayang..., sudahlah. Tak perlu menyalahkan mama terus menerus, semua sudah terjadi dan tak mungkin kakak ipar kembali seperti semula."


"Tapi kak..., mama yang menyebabkan kak ane kecelakaan."


Silla masih bersikeras mengatakan mama nya yang menyebabkan kecelakaan ane.


"Mungkin mama tidak sengaja, sayang."


Ucap rafa.


"Atau mungkin juga tipu muslihat gadis itu.


"Tetap saja, mama yang salah."


Silla merasa kesal karena sang mama.


"Katakan padaku, kau sangat menyayangi kakak ipar?"


Ane mengangguk pelan menatap wajah tenang rafa yang saat ini kedua tangan nya pun memegang tangan silla.


" Lalu kakak?"


"Oh..., tidak. Jangan katakan kakak menyuruhku memilih! Silla tak kan bisa memilih antara kakak dan kakak ipar."


Silla mulai menangkap sinyal protektif dalam diri rafa.


"Memangnya kenapa?"


"Silla menyukai kakak ipar saat kali pertama bertemu di kampus kakak. Kakak ipar sangat supel, menarik, lemah lembut, tapi sangat tegas."


"Kakak tahu tidak, kalau kakak ipar menyukai motor besar seperti kak ian. Sangat keren, apalagi saat melepas helm nya silla terpesona dengan kakak ipar."


"Kakak juga telaten mengajari silla memasak, membersihkan rumah, mencuci piring, bahkan menyapu dan mengepel yang seumur silla tak pernah silla lakukan."


Ucap silla.


"Oh..., jadi ane yang merubah peri kecil ku menjadi seorang istri yang sempurna."


Gumam rafa tersenyum sendiri.


"Pikiran yang dewasa apalagi dalam menyikapi masalah. Maafkan kakak sayang, kakak belum bisa memberitahu semuanya."


"Kak..., kakak."


Silla melihat rafa yang tersenyum sendiri mengerutkan dahinya, entah mengapa silla merasa curiga.


"Eh..., iya. Ada apa sayang? Kenapa berteriak?"


"Silla yang harus bertanya kakak kenapa senyum- senyum sendiri? Jangan- jangan?"


Ucap silla dengan mata melotot hampir keluar menunjuk wajah rafa.


"Tidak, sayang."


Rafa meraih jari telunjuk silla lalu memeluk gadis kecil itu.


"Hanya memikirkan saat acara bulan madu."


Bisik rafa tepat di daun telinga silla. Semburat merah terpancar di kedua pipi silla.


" Kakak..., apaan sih. Malu di tempat umum."


Gumam silla lirih menyembunyikan wajahnya di bilah dada kekar rafa.


"Ayo, kita lihat kakak ipar! Bryan memberitahu kalau kakak iparmu sudah di pindah di ruang rawat inap. Masa kritisnya telah usai."


"Benarkah? Kak ane sudah siuman?"


"Belum."


"Hah."


Silla menghela nafas panjang ketika mendapati jawaban yang tidak diinginkan nya.


Rafa berhasil membujuk kemarahan silla untuk kembali bersama mereka yang sesang menunggu kesadaran ane pulih.


Sampai di ruang rawat inap ane yang merupakan ruang vip yang terbaik di rumah sakit kota itu, semua tengah berdiri menunggu reaksi ane yang saat ini telah siuman tentunya bersama dokter radit.


"Maafkan kami, pak. Kami sudah berusaha, memang ini yang kami takutkan. Saat nyonya denada sadar, dia tidak ingat dengan siapapun."


Ucap dokter radit.


"Cidera yang ada dikepalanya sangat mempengaruhi segalanya. Terutama kinerja saraf otak yang mengatur pergerakan tubuhnya dan juga memorynya."

__ADS_1


"Kami akan melakukan tes lanjutan guna mengambil langkah apa yang harus di ambil untuk proses penyembuhan nya."


"Apa maksud dokter?"


Semua orang menoleh ke arah sumber suara yakni silla yang berdiri diambang pintu.


"Jangan katakan kak dena hilang ingatan? Dan jangan bilang kak dena mengalami kelumpuhan?"


Dokter radit menghela nafas panjang nya menganggukkan kepala nya.


"Tidak mungkin."


Silla setengah berteriak tak percaya dengan ucapan dokter tersebut.


"Sayang."


Rafa setengah berbisik di telinga silla memanggilnya dengan pelan.


"Hem..., silla mengerti kak."


"Baiklah kalau begitu, saya permisi."


"Terima kasih, dokter."


Ucap wijaya mewakili seluruh keluarga, sementara bryan hanya diam terpaku duduk memegang tangan ane.


Malam semakin larut mereka masih berkumpul di ruang rawat ane seakan enggan meninggalkan gadis itu.


"Kak..., silla pulang dulu ya. Besuk silla datang lagi, silla tak mungkin menginap disini karena silla sudah bersuami."


Bisik silla.


"Silla janji akan jagain kakak."


Airmata menetes di sudut mata silla, namun dengan cepat di usapnya agar tak terlihat kakak nya yang pasti sangat sedih.


"Ma..., lihatlah kak ane tak menjawab sedikit pun meskipun matanya terbuka!"


Sindiran telak yang dikatakan silla pada ine seakan mencekik leher ine tak bisa menjawab apa pun, apalagi berbuat apapun.


Setelah itu silla maupun rafa berpamitan oada papa nya maupun kedua orang tua ane. Kedua orang tua ane maupun bryan saling berebut ingin menjaga ane tetapi bryan melarang mereka tinggal.


"Baiklah, papa dan mama pulang dulu. Kabari kami secepatnya jika terjadi sesuatu dengan ane!"


'Iya, pa."


"Bryan..., tolong jaga putri mama!"


"Iya, ma. Pasti itu."


"Nak..., mama dan papa pulang dulu. Besuk kami akan mengunjungimu lagi."


Bisik della di sela- sela pelukan nya pada ane.


"Ne..., maafin mama ya. Mama janji akan melakukan apa pun untuk mu."


Ucap ine menyentuh pelan tangan ane lalu mencium nya.


"Ian..., maafin atas kesalahan mama. Mama menyesal percaya pada orang lain."


Ine menatap dalam- dalam wajah sendu putranya yang tidak dapat digambarkan kesedihan nya.


"Tidak, ma. Jangan terus- menerus menyalahkan diri sendiri! Ian yakin kalau ane akan secepatnya sembuh."


"Apa kau perlu dibawakan seauatu?"


"Tidak, ma. Terima kasih. Asisten pribadi ian sudah membawa semua kebutuhan kami."


"Baiklah, kalau begitu mama pulang dulu."


Bryan mengangguk pelan. Sedangkan mahendra hanya menepuk pundak bryan.


Mereka meninggalkan ruang rawat inap ane secara kebetulan asisten pribadi bryan datang membawakan keperluan ane dan juga bryan selama menginap di rumah sakit.


"Terima kasih, bi."


"Sama- sama, den. Bagaimana keadaan non?"


"Kurang begitu baik, bi. Kami akan menginap di rumah sakit selama beberapa hari, tolong jaga rumah!"


"Baik, den. Bibi doakan non ane cepat sembuh."


"Terima kasih, bi."

__ADS_1


"Bibi pulang dulu, den."


"Iya, bi."


Asisten pribadi yang mengurus segala keperluan rumah pamit pulang setelah berbincang sebentar dengan bryan.


Bryan tampak lega semua orang telah pergi, ia menghubungi beberapa bodyguardnya yang tentunya atas ijin rumah sakit untuk menjaga ruang rawat ane dari siapa pun yang mencoba masuk ke dalam ruang rawat ane.


Bryan merasa yakin setelah kegagalan nya, dia akan mencoba cara lain yakni menyakiti ane. Bryan tak ingin terjadi sesuatu dengan ane, apalagi gadis itu bukan gadis biasa, yakni seorang penipu ulung bahkan lolos dari kejaran polisi.


Dalam perjalanan pulang, ine beberapa kali menangis sesenggukan atas apa yang dilakukan nya. Juga terus- menerus menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa menantunya.


"Sudahlah, ma. Papa pusing terlalu banyak masalah, jangan tambah lagi dengan tangisan mama!"


"Papa bisa stres kalau seperti ini."


Ine terdiam mendengar apa yang dimatakan suaminya, yang memang benar kalau mahendra ingin membicarakan sesuatu dengan keluarga. Namun semua belum sempat disampaikan, ane terlebih dahulu kecelakaan.


"Pa..., mama tidak menyangka ine tega melakukan itu."


"Dia sendiri yang bersikeras tapi dihianati sendiri."


"Ma..., ine sudah menjelaskan kalau dia terpedaya dengan tipu muslihat perempuan itu."


Ucap wijaya menjawab celotehan istrinya.


"Lagipula kesembuhan ane lebih penting daripada memikirkan yang terjadi."


"Hah..., papa benar. Ane memang lebih penting."


Della memeluk lengan suaminya mencari ketenangan.


Mereka terkejut melihat putra sulung mereka berada di depan rumah saat mereka juga sampai di halaman rumah mereka.


"Pa..., ma..., darimana?"


"Kencan ya?"


Rio ysng belum mendengar kecelakaan ane masih sempat bercanda dengan kedua orang tuanya.


"Pa..., bagaimana ini? Mama lupa memberitahu rio."


Bisik della pada wijaya dan wijaya menepuk tangan della menenangkan nya.


"Papa yang akan memberitahu."


Jawab wijaya.


"Dari rumah sakit."


Wijaya menjawab putranya yang mengira mereka baru pulang berkencan.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit, pa?"


"Papa akan kelaskan didalam, ayo masuk! Dina tidak ikut?"


"Ikut, pa. Sudah masuk duluan, abi tidur sewaktu dalam perjalanan."


Wijaya hanya mengangguk pelan lalu mengajak putranya masuk ke dalam rumah.


"Pa..., ma..., baru pulang?"


Dina yang turun kembali setelah menidurkan abi melihat kedua mertuanya dan juga suaminya masuk ke dalam rumah.


"Iya ,din. Kami dari rumah sakit."


Jawab della pada menantunya.


" Rumah sakit? siapa yang sakit, ma?"


" Adikmu kecelakaan."


Ucap winaya.


"Apaa...,maksud papa ane kecelakaan?"


Rio setengah berteriak kembali berdiri setelah mendengar adik kesayangan nya kecelakaan.Sedangkan wijaya mengangguk pelan.


" Bagaimana bisa? Kenapa papa dan mama tak memberitahu rio?"


Wijaya menjelaskan duduk permasalahan nya hingga terjadi kecelakaan pada ane. Tak sampai disitu saja, wijaya juga menhatakan kalau ane hilang ingatan bahkan mengakami kelumpuhan akibat cidera yang ada dikepalanya.


Rio menitikkan airmatanya mendengar kenyataan pahit tentang peri kecilnya, begitu pun dina. Wijaya menyuruh mereka istirahat setelah memberitahu kebenaran nya, juga karena besuk pagi mereka harus ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2