Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Melalaikan nasehat


__ADS_3

Clara mengurung dirinya di dalam kamar. Tak diizinkannya siapapun menganggu, bahkan Papa Erik pun tak ia indahkan panggilannya di luar kamar.


“Clara bicaralah Nak, bicara sama Papa apa yang terjadi antara kamu dan Kevin!”seru Papa Erik diluar pintu kamar putrinya membersamai suara ketukan pintu secara beruntun.


Sungguh Clara saat ini tidak ingin diganggu oleh siapapun. Apa kata Papa Erik nanti jikalau mengetahui putrinya telah merancang untuk menjebak Kevin di kampung Rawa Dengklok, dan juga mengetahui bahwa putrinya telah hamil.


Clara juga tidak tahu benih siapa yang ia kandung. Ia beringsut terduduk di lantai samping tempat tidur, ia membenamkan wajahnya diantara lengannya.


Ia menangis sejadi-jadinya. Rencananya telah gagal. Bukan cinta Kevin yang didapat, justru malah mendapatkan kebencian dari Kevin.


Dalam pengintaiannya selama beberapa hari, ia melihat ada seorang wanita yang telah dinikahi Kevin. Clara sangat geram akan hal itu, bagaimana pun caranya ia juga harus menyusun rencana guna menyingkirkan wanita itu.


Clata terus menerus mengutuki dirinya kala cinta menggoda, dibalik buaian asmara yang didamba pergi tanpa memedulikan perasaannya.


“Bodoh! lo bodoh Vin, lo nggak pernah melihat cinta yang gue miliki, lo nggak pernah tau seberapa besar perasaan cinta gue ke elo!” teriaknya penuh dengan emosi membara.


Clara berdiri, lantas menarik paksa selimut dan seprei lalu membuangnya ke sembarang arah. Bantal pun menjadi amukannya.


Ranjang yang semula rapih, kini menjadi sangat berantakan. Clara mengacak-acak rambutnya, hingga membuatnya seperti seorang wanita gila.


Tak diindahkannya suara-suara diluar kamarnya yang terdengar sumbang.


Clara memukuli perutnya, ia menyesal karena tidak mengindahkan peringatan Papa Erik agar jangan mendekati dunia malam. Dan inilah hasilnya akibat melalaikan nasehat orang tua.


Ia hamil tanpa ia ketahui siapa pria bejad yang sudah melecehkannya. Teringat Kembali kepingan masa dua bulan lalu, saat ia datang ke diskotek untuk mencari Kevin.


Flashback on


Di sebuah diskotek ternama Valencia, yang berada disalah satu sudut Kota metropolitan.


Clara baru saja memasuki area cafe yang berada di lantai satu bangunan dengan empat lantai milik sang Ayah. Tiada bodyguard yang secara khusus ditugaskan sang Ayah untuk menjaga dirinya, karena ia kabur dari dua bodyguard yang sedang mengawalnya dengan cara main kucing-kucingan.


Ia bertujuan datang ke diskotek sekaligus tempat karaoke ini hanya untuk mencari sang pujaan hati. Yaitu Kevin sang DJ. Clara melewati beberapa Pria bertubuh tegap sedang berjaga di dalam pintu masuk kedalam diskotek.


Diamatinya para pengunjung yang datang ke tempat khusus orang dewasa, ada yang bersama pasangan, ada juga yang sedirian dan beberapa bersama teman-temannya.


Banyak wanita-wanita cantik nan aduhai, semok bin montok dan banyak pula pria serta wanita yang mencari kesenangan.


Namun saat mencari keberadaan Kevin yang tidak kunjung ia temui. Secara mengejutkan ia di panggil oleh seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah security diskotek.


“Clara!” seru Anton, memanggil Clara.


Gadis dengan perawakan tinggi semampai ini enggan menoleh, dan kembali melanjutkan langkahnya. Sampai ia terhenti kembali, kala pria tegap itu menghalangi langkahnya. “Cla, please, gue mau bicara,”


Clara menatap Anto malas, “Apa elo mau ngungkapin perasaan Lo lagi? Sorry gue nggak ada waktu!” ketusnya.


Clara hendak pergi, namun tangannya diraih Anto. Membuatnya kembali berhenti dan menghadap Anto kesal.

__ADS_1


“Cla, gue cinta sama lo udah lama, gue nggak bisa nyembunyiin ini lagi,” ungkap Anto meyakinkan Clara, bahwa ia sangat mencintai gadis dihadapannya.


Clara melepaskan tangan Anto yang menggenggam tangannya, “Denger ya Anto, gue nggak suka ama lo. Lo juga bukan tipe gue, dan gue dateng kesini cuma mau lihat Kevin nge'DJ, bukan ketemu sama lo security!”


Setelah mengacuhkan Anto, Clara kembali mencari-cari keberadaan Kevin. Tak berselang lama, ia dihampiri oleh wanita cantik nan seksi yaitu Ane. Siapa yang tidak kenal Ane, sang mucikari yang menyediakan layanan mandi keringat dengan skeman tarif yang berbeda-beda tergantung bibit, bobot dan montok yang dipinta oleh calon jasa nyam-nyam!


Ane terlihat membawa dua gelas minuman berwarna pink fanta.


“Ayo minum girls,” Ane menawarkan Clara minuman.


Clara menggeleng, sembari tangannya menolak gelas yang disodorkan Ane, “Sorry gue nggak minum,”


Ane mencebikkan bibirnya, ia meremehkan anak dari pemilik diskotek, “Bilang aja lo takut di marahin Erik kan? Cemen lo, gue jadi ngebayangin kalau sampai Erik tau lo diam-diam ke sini, apa ya reaksi dari Papa lo itu?”


Clara kesal atas umpatan dan ancaman Ane, wanita berambut merah dengan usia perkiraan 34 tahunan, “Apa sebenarnya mau lo, Ane?” tanyanya ketus.


“Simple,” jawab Ane menyodorkan gelas berisikan minuman beralkohol kepada Clara, “temenim gue minum, para pelanggan gue belum pada dateng, gue kesepian, please Clara.”


Dilihatnya gelas bening dengan setengah air berwarna pink fanta yang dipegang Ane, tidak ingin dianggap cemen dan tidak ingin sampai Ane mengadukan pada Papa Erik. Clara lantas mengambil gelas yang di pegang Ane.


Clara mencium aroma bau aneh (tebu bosok) dari air yang terdapat di dalam gelas, mungkin karena ia belum terbiasa dengan minuman beralkohol. Kendati sang Ayah adalah pebisnis tempat hiburan malam.


Namun tak secuil pun Clara diindahkan oleh Papa Erik untuk bermain-main di club' maupun ke diskotek. Ada rasa tidak enak ketika air fanta baru masuk ke dalam mulut, tapi mau tidak mau karena ia teramat sangat geram jika ada yang meremehkannya. Clara langsung meminum air berwarna pink fanta sampai tandas.


“Puas!” sergah Clara lalu memberikan gelas kepada Ane.


Setelah meminum air beralkohol yang diberikan Ane, Clara meninggalkan Ane. Dan kembali melihat ke atas panggung, ia tersenyum senang karena melihat sang pujaan hati akan siap tampil.


Namun, sebelum dapat Clara mendengar musik yang di putar Kevin, Clara merasakan kepalanya berdenyut hebat. Bahkan serasa apa yang dilihatnya berputar. Setelah itu entah apa yang terjadi, Clara tidak dapat mendengar apa-apa, matanya mulai terpejam dan sedetik kemudian ia ambruk di lantai diskotek.


Dengan setengah kesadarannya, samar-samar Clara merasa berada di dalam kamar. Clara sangat menikmatinya, ia membayangkan wajah Kevin yang sedang mencumbuinya. Malam penuh hasrat, Clara lalukan bersama dengan bayangan Kevin. Sampai ia mencengkram erat pundak seorang pria yang dalam bayangannya adalah sang pujaan hati.


Sampai pada keesokan harinya, Clara terbangun dan mendapati dirinya hanya berselimut, tanpa memakai pakaian sehelai pun, dan juga tidak ada orang lain di sana selain dirinya, serta kamar yang terasa asing.


Awalnya Clara sangat terkejut. Akan tetapi, Ia kembali mengingat saat ia berhalusinasi bahwa Pria yang melakukannya adalah Kevin, Clara tersenyum senang. Ia lantas segera membersihkan diri dengan perasaan bahagia, seakan hatinya dipenuhi bunga-bunga cinta yang bermekaran.


~


Malam harinya telah tiba, Clara kembali mendatangi diskotek lebih awal mendatangi tentu saja tanpa pengawasan bodyguard karena ia kabur.


Saat Kevin tiba di diskotek, Clara menyambut pria pujaannya dengan perasaan bahagia, senyumnya merekah, bibir yang merah merona bak buah delima.


Namun tak disambut baik oleh Kevin, dan membuat Clara tersinggung.


“Apa yang lo lakuin di sini dek? Kenapa dandanan lo menor?” ucap Kevin setelah dihadapan Clara, yang menyambutnya bak seorang wanita penghibur. Kevin tahu, bahwa Papa Clara yang tak lain adalah Bos-nya melarang Clara untuk menyambangi tempat hiburan malam.


Seketika senyum Clara luntur dari kedua sudut bibirnya, “Gue, gue lagi pengen aja,” sahutnya tergagap.

__ADS_1


“Hem, lo tuh lebih cantik kalau cara make-upnya nggak terlalu menor, dek,” jawab Kevin, seraya menoel hidung Clara.


Dalam hati Clara begitu ingin Kevin memandangnya sebagai seorang wanita dewasa yang mendambakan cintanya, yang tidak memanggilnya dengan sebutan (de).


“Gue cabut dulu ya.” Kevin hendak pergi dari hadapan Clara.


“Kevin!” panggil Clara menghentikan langkah Kevin.


Kevin kembali menghadap Clara, “Kenapa?”


Clara ragu, untuk mengutarakan kejadian kemarin malam yang penuh hasrat, "Lo, kemana semalam, Vin?” tanya Clara memastikan.


Kevin nampak mengerutkan keningnya, mendengar Clara menanyakannya kemana ia semalam,“Ya gue disini.”


“Sampai kapan?” pertanyaan Clara membuat Kevin semakin bingung.


“Sampai pagi.” jawab Kevin spontan. Dilihatnya Clara yang hanya diam saja.


Kevin merasa penasaran apa maksud dari pertanyaan Clara.“Lo lagi mikir apa? Dan lo nggak bermaksud mencurigai gue kan, dek?”


Clara dilanda kebingungan.


“Kalau Kevin di sini sampai pagi, terus semalam gue sama siapa?”selorohnya dalam hati. Clara mencoba mengingat-ingat kembali, namun seakan berjalan di jalan yang buntu, ia seolah terjebak dalam pikirannya.


Melihat Clara hanya diam, membuat Kevin bertanya-tanya, “Dek lo nggak pa-pa kan?”


Clara terbangun dari lamunannya mendengar pertanyaan Kevin, ia menatap wajah Kevin lantas menggelengkan kepalanya.


“Ya udah kalau lo nggak pa-pa, dan nggak ada lagi pertanyaan yang mau lo tanyain lagi, gue masuk dulu.” ucap Kevin, lantas pergi dari hadapan Clara yang masih termangu.


Clara yang tengah merasakan betapa ia serasa dibuang oleh Kevin, hatinya diliputi dengan perasaan dilema.


Awalnya Clara menganggap ya sudahlah, toh hanya sekali ia melakukan itu, dan nggak akan mungkin juga ia hamil, pikirnya.


Sampai pada masa haidnya terlewati, perutnya serasa mual-mual, ia tidak kunjung juga datang bulan, bahkan ia pun merasa sudah telat sepuluh hari. Clara berpikir apa yang harus dilakukannya.


Sedangkan ia ingin mendapatkan Kevin. Ia ingin menjadi satu-satunya wanita dalam hidup Kevin.


Flashback off


“Gus harus menemukan Ane! Selain minuman beralkohol, campuran apalagi yang Ane berikan ke gue sampai-sampai gue nggak sadarkan diri. Minuman itu pasti disengaja untuk menjebak gue!” gumam Clara, mata sembabnya menyipit menatap lukisan wanita dengan bunga di telinga.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2