
"Aaa..., sialan."
"Brengsek!!"
"Bagaimana bisa bryan setenang itu? Bahkan berani mengancamku."
" Aku tidak mengerti sifat laki- laki itu."
"Apa dia tak benar menyayangkan istrinya yang ada dalam sekapan ku?"
"Atau mungkin mereka salah menculik orang?"
"Aku harus memastikan sendiri."
"Bryan..., jika kau tak bisa menjadi milik ku maka orang lain pun tak boleh memiliki mu."
"Kau harus ingat itu!"
Stevi terlarut dalam ambisinya, tak mengindahkan laporan yang diberikan anak buah stevi. Mereka tak mengerti, dalam keadaan genting seperti ini masih memikirkan ambisinya.
"Apa yang terjadi dengan bos?"
"Iya, benar. Tak seperti biasanya."
"Kondisi bisnis tak sedang baik- baik saja, tapi bos masih memikirkan orang lain."
"Sepertinya bos telah jatuh cinta."
"Hah..., jatuh cinta tak harus mengabaikan bisnis."
"Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini."
"Maksudmu? Kita melarikan diri?"
"Mau bagaimana lagi? Tempat ini sudah di endus pihak yang berwajib, kau ingin mati konyol di penjara?"
"Bisnis kita bukan sembarangan."
"Ya, kalian benar."
"Lalu..., bagaimana dengan bos?"
"Biarkan saja."
"Dia lebih mementingkan urusan pribadinya."
"Mati- matian kita membela nya tapi ketika tertangkap, apa dia mau membebaskan kita?"
"Kau benar."
"Iya, aku setuju dengan mu."
"Iya, benar."
"Ayo kita pergi!"
Orang- orang kepercayaan stevi berbalik menghianatinya, meninggalkan ladang bisnis yang dibangun sejak awal bersama dengan mereka bukan tanpa alasan.
Mereka merasa kecewa dengan sikap stevi yang cenderung mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan bisnis.
Stevi mengemudikan mobil menuju sebuah gudang dimana anak buahnya menyekap seseorang disana. Stevi sangat yakin anak buahnya tak pernah gagal menjalankan perintah darinya, bahkan tergolong sempurna tanpa cacat sedikit pun.
"Kau salah bermain- main dengan ku, bryan."
"Aku akan membuatmu menyesal telah mengabaikan ku."
"Dan aku juga akan membuatmu kehilangan orang yang sangat kau cintai."
Beberapa kali tampak stevi membanting setir merasa kesal dengan sikap bryan. Stevi tak menyadari ada beberapa bahaya yang mengancam dirinya.
Tanpa basa basi stevi melihat sendiri ke dalam gudang, siapa wanita yang telah diculik anak buahnya? Apa benar mereka salah menculik orang? Atau sebaliknya? Beberapa pertanyaan muncul dikepala stevi, dengan amarah yang memuncak stevi mencari dimana anak buahnya menyekap perempuan itu.
__ADS_1
" Kenapa tidak ada yang menjaga?"
"Ada kami, bos. Beberapa orang sedang keluar mencari makan."
"Katakan! Dimana gadis itu?"
" Ada di dalam bos."
Salah seorang menunjukkan dimana tempat penyekapan berada.
Dengan senyum sinis, stevi berjalan ke arah gadis itu berada. Dan betapa terkejutnya stevi saat melihat gadis yang di ikat di atas kursi roda ternyata bukan denada.
"Aaaa..., goblok."
"Bagaimana kalian bisa gagal?"
"Aaa..., aaa..., tolong...,tolong."
Teriak gadis itu.
" Hah..., ada apa bos?"
" Apa terjadi sesuatu?"
Dua orang anak buah stevi yang menjaga sekapan datang berlari menghampiri stevi.
" Goblok kalian."
" Siapa yang kalian bawa? Dia bukan orang yang aku suruh culik?"
" Dasar tidak becus."
" Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?"
" Dasar tidak berguna."
" Untuk apa aku membayar mahal kalian?"
Kemarahan stevi memuncak hingga membanting semua benda yang ada di sekitar nya, bahkan kata umpatan keluar dari mulutnya.
" Pantas saja."
" Pantas saja bryan masih bersikap santai menghadapi ancaman ku."
"Bahkan tak bergeming sedikit pun, rupanya ini alasan nya."
"Aaaa...., awas kau bryan!! Aku akan menghancurkan mu."
"Bos..., kita harus segera pergi."
Ucap salah satu anak buahnya ketika mendengar suara sirine mobil polisi.
"Pergi! Pergi kalian!!"
"Kalian memang tidak becus."
Kemarahan stevi semakin menjadi ketika tak sengaja anak buah stevi sendiri mengajak nya meninggalkan tempat itu, namun berakhir dengan amarah stevi yang memuncak.
Anak buah stevi tak lagi peduli dengan keadaan stevi, mereka berlari ke arah hutan yang tak jauh dari gedung itu menyelamatkan diri masing- masing. Berbeda dengan stevi yang terlalu larut dalam kemarahan nya, hingga tak menggubris peringatan anak buah nya.
"Brengsek."
"Sialan."
Ui... ui...ui...
Suara sirine mobil polisi semakin terdengar jelas dan tampaknya mendekati gedung tua dimana stevi berada.
Stevi baru menyadari hal itu tatkala anak buahnya telah meninggalkan dirinya dan bunyi sirine semakin mendekati gedung itu.
"Sialan."
__ADS_1
"Dasar bodoh."
"Kenapa aku bisa sebodoh ini?"
"Aku harus segera pergi dari tempat ini."
Umpatan demi umpatan keluar dari bibir sexy stevi sebelum akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu. Namun naas sekali nasib stellvi saat berlari menuju arah hutan, salah seorang polisi melihatnya.
"Berhenti!!"
"Menyerahlah!!"
Petugas tersebut menembakkan tembakan peringatan ke atas namun tak di indahkan oleh stevi, hingga mereka terpaksa menembak pergerakan stevi.
"Aaa."
Sebuah biji panas menyambar salah satu kaki stevi hingga stevi mengerang kesakitan, namun stevi yang sudah terbiasa dengan senjata tajam meskipun meringis kesakitan tetap berlari semakin dalam ke arah hutan.
Stevi melihat kakinya yang mengucurkan darah segar membuat para petugas yang mengejarnya dengan mudah menemukan dimana tempat persembunyian nya.
"Tidak, aku harus menemukan cara meloloskan diri dari kejaran mereka."
"Aku tak mau tertangkap."
"Dan menghabiskan waktu di penjara."
"Tidak..., tidak..., tidak. Itu tak boleh terjadi."
Tanpa pikir panjang stevi menggulingkan tubuhnya ke arah turunan yang tidak tarlalu dalam tetapi naas nya turunan tersebut sebuah jurang yang curam sangat dalam.
"Tidakk..., tolong..., tolong."
Beberapa petugas yang mendengar teriakan stevi bergegas berlari ke arah sumber suara sebelum suara teriakan stevi menghilang dari dalam nya jurang tersebut.
"Sepertinya gadis jatuh ke jurang."
"Iya, benar. Ada bercak darah di sini."
"Baiklah, ayo kita pergi!"
Mereka pergi meninggalkan hutan tersebut setelah mendengar sang mangsa jatuh ke dasar jurang. Namun mereka tak lantas pergi begitu saja, untuk memastikan kebenaran kalsu stevi jatuh ke dasar jurang para petugas memeriksa keadaan sekitar tempat kejadian mengingat stevi memang sangat ahli dalam manipulasi.
Setelah beberapa saat mereka pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke sebuah gedung tua dimana ada seorang gadis yang telah disekap disana.
Polisi menerima beberapa bukti yang jay kirimkan melalui email juga beberapa surat kaleng yang entah dari siapa yang menyebutkan bisnis gelap stevi.
Gadis yang disekap stevi adalah seorang pengganti asisten rumah tangga bryan dalam keadaan selamat, tetapi petugas kepolisian tak mengantar pulang gadis itu. Mereka akan meminta sedikit keterangan tentang perihal penculikan tersebut. Kapan dan dimana orang tersebut menculik gadis itu dan juga beberapa alasan lain nya.
"Beruntung kita cepat pergi dari sana, jika tidak kita bisa tertangkap."
"Kau benar."
"Bagaimana dengan bos?"
"Entahlah?"
"Sudahlah, kita tak perlu memikirkan nya. Yang terpenting bagaimana kita bisa bertahan hidup."
"Iya, kau benar."
"Ayo kita pergi! Sepertinya sudah aman."
"Baiklah."
Ya..., mereka adalah anak buah stevi yang selamat dari pengejaran polisi yang bersembunyi dibalik semak- semak jauh dari hutan tersebut.
Mereka sempat mempertanyakan bagaimana nasib stevi setelah menolak ajakan meninggalkan gedung tua tersebut.
Dan entah bagaimana nasib stevi setelah tertembak biji timah panas disebelah kakinya, juga setelah menggulingkan diri ke jurang yang dikira tidak terlalu curam tapi ternyata sebuah jurang yang sangat terjal. Entahlah? Apa stevi masih selamat? Atau mungkin sudah meninggal?"
Bersambung😊🙏
__ADS_1