Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Aku bukan Paman mu!


__ADS_3

"Mas Kevin orang itu yang bernama Paman Bengek, eh Paman Bonar yang pernah memfitnah ku sampai masuk penjara." Khaira berbisik di belakang suaminya.


Kevin mengerutkan dahinya mendengar perkataan istrinya, soal fitnah dan penjara biar nanti ia tanyakan setelah sampai di rumah. Yang terpenting sekarang menghadapi ketiga orang berbadan besar yang menghalangi jalannya.


"Khaira, kamu kapan pulang kok nggak bilang-bilang sama Paman, kan Paman bisa jemput kamu." Paman Bonar berjalan mendekati Khaira namun seorang pria muda menghadang nya dengan membusungkan dada.


"Jangan dekati istri saya?" Kevin menghardik seorang pria setengah baya yang akan mendekati istrinya.


Bonar melihat seorang pemuda yang seolah menjadi pagar di depannya. "Pergilah pemuda kota, aku tidak ada urusan denganmu!"


"Jelas saja ini urusanku, karena Khaira adalah istriku." sergah Kevin berkata tegas.


"Bilang apa kamu tadi?" Bonar melihat ke kanan dan ke kiri. Lalu kembali menatap pemuda kota dengan tatapan tajam. "kapan kamu kawin sama Khaira, jangan ngaku-ngaku kamu, Khaira akan aku jadikan istri keduaku."


"Siapa yang mau jadi istri Paman?" seru Khaira berdiri dibelakang Kevin. "ingat paman, liang lahat menanti Paman, jangan jadi tua-tua keladi!"


Bonar mengibaskan tangannya di hadapan suami Khaira. "Minggir!"


Kevin menarik garis bibirnya miring, dilihatnya pria setengah baya itu sangat menyebalkan. "Kalian yang minggir!"


"Ucok, Toha!" seru Bonar pada anak buahnya.


"Siap tuan." sigap Toha dan Ucok menjawab.


"Tunggu apalagi, hajar pemuda kota itu. Biar dia tahu, sedang berhadapan dengan siapa!" titah Bonar, dan langsung saja kedua anak buahnya mengangguk dan memasang kuda-kuda untuk bertarung.


Bonar melihat kedua anak buahnya.


Toha dan Ucok siap menjadi gladiator untuk melawan pemuda yang membentengi Khaira.


Dengan sigap, Kevin mengambil ancang-ancang jika sewaktu-waktu kedua orang bertubuh tegap itu menyerangnya. Dan memang terjadilah perkelahian yang tidak dapat dihindarkan oleh Kevin.


Tak masalah bagi Kevin menggunakan kakinya untuk menendang dan tangannya untuk memukul serta meninju.


Ucok dan Toha tanpa secara bergantian melawan, mereka menyadari tenaga dan jurus yang dilakukan pemuda kota itu sangatlah cekatan dan terampil.


Hingga membuat Toha mendapatkan satu pukulan telak tepat mengenai mata kirinya. Seketika pandangan mata Toha berkunang-kunang.


Sedangkan Ucok mendapatkan tendangan sampai membuatnya jatuh ke jalanan. "Aahh.." erangannya menahan sakit.


Tentu saja Khaira tercengang melihat aksi dari Kevin, Ucok dan Toha. Sedangkan Paman Bengek seperti sedang menyaksikan adu tarung ayam.


"Heh Ucok, Toha! Masa sama pemuda seperti itu saja kalian kalah. Ayok hajar dia!" Bonar berseru lantang sembari menunjuk suami Khaira.


Lagi- Ucok dan Toha kembali berdiri tegap. Membusungkan dadanya. Mereka menyerang secara bersamaan dengan jurus pukulan tinju. Namun, agaknya memang Khaira tidak tinggal diam, keponakan dari tuannya ikut melawannya.


Khaira mengeluarkan segenap kemampuan silat yang pernah dipelajarinya. Ia memelintir tangan Ucok sampai belakang punggung, terdengar Ucok menggeram seperti menahan sakit. Khaira menendang pantat Ucok, sampai pria itu tersungkur ke tanah lembab.


"Asem banget kamu Khaira!" seru Ucok menahan dagunya yang menghantam tanah lembab yang cenderung basah akibat terguyur hujan semalaman.


"Maaf Om Ucok!" Khaira berdiri menghadap Ucok. Tiada disangka, lengannya ditarik paksa oleh Bonar. "Lepas Paman. Paman ini apa-apaan!" Khaira menggeplak tangan Bonar, namun Bonar bergeming dan semakin mengeratkan genggamannya.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus ikut aku, kamu harus jadi Istriku. Setelah dulu Purwasih aku sia-siakan, maka aku ndak akan menyia-nyiakan mu." seloroh Bonar menarik tangan Khaira, meskipun Khaira meronta-ronta.


Setelah mengalahkan Toha, Kevin melihat Bonar menarik tangan Khaira. Ia tidak tinggal diam.


Bugh


Kevin menendang punggung Bonar, sampai pria setengah baya itu terpental. Setelah menendang, Kevin membungkukkan punggungnya sekilas pada Bonar yang terjengkak ke rerumputan. "Maaf Paman, tapi anda seharusnya sadar. Kalau masa lalu, janganlah diingat-ingat lagi, segera perbaiki hidup Paman."


"Kurang ajar! Aku bukan paman mu!" Bonar menatap Kevin nyalang.


"Tolong, jangan sampai saya berbuat anarkis pada orang tua, karena urusan ini tidaklah penting, kalau begitu saya permisi Paman." Kevin menggandeng tangan Khaira lalu mengambil sepeda ontel yang tadi di hempaskannya begitu saja.


"Bajingan!" berang Bonar lalu mengambil batu dan melemparnya kearah Kevin. Namun tanpa di duga olehnya, batu yang ia lemparkan dapat dibaca pergerakan nya bahkan di tangkap oleh Kevin, dan kini batu yang sekepalan tangan berbalik kearahnya tepat mengenai kening. "Hadoh!!!" erang Bonar saat keningnya merasakan sakit sampai membuatnya berdarah. "Awas nanti aku balas perbuatan mu ini!" makinya pada Kevin.


Kevin seolah menuli dengan ancaman Bonar, ia terus berjalan bersama dengan Khaira. Sesampainya di rumah, mereka segera membersihkan diri.


Setelah melewati sholat magrib, isya dan makan malam. Kini Khaira, Kevin dan Abah duduk di ruang tengah. Ketiganya sedang membicarakan persoalan tentang Bonar.


Kevin memahami cerita yang disampaikan oleh Khaira, dan mengingat kembali pada saat Khaira pernah bercerita bahwa istrinya itu pergi ke kota karena terpaksa, dan kini ia sudah tahu apa penyebabnya.


"Aku yakin dengan adanya kamu menikah denganku, Paman Bonar nggak akan mengganggu hidupmu lagi." Kevin berkata dengan penuh keyakinan.


"Itulah sebabnya, mengapa Abah melarang Ning untuk pulang. Tapi sekarang Abah sudah tidak akan khawatir lagi, karena sudah ada yang menggantikan Abah untuk menjaga kamu nduk." Abah memandangi wajah putri satu-satunya, ada rasa kelegaan hati. Karena Khaira kini sudah ada pendamping, dan itu merupakan suatu kebaikan.


"Terimakasih Abah, Abah sudah menjadi Ayah sekaligus peran Ibu untuk Ningrum." Khaira mengambil tangan Abah, lantas mengusapkannya. Ia merasa menjadi anak paling beruntung di dunia karena mempunyai ayah sebaik dan selayaknya malaikat seperti Abah Ahmad Khoirun.


Abah mengusap pipi putrinya. "Abah akan istirahat, ini sudah malam." setelah mendapati Khaira mengangguk, Abah lantas beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar.


~~


Embun ini masih sama, menyejukkan bumi, membasahi dedaunan maupun rerumputan. Burung berkicau saling sahut-menyahut, mengiramakan kicauan yang syahdu. Angin semilir sepoi-sepoi, menggerakkan dedaunan yang terlihat seperti menari-nari di atas tangkai. Semburat dedaudan yang berwarna kuning berserakan di halaman depan rumah asri, dengan gaya arsitektur bangunan joglo.


Bau seduhan kopi pun menyeruak, dari arah dapur yang masih melestarikan kayu sebagai dinding rumah. Setelah mandi junub, Kevin merasa segar kembali, keluar dari kamar mandi yang menyatu dengan ruang dapur cukup luas, ia pun menghampiri Khaira yang tengah menggoreng pisang. Memeluk pinggang ramping istrinya.


Khaira terhenyak kala mendapati tangan melingkar di pinggangnya. "Mas Kevin!" dilihat olehnya, Kevin baru saja selesai mandi hanya dengan memakai handuk yang melilit pinggang.


Kevin mencium pudak Khaira yang dibalut kaos berlengan panjang.


"Kamu sudah bangun kok nggak bangunin aku?" Kevin berbisik di telinga Khaira.


"Lha, ini Mas Kevin sudah bangun." jawab Khaira diselingi membalik pisang goreng yang sudah agak kecokelatan.


"Pengennya mandi bareng." lagi Kevin berbisik manja.


Khaira mematikan nyala kompor dan menghadap ke wajah Kevin dengan sedikit mendongakkan wajahnya. "Mandi sendiri saja bisa, Kenapa harus mandi bareng?"


"Kan kalau mandi bareng bisa saling gosok punggung." Kevin, sekilas mencium keningnya.


Khaira terkekeh geli. "Haha kalau mandi bareng beda nantinya." pipinya serasa memanas.


"Cie Malu! Kamu manis banget si, kalau lagi malu begitu." Kevin mencium bibirnya istrinya, lalu berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.

__ADS_1


Khaira memegang bibirnya yang baru saja dikecup Kevin. "Dia itu sweet." Khaira menyajikan pisang goreng di atas meja. Tak berselang lama, maniknya melihat Abah menarik kursi.


"Abah, Abah mau teh hijau?" Khaira menawarkan teh hijau yang sedang ia seduh di teko (gerabah) yang terbuat dari tanah liat.


"Iya." Abah mengangguk.


Dengan sigap, Khaira mengambil gelas dan menambah sedikit gula lalu menyeduh teh dan meletakkan di depan Abah. Lantas Khaira menarik kursi dan duduk. "Abah pasti selalu kesepian selama Ning di Kota, dan ndak ada yang buatin teh hijau serta pisang goreng."


"Lho kamu meremehkan kemampuan Abah toh Ning, Abah bisa membuat teh hijau sendiri dan kalau pisang goreng banyak tuh di warung Mang Kadun." jawab Abah, sembari menyeruput teh yang tersedia di cangkir yang terbuat dari tanah liat.


"Iya, Ning tau. Abah memang selalu bisa, memang Mang Kadun jadi nikah sama Mbok Tatik bakul pisang, Bah?"


"Jadi! Malahan dudah akad pas kamu baru berangkat ke Kota."


"Benarkah."


"He'emm, Abah senang melihat suamimu, meskipun orang Kota, dia tekun juga sholatnya." kata Abah memuji menantunya.


"Iya Alhamdulillah."


"Apa mungkin ini ada pengaruhnya dari kamu Ning?"


Khaira mengangkat bahunya, "Nggak tau juga."


"Kalau kamu, membawa kebaikan bagi pasangan mu. Maka api neraka pun enggan untuk menyentuh kalian berdua."


"Amin. Terimakasih atas semua nasehat Abah. Insyaallah akan Ning ingat seumur hidup."


Kevin telah usai sholat subuh, ia beranjak ke dapur, untuk bergabung dengan Abah juga istrinya.


Kopi hitam pun Khaira sajikan, namun Kevin nampak melirik teh hijau di cangkir Abah.


"My Delf, kenapa nggak buatin teh hijau kaya punya Abah?" ujar Kevin yang sudah duduk samping Abah menatap Khaira.


"Oh, Mas Kevin mau teh juga. Okelah aku buatin." kata Khaira seraya beranjak dari duduknya, dan mengambil cangkir serta gula.


Abah merasa asing dengan panggilan Kevin kepada Khaira yang terdengar aneh. "My Delf itu apa?"


"My Delf itu, sebutan sayang Mas Kevin ke Ning, Bah. Memang kalau belum terbiasa mendengarnya, ya begitu, terdengar aneh, tapi unik juga. Mana ada sebutan sayang dengan sebutan seperti itu." jelas Khaira, memberi jawaban yang sekiranya dapat di mengerti oleh Abahnya yang sudah melewati masa Presiden Kedua.


Abah manggut-manggut membersamai dengan kekehan kecil.


Kevin mengembangkan senyumnya, mendengar penjelasan Khaira tentang arti panggilan itu, ia pun mengalihkan pembicaraan, dan menanyakan wisata alam yang indah di daerah asal istrinya. "Disini, wisata alam apa yang terkenal?"


Abah dan Khaira sama-sama menatap Kevin.


Kevin yang mendapat tatapan dari kedua orang itupun, menjelaskan apa maksud dari pertanyaannya. "Kan mumpung lagi disini, aku ingin mengunjungi tempat-tempat wisata yang menarik."


"Emm ada." jawab Khaira bersemangat, sudah lama juga ia tak mengunjungi wisata favoritnya.


...~...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2