
Pintu terbuka tampak Rendra masuk ke dalam ruangan Alvin, renda sempat terkejut melihat Briana tapi kemudian dia melihat sang tuan muda
"Maaf tuan tiga puluh menit lagi ada rapat." ucap Rendra sambil menunduk
Briana menatap Rendra dengan tatapan tajam dia ingat pria tersebut yang memberikan surat kontrak kerja di perusahan tersebut
Rendra tak Berani menatap Briana yang menatapnya dengan tatapan kesal
Rendra menelan silvanya saat melihat Briana , kalau bukan karena bos tak ada akhlak di hadapannya dia tak akan berani menipu Briana dengan surat kontak yang berisi tentang perjanjian kerja yang awalnya akan bekerja menjadi peneliti malah menjadi asisten bosnya
"Baiklah kau boleh keluar aku akan mengajari asisten ku sebelum kami ke ruang rapat." ucap Alvin
Membuat Briana langsun menatap tak suka pada Alvin yang mau mengajarinya secara pribadi, Brima tak suka dekat dengan pria, selain keluarganya
"Maaf tuan muda saya sudah mempelajari tentang menjadi asisten." ucap Briana
Membuat Alvin dan Rendra langsung menatap Briana dengan tatapan penuh tanda tanya bagaman bisa dengan mudahnya dia mengetahui apa yang harus di lakukan oleh asisten
"Baikalah tolong kau buat proposal yang akan kami bahas dalam rapat aku memberikan waktu lima belas menit padamu kau boleh meminta pada Rendra ." ucap Alvin
__ADS_1
Membuat Rendra melotot bagamana bisa dia menyuruh asisten yang baru masuk membuat sebuah laporan yang di buat oleh tim profesional mereka dalam waktu seminggu
Rendra memberikan data tersebut kemudian keluar untuk melakukan perintah atasannya yang sudah dia siapakan di luar
"Baik tuan muda." ucap Briana mantap, tapi kemudian dia melihat sekelilingnya dan yang ada hanya kursi kebesaran Alvin dan sebuah sofa panjang dengan meja kaca
Briana berinisiatif keluar siapa tau ada ruang yang bisa dia gunakan untuk bekerja
Alvin yang melihat Briana mau melangkah keluar langsung menahannya
"Mau kemana, sebentar lagi kursi dan mejamu akan ada." ucap Alvin
Benar saja Rendra datang membawa kursi dan meja bersama beberapa pengawal
"Tuan apa tidak sebaiknya meja kerjaku di luar saja bersama sekretaris tuan." tanya Briana
"Tidak karena kau asisten pribadiku sudah sepantasnya kau berada satu ruangan denganku, cepat selesaikan proposal tersebut dan waktu semakin sedikit." ucap Alvin
Dengan malas Briana berjalan ke meja kerjanya, langsung mengambil leptopnya dan mengerjakan apa yang di perintahkan oleh atasnya
__ADS_1
Alvin langsun kembali duduk di kursi kebesaranya, bekerja sambil ciri-ciri pandan pada Briana
Baru Lima menit Briana sudah bangkit dan mematikan leptopnya hanya membawa flash disk di tangannya
"Sudah saya kerjakan tuan." ucap Briana, membuat Alvin sedikit terkejut, pasalnya belum lima belas menit tapi dia sudah membuat proposal tersebut
"Benarkah apa kau yakin ." tanya Alvin memastikan
"Benar, tuan boleh memeriksanya, jika tuan Tidka percaya." ucap Briana
"Membuat Alvin hanya mengaguk, baiklah ayo kita ke ruang rapat saya ingin melihat hasil kerjamu." ucap Alvin
Sedangkan Rendra sudah menunggu di luar pintu, "ayo kita langsung menuju ruang rapat." ucap Alvin
Rendra melihat Briana yang tampak sangat tenang, seolah-olah dia biasa berada di sebuah ruangan rapat, apalagi bahasa tubuhnya memancarkan aura kepemimpinan membuat Rendra menatap Briana tanpa menyadari bahwa Alvin Sudah berhenti di depan pintu ruang rapat
Sontak saja Rendra menabrak Alvin membuat jidat Rendra terkena Kepa belakang Alvin
"Apa yang kau lakukan....!!!!, di mana matamu kau taruh saat jalan." ucap Alvin dengan nada yang cukup keras
__ADS_1
Membuat Rendra gela-lapan tak tau harus berkata apa tidak munkin dia mengatakan, karena memperhatikan Briana, bisa-bisa Alvin akan langsung memberikan dirinya pada si manis.
jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya