
Brayen dan Brian yang mendengar berita mengenai kegaduhan yang terjadi di kantor Deni langsung memangil Deni dan Galang sebagai tokoh utama kejadian tersebut
Sementara itu Helena yang dengan kabar bawah putranya berada di rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri langsung
Helena dan Naim langsung bergegas berangkat ke kita A untuk melihat putra mereka
Begitu tiba di rumah sakit, Helena langsung ke ruang perawatan putranya yang telah di pindahkan dari ruangan UGD
Helena langsung histeris melihat wajah putranya yang tampak sangat memprihatikan
Naim tak kalah emosi melihat keadaan putranya apalagi setahunya putranya tak punya musuh
Helena berusaha mencari informasi mengenai yang terjadi pada putranya tapi pihak rumah sakit tak ada yang tau apa yang terjadi mereka hanya tau ada seorang pria yang di bawa dari oleh beberapa orang, membuat Helena cukup frustasi mengetahui hal tersebut
Helena hanya dapat menunggu hingga putranya kembali sadar, sedangkan Naim menghubungi para preman yang di sewanya untuk mencari Galang
Setelah beberapa kali menghubungi para preman tersebut, Naim mendengus kesal karena semua ponsel mereka tak ada yang aktif
__ADS_1
"Dasar sial kemana mereka sejak kemarin ponsel mereka tak ada yang aktif." ucap Naim
Naim masuk ke dalam ruang perawatan anaknya, tampak Helena sedang duduk di kursi dekat ranjang Roby
"Bagaimana, apakah kau tau apa yang terjadi sehingga Roby menjadi seperti ini." tanya Naim
"Entahlah tak ada informasi yang jelas tapi menurut keterangan beberapa orang, beberapa pria membawa Roby mengunakan mobil dan langsung di serahkan pada pihak rumah sakit dengan sejumlah uang sebagai biaya administrasi." ucap Helena, membuat Naim semakin bingun
Sementara itu di ruangan Brian dan Brayen tampak Deni dan Galang yang sedang duduk di sofa
"Maaf tuan muda semua ini sebenarnya hanya salah faham saja." ucap Deni
"Salah faham kau bilang pemuda tersebut sampai saat ini tak sadarkan diri bahkan entah kapan dia akan sadar." ucap Brayen
Keduanya diam sesaat, "jadi dia akan koma atau bagaman." tanya Deni
"Tidak juga tapi mungkin dia akan pingsan sampai besok akibat ulah kalian berdua." ucap Brayen
__ADS_1
"Syukurlah, tetapi bukan salah kami sepenuhnya juga, siapa suruh jadi laki-laki murahan, pamer barang pribadi sama wanita." ucap deni
"Apa maksudmu berkata seperti itu."tanya Brayen
" kami memukulnya karena dia membiarkan resleting celananya terbuka di depan Yena." ucap Galang
Sepertinya kalian punya dendam pribadi padanya, dan hal ini bukan Hanya karena pria tersebut tak sengaja memperlihatkan asetnya pada Yena." ucap Brayen sambil melihat Deni dan Galang yang seolah-olah tak ingin melihat mata Brayen
"Benarkah apa yang di katakan Brayen kalian punya dendam pribadi." ucap Brian yang sangat penasaran
"Sebenarnya aku kesal padanya karena tadi sewaktu aku menarik Yena tiba-tiba dia berteriak lalu mengatakan aku membawa calon istrinya, jadi aku mengunakan kesempatan dalam kesempitan untuk menghajarnya tapi sepertinya menghajarnya sangat enak jadi aku lanjutkan saja." ucap jujur Deni
Membuat Brayen dan Brian mengelan tak percaya dengan apa yang Deni katakan, entah dosa apa pria tersebut sampai di pukul habis-habisan oleh Deni
"Dan kau, kau yang terparah dalam memukulnya setelah aku melihat cctv kau bahkan seolah-olah dendam padanya sejak dulu." ucap Brayen menunjuk Galang yang pura-pura bodoh
jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya
__ADS_1