TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK

TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK
144


__ADS_3

Rani menatap tak percaya pada suaminya, " sayang bukanya setiap malam kau tak pernah absen untuk menyelam." ucap Rani, sambil menatap tajam Brayen


"Tapi mungkin saja Brian dan Lusi melakukannya pada siang hari juga sehingga proses pembuatannya semakin cepat." ucap Brian dengan senyuman liciknya


Rani terdiam sejenak apa benar yang di katakan suaminya


"Apa kau ingat Brian menikah pada pagi hari dan siangnya mereka langsung membuat anak sedang kita membutnya saat malam." ucap Brayen


Entah apa yang di pikirkan Rani. " benarkah, berarti kita harus melakukannya di siang hari." tanya Rani dengan polosnya


Brayen langsung sumringah saat mendengar perkataan istrinya. " tentu saja sayang, tapi sebaiknya kita melakukannya tiga kali sehari agar prosesnya semakin cepat, kita harus melakukannya malam, pagi, dan siang." ucap Brayen


"Seperti minum obat saja tiga kali sehari." ucap Rani sambil menatap Brayen


"Obat untuk hamil ya memang harus melakukan hal tersebut, sama dengan obat untuk menyembuhkan sakit." ucap Brayen, Rani langsung mengaguk setuju


"Jadi kakak mau buat gak udah Malam nih Rani mau obat untuk hamil sebelum bobo seperti orang yang minum obat sebelum tidur." ucap Rani dengan polosnya


Tanpa kata Brayen langsung mengangkat tubuh istrnya untuk dia menyelam sambil minum air, memang keturunan David sejati.


Roby yang tersadar dari pingsannya, mengerjab matanya tubuhnya terasa sakit


Helena yang melihat putranya sudah sadar langsung mendekati putranya. " sayang apa kau baik-baik saja." tanya Helen


Roby memejamkan matanya dan melihat ke segala arah dan bangkit. "aku kenapa." tanya Roby


"Apa kau tak ingat kau bertengkar dengan seseorang dan di bawa ke rumah sakit, tapi jangan khawatir, Mereka sudah meminta maaf pada kita dan memberikan banyak hadiah." ucap Helena


Roby menatap mamanya. "apa mama melihat Yema." tanya Roby


Membuat Helena menautkan alisnya bingun dengan pertanyaan putranya. " mama tak mengerti apa yang kau bicarakan, apa kepalamu masih sakit sehingga kau menanyakan keberadaan Yema." tanya Helena


"Semua terjadi di perusahan tempat Yema magang." ucap Roby

__ADS_1


"Memang apa yang terjadi sehingga pemilik perusahan memukulmu." tanya Helena yang berpikir Galang pemilik perusahan


Roby menatap mamanya, lalu berpikir kembali munkin yang terakhir memukulnya dengan keras adalah pemilik perusahan


"Aku juga tak tau apa yang terjadi, aku datang menemui Yema, saat aku sudah berada di hadapannya tiba-tiba dia berteriak sambil menutup matanya, seorang pria keluar lalu memukulku dan kemudian datang seorang yang melerai tapi sehabis bertanya kemudian dia juga memukulku." cerita Roby


Helena melihat putranya kemudian mengembuskan napasnya kasar, "sudalah yang penting kau baik-baik saja." ucap Helena


"Tapi mama bagaman dengan Yema." tanya Roby


"Memang ada apa dengannya.' tanya Helena


Apa tidak sebaiknya kita ke rumahnya dan menemuinya dan memperjelas hubungan kami, karena sepertinya dia tak mengetahui kalau aku adalah calon suaminya." ucap Roby


Sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu, kau tenang saja mama sudah mengatur segalanya, begitu kau keluar dari rumah sakit kita langsung melamar Yema dan memperlihatkan bukit bahwa kau adalah keturunan keluarga Sutoyo


"Tapi bagmana bisa, apakah mereka tak akan curiga." tanya Roby


"Aku sudah menyiapkan surat tes DNA sedari dulu saat aku menikahi Sutoyo, aku sengaja mengati nama anaknya menjadi namamu agar hartanya jatuh ke tangan kita." ucap Helena


Sementara itu di dalam hotel, tampak beberapa orang pria sedang beraksi mereka menculik Naim dan mengambil semua harta milik Helena


Naim yang sedang di bius tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya, sedangkan Helena yang sedang berada di rumah sakit berusaha menghubungi Naim


"Kemana dia kenapa tak mengakat telepon ku." ucap Helena sambil terus menghubungi no telepon Naim


Sementara Naim telah di bawah oleh beberapa orang pria ke sebuah markas


Helena yang kesal meningalakan Roby yang kembali beristirahat setelah di periksa dan di berikan obat


Helena telah tiba di lobby hotel, kakinya melangkah menuju kamarnya bersamam Naim


Helena terkejut karena pintu kamar yang tidak terkunci, Helena langsun masuk melihat tempat tidur dan kamar mandi yang kosong membuta Helena bingun apalagi kamarnya terbuka dengan cepat Helena memeriksa brangkas yang ada di dalam lemari pakaian

__ADS_1


Helen langsung histeris saat melihat brangkas tersebut kosong dan hanya ada kata terimakasih


Helena bergegas ke bagian manejemen hotel untuk melaporkan hal tersebut, tapi sialnya pihak hotel memperlihatkan bukti seorang pria keluar dari hotel dengan barang-baranya dan pria tersebut tampak seperti Naim


Helena mengepalkan tangannya saat mengetahui Naim membawa semua perhiasan dan uang milikinya


Helena kembali ke kamar hotel miliknya. "dasar lelaki brengsek dari dulu Hanaya Ingin nikmatnya saja, apa dia tak menyayangi putranya." ucap Helena


Helena mengambil ponselnya untuk menelepon orang suruhannya yang mencari Galang, tapi ponsel mereka tak ada satupun yang aktif


"Dasar sial dia mana para bedebah itu, sedan lebih dari seminggu mereka tak memberikan kabar apapun." Helena mondar-mandir memikirkan ide yang harus di lakukanya


Sementara itu di sebuah markas tampak seorang pria yang masih belum sadar terikat di sebuah kursi, tampak para penjaga yang menjaganya sedang asyik mengobrol


Naim yang tersadar dari pingsannya melihat sekelilingnya, saat menyadari dirinya sedang terikat dan berada di sebuah ruangan dengan beberapa penjaga, membuat Naim langsung berusaha berbicara tapi mulutnya telah di beri sumpal


Naim terus berusaha melepaskan diri dari ikatannya


Para penjaga yang melihat Naim menghentikan obrolan Mereka, kemudian salah satunya langsung mendekati Naim


"Sebaiknya kau jangan bertindak gegabah di sini." ucap penjaga tersebut


Tapi Naim yang keras kepal terus berusaha memberontak, membuat pengawal tersebut kesal lalu memukul perut Naim membuat Naim kesakitan


"Kalau aku masih berisik kami akan menghajar mu hingga babak-belur, karena kami yakin tuan kami pasti tau yang kami lakukan." ucap pengawal tersebut


Naim langsung mengehentikan aksinya dia sendang berpikir bagaman bisa dia berada di tempat ini, bukanya dia sedang beristirahat di dalam hotel


Para penjaga kembali ke posisinya, sesuai arah dari kepala penjaga


Helen yang sudah lelah berpikir lalu melangkahkan Kakinya menuju kamar mandi dia ingin merendam tubuhnya, dia merasa sangat frustasi dengan apa yang terjadi apalagi laki-laki yang dia cintai lagi-lagi menghianati nya, membuat Helena tak habis pikir kenapa Naim bisa merampoknya bukankah selama ini mereka menikmatinya bersama


Setelah membersihkan diri Helena kembali ke rumah sakit unt menjaga putranya

__ADS_1


Sedangkan di sebuah ruangan tampak sepasang suami istri sedang berdiskusi dengan serius


jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya


__ADS_2