TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK

TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK
190


__ADS_3

Kini mereka semua sudah masuk ke dalam mobil, tapi sebelum pergi Brayen melihat Revan, "kami ingin berbicara denganmu jadi kami menunggu mu di kediaman pribadiku." ucap Brayen lalu melajukan mobilnya untuk menemui sang ratu hati yang sudah menunggu


Sementara di rumah utama, tampak para wanita sedang asik bercanda ria , "wah kakak ipar Rani kau sangat keren kau memang pantas menjadi istri kakak Brayen." ucap Briana sambil memakan cemilan semua mengguk setuju


"Sudah berapa lama mereka pergi." tanya Lusi


"Sepertinya sekitar tiga puluh menit." ucap Rani


"Berati waktu mereka sekitar tiga puluh menit lagi aku yakin mereka tak akan mendapatkan mangga muda." ucap Yema


"Tapi sepertinya mereka akan mendapatkannya." ucap Briana yakin karena kakaknya selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan


Benar saja tak berselang lama terdengar bunyi mobil di luar, Brayen masuk dengan wajah sumringah sambil tangannya memegang kantong kresek besar


"Sayang lihatlah kami berhasil membawa banyak mangga sesui dengan permintaan mu." ucap Brayen


Semua menatap tak percaya Brayen dan yang lain berhasil mendapatkan mangga apalagi ber kantong-kantong

__ADS_1


"Kalian merampok di mana mangga sebanyak itu di mana." tanya Yema menatap tak percaya


"Kami habis merampok seorang nenek beserta dengan cucu perempuannya yang akan kami nikahkan besok pagi." celetuk Brian


Membuat semua orang menatap Brian dengan tatapan yang sulit di artikan


"Jangan bercanda, di mana kalian menemukan mangga ini sepengetahuan kami seluruh kota sudah tak ada lagi mangga yang berbuah.' ucap Lusi


"Aku serius sayang seorang nenek memiliki pohon mangga yang lebat dan untuk membalas kebaikannya kami akan menikahkan cucunya." ucap Brian


"Sayang karena kami sudah mendapatkan mangga seperti keinginan kalian jadi kami tak jadi mendapatkan hukuman." ucap Brayen


Rani menatap sejenak suaminya kemudian mengaguk, "baiklah kami memaafkan kalian karena telah mengambil jatah mangga muda kami." ucap Rani


Drama mangga telah berakhir setelah menyuruh pelayan menyimpan mangga muda karena merasa sudah malam, mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing, besok siang baru mereka akan membuat acara makan mangga muda dengan bumbu rujak


Tampak Galang mengatar istrinya kemudian pergi ke rumah Brayen yang tak jauh dari rumahnya, begitupun Brian, Deni yang agak jauh rumahnya, mengantarkan rose ke rumah mereka, sebelum pergi ke rumah Brayen

__ADS_1


Sekarang ke empat sekawan tersebut sudah berada di ruang kerja mereka, tak berselang lama datang datang Reva dengan wajah bingun pasalnya dia tidak tau kenapa tuanya memanggil dirinya secara pribadi


Reva yang melihat keempat pria di hadapannya dengan berjuta tanya di otaknya


Kenapa kau hanya berdiri si duduklah bersama kami." ucap Brayen dengan senyuman yang mengembang sempurna, membut jantung Revan berdetak kencang seolah-olah dia akan mendapatkan sesuatu yang tak terduga dari tuanya


"Biar saya berdiri saja ketua." ucap Reva yang perasanya sudah tidak enak


"Ayolah jangan menganggap kami seperti orang lain." ucap Brian


Reva dengan perasan bercampur aduk terpaksa duduk di kursi berhadap dengan yang lainya


"Reva apa kau sudah menikah, memiliki kekasih atau mencintai seseorang." tanya Brayen


Reva menatap satu persatu orang di dalam ruangan tersebut, "maaf tuan muda saya masih sendiri sejak dulu Sampai saat ini mungkin Karen saya terlalu serius." ucap Reva jujur.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2