TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK

TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK
92


__ADS_3

Tampak para penjaga memberikan hormat, Brayen dan Brian menatap pria yang tampak mengenaskan terikat di tiang dengan kaki di atas


Selamat datang ketua dan wakil ketua ucap ketua pengawal klan, Brayen dan Brian hanya mengangguk


Maaf ketua kami menemukan pria ini sedang memata-matai sekitar istana raja Bastian dan setelah kami geledah kami menemukan racun tanpa warna di balik pakaiannya


Brayen memandang tajam ke arah pria tersebut, sedangkan Brian mengambil racun yang di bawakan oleh salah satu pengawal


Mata Brian terbelalak setelah mengetahui racun yang di bawa oleh orang tersebut


"Sepertinya dia berniat membunuh raja." ucap salah seorang pengawal


Membuat wajah Brayen dan Brian langsung berbuah membuat semua orang begidik ngeri tanpa kata, Brian langsun memasukan sesuatu ke dalam mulut pria tersebut


" Biar Mereka yang membawanya." ucap Brayen pada pengawal klan pelindung tampak beberapa pengawal langsung mengambil tubuh pria tersebut


"Bawa ke tempat biasa aku sendiri yang Ingin menyiksanya." ucap Brayen


Setelah pergi dari markas klan pelindung, Brayen dan Brian pergi ke markas pribadi mereka pulau yang mereka perebutkan tapi setelah sama menang mereka sepakat tetap menjadikan pulau tersebut markas utama mereka


Sedangkan di markas utama tampak Deni dan Galang yang sudah gelisah menunggu ke dua tuanya, juga sangat cemas akan nasib mereka berdua


Bunyi helikopter membuat Deni dan Galang semakin pucat, derap langkah kaki membuat mereka saling merangkul untuk menguatkan jiwa dan raga

__ADS_1


"Oh di sini rupanya para asisten kita yang sedang berhianat." ucap Brian sambil mengedipkan mata pada Brayen


"Tidak tuan muda kami hanya menjaga nona muda agar selalu aman, bukankah tugas kami menjaganya." ucap Galang membela diri


"Benarkah, bukannya kalian Memang sengaja mengikuti mereka karena ingin melihat tubuh mereka." tanyak Brayen


"Mana mungkin kami melakukan hal se keji itu tuan mereka semua sama seperti Briana sudah seperti adik kandung sendiri." ucap Galang


"Iya benar Mereka adalah adik sepupuku." ucap deni


Brayen mendekati Deni lalu membersihkan bekas darah di hidung Deni


"Ya sepupu yang bisa di pupuk untuk di jadikan istri." bukan begitu Deni sambil memperlihatkan darah kering yang tadi di seka dengan jari tangannya dari hidung Deni


Baron melihat Deni dan Galang kemudian melihat tuanya, "tuan sepertinya hari ini Loly sedang suka bermain Teletubbies yang berpelukan."


Membuat Galang dan Deni sontak mengeleng, tak mau


"Benarkah, pasti Loly sedang kesepian." ucap Brayen


"Jangan Loly, biarkan aku memberikanmu salah satu mobil kakekku yang kau telah lama incar." ucap Deni merayu Brian


"Aku akan memberikan, motor pemberian ayah, tapi aku mohon jangan Loly." ucap menggiba

__ADS_1


"Pilihan kalian hanya ada dua Loly atau si lembut." tanyak Brayen


Si Loly kita remuk sedangkan si lembut kita pasti akan pingsan dengan tubuh yang membuat muntah pilihan sulit pikir ke duanya


"Apa kalian sudah menentukan kandang mana yang akan kalian masuki." tanyak Brayen


Sementara Brian langsung memeriksa kondisi pria yang tadi di bawa oleh mereka dari kalan pelindung


Tampak pria tersebut mengerang kesakitan akibat di pukul oleh beberapa orang kalan pelindung karena melawan saat akan di tangkap


Pria tersebut membuka matanya melihat seorang pria bule berada di hadapannya, dengan wajah datar


"Oh kau sudah sadar itu bagus, rupanya kau ingin minum racun yang telah kau siapakan untuk membunuh raja dan setelah gagal melaksanakan aksimu, tapi sayang kau selamat karena racun di tubuhmu sudah hilang." ucap Brian


Pria tersebut menatap Brian dengan tatapan yang sulit di artikan


"Siapa kau dan apa mau mu." tanyak pria tersebut


"Seharusnya aku yang bertanyak, bukankah kau di sini yang menjadi tahanan kami." ucap Brian


Membuat pria tersebut terdiam dengan berbagai pertanyaan di otaknya aplagi tempat yang dia tempati saat ini berbeda dengan tempat yang dia tempati kemarin.


jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2