
Lewis yang sudah berada di dekat Tika, membantu Tika untuk melepaskan pakain yang di kenakanya
Tika bisa bernapas lega saat terlepas dari baju tersebut tapi sesat kemudian dia tersadar ada predator lapar yang sudah siapa untuk memangsanya
Lewis langsung memeluk Tika dari belakang, " sayang lihatlah dia sudah terbangun hanya karena melihat tubuhmu dari belakang." ucap Lewis dengan tanganannya yang sudah kesana kemari membuat Tika mendesah
Lewis langsung membawa tubuh Tika ke atas ranjang dan siap untuk bertempur
Pagi menjelang rose yang sudah kembali normal sedang sarapan bersama
Setelah sarapan Deni langsung ke rumah Brayen menjemput atasnya sedangkan Lewis dan Tika kembali ke rumah pribadi mereka
Di kediaman Galang tampak Galang baru keluar menuju rumah Brian
Kini brayen dan Brian serta Galang dan Deni sudah berada di perusahan tempatnya di ruangan mereka masing-masing
Brayen yang semalam memikirkan aduan istrinya mendekati adik kembarnya. "bagamana keadan Lusi." tanya Brayen
__ADS_1
"Semua baik-baik saja dia juga tak mengenal pria tersebut yang merupakan anak sahabat ayahnya." ucap Brian Santai
"Terus kenapa wajahmu seperti itu." tanya brayen
"Aku hanya kasihan melihat istriku kalau sampai pria itu membuatnya mengingat masalalunya lagi yang sudah terkubur." ucap Brian
"Apa susahnya sih kau tinggal hancurkan semua bukti yang ada dan jangan biarkan pria tersebut menemu Lusi, semau kan beres." ucap brayen
"Masalahnya kalau aku menculik rekan kerja kita yang ini pasti akan susah untuk menghilangkan jejak apalagi dia juga orang yang handal." ucap Brian
Brian mengangguk. " ya dia adalah Steve ." ucap Brayen
"Astaga jadi dia kita bekerjasama dengan seorang yang mencintai istrimu dari bayi." ucap Brayen membuat Brian menatap tajam ke arahnya
"Jangan katakan kau juga menyelidiki Maslaah ini sehingga kau tau apa yang terjadi." ucap Brian
Brayen mengaruk Tengkuknya yang tidak gatal." aku hanya merasa penasaran saja setelah Rani menceritakan tentang kejadian di restoran membuat tanganku gatal dan mencari informasi." ucap Brayen dengan cengengesan
__ADS_1
Brian mengehembuska nafas kasarnya melihat saudara kembarnya yang selalu usil
"Tapi aku kasihan juga melihat semua perjuangan Steve hingga dia bisa sampai pada tahap ini demi seorang wanita." ucap Brian
"Ya aku mengerti bagaimana perasaanmu Tetang hal ini kita juga tak bisa menyalahkan Steve yang mencari kekasih hatinya dia mencintai Lusi sedari kecil seperti diriku yang mencintai Rani tapi semua tergantung jodoh." ucap bijak Brayen
"Aku mengerti maksud mu tapi kau tau aku kadang tak bisa mengontrol diri saat ada yang menyukai apa yang aku miliki." ucap Brian
Brayen mengehembuska nafasnya panjang, "tapi kali ini kau harus sedikit bersabar karena perjuangan Steve juga harus di hargai lagi pula dia kan tak mengetahui bahwa Lusi telah menikah denganmu." ucap Brayen
"Aku sudah memberikan bocor pada anak buahnya tentang pernikahan ku dengan Lusi aku ingin melihat reaksinya saat aku mengajaknya makan bersama nanati." ucap Brian
"Itu ide yang bagus dengan begitu kau bisa melihat langkah selanjutnya setelah melihat reaksinya apakah dia akan jadi musuh atau jadi teman." ucap Brayen
Membuat Brian terdiam lalu mengaguk setuju dengan perkatan Brayen.
Jangan lupa like, komen, vote, dan, hadiahnya
__ADS_1