TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK

TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK
59


__ADS_3

Sementara Brayen yang mendengar berita bahwa saudaranya di tahan ke dua orang tuanya, menatkan ke dua alisnya, apa Galang juga ikut di tahan


Brayen dan Deni bergegas melihat situasi di kediaman orang tuanya, Brayen sedikit kebingungan dengan adanya beberapa pos pemeriksa termasuk dirinya yang di periksa Ketat oleh pengawal ayahnya


Brayen masuk di sambut ayahnya, "wah tumben kau pulang." ucap ayah David dengan senyuman sinis


Membuat Brayen sedikit was-was, melihat gelagat setan kuadrat tua yang ada di hadapannya


"Aku hanya kangen pada ayah." ucap Brayen


"Oh aku pikir kau sedang mencari saudara kembar mu." ucap ayah David


Brayen menelan silvanya saat melihat beberapa tempat di jaga ketat oleh pengawal ayahnya


"Apakah Brian pulang, aku tidak tau dia akan pulang." ucap bohong Brayen


Ayah David Tersenyum melihat putranya yang matanya jelalatan kesana-kemari seakan-akan mencari sesuatu


"Ada apa apakah kau mencari sesuatu." tanyak ayah David

__ADS_1


"Tampaknya ayah sedang siaga satu, penjaganya begitu ketat, bahkan anak semut pun tak akan lolos." ucap Brayen


"Aku sedang menjaga setan kuadrat licik, apalagi kembarannya masih bebas jadi harus di jaga lebih ketat." ucap ayah david menyindir Brayen , membuat Brayen hanya tersenyum kaku


"Ayah aku akan ke kamarku menemui Brian." ucap Brayen


"Besok saja kau bertemu dengannya saat kami menikahkannya dengan wanita pilihan kami, wanita yang bersamanya saat ini tidak cocok dengannya." ucap ayah david


Mendengar hal tersebut, membuat Brayen menelan silvanya, pantas Brian tak berkutik ternyata ada Lusi di tangan ke dua orang tuanya


"Baiklah ayah aku akan pergi untuk minum bersama deni." ucap Brayen sambil menarik tangan asistennya yang masih duduk untuk berdiri, yang masih belum paham situasi di rumah tersebut


"Kalau kita pergi kapan kita bertemu Brian dan Galang bukanya kita kesini untuk menjemput mereka." ucap Dani yang belum mau pergi sebelum bertemu Brian dan Galang sang Solmed


Brayen ingin membuang asistennya itu, bisa-bisanya dia mengatakan hal tersebut, padahal tadi Brayen berpuara-pura tak mengetahui apa yang terjadi


"Tunggu kenapa buru-buru, duduklah dulu ayah juga masih kangen, apalagi, kalian berencana melihat Brian dan Galang." bukankah begitu nak deni


"Benar paman dari tadi Brayen bergegas untuk melihat keadaan Brian padahal kan dia ke rumah sendiri." ucap Deni polos

__ADS_1


"Kau memang anak yang baik, sebaiknya kalian kembali duduk." ucap ayah David, jujur saat ini Brayen seakan-akan berada di situasi yang tidak menentu cemas dan juga galau memikirkan saudaranya


"Tidak ayah sebaiknya kami pergi saja, lagipula, tak ada yang orang di perusahaan apalagi Brian dan Galang tidak ada, kalau di tambah kami berdua makan akan merepotkan." ucap Brayen berusaha keluar dari tempat tersebut untuk sejenak berpikir dan mencari pertolongan untuk saudaranya


"Bukanya kita Sudah menyerahkan semua urusan perusahan pada sekertaris dan biasanya seperti itu kalau kita berempat tidak berada di perusahan." ucapan Deni, membuat Brayen Ingin mencekik asistennya hingga mati, kenapa setelah jatuh cinta otaknya semakin terkikis


David Tersenyum licik melihat anak pertamanya yang tampak sedang, merencanakan sesuatu, tapi sayang asistennya, sudah menghancurkan rencananya


Tiba-tiba seorang pelayan membawa minuman dan cemilan


"Minum dulu agar kalian bisa lebih tenang ayah sudah menyiapkannya." ucap ayah David


Brayen curiga melihat minuman yang ada di hadapannya, tidak biasanya ayahnya menyuruh pelayan, untuk memberikannya minum apaalgi minum Tersebut seperti teh


"Ayo minum ini minuman baru buatan ibumu, rasanya sangat nikmat." ucap ayah David


Deni tanpa curiga langsung meneguk minuman tersebut, baru saja selesai meletakan gelasnya, Deni langsung terkapar tak berdaya


Brayen yang melihat hal tersebut langsung terbelalak kaget, berati minuman ini mengandung bius, Brayen menelan silvanya saat melihat ayahnya melihatnya yang belum meneguk minuman tersebut, minum Tersebut Masi di pinggir bibirnya, brayen melihat ke sana-kemari, tampak para pengawal sudah berada di belakangnya, sedangkan ayahnya ada di hadapannya, jika melawan itu akan berakibat fatal pada ke dua belah pihak.

__ADS_1


jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya


__ADS_2