
"Sudahlah kau tak akan mengerti, kau harus menjadi suaminya terlebih dahulu kau pasti akan mengerti." ucap Galang sambil menepuk bahu Reva
Reva hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi, ternyata ketuanya bukan hanya pandai menjebak musuh untuk di tahan tapi juga pandai menjebak bawahnya untuk menikah
Setelah semua masalah terselesaikan tentang pernikahan Reva, yang lain kembali ke rumah masing-masing, sedang Reva menginap di rumah Brayen atas perintah tuan rumah
Pagi menjelang kini Reva sudah bersiap begitupun para dayang-dayang yang telah bersatu untuk membuatnya menjadi pengantin
Sementara di rumah keluarga paman duta tampak nenek dan cucunya sudah di rias oleh orang suruhan Brayen
Brayen tersenyum setelah mendapatkan pesan singkat dari perias pengantin tentang wajah pengantin
Mari kita ke rumah paman duta, tampak nenek sudah menunggu di sofa yang tadi pagi di kirim Brayen tampak seorang wanita dengan gaun pengantin lengkap dengan cadarnya
Brayen masuk bersama Reva serta yang lain, karena rumah nenek kecil terpaksa mereka berdempetan untuk duduk
__ADS_1
"Baiklah nenek sesuai janji kami semalam kami datang kemari bukan hanya untuk melamar tapi juga langsung menikah cucu nenek yang bernama." Brayen terdiam karena lupa menanyakan nama cucu nenek tersebut. ...."namanya Syafa." ucap nenek
"Baiklah kami ingin Syafa Langsung menikah dengan Reva." ucap Brayen melanjutkan ucapannya
Nenek sangat setuju karena Syafa juga tak ingin berlama-lama untuk menikah." ucap nenek Syafa
Reva berbisik di telinga Deni, "dia pasti jelek itulah kenapa dia tak ingin menunda pernikahan ini, Deni tak merespon ucapan Reva yang tak berfaedah karena Deni sangat yakin calon istri Reva sangat cantik tampak dari mata indahnya
Acara dimulai tampak Reva sudah siap di hadapan penghulu
"Saya terima nikah dan kawinnya Sayfa nur Aini dengan mas kawin Tersebut di bayar tunai." ucap lantang Reva dengan sekali tarikan nafas
Sah
Sah
__ADS_1
Sah
Pak penghulu menyuruh Reva mencium kening istrinya dan Syafa mencium tangan suaminya
Setelah acara selesai, Syafa dan neneknya di boyong langsung ke rumah baru yang telah di sediakan Brayen, nampak nenek dan Syafa sangat terharu melihat rumah mewah tersebut
Semua masuk ke dalam rumah tampak di dalam rumah telah ramai ternyata Rani bersama yang lain sedang mempersiapkan pesta di dalam rumah tersebut, membuta nenek semakin terharu melihat hal tersebut, pantas saja duta sangat mengagumi ke dua pangeran tersebut karena mereka memang sangat baik hati
Pesta telah berakhir para tamu sudah pulang tampak di taman Brayen berbisik pada Brian sedangkan Galang dan Deni hanya melihat, Reva datang dengan wajah yang masam
"Ada apa denganmu bukanya bahagia menikah wajah di tekuk terus." tanya Brayen. "tuan katamu aku bisa melihat pengantinku saat ijab kabul tapi nyatanya sampai selesai menikah aku tak dapat melihat wajahnya karena dia terus memakai cadarnya bahkan saat makan bersama tadi." ucap Reva
Galang yang kesal menjitak kepala Reva, "kau ini dasar bodoh dia tak akan melepaskan cadarnya di depan umum dia hanya akan melepaskannya di saat kalian hanya berdua saja." ucap Galang .
Reva mengelus kepalanya lalu menatap Galang, " jadi aku harus mengajaknya ke kamar untuk melihat wajahnya." tanya Reva dengan polosnya, semua mengaguk .
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya