TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK

TWINS B SI TAMPAN YANG LICIK
165


__ADS_3

Brian sangat kesakitan apalagi celananya sangat tipis membuat pantainya menjadi gatal


Beberapa pengawal dengan sigap menolong Brian, Lusi langsung menghampiri suaminya


"Sayang apa kau baik-baik saja." tanya Lusi dengan wajah sendunya


Aku tak apa-apa sayang ucap Brian sambil tersenyum menyembunyikan pantatnya Yang sangat perih


Brian berjalan tertatih memasuki rumah, di ikuti Lusi yang tampak sangat kasihan pada suaminya


Brian langsung membersihkan dirinya di dalam kamar mandi dia keluar mengunakan handuk berencana mengoleskan salep ke kedua bokong miliknya


Saat akan melakukannya, Lusi masuk, Lusi langsung mengambil salep tersebut dan menyuruh Brian berbaring agar dia dapat mengoleskan salep Tersebut dengan mudah


Lusi terkejut saat melihat beberapa luka gores di bokong suaminya, Lusi langsung mengeluarkan air matanya, Brian sangat terkejut saat menoleh melihat istrinya sedang menetes air mata


"Sayang ada apa aku mohon jangan menangis aku tidak apa-apa." ucap Brian menenangkan istrianya


Sedangkan di rumah Need tampak Brayen yang baru keluar dari kamar mandi setelah mandi dengan sarung yang melekat di pinggangnya

__ADS_1


Rani berbalik melihat suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan, Rani mendekat lalu mencium seluruh tubuh suaminya


Hal tersebut membuat kapal selam milik Brayen langsung berusaha naik ke permukaan mencari pelabuhan miliknya


"Sayang kau Sangat wangi." ucap Rani sambil terus mencium seluruh tubuh Brayen


Brayen yang sudah tak tahan, langsung mengakat tubuh istrinya ke atas tempat tidur, sedangkan Rani tak peduli dia hanya menikmati bau tubuh suaminya


Brayen tertawa dalam hati, tak sia-sia mama mertuanya mengambil sabun ayah mertuanya untuk di berikan padanya, lihat istrinya melekat bagai cecak


Rani tak peduli apa yang di lakukan Brayen padanya, sedangkan Brayen dengan leluasa melakukan aksinya, bahkan kapal selam milik Brayen sudah sandar Sempurna


Rani ketiduran setelah melayani hasrat Brayen, Brayen Tersenyum sumringah kemudian ke Kamara mandi untuk membersihkan dirinya


"Sayang apa kau melihat stok sabun milikku, aku menaruhnya di sini tapi kenapa hilang." tanya Need pada Eni


Eni hanya menatap lalu mengeleng, membuat need semakin pusing mencari sabun miliknya


"Apa memang sudah habis tapi tidak mungkin, kemarin aku menyetok satu dus kok gak ada." pikir Need

__ADS_1


Need kemudian memeriksa seluruh ruangan kamarnya, kalau aku memesan sabun itu sekarang paling lambat satu Minggu baru barang tersebut datang." ucap need yang tanpa sengaja di dengar oleh Brayen yang baru turun dari kamar saat melihat ayah mertuanya keluar kamar dan sepertinya sedang mencari sesuatu


"Ada apa ayah sepertinya ayah mencari sesuatu." tanya Brayen


Syah kehilangan sabun yang biasa ayah gunakan dari kecil sampai saat ini


Hidung need yang tajam spontan maju dan mencium bau tubuh Brayen membuat Brayen gela-lapan dan berusaha menghindari need


"Katakan padaku sabun apa yang kau gunakan kenapa baunya sama dengan milikku." tanya Need


"Aku memakai sabun pemberiak mama." ucap Brayen


Membuat need langsung kembali ke kamarnya untuk menemui Eni, tapi istrinya sudah tak ada di dalam kamar


Sedangkan Eni dan nenek Elisa sedang keluar untuk menikmati perawatan tubuh di salon, Need menelepon tapi tak di angkat oleh Eni, membuat need sangat frustasi


Need mendatangi Brayen yang sedang bersantai, "kembalikan sabun ayah, satu dos ada tiga kau bisa mengambilnya dari dan kembalikan yang dua." ucap Need


"Tidak karena ibu berkata, aku tak boleh memberikan pada siapapun pun termasuk ayah." ucap Brayen

__ADS_1


"Need mendengus sebal dasar mantu laknat." ucap need lalu kembali ke kamarnya.


jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya


__ADS_2