
Mencoba menghindari sentuhan Jade di tubuhnya, apalagi yang di sentuh adalah benda paling berharga, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya, andai saja dia sanggup berkata 'Tidak'.
Mana mungkin dia menolak, antara kebimbangan dan tidak percaya, mencintai lelaki seperti Jade.
Tidak ada seujung rambutpun yang di miliki Jade bisa membuat hatinya bergetar. Jade memang tampan bahkan setampan Kendrick. Hanya saja Eliana sama sekali tidak menyukainya, jika saja kemarin di saat dia bertunangan dengan Jade tidak bertemu Kendrick. Dan jika saja Kendrick tidak menjadi tamu undangan. Mungkin hati Eliana tidak sebimbang ini.
Awalnya dia sudah mulai menyerah, menerima Jade sebagai laki laki terakhirnya. Tetapi mengapa sekarang kembali seperti semula?
Minggu depan adalah hari pernikahan dirinya dengan Jade, tidak seperti pasangan pada umumnya yang menerima dengan suka cita.
Eliana merasa tertekan, merasa semua ini satu kebohongan.
Saat Jade memainkan dua barang berharga miliknya, Eliana hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Matanya terpejam bukan menikmati, melainkan jijik yang berkepanjangan.
Dorongan pintu yang sangat keras menghentikan kegiatan Jade, siapa yang tidak akan terkejut. Begitu juga Eliana, berusaha menyingkirkan tangan Jade dari tubuhnya, wajah memerah menahan malu.
"Kalian! Benar benar tak tau malu!" Ucap Kendrick dengan kemarahannya.
Jade bangun dari brankar yang di tempati Eliana.
Dia sangat kesal, karena kesenangannya terganggu.
"Keluar dari ruangan ini sekarang!" Teriak Jade.
"Kamu juga keluar."
"Apa hak kamu?"
"Aku berhak untuk melihat wanita yang aku tolong. Dan kamu seharusnya sadar, ini rumah sakit!"
"Kalau tidak? Dia tunanganku dan aku berhak atas tubuhnya."
"Kurang ajar! Kendrick semakin emosi saat mengingat tangan Jade meraba hingga ke bagian benda terlarang.
Suara bentakan dan kemarahan ke duanya terdengar hingga ke luar. Akibatnya mengundang petugas keamanan dan para pekerja rumah sakit.
"Kalian keluar dari ruangan ini!" Teriak petugas keamanan.
Keduanya mengalah untuk ke luar. Bagi Kendrick lebih baik begitu dari pada Jade bebas di dalam bersama Eliana. Jantungnya seakan tertusuk sembilu saat melihat Jade memeluk tubuh Eliana dari belakang, di tambah saat dia mengetahui jemari tangan Jade menelusup ke dalam pakaian yang di kenakan Eliana.
Matheo mengajak Kendrick untuk sedikit menjauh, dia sudah paham sikap Kendrick. Akan membuat kekacauan jika merasa tidak puas.
"Brengsek!" Umpat Kendrick kesal.
"Kamu kenapa? Apa isi otakmu tercampur minyak tanah? Hingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak?"
Ucap Matheo sarkas.
"Aku yakin ada sesuatu pada diri Eliana."
__ADS_1
"Dia wanita Jade. Lalu apa lagi?"
"Aku rasa bukan!"
"Kamu teropsesi dengan wanita itu, sudah melupakan Elizabeth ya?"
"Justru itu! Aku rasa antara Eliana dan Elizabeth terhubung sesuatu yang aku sendiri tidak tau."
"Ckk. Pikiranmu bekerja cepat jika berurusan dengan wanita."
"Ada kabar dari Vito?"
"Belum ada."
"Kita harus kembali ke Bogota, besok pagi." Ajak Matheo.
"Tunda dulu."
"Kamu ini bagaimana. Bukankah peresmian Cahaya Timur sudah selesai. Dan lagi ada masalah di Bogota. Istrimu berulah, dia mendatangi Noela dan mengancamnya."
Kendrick mulai menampakkan wajah panik. Tidak ada perasaan cinta untuk Noela, tapi bagaimanapun juga Noela mengandung darah dagingnya, di tambah istrinya selalu membuat masalah.
"Istriku tidak akan berani mencelakai Noela, cari mati!"
Belum juga Kendrick mengambil keputusan, ponselnya bergetar tampak nama Leyton di layar ponselnya.
"Ya Ley."
"Haccim. Papa Leyton sakit."
Kendrick dengan cepat menutup sambungan telepon, di dunia ini hanya Leytonlah yang bisa merubah pendiriannya.
"Kita kembali sekarang."
"Istrimu memang hebat." Puji Matheo.
Matheo sudah paham kebiasaan nyonya Kendrick, menggunakan Leyton sebagai alat untuk mendekati Kendrick. Akhirnya Kendrick mengambil keputusan untuk kembali ke Bogota, semua anak buahnya juga menarik diri.
Sementara itu Luci, Carlos dan Jade masih berada di Kolombia bagian timur. Tetapi yang lebih menariknya, Eliana sudah tidak lagi di rawat di rumah sakit.
Keluarga lebih mempercayakan kesehatan Eliana kepada dokter pribadi keluarga, yang selama ini mengobati Eliana.
Eliana terbaring lemah di kamar mewah kediaman Jade. Ada satu selang infus yang menancap melalui jarum ke dalam nadinya.
Rasa ketakutan akan kedatangan Jade, dan perbuatannya yang membuat Eliana tidak nyaman.
"Bagaimana? Apa sudah di suntik?" Tanya Luci kepada Jade.
"Sudah."
__ADS_1
"Jika saja kamu tidak lupa untuk memberi obat kepada Eliana, mungkin tidak seperti ini. Secara tidak langsung dia masih mengenali Kendrick."
"Tidak usah kuwatir, dia sudah kembali ke Bogota. Banyak wanita yang akan membuatnya sibuk."
"Ini semua karena anaknya. Aku menelepon istrin Kendrick dan mungkin dia juga sudah mencuci otak anaknnya." Ucap Luci.
Keduanya tertawa bersama, tidak pantas di sebut ibu mertua dan menantu.
Sementara itu sepasang mata mengawasi mereka, ada rasa sakit hati dan marah. Jika saja yang berbicara dengan Jade bukan wanita yang di cintainya tentu dia sudah membunuhnya.
Lelaki itu adalah Carlos. Begitu tega istri yang baru di nikahinya mengorbankan anak satu satunya.
Karlos tertunduk, tubuhnya jatuh lunglai ke tanah, dulu dia penguasa, mengapa sekarang jadi seterpuruk ini?
Di saat mudanya dia tak ubahnya Don Juan, dan merasa paling tampan. Tapi sekarang, mengendalikan seorang istri saja tidak bisa.
Dia harus melakukan sesuatu, sebelum semuanya terlambat. Jika obat anti depresi itu di suntikkan kepada Eliana secara terus menerus maka menurut dokter keluarga, Eliana akan lupa siapa dirinya sampai kapanpun.
Bukankah sama dengan pemaksaan, memenjarakan jiwa Eliana ke dalam tubuhnya sendiri.
Kekalutan seorang ayah, baru di rasakannya sekarang.
Teringat dosa masa lalu saat memaksa Sara untuk membuang putra kandungnya. Memaksa Sara untuk berhubungan intim di depan anaknya. Bagaimana bisa dulu dia melakukannya. Padahal jika dia menerima Sara, tentu kekacauan tidak akan terjadi hingga sekarang.
Carlos telah salah, memungut anak ular bahkan di besarkan hingga sekarang, memberikan makan dan di berikan kehidupan yang layak.
Sekarang ular itu malah menggigitnya, membelit hingga meremukkan isi di dalamnya.
Putri semata wayang yang baru saja di jumpainya kini menjadi korban. Korban keserakahan.
Demi wanita yang berstatus istri orang, Carlos menyakiti wanita yang benar benar mencintainya.
Semua serba terlambat, Carlos mempunyai tekat untuk memperbaikinya.
Membalikkan keadaan agar sesuai pada tempatnya. Tapi apakah itu bisa menghapus semuanya? Tidak!
Keterlibatan dirinya akan masa lalu Kendrick dan kematian Sara. Kendrick sudah melupakan tetapi masalah baru masih menghadang. Eliana terpaksa harus menikahi Jade Eman.
Nasib Eliana ada di tangannya. Jika Carlos membiarkan tentu pernikahan anak angkat dan Eliana benar benar terlaksana. Luci tidak bisa di harapkan.
Yang lebih di takutkan Carlos adalah jika Kendrick mengetahui kalau Elizabeth adalah putri semata wayangnya.
Carlos masuki kamar Eliana, ada beberapa pintu yang memisahkan ruangan di kastil milik Jade. Saat ini Eliana sudah di suntikkan obat anti depresi yang dimasukkan melalui selang infus.
Carlos membuka pintu perlahan, ada Luci yang tengah menemaninya. Awalnya Eliana terlihat gelisah, mengeluarkan keringat dingin dan meraung. Secara tidak langsung mereka sudah merubah diri Eliana menjadi seorang pecandu.
Eliana tertidur dan meringkuk, salah satu kakinya terkait dengan sobekan kain dan di ikatkan pada sudut tempat tidur. Rupanya Luci sudah melepaskan ikatan di bagian tangan, terlihat membekas dan memerah.
Trimakasih untuk yang menyukai novelku, ada yang bilang konfliknya terlalu berat. Mohon maaf aku berusaha membuat novel yang berbeda dari lainnya. Jadi tolong support aku ya. Gracias🥰
__ADS_1