Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Nina Tersadar


__ADS_3

Ruang kamar bernuansa serba putih, aroma disinfektan mendominasi. Nina sudah di pindahkan ke ruang VIP rumah sakit besar.


Nina belum tersadar sepenuhnya. Walaupun keadaan sudah stabil, tetapi kesadarannya belum pulih benar.


Julia tertidur di sofa berwarna cerah. Dua hari dia tidak memejamkan mata. Matheo membelikan makanan untuk sarapan paginya.


"Sudah bangun?" Tanya Matheo, saat melihat Julia menggeliat, meluruskan punggungnya imbas posisi tidur yang tidak sempurna.


"Hmmm." Jawab Julia singkat, dia tidak berani menatap wajah Matheo karena wajahnya terasa bengkak. Langkah kakinya membawanya untuk ke kamar mandi guna mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.


Julia kembali duduk di sofa, sebelumnya dia sudah mengecek keadaan Nina, masih belum tersadar.


"Makanlah dulu. Dua hari perutmu tidak terisi apa apa."


"Aku masih kenyang."


"Julia, jika kamu seperti ini terus, mana bisa melindungi Nina dan Elizabeth. Aku tahu kamu sangat menyayangi mereka. Tetapi dalam keadaan tubuhmu segar bugar."


Julia menitikkan air matanya, menutup ke dua wajahnya. Dia sudah sangat menyayangi Nina. Matheo mendekat dan memeluknya.


Nina terus menangis di pundak Matheo hingga tanpa di sadari kedatangan dokter Noela yang sedang memeriksa keadaan Ninapun tak di indahkan.


"Keadaan cukup stabil. Tidak ada trauma yang di takutkan. Harapanku dia tersadar hari ini." Ucap dokter Noela.


Matheo dan Julia yang sedang berpelukan akhirnya baru menyadari kedatangan dokter Noela. Dan mereka melepas pelukan.


"Dokter Noela. Maafkan kami." Ucap Julia gugup.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Sudah mengejutkan kalian."


"Bagaimana keadaan Nina, dokter Noela?" Baik, hanya membutuhkan waktu untuk tersadar. Paru parunya juga bagus. Nina sangat hebat dan kuat."


Kemudian dokter Noela meninggalkan ke duanya.


Julia kembali menutupi tubuh Nina dengan selimut tebal, Nina terlihat lebih segar. Julia mengusap wajah Nina dengan handuk halus yang sedikit basah dengan air hangat.


Tanpa di sadari Julia, gerakan tanganya menyadarkan kesadaran Nina. Nina mengerjap ngerjapkan matanya.


"Ehhhh." Suara lirih dari mulut Nina.


"Nina sayang, kamu sadar. Syukurlah." Ucap Julia, kemudian menciumi wajah Nina.


Matheo juga ikut berdiri mendekati Nina. Mengusap tangan Nina. Dia juga merasa lega.


"Mama, mana mama. Aku haus."


Julia memberikan minum dan sebelumnya menekan bel.


Julia terlihat senang walaupun kepanikan masih terlihat di wajahnya. Hatinya sangat pedih saat Nina menanyakan keberadaan Elizabeth.

__ADS_1


Dokter Noela kembali mendatangi kamar Nina. Memastikan Nina dalam keadaan baik baik saja.


Dokter Noela memeriksa keadaan Nina, tidak ada ekspresi kekuwatiran di wajahnya.


Interaksi antara Noela dan Nina memberikan ketenangan pada diri gadis kecil itu.


"Semuanya baik baik saja. Untuk trauma pasca kejadian harus di periksa dengan teliti dan di tangani psikiater, aku bisa merekomendasikan psikiater buatnya. Ucap Noela kepada Julia.


"Trimakasih dokter Noela." Ucap Julia. Demikian juga pada Matheo, dia juga mrngucapkan terima kasih pada dokter Noela.


Setelah kepergian Noela, Julia mendekati Nina. Sementara itu Matheo duduk di samping tempat tidur.


"Apa yang kamu rasakan?"


"Sedikit sakit kepala dan lapar."


"Gadis kecil yang pintar. Ada bubur pemberian suster, makan ya?"


Nina menganggukkan kepalanya. Dia memakan sesuap demi sesuap, nampak sekali Nina sangat kelaparan, susu hangat di atas nakas juga telah habis.


"Paman Matheo..." Ucap Nina lirih.


"Hmmm." Jawab Matheo sambil bergumam.


"Jangan bawa aku lagi ke rumah besar itu."


'Deg'


"Nina? Ada apa?" Tanya Julia.


"Tidak! Aku hanya tidak menyukai kastil menyeramkan itu." Ucap Nina dengan ekspresi masam.


"Apa ada seseorang yang mencoba melukai Nina?" Tanya Matheo.


"Tidak ada." Jawab Nina dengan perasaan takut.


Semua terdiam, Matheo tidak ada hubungannya sama sekali dengan Nina tetapi kedekatan ke duanya terjadi setelah beberapa hari Nina tinggal di apartemennya.


Gadis kecil penurut dan baik hati.


Tetapi kekuwatirannya harus ada titik terang, apa ada seseorang yang mencoba mencelakainya?


"Aku pergi sebentar, ada sesuatu yang harus aku luruskan." Ucap Matheo tiba tiba.


"Mau ke kantor?" Ucap Julia.


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di kantor."


"Maafkan aku sudah menahanmu di sini." Sesal Julia.

__ADS_1


"Tidak masalah, jika terjadi sesuatu pada Nina, kamu bisa menghubungi aku kapan saja." Ucap Matheo. Kemudian dia mengecup pucuk kepala Nina.


Matheo berjalan menuju ke pelataran parkir, tujuannya hanya satu yaitu menemui Kendrick. Ada kejanggalan saat dia mendengar ucapan Nina.


Tenggelamnya Nina ada campur tangan dari Leyton, atas dasar apa Leyton mencelakai Nina? Ataukah Leyton sebenarnya mengetahui sesuatu?


Matheo mengendarai kendaraannya dengan kekuatan cukup tinggi. Untung saja keadaan lalu lintas tidak cukup padat. Beberapa saat kemudian Matheo sudah tiba di kantor Kend Grup, sebelumnya melalui sambungan seluler, Matheo sudah menghubungi Kendrick perihal ketakutan Nina.


Pintu ruang kantor Kendrick terbuka, Matheo melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa.


Sudah ada Marco di sana, baik Kendrick ataupun Matheo dan Marco memiliki perasaan tidak percaya.


"Apa kamu sudah membawa hasil rekaman tepat di hari kejadian?" Tanya Matheo pada Marco.


"Sudah dan lengkap." Jawab Marco singkat, seolah tidak iklas jika yang mengajaknya berbicara adalah Matheo.


Rekaman sudah di nyalakan, Kendrick masih santai dan diam, dia sama sekali tidak percaya ucapan Matheo.


"Kamu lihat! Leyton sengaja mendorong Nina. Kamu masih bisa menuduhku bohong?" Ucap Matheo berapi api.


Di layar laptop terlihat saat Nina mendekati Leyton yang tengah duduk di kursi, dan saat itu Maria pergi atas perintah Leyton. Beberapa detik kemudian Leyton bergerak cepat. Mendorong tubuh Nina ke dalam kolam renang dengan keras, dan yang membuat lebih terkejutnya lagi, saat Nina mulai tenggelam Leyton hanya melihat dengan ekspresi dingin. Padahal Nina mulai tenggelam perlahan lahan.


Jangankan Leyton berteriak untuk minta pertolongan, rasa cemas dan bersalahpun tak ada.


"Bagaimana? Masih tidak percaya?" Tanya Matheo.


"Tapi tuan Leyton masih kecil, tentunya masih ada pengecualian. Mungkin Leyton tidak bermaksud seperti itu." Ucap Marco menyela.


"Pengecualian? Hanya karena Leyton putra penguasa? Kamu akan menyesali ini. Kamu memang orang kepercayaan Kendrick tapi berpikirlah jernih."


Dalam layar laptop juga di perlihatkan saat Maria masuk ke dalam kolam renang menyelamatkan Nina di susul dua penjaga.


Dan Leyton mundur secara perlahan. Menghindari kecurigaan Kendrick dan Matheo.


"Dengar! Apa yang di lakukan Leyton bukan hal biasa. Perihal ini Julia sama sekali tidak mengetahuinya. Jadi aku mohon benahi emosi Leyton, karena bagaimanapun juga dia di lahirkan oleh ular berbisa."


Kendrick mencengkeram leher Matheo, matanya tidak berkedip mengunci mata Matheo. Kendrick dari awal belum mrngucapkan sepatah katapun, tapi ucapan sahabatnya memancing emosinya.


"Katakan sekali lagi kalau Leyton ular berbisa! Aku tidak perduli siapa kamu, dan apapun yang sudah kamu lakukan untukku."


Tiba tiba pelipis Matheo terasa dingin, senjata api laras pendek menempel di dahinya. Marco sudah menodongkan pistolnya.


"Aku tidak mengatakan kalau Leyton ular berbisa, tetapi aku mencoba mengingatkanmu bahwa Leyton di besarkan oleh ular yang berbisa, akui itu."


Kendrick tersadar, bagaiman selama ini membereskan kerusuhan yang di timbulkan istrinya. Kejahatan istrinya bisa di katakan sangat sadis, kebanyakan korbannya adalah wanita yang pernah dekat dengan Kendrick. Beberapa pelayan yang tidak di sukainya juga sudah banyak yang menjadi korbannya. Kendrick menurunkan tangannya, begitu juga Marco.


"Pergi, aku akan menyelesaikan dengan caraku!" Ucap Kendrick kepada Matheo.


Matheo meninggalkan ruangan Kendrick, dia sangat menyayangi sahabatnya, tidak mau sahabatnya menyesal di kemudian hari. Karena Nina adalah darah dagingnya.

__ADS_1


Trimakasih untuk yang menyukai novelku. Gracias. Jangan lupa Like Komen and Vote


__ADS_2