Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Park House Bogota


__ADS_3

Tujuh tahun berlalu, sejak tiga tragedi berdarah, semua sudah mulai melupakan. Bahkan media yang awalnya mengecam peristiwa itu tertutup oleh berita berita lainnya.


Bahkan keberadaan pelaku tragedi berdarah juga sebagian lenyap bak hilang di telan bumi.


Siang ini di Kastil mewah di Park House Bogota, seorang wanita cantik duduk di teras balkon berbentuk railing balkon bergagang besi, besi tempa berwarna emas mendominasi bentuk bagunan bergaya Eropa. Wanita anggun itu duduk di kursi kayu berukir yang di lengkapi sandaran spons terbungkus kulit binatang asli. Gaun tidur panjangnya berwarna merah menjuntai ke lantai, belahan kain pada bagian samping jahitan sangat panjang hingga terlihat sebagian betis juga paha kaki kirinya. Tangan kanannya memegang segelas anggur merah beralkohol tingkat sedang, bahkan isi di dalamnya sudah kosong tak bersisa. Meninggalkan noda merah di dasar gelas bergagang itu.


Wanita itu tengah memandang bocah laki laki kecil berusia enam tahun yang tengah bermain bersama bibi pengasuhnya yang bernama Maria. Wanita anggun dan **** itu tidak membalas lambaian tangan bocah lelaki kecil yang menggemaskan. Menganggap buah hatinya hanya angin lalu. Bahkan menampilkan ekspresi datar.


"Nyonya, apa nyonya melihat berita hari ini?" Ucap pelayan setianya bernama Berta.


"Hmmm." Suara wanita itu terdengar malas dan singkat.


"Tuan pingsan di kantor, bahkan masuk berita besar hari ini."


Wanita cantik itu langsung berdiri dari tempat duduknya semula, minuman anggur merah yang ada di tangannya sedikit tumpah membasahi gaun tidurnya.


"Nyonya sebaiknya jangan minum anggur terus, apalagi ini masih pagi. Jika tuan besar...."


Belum selesai ucapan Berta, sebuah lemparan gelas kosong mendarat hampir di kepalanya. Seketika Berta terdiam, telapak kaki bagian atas berdarah terkena pecahan kaca. Berta tidak berani mengeluh.


Wanita itu memasuki kamarnya yang luas dan mewah, ranjang kayu berukuran king bertengger di tengah ruangan, ke empat tiangnya memiliki ukiran yang unik dan terkesan mahal. Ini adalah kamar terbesar yang di tempatinya, selain kamar utama milik tuan besar. Wanita cantik itu berjalan menuju Walk in Closet, melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan setelan pakaian yang mewah dan memakai make up yang tebal.


"Kenapa masih berdiri di sini."


"Baik nyonya."


Berta tau apa maksud majikannya. Kemudian Berta berlari kecil menuju ke area kolam renang yang ada di tengah kastil. Berta tidak memikirkan lagi luka yang ada di kakinya, dia takut jika Berta terlambat membawa tuan muda ke hadapan majikannya, tidak hanya kakinya saja yang akan terluka, bisa bisa dia mati seperti pelayan sebelumnya. Tetapi sebenarnya tidak hanya itu saja, majikannya sering memberinya uang tambahan untuk Berta, dengan kata lain Berta adalah antek dari majikan wanitanya.

__ADS_1


Berta berlari menuruni tangga melinggkar yang di lapisi karpet hitam. Tidak ada yang dapat mengenal majikannya selain Berta, hanya dengan lemparan gelas, Berta langsung memahami apa keinginan majikannya. Matanya mencari sesuatu yang di inginkan oleh majikannya. Dari arah berlawanan Berta melihat teman sesama profesi tengah bermain dengan anak lelaki kecil yang tampan.


"Maria! Kemarikan tuan muda Leyton."


"Kamu kira tuan muda Leyton roti arepas? Kamu bisa memintanya begitu saja?" Ucap Maria dengan ketus. Roti arepas adalah roti terenak di Kolombia.


"Tidak usah banyak omong, nyonya muda akan mengajaknya pergi." Ucap Berta tak kalah ketus.


"Apa kamu tidak tau, saat ini tuan muda Leyton sedang berjemur?"


Ucapan Maria sedikit kesal. Dari awal ke dua wanita ini memang tidak pernah akur terlihat dari ke duanya yang selalu membuat keributan.


"Nyonya membutuhkan sekarang!" Bentak Berta.


"Tuan muda Leyton bukan barang, aku tidak berani melepaskannya. Ini sesuai perintah tuan besar."


Maria masih menghalangi Berta yang hendak merebut tuan muda Leyton, tapi karena tangan kirinya tengah memegang toples makanan milik tuan muda Leyton, gerakan itu sangat menyulitkan.


"Maria, biarkan aku ikut dengan Berta." Ucap Leyton datar tanpa senyuman.


"Tapi tuan muda..."


Ucapan Maria terpotong oleh gerakan halus tangan tuan mudanya. Bocah lelaki itu tidak mau mendengar ke dua pelayannya berseturu memperebutkan dirinya. Apalagi yang membutuhkan dirinya saat ini adalah mamanya. Tentu Leyton tidak mau menyia nyiakan kesempatan itu. Betapa Leyton merindukan kasih sayang dari mamanya, pelukan hangat ataupun bercengkrama itu tidak pernah di dapatkannya. Mamanya akan bersikap baik padanya jika di hadapan papa. Jadi bagi bocah kecil ini ajakan mamanya adalah hal yang langka terjadi. Apalagi mamanya memanggil dirinya tentu saja ada sesuatu yang penting. Berta menggandeng tangan tuan muda Leyton.


Mengganti pakaian Leyton dengan pakaian yang lebih bagus, walaupun tidak mungkin Leyton memiliki pakaian yang buruk.


"Mama akan mengajakku ke mana?" Tanya Leyton, biasanya mamanya akan mengajaknya pergi hanya sebagai alat untuk mendekati papanya, dia sangat menyadari itu. Tetapi perbuatan mamanya yang seperti itu tidaklah penting bahkan dia sedikit senang. Karena dengan begitu mamanya akan menyayanginya. Kasih sayang mamanya hanya hanya muncul jika ada papa.

__ADS_1


Tuan muda Leyton pewaris kerajaan bisnis 'Kend Group' Bocah kecil yang tampan, mata biru dan rambut klimis, Leyton selalu berpenampilan rapi dan bersih. Berwibawa dan tampan, irit bicara dan dermawan. Sangat mengagumi papanya.


Setalah di rasa cukup, Berta mengantar tuan muda Leyton ke kamar utama di bagian kastil timur. Kastil milik tuan Kend memang terdiri dari dua bagian bangunan. Kastil barat dan kastil timur. Letaknya tidak berjauhan masih di komplek yang sama, hanya saja selama ini majikannya menempati kastil bagian timur, sedangkan tuan besar Kend dan tuan muda Leyton tidur di kastil barat. Ke dua kastil memiliki bangunan yang sama, tetapi kastil bagian barat lebih di bangun lebih tinggi dan besar. Pemandanganpun lebih bagus karena jika penghuni kastil barat akan lebih mudah mendapatkan sinar matahari lebih banyak karena posisinya lebih tinggi dan lagi bisa melihat pemandangan di bawahnya lebih leluasa.


Leyton berdiri di depan pintu kamar mamanya bersama Berta, dia tidak berani langsung memasuki kamar mamanya tanpa permisi, kebiasaan ini sudah di tanamkan oleh mamanya. Mamanya akan benar benar marah jika Leyton berani melanggar peraturan itu. Sudah hampir lima belas menit Leyton berdiri bersama Berta di depan pintu hingga sebuah teriakan terdengar dara dalam kamar besar.


"Berta!"


Dengan cepat Berta membuka pintu kamar itu, kemudian dia masuk dan meninggalkan Leyton sendirian.


Leyton masih berdiri tegak di tempat semula.


"Apakah Leyton sudah siap?"


"Sudah dari dua puluh menit yang lalu nyonya."


Kamar terlihat berantakan, barang barang sudah tidak pada tempatnya. Hal itu sudah terbiasa jika nyonya besar akan berpergian. Tidak ada yang berani protes, pelayanpun akan merapikannya dengan cepat.


Wanita itu berjalan menuruni tangga melingkar berlapiskan karpet hitam, gagang tangga terbuat dari besi tempa berwarna emas.


Wanita itu berjalan sangat anggun tapi sedikit tergesa gesa. Dia hanya melirik tuan besar Leyton yang berlari mengejar langkahnya.


Tiba tiba wanita itu mengeluarkan umpatan kecil sambil melirik sedikit ke arah putranya.


"Tidak berguna!"


Leyton mendengarkan umpatan itu, walaupun pelan Leyton menyadari ucapan mamanya di tujukan kepadanya. Mereka memasuki mobil warna silver yang di kendarai oleh seorang supir. Tidak ada suara yang ke luar dari mulut ke duanya. Leyton hanya menundukkan kepalanya tanda ketakutan. Bagi Leyton keadaan ini sangat mencekam, mengharap tujuan kepergiannya cepat sampai.

__ADS_1


Trimakasih yang sudah meninggalkan jejaknya. Like Komen and Vote. Trimakasih untuk menyukai novel saya.


__ADS_2