Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Tes DNA


__ADS_3

Hasil tes DNA sudah keluar, Julia benar benar berharap apapun yang di katakan Matheo adalah benar. Julia sama sekali belum pernah bertemu Eliana, tetapi kalimat Matheo memberikan harapan besar baginya dan Nina. Hanya satu kendala yang akan di hadapi. Bagaiman jika ternyata hasilnya benar, dan cara menyampaikan kepada putri sahabatnya, tentu Nina akan menemui kesulitan.


Awalnya beberapa hari yang lalu Matheo mengungkapkan maksud dan tujuan melakukan tes DNA, ragu dan tidak masuk akal.


"Ini demi kepentingan Nina." Ucap Matheo meyakinkan.


"Kepentingan Nina apa? Kalau ternyata gagal dan tidak cocok?" Ejek Julia.


"Ya buang aja hasil tesnya. Anggap tidak terjadi apa apa."


"Enak saja! Jika gagal akan melukai hati Nina."


"Jangan sampai tau!"


"Caranya?"


"Ambil beberapa helai rambut Nina, itu cukup."


"Memang bisa? Bukannya tes DNA itu mengambil contoh darah?"


"Tidak selalu. Sudahlah, terlalu panjang jika harus di jabarkan. Lakukan saja perintahku."


"Tapi benar, Eliana mirip dengan Elizabeth?" Tanya Julia menyelidik.


"Tidak mirip, karena wajahnya benar benar berubah, dan kakinya sedikit cacat. Tapi ciri ciri yang lain sama."


"Seperti apa? Apa ada luka gigitan di lengan bagian dalam? Elizabeth memiliki kulit sensitif, jika memiliki luka sulit untuk hilang, memudar cukup lama."


"Kamu pernah melihat luka gigitan?"


"Apa benar ada? Berarti...Boleh aku bertemu sebentar saja?" Ucap Nina tidak sabar.


"Tidak sekarang, setelah melakukan tes DNA."


Wajah Julia terlihat kecewa. Pencariannya baik melalui media elektronik ataupun cetak tidak membuahkan hasil. Tiba tiba Matheo membawa kabar seperti itu, tentu Julia berharap banyak.


Elizabeth bukan hanya sebagai teman baginya. Elizabeth layaknya seperti saudara yang saling melindungi. Apalagi di saat dirinya menjadi korban kekerasan kekasihnya yaitu Embre.


Hasil tes sudah di tangan Julia dan Matheo. Hanya di apartemen, tempat yang aman untuk membuka segel amplop berwarna putih.


Nina sudah terlelap, gadis kecil yang masih menderita trauma akibat terjatuh ke dalam kolam renang itu sedikit mulai membaik. Tetapi baik Matheo ataupun Julia sangat membatasi jika Kendrick ingin bertandang ke apartemennya. Alasan satu satunya demi melindungi Nina.


"Buka amplopnya!" Perintah Julia kepada Matheo. Matheo sedikit ragu, membolak balikkan amplop putih itu beberapa kali.


"Kenapa ragu? Cepat aku ingin tau hasilnya."


"Bagaimana kalau ternyata hasilnya tidak cocok."


"Ya kalau tidak cocok, itu akan lebih mudah. Pencarian Elizabeth akan di lanjutkan, itu saja. Malah yang akan menjadi masalah jika DNA itu ternyata cocok."


"Ya benar."


"Kita akan menemui kesulitan besar, cara menyampaikan kepada Nina, sikap Kendrick di tambah depresi Eliana, kita akan menemui kesulitan."


"Ya tapi bagaimanapun juga kita harus menghadapinya." Ucap Matheo mantap. Kemudian dia mulai membuka segel amlop dan menyobek ujungnya.

__ADS_1


Matheo membaca tulisan yang tercetak dengan tinta hitam sedikit lebih tebal.


"Sembilan puluh sembilan persen cocok!"


Julia menarik kertas putih itu, amplopnya jatuh melayang ke lantai. Wajah Julia terlihat bahagia, dia menggenggam kertas putih itu dengan erat, tertawa renyah kemudian menatap wajah Matheo dan mencium pipinya.


Matheo diam saja, terkejut karena hasil tes ataukah ciuman Julia yang tiba tiba.


"Kenapa diam? Tidak senang ya?" Tanya Julia antusias.


"Senang, sebaiknya kita rahasiakan hal ini, terutama dari Kendrick."


Julia membanting tubuhnya ke atas sofa.


"Iya, akan menjadi perang besar. Karena Jade sudah berani merubah wajah Julia, apalagi merubah Elizabeth menjadi seorang pecandu obat depresi."


Ke duanya terdiam. Memikirkan langkah selanjutnya yang harus di lakukan.


"Biarkan aku bertemu dengannya, akan kupastikan Kendrick tidak menyadari alasanku menemuinya."


"Tapi dia tinggal di D'Oreon."


"Apa? Apa gak ada tempat yang lebih buruk lagi?"


"Itu lebih aman, kamu tau yang menimpa dokter Noela? Kakak ipar lebih berbahaya dari pada ular berbisa."


"Tapi tidak tempat seperti itu, Kendrick benar benar licik. Aku tidak mau tau, aku ingin berjumpa dengannya sekarang."


"Ya, aku akan membawamu. Lalu kita akan meninggalkan Nina begitu saja?"


Matheo memikirkan sebuah cara, dia tidak mungkin membawa Julia dan Nina ke club malam. Setelah berpikir cukup keras akhirnya dia menemukan solusi yang aman.


"Mau ke mana?" Tanya Julia tegas, sesaat Matheo meninggalkan sofa duduknya.


"Ke kamar. Ponselku tertinggal di sana."


Matheo berjalan menjauh, ternyata dia menghubungi Marco.


"Marco!" Ucap Matheo lewat sambungan seluler. Seperti biasa mereka tidak pernah akur.


"Ada apa? Bos Kendrick tengah berada di kamarnya. Kamu jangan mengganggunya sekarang."


"Berdua bersama Eliana?"


"Masalahnya apa? Kamu bukan orang tuanya. Menyebalkan." Nada bicara Marco yang datar dan asal.


"Untuk kali ini aku tidak mau ribut. Hanya saja, aku.."


"Aku apa?"


"Bagaimana kondisi Eliana?"


"Ada masalah? Tentu saja nona Eliana baik baik saja. Dan kamu hentikan basa basi!"


"Eem apa Eliana masih menutup diri?"

__ADS_1


"Ya, tapi walaupun begitu sedikit ada kemajuan."


"Syukurlah."


"Ok, lalu tujuan kamu meneleponku itu apa?" Teriak Marco dari seberang telepon.


"Hanya menanyakan kabar Eliana, itu saja." Jawab Matheo singkat.


"Tidak jalas!"


Marco menutup sambungan teleponnya. Sementara itu Matheo baru menyadari ternyata usahanya tidak mudah. Mengarang cerita agar bisa bertemu dengan Eliana.


Matheo kembali ke ruang makan di mana saat ini Julia berada.


"Bagaimana? Apa sudah menemukan jalan keluar?"


"Belum." Jawab Matheo singkat.


"Lalu di biarkan begini saja?"


"Ya tidak, tapi untuk malam ini tidak bisa."


Julia menggerutu, dia benar benar kesal.


Sementara itu di kediaman Kendrick, yaitu di kastil barat. Dokter Noela duduk termenung di tengah taman yang terhampar luas, merasa kesedihan semakin dalam. Dia tidak menuntut agar Kendrick selalu di sampingnya apalagi menjaganya, dia hanya berharap agar Kendrick membelai perutnya, walaupun hanya menyentuh dengan satu tangan saja.


Jangankan membelai perut, pulang ke kastilpun hampir tidak pernah.


Sebuah langkah kaki mendekatinya, dari suaranya dapat di tebak kalau langkah kaki seorang wanita. Bulu kuduk Noela meremang, sebuah tangan halus membelai bagian belakang lehernya. Napas wanita itu begitu terasa di tengkuknya.


"Jangan macam macam, kalau tidak ingin Kendrick membunuhmu."


"Ancamanmu menakutkan." Ucap nyonya Kendrick dengan nada mengejek, kemudian dia memajukan badannya sedikit membungkuk dan membisikkan sebuah kalimat, tepat di telinga Noela.


"Di mana suamiku? Apa malam ini dia tidak pulang? Kasian."


"Kendrick sudah memberitahuku kalau malam ini dia tinggal di D'Oreon."


"Kasian sekali, padahal kamu mengandung anaknya."


"Tidak masalah, toh Kendrick lebih menempatkanku di kastil barat dan itu tandanya dia masih perduli padaku."


"Mimpi, atau jangan jangan yang ada di dalam perutmu bukan darah dagingnya?"


"Kamu salah, karena yang ada di dalam perutku adalah darah dagingnya maka aku lebih tenang. Kamu tidak akan berarti jika tidak ada Leyton."


"Sialan!" Teriak wanita itu, tangan kirinya menarik rambut Noela kebelakang hingga kepalanya menengadah.


"Aduh."


"Jika anak di dalam perutmu mati maka Kendrick tidak akan perduli padamu lagi, bukankah begitu?"


"Dengan kamu membunuh aku dan janin dalam perutku, tidak akan merubah keadaan. Kendrick tetap terobsesi pada cinta pertamanya, Elizabeth. Kamu sudah tau kan? Bahkan dia menghindariku, apalagi kamu. Bergelar nyonya Kendrick tapi tidak di anggap. Lihat saja sendiri apa yang di lakukannya di luar sana?"


"Sialan." Nyonya Kendrick melepaskan jambakan itu dan mendorong kepala Noela Ke depan, kemudian dia melangkah pergi dengan perasaan marah yang memuncak.

__ADS_1


__ADS_2