
Pernikahan benar terjadi tanpa persiapan. Elizabeth bersama beberapa perias di dalam kamar. Tapi suasana memanas, Elizabeth tidak bersedia menikah dengan Kendrick, ini pemaksaan.
"Singkirkan tangan kalian! Aku tidak mau berhias."
"Tapi ini pernikahan anda nyonya."
"Siapa yang akan menikah, kalian saja! Dan jangan panggil aku nyonya, aku bukan nyonya kalian. Keluar dari kamarku!" Teriak Elizabeth kepada penata rias. Amarahnya benar benar sudah melewati batas.
"Nyonya, menurutlah, jika tidak kami pulang tidak bernyawa. Kasian anak kami masih kecil." Ucap salah satu penata rias berambut blonde.
Noela dan Maria juga membujuk Elizabeth.
"Lebih baik dengarkan mereka, atau kamu memang tidak perduli dengan nasib mereka."
"Dokter Noela, tidak bisakah kamu membelaku? Seharusnya kamu membenciku dan menghalangi pernikahan ini. Lalu kenapa kamu malah mendukung mereka?"
"Sudah aku bilang tidak masalah kita berbagi suami, toh Kendrick juga tidak menganggap aku dan Eva sebagai istrinya. Jadi berpikir apa lagi. Ayo sebaiknya kamu melakukan dengan cepat."
"Dokter Noe!" Elizabeth masih histeris. Suasana kamar benar benar berantakan, beberapa barang terlempar berserakan.
"Kalian cepat selesaikan." Ucap Noela di tujukan pada penata rias.
"Ini tidak benar! Aku sama sekali tidak mencintai Kendrick! Aku ingin pergi!" Elizabeth meraung keras, bohong jika dia mengatakan tidak mencintai Kendrick tetapi tidak seperti ini caranya, dan lagi Elizabeth masih ingin melakukan sesuatu. Mencari Carlos dan mamanya.
"Lagi pula aku tidak mau memiliki suami pembunuh seperti dia."
"Suatu saat kamu akan mengerti." Bujuk Noela, beberapa kali memberi pengertian pada Elizabeth.
Pintu di dorong dari luar, tampak tubuh tegap berdiri di depan pintu, penampilannya begitu kharismatik. Matanya memandang tajam Elizabeth, ada kemarahan di sana. Wajah yang tampan dengan penampilan yang sempurna.
Ternyata Kendrick memasuki kamar di ikuti Marco. Tatapan mata Kendrick yang tajam seolah akan menelan dirinya. Elizabeth menelan salivanya. Tangannya menekan apapun yang bisa dia pegang.
Lagi lagi Kendrick mengintimidasi Elizabeth. Elizabeth berdiri kemudian beringsut ke sudut kamar. Kepalanya menengadah ke atas, matanya menatap tatapan kemarahan Kendrick. Dia tidak pernah melihat kemarahan Kendrick seperti ini.
__ADS_1
"Keluar!" Ucap Kendrick tegas. Semua yang ada di kamar mengerti arah perintah Kendrick, demikian juga Noela dan Maria. Semua meninggalkan kamar itu dengan tertib.
Mendengar kalimat 'Keluar.' Dari mulut Kendrick Elizabeth berharap di tujukan pada dirinya. Elizabeth menurunkan badannya hendak berlari keluar mengikuti yang lainnya. Tapi Kendrick menangkapnya.
"Kenapa kamu mempersulit mereka?" Bisik Kendrick di belakang telinga Elizabeth. Jari lentiknya mengusap rambut Elizabeth, menyingkirkannya dari wajah Elizabeth. Menghalangi penglihatannya! Keringat dingin mengalir dari pori porinya. Bukan hanya ketakutan tetapi menganggap Kendrick sudah tidak waras memaksakan kehendaknya.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau menikah denganmu, lalu untuk apa aku di rias!" Elizabeth berusaha melepaskan cekalan tangan Kendrick. Pegelangan tangannya sangat sakit bahkan tercetak tangan Kendrick.
"Baik akan aku turuti kemauanmu, Marco!" Bentak Kendrick dengan suara tinggi.
Marco ke luar kamar, tak beberapa lama dia kembali sambil mengajak satu orang perias wajah. Perias wajah itu gemetar ketakutan, menundukkan kepala tidak mau melihat Kendrick. Seolah dia tau apa yang akan di lakukan Kendrick. Kendrick mengeluarkan senjata api dari belakang pinggangnya, tertutup jas warna putih.
Menodongkan senjata api tepat di pelipis perias pengantin. Perias pengantin ketakutan bahkan tidak sanggup untuk berdiri, kakinya gemetar seakan berkata keputusan yang buruk untuk mengambil job dengan upah besar.
"Nona tolong aku, anakku masih kecil." Ucap perias pengantin itu, menakupkan ke dua tangannya di depan dada. Bahkan bersujud memohon kepada Elizabeth.
Elizabeth terkejut dan takut, untuk ke sekian kalinya dia melihat Kendrick mengancam menggunakan senjata api. Tapi Elizabeth mencoba balik menggertak.
"Aku tidak perduli, dia tidak ada hubungannya dengan aku." Ucap Elizabeth, menutupi ketakutannya. Tapi ekspresi perias pengantin berbeda, dia benar benar ketakutan. Tubuhnya gemetar seperti menggigil kedinginan, menangis dan raut wajah memohon. Memohon pertolongan pada Elizabeth.
'Klak klak.'
Suara yang di keluarkan oleh senjata api itu membuat jantung Elizabeth berdebar kencang. Tapi dia tidak bisa mengabaikan kebenciannya pada Kendrick. Elizabeth menyerah. Tidak tega dengan permohonan wanita di depannya. Melepaskan cekalan tangan Kendrick dan kemudian memohon.
"Kendrick hentikan." Suara Elizabeth datar, hampir tak terdengar di telinga Kendrick.
"Ulangi lagi, aku tidak tak mendengar sama sekali." Kendrick mendekatkan telinganya ke bibir Elizabeth, tapi satu tangannya masih menodongkan senjata.
"Kendrick hentikan." Lagi lagi Elizabeth memohon.
"Dengan kompensasi apa? Jika aku melepaskan mereka apa kamu menurutiku seperti kucing manisku?" Mendengar ucapan Kendrick Elizabeth merasa Jijik. Kucing manis apaan! Dia tidak akan menjadi kucing manis.
"Biarkan aku duduk di depan kaca, biarkan mereka bekerja. Aku akan menurutimu." Ucap Elizabeth, memuaskan ambisi Kendrick. Marco mendorong penata rias itu ke luar, memberikan kesempatan sang mafia untuk berbicara. Sungguh aneh Marco seperti menjadi bagian otak Kendrick, dia tau apa yang akan di lakukannya.
__ADS_1
"Aku senang kamu berubah menjadi kucing manisku kembali." Memutar kursi agar Elizabeth menghadap dirinya.
Mengecup dahi Elizabeth kemudian turun ke bibir, dia bermain di sana. Tapi Elizabeth tidak mau menerima, menggigit bibir Kendrick dengan giginya. Kendrick memejamkan matanya, dia tidak menghindar. Bahkan gigitan kenarahan Elizabeth di anggap sebagai permainan.
Elizabeth mencium aroma besi berkarat. Rasa asin bahkan di rasakan oleh lidahnya. Ini darah Kendrick, tapi kenapa tidak menghindar? Elizabeth menghentikan gigitan itu dan melepaskan, kemudian menatap wajah Kendrick. Benar bibir itu berdarah bahkan dia sempat menelannya!
Elizabeth mencoba menutupi kepanikannya. Tapi tidak dengan Kendrick. Lelaki perkasa itu malah tersenyum, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Bahkan tercetak gigi Elizabeth.
"Kenapa kamu tidak melepaskannya?
"Kenapa melepaskan? Aku sudah terbiasa dengan gigitanmu. Mau mengingat atau melihat lagi?" Kendrick mundur satu langkah kemudian membuka jas dan kemejanya hanya tersisa celana putihnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Menunjukkan padamu betapa senangnya kamu menggigitku."
Elizabeth menatap heran melihat banyak luka gigitan di tubuh Kendrick. Di lengan, di pundak di dada bahkan ada di leher yang selama ini tertutup oleh pakaian. Apa dia separah ini, benar Elizabeth menggigitnya bahkan dia mengingatnya. Tapi kenapa sebanyak ini? Dan Elizabeth sama sekali tidak mengingatnya.
"Ini hasil karyamu."
"Mana mungkin sebanyak itu, yang aku ingat hanya di bagian lengan. Kamu mengada ada. Jangan jangan apa? Perempuan lain? Akan kupotong lidahnya."
"Lalu kenapa lidahku tidak kamu potong?"
"Tidak untuk calon istriku, kamu bebas menggigitku di bagian mana." Ucap Kendrick sambil membuka ikat pinggangnya.
"Apa yang kamu lakukan? Aku tidak mau menggigit itu!" Elizabeth berteriak panik. Dia sudah paham maksud Kendrick.
"Kenapa berteriak? Aku hanya merapikan kemeja. Begitu tidak sabarnya dirimu." Ucapan Kendrick merubah pipi Elizabeth menjadi merah. Dia malu merasa di kerjai oleh Kendrick.
"Brengsek!" Hardik Elizabeth.
Kendrick tersenyum melihat Kemarahan wanita yang di cintainya.
__ADS_1
Siapa yang akan rela kalau senjata kebanggaannya di gigit. Jika itu kamu lakukan kamu akan menyesalinya.
Melihat ekspresi Kendrick seperti itu, Elizabeth sangat kesal. 'Menjijikkan.'