
Di hati Diego terbersit keinginan untuk mempersatukan lagi anggota keluarga, walaupun mungkin ada kesulitan di baliknya.
Mempersatukan keluarga yang benar benar sudah hancur. Apa mungkin? Seperti sebuah kutukan, bahkan satu persatu anggota keluarga menemui kesengsaraan.
Diego tidak tau di mana Luci dan Eva sekarang berada. Keluarga Chloe benar benar hancur.
Sesaat terjadinya tiga tragedi berdarah, Diego membawa kabur Elizabeth. Untung saja saat itu tiba tiba mati lampu. Dengan sedikit susah payah Diego bisa membawa kabur Elizabeth. Jika terlambat sedikit saja kemungkinan dua nyawa yang akan hilang, Elizabeth dan bayi dalam perutnya. Bayi yang hanya sebesar biji kacang.
Selimut tebal menjuntai di ujung brangkar, Diego menarik dan sedikit merapikan kemudian memakaikannya untuk menutupi tubuh Elizabeth yang ringkih. Ke dua saudara itu seperti mayat hidup tanpa darah tanpa daging. Air mata ke duanya mengalir deras, berpelukan untuk menghilangkan kerinduan yang selama ini di berikan.
Diego memejamkan matanya, merasa menjadi laki laki tak berguna. Tak pantas menyandang nama seorang kakak. Mengumpat penyakitnya yang tidak hilang. Diego hidup karena dorongan dari Elizabeth. Jika saja dia tidak sakit sakitan mungkin Diego lebih percaya diri membela adik kesayangannya dari perbuatan mamanya. Kalau saja waktu itu dia tidak percaya bujukan mamanya, mungkin sekarang adik kesayangannya hidup dengan kekasih masa remajanya dan tidak menjadi seperti ini.
Keduanya melepaskan pelukan, kemudian mata mereka saling menatap seolah menyiratkan kata kata 'Jangan sedih, aku tidak apa apa'.
"Aku membawakanmu bubur, tentunya kamu pasti mengeluh dan tidak suka makanan rumah sakit."
"Ya, trimakasih."
Ucapan Elizabeth di barengi sebuah kecupan di pipinya. Dari dulu hanya Diego yang selalu memanjakannya, bahkan demi memberikan sesobek roti tawar ke pada Elizabeth, Diego rela memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
Diego membantu Elizabeth membuka kotak makanan, menyodorkan air susu hangat yang ada di atas nakas.
"Tau dari mana aku di rumah sakit?" Tanya Elizabeth kepada Diego, sambil menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.
"Hmm"
"Dia?"
Ucap Elizabeth untuk memastikan. Dia yang di maksud adalah laki laki yang menyandera Nina dan sahabatnya.
"Sebenarnya apa tujuannya memperlakukan kita seperti ini. Padahal kita tidak mengenalnya."
"Tapi, kalau tidak ada dia. Bagaimana aku bisa menyelamatkanmu? Saat itu sedikit lagi kamu bisa kehilangan nyawa."
Ke duanya terdiam, betul juga ucapan Diego. Saat itu Diego tengah memapah Elizabeth jauh dari tempat pemukiman, dalam keadaan perut yang berdarah. Jika wanita lain mungkin saja akan menyerah, tidak dengan Elizabeth, dia kuat menahan sakit.
Segerombolan laki laki berbaju hitam tengah berjalan mendekatinya, membantu Diego yang tengah ke sulitan, menyelamatkan adiknya dari pernikahan konyol. Awalnya Diego menyetujui permintaan mamanya menikahkan Elizabeth dengan bos debt collector, tetapi setelah bebarapa waktu Diego berubah pikiran. Menyelamatkan adiknya tanpa perencanaan yang matang, walaupun berhasil Elizabeth tetap terluka. Di tambah depresi semakin menyulitkan Diego.
Ternyata serombongan orang yang menolongnya adalah sudah di rencanakan. Ada dalang di balik layar. Hanya saja baik Elizabeth ataupun Diego tidak mengerti siapa orang itu, apa tujuannya.
Pria misterius itu berjanji akan mengembalikan Nina juga sahabatnya setelah Elizabeth berhasil membuat Kendrick jatuh cinta lagi padanya dan membuatnya hancur.
Luka tembak di perut bagian kiri Elizabeth mengeluarkan darah yang sangat banyak, tetapi pertolongan dokter berlaku sangat cepat. Hingga akhirnya bisa di ketahui kalau Elizabeth tengah mengandung.
Yang menjadi pertanyaan Diego siapa ayah bayi dalam kandungan Elizabeth, pengantin pria tidak mungkin, karena pertemuan Elizabeth dengan Carlos Eman hanya berlaku di pernikahan selebihnya tidak.
__ADS_1
Tetapai saat mendengar pengakuan Elizabeth yang baru saja di dengarnya kalau sebelum pernikahan itu, Elizabeth di perkosa oleh seseorang sama sekali tidak di kenalnya. Yang masuk ke apartemen kecil milik Kendrick.
"Bagaimana kamu tau kalau Nina adalah anak pemerkosa itu."
"Kendrick menghinaku dengan kata kata kasar. Bahkan Kendrick mengatakan bagaimana keadaan diriku saat dia menemukannya." Ucapan Elizabeth begitu pelan hingga sangat sulit di dengar di telinga.
"Berarti Nina adalah..."
"Jangan lanjutkan." Potong Elizabeth.
"Dimana bajingan yang sudah memperkosamu?"
"Entahlah, jangan ingatkan aku tentang hal itu."
"Aku akan membuat perhitungan dengan dia."
"Untuk apa ? Tidak usah berandai andai yang penting sembuhkan saja asmamu. Manfaatkan terapi dan fasilitas yang di berikan." Saran Elizabeth kepada Diego.
"Lagi pula aku juga tidak ingat wajah orangnya."
"Coba kamu bertanya kepada Kendrick."
Elizabeth menundukkan kepalanya, ingin menangis. Mana mungkin dia bertanya kepada Kendrick secara baik baik. Baru mendekat saja emosi Kendrick sudah meledak ledak.
"Jangan menyalahkan kondisi kamu. Siapapun tidak akan mau menjadi korban perkosaan. Yang penting cepat selesaikan masalah ini. Bawa pergi Nina sejauh mungkin."
"Tapi aku ingin semua berjalan lebih cepat, aku sudah tidak sabar meninggalkan tempat terkutuk itu. Dan kita bisa berkumpul bersama."
Diego memeluk tubuh Elizabeth dengan erat, pelukan itu cukup lama, kemudian memberikan kecupan halus di dahi Elizabeth.
"Ya suatu saat, mungkin sekarang aku tidak bisa berlaku sebagai mana laki laki dengan semestinya. Kedepannya aku melindungi kamu juga Nina. Aku akan membebaskan kalian."
"Jangan memasksakan diri. Yang penting kembali ke awal rencana."
"Baik"
Yang di maksud oleh Elizabeth rencana adalah mengumpulkan semua anggota keluarga Chloe.
"Aku pergi, tidak bisa lama lama."
"Hati hati, Jaga kesehatan. Bersikaplah normal."
Diego meninggalkan kamar rawat yang di tempati Elizabeth, dia kembali merenung. Suasana kamar kembali menjadi hening. Tidak ada satu anggota keluarga yang menemaninya sesaat kemudian Elizabeth kembali tertidur.
****
__ADS_1
Di tempat yang sama di waktu yang berbeda. Kendrick begitu murka, melalui mata mata yang di tugaskan di rumah sakit, di letahui kalau Elizabeth menerima tamu laki laki, beberapa foto bahkan di kirimkan ke ponsel miliknya.
Elizabeth terlihat manja juga mesra. Ke duanya adalah pasangan serasi.
Hanya saja bagi Kendrick lelaki yang menemui Elizabeth terlihat kurus sakit sakitan.
"Cih apa bagusnya hanya tinggal tulang dan darah. Tanpa daging dan otot. Manusia tidak bermutu!"
Kendrick membanting gelas di hadapan Matheo dan seorang informan.
"Laki laki itu berkata kedepannya akan melindungi nona Elizabeth dan akan berlaku sebagai laki laki. Bahkan nona Eli menyarankan kembali ke rencana awal."
"Rencana awal apa?"
"Untuk itu saya kurang tau. Dan saya mendengar mereka menyebut nama Nina."
"Bodoh! Tidak berguna. Buat apa berita hanya sepotong sepotong. Aku tidak mau tau kamu harus membawa kabar yang lengkap. Dan tempatkan laki laki ceking itu di gudang kosong pabrik kita. Paham!"
"Baik."
Kendrick mengusir informannya, dia sangat kesal.
"Bos ada lagi, tadi saya mendengar laki laki itu sudah tidak sabar untuk hidup bersama."
"Pergi!" Suara Kendrick datar. Matanya sudah memerah. Dan informan itu akhirnya benar benar pergi.
Matheo hanya menyunggingkan sedikit senyuman. Perangai temannya benar benar kembali saat menjalani hidup di jalanan.
"Kenapa kamu begini? Kamu kembali menyukai wanita kumal itu?"
"Brengsek."
"Ingat! Kamu sudah bersumpah tidak jatuh cinta lagi padanya."
"Tutup mulutmu."
"Jangan melakukan kesalahan lagi, dengan menyekap pria milik Elizabeth. Kamu akan membuat masalah baru, menggali kuburan kamu sendiri."
"Diam!"
"Bagaimana aku diam melihat sahabat melakukan hal gila. Ingat kakak ipar dan Leyton. Kamu sudah cukup memiliki mereka."
Kendrick membuang semua barang yang berada di atas meja kerjanya. Tidak di pungkiri Kendrick sama sekali tidak mencintai istrinya. Tetapi demi Leyton dia sanggup menangkap matahari dan membakar dunia.
Tidak terasa sudah memasuki tahun baru, semoga di tahun baru kita mendapatkan rezeki yang baru dan berlimpah. Sehat dan bahagia. Jangan lupa Like Komen and Vote. Gracias
__ADS_1