
Tidak satu orangpun yang di ijinkan Kendrick menyiksa Elizabeth kecuali dirinya! Ucapan itu di ingat oleh Marco. Jika ada yang berani melanggar, kematian yang akan menjemputnya. Bahkan Marco sudah menyampaikan kepada semua pekerja D'Oreon, tidak satupun yang boleh membully Elizabeth. Semua itu terdengar hingga ke telinga Elizabeth.
Kendrick sangat membenci wanita yang berulah, sayangnya wanita seperti primadona itu tidak tau diri, dia sudah berhasil naik ke pangkuan Kendrick, tetapi jiwa serakah dan ingin menguasai kepemilikan Kendrick membusuk di hatinya. Tentu saja Kendrick murka, apalagi dengan lancangnya primadona itu menjebak Elizabeth. Akhirnya Kendrick mengusir primadona itu melalui tangan Marco.
Nasib primadona setelah menjebak Elizabeth dengan afrodisiak berhakhir buruk dan tragis.
Akibat ulahnya sendiri, dia di jadikan santapan malam oleh beberapa orang mahasiswa. Bahkan dia harus di larikan ke rumah sakit oleh Santa. Tidak ada yang perduli dengan trauma si primadona.
Menyesal? Tidak ada gunanya! Primadona itu sudah di tendang, hidupnya sudah berubah jadi wanita jalanan, padahal kejadian itu baru berlangsung satu minggu yang lalu. Bahkan keluarganyapun ikut lenyap.
Hingga malam itu di kejutkan berita bahwa primadona club malam D'Oreon mati terbunuh di jalanan. Elizabeth sangat terkejut. Bagaimana mungkin wanita cantik itu mati terbunuh. Walaupun primadona itu sering membuat masalah dengannya tetap saja Elizabeth tidak tega.
Elizabeth berdiri dengan kaki gemetar, sekujur tubuhnya memucat seolah tanpa darah. Ada bekas cekikan berbentuk tangan di lehernya. Luka lebam di sekujur tubuh, bukan hanya rasa pedih, lebih parahnya hancur dan trauma. Apalagi mendengar berita kematian primadona yang di dapat dari seniornya yaitu Santa.
Kematian primadona itu sangat tragis. Di temukan tak bernyawa di pinggir sungai tengah kota. Wajah primadona itu rusak parah, sebenarnya saat di temukan, primadona itu masih bergerak dan bernafas. Sayangnya lidahnya terpotong, dan akhirnya mati dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Semua orang meyakini kalau kematian primadona itu ada hubungannya dengan Kendrick. Tetapi tidak ada yang berani mengusutnya bahkan pihak polisi juga menutup kasusnya.
Elizabeth menjadi ciut nyalinya. Mengapa Kendrick setega itu pada perempuan yang sudah mengisi malam malamnya, tetapi tidak seharusnya dia di perlakukan bak binatang, bahkan membuang dan membunuhnya. Bukankah primadona itu pernah menjadi wanitanya? Bahkan pernah merangkak di atas pangkuannya. Mengapa Kendrick tega membuangnya.
Malam ini seminggu setelah peristiwa afrodisiak, Kendrick secara kusus datang untuk melihat keadaan Elizabeth. Walaupun mereka berada dalam satu ruangan yang sama tetapi seolah jarak memisahkan mereka, bak luasnya sungai Cauca yang membelah negara Kolombia. Bahkan untuk mencapainya harus melompati sisi sungai lainnya, sungai Magdalena. Bukankah itu tidak mungkin. Itulah ibarat cinta mereka, jaraknya sudah tidak bisa di uraikan lagi, kesalahpahaman menjadikan cinta mereka semakin menjauh.
Kendrick berada di depannya, di kamar VIP D'Oreon, Elizabeth memandang lelaki yang pernah di cintainya itu dengan tatapan ngeri, jijik bercampur aduk menjadi satu.
Mata mereka bertemu tapi hanya kebutaan di dalamnya. Kenapa keduanya menjadi bermusuhan?
__ADS_1
Tubuh Kendrick yang kelewat tinggi dan bentuk tubuh yang sempurna, wajah tampan dan maskulin. Kumis tipis dan dagu yang di penuhi beberapa rambut halus, hidung mancung, bibir sedikit tebal ciri khas bibir orang Amerika Latin. Ketampanan yang semakin terlihat jelas, berbeda dengan enam tahun lalu, Kendrick yang sekarang semakin tampan dan bersahaja. Bak paduka raja yang menebarkan aroma kemaskulinannya.
Kendrick membuka kemeja hitam yang di kenakannya, terlihat beberapa tato di tubuhnya. Seminggu yang lalu Elizabeth tak sempat memikirkan hal ini. Tetapi gambar di tubuhnya semakin penuh. Bukankah dulu dia benci dengan tato?
"Kenapa kemari?"
Ucap Elizabeth membuka pembicaraan, sedikit luka di sudut bibirnya membuat rasa sakit bila dia berbicara.
"Masalahnya? Ini club malam milikku."
Kendrick berjalan menuju kamar mandi, dia membasuh mukanya dan menatap wajahnya di cermin. Mengapa dia selalu ingin menyiksa Elizabeth? Padahal di lubuk hati paling dalam dia mencintainya.
Kendrick kembali berjalan menuju tempat tidur berwarna terang, tidak seperti biasanya serba merah. Kendrick membaringkan tubuhnya di atas kasur besar itu, menarik selimut hingga batas pusar. Elizabeth tidak berani bergeming, dia hanya berdiri di depan pintu. Ingin sekali Elizabeth melarikan diri, tetapi dia tau kalau itu percuma. Pintu besar itu di kunci dari sisi luar oleh Marco.
"Jika kamu berdiri di situ sampai pagi aku sama sekali tidak perduli, dan jika kamu sudah menyerah terserah kamu mau tidur di mana, asalkan jangan tidur di atas kasur ini. Aku tidak biasa tidur dengan wanita lain di atas kasur yang sama. Paham, apa lagi wanita sepertimu?" Ucap Kendrick dengan tatapan jijik.
"Kenapa kamu membunuh wanita itu?" Tanya Elizabeth tiba tiba. Dia paham, dengan menanyakan peristiwa itu Kendrick pasti akan murka.
"Membunuh? Yang mana?" Jawab Kendrick asal. Satu tangannya di letakkannya di atas kepala.
Bagaimana bisa seseorang melupakan manusia yang sudah di bunuhnya, jika begitu mungkin saja terlalu banyak nyawa yang sudah di lenyapkan sehingga menganggap perbuatannya itu lumrah dan biasa.
"Wanita itu, wanita yang menjebakku dengan afrodisiak."
"Kamu ingin aku menjawab apa? Ucap Kendrick tenang.
__ADS_1
"Kenapa kamu membunuh wanita itu? Bukankah dia mencintaimu bahkan sudah memuaskanmu? Dan wanita itu rela mengorbankan nyawanya demi kamu."
Suara Elizabeth bergetar, dia takut suatu saat yang sudah terjadi pada primadona itu bisa juga menimpanya. Bagi Kendrick nyawa orang lain sama sekali tidak ada harganya.
"Mulutmu sangat cerewet, kalaupun aku mengatakan padamu, bahwa aku tidak membunuh wanita itu, apa kamu percaya?"
"Apa kamu masih pantas mendapatkan kepercayaan? Setelah apa yang menimpaku?"
"Ya! Jadi untuk apa kamu menanyakan padaku, untuk apa aku membunuhnya. Dan ingat apa kamu tau nama wanita itu? Bahkan aku juga tidak mengetahui namanya. Jadi siapapun yang mati dengan cara tragis, aku tidak perduli. Apa kamu mengharapkan jawaban berbeda, bahwa aku membunuhnya karena membalaskan dendam untukmu? Jangan mimpi! Bahkan J***ng seperti dia lebih berharga dari pada kamu."
Kemudian Kendrick bangun dari tempat tidur, berjalan cepat ke arah Elizabeth dan menarik tangan kecil itu masuk ke dalam kamar mandi. Dari awal Kendrick merasakan sakit kepala akibat banyaknya pekerjaan dan kini sakit kepalanya semakin menjadi, dia membenci Elizabeth hingga ke ubun ubun.
"Dengar baik baik, aku muak mendengar wanita cerewet sepertimu, jadi sebaiknya kamu tidur di sini saja." Ucap Kendrick, ujung jarinya menunjuk ke arah bathtup berbentuk corner. Padahal bathtup itu sedikit basah, apakah layak manusia tidur di tempat seperti itu.
Kebencian Kendrick semakin menjadi, saat mengingat penolakan Elizabeth minggu yang lalu. Bahkan Elizabeth memilih kesakitan di banding di sentuh oleh Kendrick.
"Dengar aku tidak sudi berada dalam ruangan sama denganmu, apalagi menghirup udara yang sama. Tidak, aku tidak bisa!" Bentak Kendrick.
"Kalau begitu, aku mohon biarkan aku keluar. Ijinkan aku bekerja."
"Dalam mimpi!"
Kendrick membanting pintu kamar mandi, dia sangat kesal. Apalagi saat mengingat jebakan yang di persiapkan oleh primadona itu membuat dirinya tau kalau Elizabeth memilih kesakitan dan menolak.
"Sial." Ucap Kendrick kesal.
__ADS_1
Membuat cerita yang sedikit berbeda dengan novel lainnya. Tidak berharap banyak, hanya ingin di hargai, walaupun imajinasi kadang buntu. Mohon maaf, semoga menyukai novelku.