
Kemarahan yang memuncak, emosi yang tak terbendung. Kebencian yang mulai luntur kini kembali terlahir. Mengapa harus kembali dan membuka perasaan yang sudah lama terkubur. Kendrick membakar semua dokumen yang di miliki Elizabeth. Baik identitas atau paspor. Bahkan semua pakaian, dan itu di lakukan di depan mata Elizabeth. Elizabeth hanya bisa menangisi perlakuan Kendrick. Bukan perlakuannya yang di sesalkan tapi membakar tanpa membuka isi tas di dalamnya sungguh merugikan Elizabeth. Itu sebuah dilema. Di dalamnya juga ada surat surat penting milik Nina baik identitas ataupun foto foto. Tidak ada kelegaan walaupun Kendrick tidak mengetahui keberadaan Nina. Namun kekecewaan yang semakin menekan dada Elizabeth
"Kendrick, kenapa kamu membakar semua milikku? Apa hak mu?"
"Hak? Semua yang ada di dalam dirimu bahkan nyawamu aku berhak merampasnya. Paham!"
"Dengan membakar semua dokumenku? Identitasku?"
"Ya, dan artinya kamu tidak lebih baik dari gelandangan."
Di Kolombia seseorang wajib memiliki identitas, jika tidak memiliki dokumen atau identitas maka dirinya di anggap gelandangan dan tidak bisa mendapat perlindungan di manapun. Yang artinya Elizabeth akan di anggap imigran gelap.
Elizabeth berdiri mematung, di gudang bawah tanah itu Elizabeth melihat berkas berkas miliknya habis terbakar. Hanya ponsel lama yang bisa di selamatkan dan terselip di saku celananya.
Padahal dia bertujuan menjauhkan Nina dari kehidupan yang buruk ini bersama Julia. Kendrick mengancamnya dengan memberikan tempat tinggal di gudang kosong tepatnya di bagian bawah gedung D'Oreon.
Elizabeth bersikiras membela diri dan berkata jujur kalau kepergiannya tidak menemui Juan. Tetapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Kendrick menganggap dirinya di bodohi oleh wanita di depannya. Kendrick mencubit dagu Elizabeth dengan keras kemudian membuangnya hingga Elizabeth semakin tersungkur.
"Sebenarnya apa yang membuatmu marah? Pertemuanku dengan Juan ataukah kebodohan mata matamu?"
Kendrick semakin tersinggung, menganggap wanita itu semakin berani.
"Wanita sepertimu memang pantas di kurung di gudang. Kamu belum pernah berkaca? Sehebat apa dirimu hingga aku harus membayar cecunguk untuk membuntutimu."
__ADS_1
Elizabeth tidak menjawab, walaupun dirinya sedikit ketakutan, namun percuma baginya melawan Kendrick.
"Sudah bagus aku menampungmu, atau kamu lebih suka memilih menjadi wanita pendamping tamu? Baik aku carikan, tetapi kelasmu akan turun! Kamu pantas melayani gelandangan." Ucapan Kendrick dengan mata merah darah. Kemarahannya imbas keberanian Elizabeth yang melawannya betul betul membuat darahnya mendidih.
Bukan dirinya yang dia cemaskan, perlakuan terhadap Santa mungkin lebih parah dari dirinya. Apalagi saat mengingat nasib sang primadona.
"Kendrick, sebelum kamu pergi, bisakah kamu memberitahukan padaku, kabar dari Santa?"
"Bagus kalau kamu masih perduli. Dia sudah bergabung dengan primadona. tentunya kamu senang kan?"
"Bajingan kamu Kendrick!"
Kendrick berjalan keluar, dia tidak memperdulikan lagi Elizabeth. Ruang yang gelap dan pengap hanya ada dirinya di ruangan itu. Elizabeth menekuk tubuhnya di sudut ruangan. Walaupun ada tikar jerami yang tidak berbentuk lagi, hanya itu satu satunya benda yang ada di ruangan itu selain ponsel usang yang ada di kantongnya. Tidak bisa menangis lagi, pikirannya di penuhi bagaimana caranya untuk benar benar melarikan diri. Baik membawa barang Juan ataupun tidak.
Sebelumnya, beberapa jam yang lalu. Santa kembali ke D'Oreon hanya sendiri tanpa Elizabeth, dia tidak langsung melapor pada Marco, hingga beberapa jam. Sampai akhirnya Marco mendapatkan laporan dari beberapa saksi mata kalau Elizabeth pergi dengan cara mengelabui dirinya. Tentu saja kemarah Marco tidak bisa di hindarkan lagi.
"Biarkan saja, biarkan dia pergi." Ucap Kendrick sambil mengibaskan telapak tangannya.
Marco tidak tau kalau ini termasuk siasat Kendrick.
Elizabeth enggan untuk meninggalkan Nina dan Julia. Namun strategi sudah di rencanakan antara dirinya dan Julia, jika sesuatu terjadi Julia harus menemui Matheo. Dan jika Elizabeth berhasil dan membawa barang Juan dia akan melakukan barter dan bebas pergi bersama putrinya. Nina menangis meraung raung saat Elizabeth hendak pergi meninggalkannya. Kalimat yang keluar dari bibirnya juga bergetar, pelukan tangan kecil itu membuat pertahanannya runtuh, tangisan dan air matanya akhirnya jatuh. Pelukan Nina begitu erat bahkan sulit untuk di lepaskan. Elizabeth merasa kalau dia bukanlah mama yang baik, bahkan tidur bersama hanyalah sebuah mimpi. Dua hari lagi adalah waktu yang di janjikan kepada Julia, jika sesuatu terjadi maka semua harus sesuai rencana.
Kenyataannya berbeda, saat dirinya kembali di mana awalnya dia melarikan diri, di sana sudah tidak lagi bisa menemui Santa. Tentu saja, bukankah dia meninggalkan apotik itu lebih dari delapan jam yang lalu? Elizabeth kembali ke D'Oreon. Mencoba berlaku wajar dan kembali ke kamar VIP seperti biasanya, semua mata tertuju padanya, cibiran dan tak tau malu, Elizabeth tidak memperdulikan itu, yang di takutkannya sikap Kendrick padanya. Maka dari itu Elizabeth berusaha merahasiakan kedatangannya, naasnya di sana sudah ada Kendrick dan Marco.
__ADS_1
Elizabeth membuka pintu, dan masuk ke kamar itu. Tatapan mata Kendrick seakan menghujam langsung ke jantungnya. Demikian juga Marco, pengawal satu ini tidak seperti biasanya, yang selalu ramah terhadap Elizabeth. Sekarang terlihat garang mengikuti majikannya. Sekarang bahkan Elizabeth juga tidak dapat membela dirinya sendiri apalagi Santa.
Tiba tiba tangan kasar Kendrick menariknya untuk ke luar kamar itu, langkah kakinya begitu lebar sehingga begitu sulit Elizabeth mengikutinya.
"Kendrick lepaskan! Aku akan mengikuti perintahmu. Tapi jangan seperti ini."
"Mengikuti perintah? Apa dengan cara kabur artinya kamu mengikuti perintah? Wanita kotor!"
Cengkraman Kendrick di tangannya begitu keras, kuku kukunya menancap dan melukai Kulit Elizabeth hingga membiru dan berdarah.
"Kendrick, stop. Kita sudahi permusuhan kita sampai di sini. Jadi biarkan aku pergi. Ok!"
"Pergi? Sampai mati!"
Tentu saja Kendrick tidak mau melepaskan Elizabeth, dan menganggap Elizabeth adalah sebuah mainan.
"Apa untungnya melepaskanmu?"
"Dan apa untungnya menahanku?"
"Banyak! Di antaranya membuat dirimu menderita."
Mereka melewati lift kapsul, bahkan sebagian pengunjung D'Oreon berpapasan dengannya hanya bisa menatap kasian. Elizabeth berusaha melarikan diri dari cekalan tangan Kendrick, tetapi lagi lagi usahanya hanya sia sia. Lagi lagi Elizabeth berakhir di tempat yang gelap tak ubahnya kamar yang di tempatinya, di rumah besar keluarga Chloe.
__ADS_1
Saat ini hanya ponsel satu satunya yang ada di dalam genggamannya, Elizabeth menyadari tanpa aliran listrik, maka batrai pada ponselnya akan semakin menipis. Jalan satu satunya dia harus mengirim pesan kepada Julia agar menyampakan pesannya kepada Juan. Elizabeth sudah mengirim pesan itu. Kemudian mematikan ponsel dan dua jam ke depan dia akan mengaktifkan lagi ponselnya.
Berkarya dan berusaha menyenangkan hati orang lain. Semoga Novelku di terima dan di sukai anda semua. Like Komen and Vote. Gracias