
Suara letusan senjata, bau asap mesiu juga amis darah tercium. Semua terdiam di tempat. Suara letusan senjata api itu terdengar nyata, polisi dan Diego serta Marco saling pandang. Siapa yang tertembak.
Darah menetes di lantai, terlihat kubangan berwarna merah, bahkan darah itu mengotori pakaian Kendrick dan Elizabeth.
Siapa yang tertembak di antara ke dua insan itu?
Darah itu terus mengalir bahkan terasa panas. Keringat dingin keluar dari dahi Kendrick, tubuhnya tiba tiba dingin, wajahnya menampakkan senyuman yang teduh. Kendrick menatap wajah Elizabeth dengan sendu, jari tangannya mengusap pipi Elizabeth yang ketakutan.
"Jangan pergi lagi ya, tetap di sisiku." Bisik Kendrick lirih, meletakkan dagunya di pucuk kepala Elizabeth.
"Ayo bersama membesarkan anak anak, aku mengaku salah." Tambah Kendrick lirih. Air mata Elizabeth terus mengalir. Ada apa ini?
Dalam kepanikan itu, Elizabeth semakin ketakutan, keringat dingin keluar di sekujur tubuhnya. Pelukan Kendrick tidak membuatnya tenang, ada sesuatu yang membuat dia ketakutan.
"Ya, jangan pergi ok." Ulang Kendrick. Tiba tiba mata Kendrick seakan redup. Dia tetap memeluk Elizabeth, mendekatkan kepala Elizabeth Ke dadanya. Dia ingin menelan wanitanya bulat bulat.
Elizabeth tidak bisa menjawab dia hanya menangis, meraba tubuhnya, memastikan peluru itu di mana bersarang.
'Ada yang salah!' Batin Elizabeth, kenapa dia tidak merasakan sakit. Lalu dari mana darah yang menggenang ini?
Kendrick memindahkan jarinya dan mencengkeram dadanya yang terasa sakit.
Kata kata Kendrick terus bergema di kepalanya. Elizabeth menyadari dari mana darah itu berasal. Tiba tiba hatinya perih.
"Mengapa kamu melakukan itu?" Tanya Elizabeth lirih, dia tau kalau Jade berusaha menembak dirinya tapi di saat yang bersamaan Kendrick memutar tubuhnya dan kemudian dia merelakan punggungnya menjadi tameng peluru nyasar, peluru menembus dadanya.
Polisi menangkap Jade, melumpuhkan dengan menembak kaki Jade, tertembus timah panas tentu dia tidak dapat lari lagi. Tapi dia tidak menyerah, pistol yang masih dalam genggamannya memuntahkan peluru sekali lagi. Kali ini nyata menembus pinggang Kendrick. Polisi merampas pistol yang ada di tangan Jade. Marco masih sempat menendang pinggang Jade. Jade terpelanting, dadanya di injak Marco hingga mengeluarkan darah.
__ADS_1
Kendrick tak sanggup lagi, jatuh dan menimpa Elizabeth, berat badan yang berbeda jauh tentu tidak seimbang, Elizabeth tertimpa tubuh Kendrick. Kendrick tak bergerak lagi, Elizabeth berteriak memanggil nama lelakinya.
"Kendrick!"
Seakan bermimpi seram, Kendrick mengorbankan nyawa untuknya. Dua tembakan di tujukan untuk Elizabeth di hadangnya. Dunia tiba tiba menggelap, alam seakan mentertawakannya karena sudah berlari meninggalkan Kendrick. Jika terjadi sesuatu pada Kendrick, Elizabeth tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Elizabeth mengguncang tubuh Kendrick, tak ada reaksi apa apa. Tanpa sadarpun Kendrick masih meninggalkan senyuman. Tapi kali ini senyuman itu terasa pahit. Elizabeth tidak mengingat apa apa lagi, dia terpingsan tak sadarkan diri.
Suara ambulan memecah keheningan malam. Kendrick yang gagah dan kuat kini tidak berdaya. Tergolek lemah dengan beberapa jaram menancap di tubuhnya, mobil ambulan melaju cepat, iring iringan lendaraan mengikuti di belakang. Elizabeth mendampingi Kendrick, tangannya mengepal jemari Kendrick tanpa mau melepaskannya.
Tangisannya seakan memecah gelapnya malam. Ada ketakutan pada dirinya.
"Kendrick jangan mati dulu, aku belum menghukummu! Kamu sudah berjanji padaku untuk membesarkan putra kita bersama sama." Ucapan Elizabeth yang memilukan. Petugas ambulan tidak berani melarang, mereka sibuk dengan peralatan medisnya.
Ambulan memasuki rumah sakit besar di wilayah timur, dengan gerak cepat perawat dan dokter langsung menurunkan brankar kemudian mendorong tubuh Kendrick ke dalam ruang gawat darurat.
"Sebaiknya nyonya menunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik untuk senator." Ucap perawat meyakinkan. Elizabeth menangis, Diego mendekatinya kemudian memeluk, menenangkan hati Elizabeth. Diego mengusap punggung Elizabeth dengan penuh kasih, sejenak ada ketenangan di sana, paling tidak kakaknya sudah memberikan support untuknya.
"Jangan takut, berdoa saja semoga Kendrick mendapatkan kesembuhan." Ucap Diego kepada adiknya.
Elizabeth tidak bisa tenang, selama dokter tengah mengoperasi Kendrick, beberapa kali dia berpindah posisi.
Operasi sudah berlangsung selama dua jam, pintu ruang darurat masih tertutup rapat.
"Elizabeth!" Panggil Julia dari arah berlawanan. Elizabeth membalikkan kepalanya mencari sumber suara.
"Julia bagaimana kabar Leyton?" Tanya Elizabeth tak sabar.
__ADS_1
"Dia sudah membaik." Jawab Julia cemas. Elizabeth menangis di pelukan Julia. Takut akan kehilangan Leyton dan Kendrick. Sebagai sahabat Julia hanya bisa menghibur da menenangkan. Elizabeth menanyakan kondisi Leyton saat ini.
Kemudian Julia menceritakan bagaimana Matheo bisa menemukan Leyton.
Awalnya Matheo dan Julia mencari tempat persembunyian dan menyamar. Matheo mendatangi penduduk sekitar untuk menanyakan aktivitas yang ada di rumah besar Jade. Penduduk sekitar mengatakan kalau sebenarnya di rumah itu memiliki gudang bawah tanah. Dan gudang itu tersamarkan eleh rimbunnya tumbuhan liar yang ada di dapur.
Gudang di jaga oleh dua laki laki dengan perawakan besar. Ke dua laki laki itu dengan mudah di lumpuhkan Matheo dengan bantuan beberapa orang polisi.
Leyton di temukan di dalam gudang bawah tanah, tubuhnya meringkuk tanpa di berikan alas tidur. Lantai yang lembab dan kotor apalagi tanpa pencahayaan membuat Leyton kedinginan dan kelaparan. Dengan cepat Julia langsung membawa Leyton ke rumah sakit.
"Aku akan melihat kondisi Leyton." Ucap Elizabeth. Dilema dengan kondisi Kendrick.
"Sebaiknya kamu konsentrasi di sini, bagaimana jika dokter mencari keluarganya. Lagi pula Leyton sudah lebih baik, di sana Matheo masih menjaganya, aku sudah memberinya bubur beras dan sup ayam. Leyton memakannya dengan lahap, sepertinya.....Leyton tidak di beri makan oleh mereka."
"Tapi aku masih cemas jika belum melihat kondisi Leyton, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Leyton." Ucap Elizabeth.
Tapi Julia meyakinkan pada Elizabeth kalau kondisi Leyton sudah membaik, menunjukkan rekaman vidio, di situ terlihat Matheo dan Leyton tengah bercengkrama walaupun ada jarum infus yang menempel di tangan Leyton.
Mendengar cerita Julia dan vidio yang di lihatnya, Elizabeth sedih sekaligus terharu. Dia merasa menjadi ibu yang bodoh, tidak bisa menjadi tameng seperti yang Kendrick lakukan saat ini.
"Julia, trimakasih. Selama ini hanya kamu yang baik kepadaku. Di kehidupan berikutnya kamu akan menjadi saudaraku." Ke duanya berpelukan. Diego melihatnya dengan perasaan terharu, dulu dia pernah menyukai Julia, tapi kondisi tubuhnya tak memungkinkan untuk mengungkapkan perasaannya. Sekarang kondisi Diego sudah jauh lebih baik, tetapi sudah ada Matheo di samping Julia. Diego hanya bisa menyaksikan kebahagiaan ke duanya.
Kehadiran Julia membuat hati Elizabeth sedikit tenang. Lampu ruang operasi masib menyala merah, sudah empat jam waktu berlalu.
Diego kembali dari kantin rumah sakit, dia membawa dua minuman hangat yang akan di berikan kepada Elizabeth dan Julia.
"Kalian minum." Melihat wajah Elizabeth yang cemas dan pucat, Diego sangat tak tega. Tapi Elizabeth hanya memegang gelas itu tanpa berniat meminumnya.
__ADS_1