Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Laki Laki Itu Datang Lagi


__ADS_3

Kolombia, Bogota.


Musim panas di tahun ini jatuh pada bulan april, bulan terpanas di antara bulan bulan lainnya. Kegiatan wisata yang di adakan pemerintah pusat Kolombia di buka untuk umum, baik domestik ataupun mancanegara. Bulan ini adalah bulan tersibuk bagi pelaku bisnis termasuk kerajaan bisnis milik Kend Grup, sehingga ketiadaannya di kastil sudah menjadi kebiasaan. Termasuk yang di rasakan oleh Elizabeth maupun Leyton.


Elizabeth meluruskan kakinya, meregangkan otot otot yang menegang sesaat setelah pulang dari olah raga pagi. Olah raga yang di lakukan di seputaran taman dan danau kecil buatan.


Pikirannya melayang jauh, kalimat buah hatinya yang begitu sangat melukai perasaannya.


"Mengapa aku harus menyembunyikan identitasku, aku anakmu! Apa ada yang salah dengan itu? Jika Leyton bisa memanggil Paman Kendrick dengan sebutan papa, dan memanggil bibi Eva dengan sebutan mama. Kenapa aku tidak di perbolehkan. Kamu mamaku, bukan bibi Julia! Biarkan aku memanggilmu mama!" Protes Nina dengan berteriak. Nina benar benar tertekan, walaupun tinggal di kastil barat di kelilingi orang yang baik, tetapi perasaannya tidak nyaman.


"Nina! Stop. Suatu saat kamu akan mengerti. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan mama setelah mama benar benar yakin." Elizabeth mencoba membujuk Nina.


"Apa yang membuat mama yakin?" Tangisan gadis kecil itu tidak bersuara tetapi air matanya tak kunjung berhenti, sesekali mengusap dengan punggung tangannya.


"Keselamatanmu!" Ucap Elizabeth, padahal ketakutannya akan ketahuan oleh Eva juga Kendrick benar benar menekannya.


Nina mendengus kesal. Anak kecil akan merasa tertekan jika di suruh berbohong. Elizabeth mengusap surai rambut Nina dan menyelipkan di belakang telinganya.


Dokter Noela mendekati ke duanya, terselip senyum di bibirnya. Ke dua tangannya menahan perutnya yang samakin membesar, sehingga semakin menyembul ke luar. Pakaian tanpa lengan yang di pakainya sangat besar, ukuran panjangnya hanya sebatas lutut, sehingga jika berdiri terlihat tak seimbang. Tetapi tak merubah ke anggunan dokter Noela.


"Ucapan mamamu benar. Ini demi kebaikanmu."


Nina membalikkan tubuhnya saat Noela menduduki bangku di sebelah Elizabeth. Kemudian ke dua tangannya di letakkannya di atas perut Noela, jari jarinya yang pendek dan gemuk itu berputar putar mengusap perut Noela.


"Rasakan dan usap, di dalam sana adikmu sangat senang merasakan sentuhanmu" Goda Noela sambil mencubit dagu Nina. Ketiganya terlihat akrab, tapi sialnya keakraban mereka membuat kesal Eva, yang mengawasi dari atas balkon kamarnya. Perut Noela bergerak dan berputar. Nina tertawa senang merasakan pergerakan itu.


Nina menggendong boneka beruang, dia tidak lagi mengusap perut Noela, sesaat Maria datang membawa dua cangkir teh untuk Noela dan Elizabeth. Pikirannya teralihkan karena kedatangan Maria.


Kemudian Maria mengikuti Nina dari belakang, mereka meninggalkan taman dan menuju kamar Nina.


Sekarang hanya tinggal Noela dan Elizabeth yang masih berada di taman.


"Tinggal menghitung hari." Ucap Elizabeth memecah suasana.

__ADS_1


"Ya." Jawab Noela singkat. Semakin mendekati persalinan, perasaannya makin tak tenang.


"Semoga kamu dan bayimu baik baik saja." Doa Elizabeth untuk Noela, ke duanya sadar kalau bukan satu satunya wanita Kendrick.


"Trimakasih." Jawab Noela singkat. Bulu matanya yang lentik tertiup angin, Noela memang cantik, tidak kalah cantik di banding Eva tetapi Kendrick tidak pernah meliriknya.


Noela terlihat murung, wajahnya menunjukkan kesedihan. Dia mencoba menutupi dengan beberapa candaan, tetapi Elizabeth tidak bisa di bohongi.


"Ada masalah apa?" Selidik Elizabeth.


"Tidak ada, hanya saja menjelang persalinan aku sangat cemas."


"Tidak perlu kuwatir. Masalah seperti ini sudah biasa terjadi."


Noela merasa sedikit terhibur, tetapi dia adalah dokter, seorang dokter tidak akan bisa mengoperasi dirinya sendiri. Dan yang terjadi sekarang, dia paham dengan kondisinya, fisiknya sangat lemah.


Ditambah beban mental, janji Kendrick menikahinya hanyalah isapan jempol semata. Dia memang memegang buku merah pernikahan. Tapi tanpa prosesi dan tanpa saksi, hanya buku tanpa melalui proses!


Noela tersenyum miring, dia tidak kecewa. Toh adanya surat Nikah itu baik asli atau palsu dia memang tidak berniat hidup selamanya dengan Kendrick.


Ke duanya memasuki kastil barat, dan memasuki kamar masing masing.


Eliana membuka ponselnya, banyak notivikasi yang belum terbaca. Notivikasi itu adalah berasal dari Julia dan memintanya menghubungi kembali.


"Julia."


"Dari mana? Kenapa lama sekali menhubungiku?" Tanya Julia panik, dia tau Eva bukanlah orang baik, dengan tinggal satu rumah bersamanya, Julia butuh keberuntungan buat selamat.


"Dengarkan! Aku sudah mendapatkan alamat di mana James di rawat. Dia tinggal di rumah sakit, alamatnya sudah aku kirimkan ke ponselmu."


"Kamu memang sahabatku. Trimakasih!"


"Aku akan menemanimu. Dan kita ketemu di sana."

__ADS_1


"Ok, satu jam ke depan kita ketemu."


Elizabeth hendak menemui Juan, kecelakaan yang menimpanya tidaklah sendirian tetapi bersama Juan. Elizabeth penasaran siapa yang ingin mencelakai dirinya.


Setelah mandi dan sarapan, Elizabeth berniat pergi sendirian. Tetapi baru saja kakinya menginjak lantai teras depan, Maria sudah mengagetkannya.


"Nona mau ke mana?"


"Pergi sebentar, aku titip Nina."


"Tapi perintah tuan Kendŕick, nona tidak boleh pergi sendirian."


"Ah, memangnya aku anak kecil?"


"Tapi nona. Sebaiknya nona tidak sendiri, dan bagaimana kalau tuan tau."


"Dia tidak akan tau, bukankah sudah hampir tiga hari tak pulang? Pasti aman."


Elizabeth berjalan meninggalkan Maria yang masih berdiri menguwatirkannya. Kepergiaannya tidak di ketahui siapapun tetapi tanpa di sadari Eva mengetahuinya. Eva tersenyum jahat di belakangnya.


Elizabeth tiba di rumah sakit, Elizabeth memasuki salah satu kamar sesuai nomor yang di beritahukan oleh Julia, Elizabeth mendorong pintu perlahan, di atas tempat tidur terdapat seorang laki laki kurus dengan rambut memanjang tak terurus.


Dapat di pastikan kalau yang berbaring adalah Juan. Kondisi Juan begitu menyedihkan, berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya. Juan yang dulu energik dan pemberani sekarang tidak ada. Seolah nyawanya hanya tergantung pada salah satu mesin yang ada di ruangan itu.


"Juan, kenapa kondisi kamu seperti ini? Siapa yang melakukan?"


Tentu saja tidak ada respon sama sekali. Eliana mengusap telapak tangan Juan seolah memberi kekuatan pada pria yang sempat menawarkan hidup layak kepadanya. Juan tidak memiliki tempat di hatinya, tapi laki laki itu selalu memperlakuka dirinya dengan baik.


Suara langkah kaki mendekat, Eliana tidak sempat bersembunyi dan tiba tiba pintu di buka.


"Anda siapa?" Tanya seorang wanita berseragam putih putih. Peraturan rumah sakit tidak sembarangan orang boleh masuk ke kamar pasien koma.


"Saya......" Belum hilang rasa terkejutnya segerombolan orang datang mendorong paksa pintu bangsal itu.

__ADS_1


Tatapan mata tajam seolah mencabik hati Elizabeth, iris mata bak tatapan harimau seolah menerkam. Elizabeth berusaha berlari namun gagal.


Dia mengenali lelaki ini walau hanya samar. Laki laki yang hampir saja menikahinya. Elizabeth tau pasti siapa laki laki itu. Laki laki yang sudah merawatnya pasca kecelakaan, laki laki yang mengaku sebagai tunangannya. Laki laki itu datang lagi!


__ADS_2