Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Jaminan Utang


__ADS_3

Pekerja D'Oreon yang memalsukan bukti palsu bahkan yang membongkar ruang Vip dan di kususkan untuk Kendrick di temukan mati bunuh diri. Matheo semakin kesal, dia sudah mengandalkan pengacara dan beberapa pejabat, tetapi sepertinya ada campur tangan orang lain yang membuat semua masalah menjadi rumit. Bagaimana dia harus menolong sahabatnya keluar dari jeruji besi?


Kendrick merasakan sakit di area pundaknya. Luka bekas gigitan Elizabeth kembali mengeluarkan darah, begitu nyeri dan bahkan seolah mati rasa. Dia menggerak gerakkan lengannya demi untuk mengurangi rasa sakit.


Sementara itu di kediaman Chloe, James beberapa kali tidak sadarkan diri, Luci terlihat panik. Panik bukan karena kondisi suami yang menghawatirkan, tetapi dia panik karena sudah tidak memiliki uang lagi. Tukang tagih pinjaman atau rentirnir berdatangan silih berganti. Keluarga Chloe tidak memiliki uang sama sekali bahkan rumah juga sudah tergadaikan.


"Jangan lakukan ini, aku mohon. Beri tenggang waktu atau tempo, paling tidak berikan kelonggaran. Aku sudah tidak memiliki apa apa lagi."


Ucap Luci kepada dept collector. Ke dua tangannya di satukan dengan membungkukkan badannya, memohon keringanan kepada penagih hutang. Bahkan Luci memohon sampai bersujud.


Penagih utang itu mendorong Luci hingga terjerembab. Suara keributan yang di timbulkan, memancing Diego dan Eva ke luar kamar.


Melihat mamanya menjadi bulan bulanan dept collector membuat Eva dan Diego merasa kesal dan marah. Diego memberikan sebuah pukulan kepada wajah salah satu penagih hutang, hal itu memancing kemarahan dept collector yang lain. Mereka bersamaan membalas pukulan Diego. Bahkan ada yang menendang dada, kepala dan perut Diego, Diego meringis kesakitan. Matanya melotot menahan rasa sakit. Eva berteriak sekeras kerasnya, mengharap ada tetangga yang membantunya. Tapi sayangnya, tidak ada tetangga yang perduli.


Mereka menghentikan pukulan, dan Diego sudah tidak sadar.


"Baiklah, aku akan memebebaskan dengan satu syarat. Anak gadismu yang cantik ini menjadi jaminan. Jika beruntung bosku pasti menerima tapi kalau ternyata bosku tidak menyukai anakmu terpaksa kami akan menyerahkan kalian ke kantor polisi."


Eva mendadak takut, dia mundur beberapa langkah. Memandang wajah ibunya penuh harap. Dia tidak mau menjadi jaminan. Ambisinya dan kepintarannya tidak mau hilang begitu saja.


"Mama tolong jangan terima tawarannya."


"Maafkan mama tapi tidak ada lagi yang bisa menolong keluarga Chloe selain kamu." Ucap Luci kepada putri kesayangannya. Air mata mengalir dari ke dua mata Eva. Tidak percaya dirinya menjadi jaminan hutang.


Eva berlari sambil menangis, tidak percaya lagi dengan Luci. Sementara itu para penagih utang sejenak mulai tenang, mereka puas karena sudah membawa berita bagus untuk bos besarnya.


"Baiklah, kalian bisa pulang berikan waktu dua hari untuk membujuk putriku." Ucap Luci sambil memangku kepala Diego yang tak sadarkan diri. Akhirnya rumah kembali sepi. Penagih hutang meninggalkan kediaman keluaraga Chloe dan berjanji akan kembali dua hari lagi.

__ADS_1


Luci tidak bisa memindahkan tubuh Diego seorang diri. Dia sudah pasrah dengan apa yang menimpa keluarga Chloe. Suaminya sudah beberapa hari terbaring lemah, tidak sadarkan diri. Uang dan hartanya menguap tak tersisa, hanya meninggalkan kekosongan di rumah yang bukan miliknya lagi.


"Diego, Diego. Bangun, jangan kau buat hati mama kuwatir."


Ratapan Luci sebagai seorang ibu benar benar tulus, dia sangat terluka melihat keadaan anak lelakinya. Tangisannya tidak berhenti sama sekali meratap hingga nafasnya tersengal, tidak ada tetangga yang perduli karena sebelumnya Luci juga tidak pernah memperdulikan kesulitan sekitarnya.


Kesedihan dan kasih sayang Luci hanya untuk ke dua anaknya, tetapi air matanya sangat mahal jika untuk menangisi Elizabeth bahkan Luci mengharamkannya.


Diego terbangun, menekan dadanya yang terasa sakit. Menangis merasa menjadi anak lelaki yang tidak berguna. Diego mencoba berdiri, terseok seok meninggalkan mamanya, Luci berusaha membantunya. Terdengar bantingan barang di kamar Eva, Luci terkejut demikian pula Diego.


Luci dan Diego berjalan mendekati kamar Eva. Eva membuka pintu kamar dan terlihat suasana kamar tak lagi rapi.


'Brak, brak, brak'


Suara bantingan terdengar hingga ke luar rumah.


Ucapan Eva menyakiti perasaan Diego. Mendoakan Diego dan James cepat mati. Padahal dia saudara kandungnya. Luci menampar Eva hingga terlempar dan terjatuh ke dalam sofa kecil yang ada di dalam kamarnya.


"Kenapa? Benar kan ucapanku? Kenapa aku harus berkorban dan di jadikan jaminan? Padahal selama ini, semua harta benda keluarga Chloe di habiskan untuk pengobatan Diego. Ini tidak adil. Kalian memang benar benar jahat.


"Eva, untuk kali ini saja kamu berkorban demi keluarga." Ucap Luci.


"Tidak! Aku tidak mau, kalau mama masih memaksakan lebih baik aku bunuh diri."


"Eva!"


"Kenapa? Itu lebih baik bagiku dari pada di jadikan jaminan hutang. Dan kamu Diego kenapa tidak kamu saja yang berkorban?"

__ADS_1


Diego menundukkan wajahnya, tangan kanannya menekan dada. Dia tau keberadaan dirinya di keluarga ini hanya menjadi beban, sakit asmanya semakin sering kambuh. Dia sudah menghabiskan banyak uang, tetapi tidak ada hasil sama sekali. Faktor pemicu kenapa dia selalu sesak nafaspun belum di temukan. Diego tertunduk lesu, tubuhnya sedikit demi sedikit melorot ke bawah. Andai saja dia lelaki yang sehat tentu tidak akan menjadi beban keluarga Chloe.


Ketiganya terdiam, tidak ada lagi yang mencoba mengeluarkan suara. Eva menangis sesunggukan. Luci tidak kalah menyedihkan. Saat semua sibuk dengan fikiran masing masing tiba tiba terdengar suara benda jatuh. Dan suara itu tepat di kamar James, ketiganya saling pandang mencoba mencari sebuah jawaban.


Ketiganya berlari ke kamar James, membuka pintu dengan sekeras kerasnya.


"James!"


Teriak Luci saat mendapati James terjatuh dari kasur busa. Keadaan James semakin buruk, tidak sadarkan diri dengan napas yang tersengal.


"Eva cepat panggil ambulan!"


Eva menganggukkan kepalanya, segera membuka layar ponsel dan menghubungi nomor kusus ambulan. Tidak lama kemudian suara sirine mendekati rumah Chloe.


Saat tim medis tengah sibuk memindahkan James untuk di masukkan ke dalam mobil Ambulan, terlihat Elizabeth berdiri di ruang tamu, Elizabeth hanya berdiri dengan tatapan matanya yang kosong. Elizabeth tidak terpengaruh oleh kebisingan sirene ataupun kesibukan tim medis saat mengangkut James. Beberapa hari Elizabeth tanpa mandi ataupun makan, matanya yang kosong mirip mayat hidup.


Semua orang menatap heran, kebetulan salah satu petugas tim medis yang menjemput pasien terdapat dokter Noela.


Noela menatap sekilas kondisi Elizabeth, karena baginya saat ini Elizabeth bukan priotasnya, Noela lebih memikirkan kondisi James.


"Berangkat!" Teriak Noela kepada tim medis, memerintahkan para awak untuk segera berangkat.


Eva melihat penampilan Elizabeth merasa kesal, depresi yang di alami adiknya dianggap itu sepantasnya. Karena kebencian dan rasa iri kepada adiknya sudah memuncak. Tetapi tiba tiba seringai licik ke luar dari sudut bibir merahnya.


"Mama katakan pada penagih utang, dan berikan jawaban BERSEDIA. Bilang pada mereka dua hari lagi siap di jemput."


Eva melihat penampilan Elizabeth merasa kesal, depresi yang di alami adiknya dianggap itu sepantasnya. Karena kebencian dan rasa iri kepada adiknya sudah memuncak. Tetapi tiba tiba seringai licik ke luar dari sudut bibir merahnya.

__ADS_1


Para pembaca yang baik, aku tidak php kalian kok. Tenang saja 2 hari sekali pasti up. Bagi yang suka novelku jangan lupa Like Comrn and Vote. Dan semoga kalian bertambah cantik dan tampan.


__ADS_2