
Janji Kendrick untuk datang ke apartemen Matheo hanya isapan jempol semata, dia lebih memilih berdiam di kastil demi menemani putra kesayangannya Leyton. Tidak jarang Kendrick membujuk Leyton untuk bersikap baik pada siapapun termasuk kepada Nina, tetapi anehnya Leyton seperti tertekan dan ketakutan.
Ada sesuatu yang terjadi terhadap Leyton tetapi Kendrick tidak menyadari hal itu. Kendrick menganggap Leyton hanyalah anak kecil.
Sementara itu dua hari setelah pertemuannya dengan Kendrick, Matheo sibuk dengan kasus yang di bebankan pada dirinya oleh Kendrick. Tapi dia sedikit bersyukur Kendrick tidak jadi mendatangi apartemennya, paling tidak Nina lebih leluasa dan bebas untuk tidak memanggil dirinya papa.
Mencari titik kelemahan Jade Eman tidak semudah yang di bayangkan Matheo, bahkan orang yang di tunjuk langsung demi mendapatkan bocoran informasi tidak membuahkan hasil apa apa.
Tetapi keseriusan penangan pihak pemerintah di kota Kolombia dalam menangani korupsi dan peningkatan pajak juga merupakan peluang bagi Matheo sangat besar.
Dengan alasan itu Matheo membuka data semua pengusaha termasuk Kendrick.
Tidak ada yang asing dengan perusahaan Kendrick. Baik pajak ataupun dana perusahaan dan dana pemegang saham di data jelas transparan. Apalagi sebelumnya Matheolah yang memegang tampuk kepemimpinan Kend Grup sebelum di alihkan keseluruhannya kepada yang berhak yaitu Kendrick.
Saat ini Matheo tengah berada di salah satu ruang kerja yang ada di apartemennya. Jarinya memainkan komputer dengan handal, demi mencari bukti kecurangan yang di lakukan Jade Eman.
"Paman Matheo, bolehkah aku masuk?" Terdengar suara Nina dari bagian luar pintu.
"Masuk!" Ucap Matheo sedikit berteriak karena pintu ruangan yang tertutup.
Ternyata Nina tidak sendiri, di belakangnya ada Julia yang mengikutinya.
Kedatangan dua wanita beda generasi sangat menyenangkan hati Matheo, apalagi belakangan timbul perasaan senang pada wanita dewasa ini.
Dia selalu mengedepankan sikap hormat kepada wanita, apalagi wanita yang di cintai. Walaupun pernah di tolak oleh dokter Noela, tapi Matheo tetap bersikap baik, bersahabat tanpa ada jurang di antara ketiganya. Matheo sangat menghormati keputusan Noela yang lebih mencintai Kendrick dari pada dirinya. Baginya persahabatan lebih penting dari pada perasaan cinta.
Dan sekarang Matheo mendapatkan peluang manis, sinyal sinyal cinta sedikit mendapatkan lampu hijau dari Julia, selangkah lagi dia akan mengungkapkan perasaannya.
Julia memegang secangkir kopi hitam dan sepiring kecil kudapan manis. Dia sangat paham malam ini Matheo bekerja cukup keras demi mencari keberadaan Elizabeth.
"Paman Matheo!" Panggil Nina sambil menggerak gerakkan tangannya di depan wajah Matheo.
"Hah?"
"Kenapa paman Matheo tersenyum sendiri sambil memandang Wajah bibi Julia?" Protes Nina dengan ekpresi wajahnya yang lucu.
"Tidak, untuk apa?" Elak Matheo, merasa malu karena sikapnya di ketahui oleh Nina. Sementara itu Julia hanya tersenyum sambil menunduk. Keduanya seolah tersembur api panas, wajah ke duanya memerah.
"Makanlah ini dan kopi panas untukmu." Ucap Julia sambil menyodorkan secangkir kopi hitam.
"Trimakasih."
Setelah meletakkan kopi dan kudapan Julia dan Nina meninggalkan ruang kerja Matheo. Ruang kerja kembali sepi.
Baru saja Matheo meneguk kopi yang di suguhkan oleh Julia, ponselnya berdering, tertulis nama 'Kepala Batu.'
__ADS_1
Kendrick mengabaikan panggilan itu, padahal sudah lima kali nomor itu menghubunginya. Untuk saat ini Kendrick tidak tertarik dengan apapun dan siapapun selain kopi pemberian Julia. Sangat manis dan nikmat.
Pintu kembali terbuka, kali ini sedikit keras.
"Matheo! Bisakah kamu mengangkat ponselmu? Temanmu itu menghubungiku, bahkan mengancamku. Jika kamu tidak mau mengangkat teleponnya apartemenmu akan di robohkan. Ngerepotin saja" Ucap Julia kesal. Matheo menelan ludahnya kasar, garis senyum tiba tiba hilang.
Julia tiba tiba menerima panggilan masuk dari ponselnya, tapi nomor yang tercantum di layar tidak tertulis namanya. tentu saja Julia menganggakat panggilan itu.
Ternyata Marco menghubunginya atas perintah Kendrick. Dari mana anak buah Kendrick mendapatkan nomor teleponnya?
"Hah? Bagaimana bisa dia mendapatkan nomor telepon kamu?" Tanya Matheo.
"Bukan dia yang menghubungiku tapi laki laki bernama Marco. Tapi kemudian suara itu berganti suara Kendrick."
"Sialan. Ini pasti ulah Marco."
"Aku tidak perduli." Bentak Julia kemudian membanting pintunya.
Matheo tercengang, wanita yang numpang tinggal di rumahnya lebih galak dari pada dirinya.
Marco memang mantan preman tapi karena kegigihannya, tentu saja di Manfaatkan oleh Kendrick. Mencari nomor telepon sesorang adalah hal mudah untuk Marco. Marco bukan orang pintar tetapi dia pandai memanfaatkan orang pintar di sekelilingnya.
Ponsel Matheo kembali berdering nama ' Si Kepala Batu' terlihat di layar ponselnya.
"Cari mati!" Ucap suara Kendrick lantang, tanpa menyalakan speakerpun suara lantang Kendrick nyaring di telinganya.
"Tidak bisakah aku bersantai hari ini?"
"Datang ke kantor lima menit dari sekarang!"
Panggilan kembali di tutup, Matheo tidak tau lagi bangaimana menghadapi si kepala batu. Padahal hari ini dia berencana santai. Persiapan untuk menyatakan cintanya kepada Julia akhirnya tertunda.
Matheo keluar dari ruang kerjanya, dengan wajah kusut tak bersemangat dia melangkahkan kakinya, saat tiba di ruang tengah ada Julia dan Nina yang tengah asik menonton siaran televisi.
"Ke mana?" Tanya Julia.
"Kantor Kendrick."
"Oh."
Hanya 'Oh' Batin Matheo, dia tidak membutuhkan kalimat sederhana seperti itu. Matheo membutuhkan kalimat yang lebih, akhirnya Matheo keluar dari pintu apartemen dengan wajah lesu.
"Jangan lama lama, makan malam nanti kita makan bersama." Ucap Julia setengah berteriak.
Hati Matheo tiba tiba senang 'Ini yang aku tunggu' Batin Matheo.
__ADS_1
Matheo tiba di kantor Kendrick sepuluh menit kemudian, sebagian pekerja nampak tidak ada di tempat, hanya sebagian kecil saja. Matheo berjalan dengan lankah gontai.
Menaiki lift kusus para direksi dan tiba di depan ruang kantor Kendrick, Matheo bertemu dengan Marco, wajahnya langsung berubah tidak senang, aroma permusuhan di mulai.
"Yang terhormat tuan Matheo sudah tiba?" Sindir Marco.
"Sialan, aku tidak akan membantumu jika kelak berurusan dengan kasus hukum." Ancam Matheo.
Marco tersenyum tipis. baginya tidak masalah jika dia tersandung kasus hukum, ada bos Kendrick yang akan membantunya.
"Tidak masalah ada bos Kendrick."
"Ya! Dan yang kamu sebut bos akan memerintakanku untuk mengurusmu."
"Itu resiko anda. Oh ya saya mendapatkan nomor telepon nona Julia dari asisten bos Juan. Silahkan tuan Kendrick sudah menunggu anda."
"Sialan kau Marco."
Marco tertawa lepas tapi tak bersuara. Matheo memasuki ruang kerja Kendrick sambil memasang wajah tidak suka.
"Terlambat sepuluh menit dan kamu adik berdiskusi dengan Marco."
"Ya, bos dan ajudannya sama saja. Menyiksa orang lain." Ucap Matheo.
"Menyenangkan bukan?"
"Menyenangkan buatmu, tapi orang lain tidak!" Protes Matheo.
"Asalkan orang lainnya adalah kamu." Ucap Kendrick sambil menunjuk diri Matheo.
Kali ini giliran Kendrick terlihat senang, senang saat dirinya berhasil menindas Matheo.
"Ada apa kamu menyuruhku ke sini? Ini sudah sore, dan waktunya jam pulang kantor."
"Tenang saja, aku sudah mendapatkan ini." Ucap Kendrick sambil melemparkan sebuah kertas ke meja di hadapan Matheo.
"Apa ini?"
"Buka saja. Hasil tes DNA Eliana dan Carlos Eman sudah keluar."
"Ternyata hasilnya?"
"Baca saja." Perintah Kendrick, Matheo membaca, terlihat keterkejutan di wajahnya.
Kira kira apa hasil tes DNA Eliana? Sabar ya sahabat. Trimakasih untuk yang menyukai Novelku. Rencana aku akan membuat novel ini sampai 150 bab ke atas. Doakan tidak Hiatus ya. Jangan lupa Like Komen and Vote. Gracias🥰
__ADS_1