Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Pelayan Maria Berkhianat


__ADS_3

Pertama kali saat pintu kamar mandi di buka, Elizabeth seakan tercekat tak berdaya, beruntung di belakangnya ada Julia dan Matheo. Dalam keadaan gelap tanpa lampu dan udara yang tidak mencukupi, juga lantai yang dingin, Nina tertidur di atas keramik. Tubuh gadis kecil itu meringkuk, dia menggigil dan ketakutan. Melihat itu air mata Elizabeth terasa perih, dia mendongakkan kepalanya agar tidak menangis.


Elizabeth membungkukkan badannya dan mengangkat tubuh Nina yang ringkih. Hatinya seakan tertancap belati panas, sangat sakit.


Kamar Nina yang begitu besar dengan dekorasi serba pink tak membuat Elizabeth tentram, tiba tiba dia merasakan sakit. Dia sudah memilih kembali ke sisi Kendrick, pilihan dengan harapan indah kini berakhir seperti ini. Menerima penghinaan lagi dan lagi. Elizabeth tidak menyesal kembali ke sisi Kendrick tapi jika saat ini anaknya yang menjadi korban, Elizabeth siap berperang.


Elizabeth melepaskan pakaian Nina yang basah oleh keringat dingin. Kemudian menyeka tubuh putrinya dengan air hangat. Lalu mengganti pakaian pesta dengan baju tidur. Tangan kecil dan ringkih itu mengepal, bibirnya membiru, pori porinya keriput. Elizabeth menahan kemarahannya, di depan Nina dia harus kuat.


Noela membuka matanya, gadis kecil itu menatap wajah mamanya, seakan bertanya apa kesalahan yang di lakukannya hingga para pelayan menguncinya di dalam kamar mandi.


Elizabeth mengusap dahi Nina kemudian menggosok punggung gadis kecil itu dengan minyak aroma terapi. Memberikannya susu hangat juga bubur beras.


"Tidurlah, tidak ada yang menguncimu. Kamu kurang berhati hati. Mama akan menjagamu." Ucap Elizabeth menghibur. Mata gadis kecil yang polos itu menatap Elizabeth tak percaya, keyakinannya saat itu tidak ada satu pelayanpun yang menolongnya bahkan dia sudah berteriak memanggil nama pelayan.


Elizabeth menaikkan selimut agar tubuh Nina menghangat.


Nina sama sekali tidak membantah, dia menganggukan kepala menuruti ucapan ibunya. Di belakang Elizabeth Julia menekan pundak Elizabeth, dia sangat prihatin dengan kehidupan sahabatnya. Jika saja dulu dia tau kalau Kendrick menemukannya dan akan berakhir seperti ini, tentu Julia akan menahannya agar tidak menuruti ajakan Kendrick untuk kembali ke Kolombia. Kendrick sama sekali tidak menepati janjinya.


Berjanji akan menyayangi Elizabeth dan tidak menyiksa lagi. Semua omong kosong belaka.


Julia dan Matheo mengikuti Elizabeth berjalan keluar kamar, sesaat setelah memastikan kalau Nina sudah tertidur lelap. Matheo menutup kembali pintu kamar Nina, melakukannya dengan hati hati agar tidak membuat gadis kecil itu terbangun.


Elizabeth memanggil Maria dan pelayan Xa, dua pelayan yang selalu setia padanya. Awalnya pelayan Xa di tugaskan untuk merawat bayi Eliana, tetapi beriringnya waktu Maria mengambil alih tugas itu. Maria lebih sering berinteraksi dengan bayi Eliana dan Noela. Sementara itu akhirnya pelayan Xa berpindah tugas menggantikan Maria, pelayan Xa mengasuh bayi David. Dulu ke duanya adalah pelayan yang patuh dan rukun, tetapi sekarang ke duanya seakan bersaing dan memiliki konflik tersembunyi.


Elizabeth menatap ke dua pelayan itu, dia harus menanyai ke duanya tentang masalah Nina. Elizabeth yakin kalau sebenarnya ada kejanggalan di antara dua pelayan ini.

__ADS_1


"Kalian tau kenapa kalian aku panggil ke sini?" Tanya Elizabeth, di ruang keluarga mereka mengadakan introgasi secara mendadak, Julia duduk di samping Elizabeth begitu juga Matheo yang duduk di atas sofa tunggal.


Ke dua pelayan itu masih berdiri mematung, mereka sama sekali tidak berani menatap wajah Elizabeth.


"Karena kalian diam, aku akan mengatakan tujuan yang sebenarnya mengapa memanggil kalian. Siapa diantara kalian yang mengunci Maria di kamar mandi?"


Pelayan Xa terkejut bahkan ekspresinya sangat menyakinkan dan tidak di buat buat. Pelayan Xa mendongakkan wajahnya menatap wajah Elizabeth, majikannya. Ada pandangan kejujuran di matanya.


"Maaf nyonya ke tiga, saya sama sekali tidak masuk bangunan depan, dari pagi saya di kamar tuan kecil David, dari pagi tuan kecil David demam dan menangis, bahkan tuan kecil sama sekali tidak mau di baringkan, aku selalu menggendongnya. Sepertinya tuan kecil David akan tumbuh gigi." Ucap pelayan Xa, awalnya ekpresinya ketakutan tetapi kemudian berubah senang saat mengatakan kalau David akan tumbuh gigi. Dan reaksi itu tidak di buat buat. Bangunan kastil barat memang terbagi menjadi tiga bangunan. Bangunan depan di sebut juga bangunan utama, di tempati tuan muda Kendrick beserta keluarganya, bangunan tengah adalah bangunan baru yang di bangun untuk di tempati Noela, karena Noela sakit dan butuh perawatan maka dari itu Elizabeth menawarkan diri menukar kamar David kecil di temani pelayan Xa.


Bangunan tengah walaupun tidak sebesar bangunan utama, tapi di buat tidak kalah megah.


Kemudian bangunan belakang, di tempati seluruh pelayan termasuk juga tukang kebun.


"Kamu?" Potong Julia kepada Maria.


"Nyonya ke tiga, mana berani aku mengunci nona Kecil di kamar mandi?"


"Lalu, apa yang kamu lakukan malam itu?" Tanya Elizabeth.


"Menemani nyonya ke dua bersama nona kecil Eliana di kamar."


"Bukankah kamu bilang mengambil air panas di belakang? Apa pemanas air di kamar dokter Noela tidak bisa di gunakan? Lalu kamu meninggalkan Nina dan dokter Noela di kamar?"


"Nyonya ke tiga tidak menyukai air mentah, lebih menyukai air rebusan. Ya, bahkan nona Nina berjanji menjaga nyonya ke dua di kamar, tapi ternyata nona kecil malah menjatuhkan nyonya ke dua." Maria menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu yakin dengan berat tubuh Noela 4 kali berat tubuh Nina bisa menjatuhkan? Di tambah kursi besi yang di dudukinya?" Potong Julia dengan ketus.


Ekspresi Maria juga meyakinkan, bahkan antara Elizabeth dan Julia tidak dapat menebak siapa di antara ke dua pelayannya yang berbohong.


Kalaupun yang berbohong adalah satu di antara ke duanya di pastikan Elizabeth akan menghukumnya.


"Baiklah kalian kembali kerja, tapi catat jika di antara kalian ada yang berbohong, aku yakinkan pada kalian mengirim ke sel penjara. Catat itu!" Ancam Elizabeth.


Ke duanya membalikkan badan pergi dengan tertib. Elizabeth masih menatap keduanya hingga mereka menghilang di balik pintu ruang masing masing.


Julia mendengus kesal, sikap Elizabeth begitu lunak.


"Kenapa kamu melepaskan mereka? Bukankah kamu tau di antara mereka siapa yang sudah menghianati kamu?" Pancing Julia. Dia sudah emosi dan ingin menghajar salah satu pelayan itu.


"Sayang, Eli benar. Tidak bisa menuduh tanpa bukti apa apa. Mereka punya alibi masing masing." Ucap Matheo.


"Ya, dan lagi tanpa bukti apa apa tuduhan semacam itu akan berbalik kepadaku. Kali ini aku juga masih ragu apakah kecelakaan Noela adalah murni atau kesengajaan." Ucap Elizabeth.


"Tapi kalau rekayasa Noela, apa mungkin? Bukankah itu menyakitkan?" Tanya Matheo. Kemudian dia menutup mulutnya saat Julia menepuk bahunya dengan keras.


"Apapun akan di lakukan bagi seorang wanita." Ucap Julia ketus di tujukan pada Matheo.


"Untuk apa? Apa dokter Noela sebodoh itu?" Tanya Matheo.


"Mungkin saja, tapi benar ucapan Eli. Tanpa bukti kita tidak bisa main tuduh saja."

__ADS_1


__ADS_2