
Kendrick begitu marah, berlari mengikuti Elizabeth, wanita ini kembali menghinanya. Dulu meragukan dirinya karena miskin. Sekarang kembali menghina ciumannya hingga memuntahkan isi perutnya. 'Ini tidak bisa di biarkan!'
Seluruh tubuh dan pakaian Elizabeth basah kuyub, bahkan rambutnya yang awalnya mati matian dia luruskan kini menjadi keriting kembali. Elizabeth tidak tau harus mengatakan apa, seolah olah jujurpun salah berbohongpun apalagi. Tatapan mata Elizabeth menyiratkan keputus asaan. Dia tak berani mengalihkan pandangannya. Kendrick masih dalam keadaan acak acakan di penuhi emosi yang meluap.
"Kamu mengharapkan ini kan? Harta, uang!" Ucap Kendrick dengan lantang, kemudian dia mengambil uang yang ada di dalam dompet Saint Laurent miliknya, mengambil lembaran uang kertas yang ada di dalamnya dan melemparkannya ke wajah Elizabeth.
"Aku membelimu, mulai sekarang. Jadi kamu harus menuntaskan apa yang kamu rusak."
Elizabeth mundur beberapa langkah, bukan ini yang dia mau ini salah.
"Aku tidak mau uangmu." Ucap Elizabeth dengan nada gemetar, kemarin dia masih yakin bisa dengan mudah menahlukkan Kendrick. Tetapi kenapa sekarang menjadi berantakan begini?
"Jadi apakah kamu mengakui, kalau kamu adalah Elizabeth."
"Bukan begitu."
"Lalu apa? Wanita liar."
Bertahun tahun Elizabeth tidak mengeluarkan air mata demi buah hatinya dia harus berjuang. Tenaga dan fikirannya hanya tercurah untuk Nina. Tapi kali ini semuanya menguap begitu saja.
Butiran kristal keluar dari ke dua sudut mata Elizabeth, memandang wajah Kendrick dengan tatapan tidak percaya. Jika saja Elizabeth mengeluhkan tentang Nina apa Kendrick bersedia menolongnya? Ataukah semakin murka setelah mengetahui kalau peristiwa pelecehan yang di lakukan Duarte padanya meninggalkan benih di dalam perutnya? Elizabeth tidak tau pasti apa yang akan menimpanya.
"Aku tidak mau uang, bukan ini. Dan tuan biarkan aku kerja di club malam ini."
Mendengar panggilan TUAN, Kendrick merasa kesal, kesal karena dengan panggilan itu sama juga Elizabeth tidak mengakui kalau dirinya adalah Elizabeth, wanitanya.
Keinginan Kendrick hanya satu, Elizabeth mengakui kesalahan dan minta maaf padanya.
Kendrick menarik tali pinggang yang menjuntai karena tidak terkunci sempurna. Melilitkan tali pinggang itu di telapak tangannya. Menggenggam kepala tali pinggang sebagai pegangan.
"Katakan apa tujuanmu bekerja di sini. Dan kenapa kamu mendekatiku lagi?"
"Aku butuh uang."
"Jawaban yang salah. Bukankah tadi kamu bilang tidak membutuhkan uang. Buka mata kamu lebar lebar. Uangnya masih berserakan di kakimu."
__ADS_1
"Tapi benar aku butuh uang, tadi aku salah."
Zlab Zlab.
"Sakit.."
Kendrick memukulkan tali pinggangnya sebanyak dua kali tepat mengenai ke dua betis Elizabeth, ujung tali pinggang meninggalkan jilatan keperihan dan seolah terbakar.
Kemudian Elizabeth memungut lembaran uang kertas yang berserakan di lantai. Dia merasa kemarahan Kendrick akan semakin menjadi. Bukankah dari awal Kendrick memberikan uang ini untuknya, jika di tolak akan semakin murka.
Elzabeth berjongkok sambil menahan perih, wajahnya memerah menahan sakit.
Kendrick melihat itu masih saja tidak puas. Kesal bercampur menjadi satu. Melihat rambut ikal Elizabeth hatinya merasa kesal, apalagi di tambah keras kepala. Apa susahnya mengakui kalau dirinya Elizabeth.
Padahal semua yang di lakukan Elizabeth baik kebohongan atau apapun itu adalah demi menutupi buah hatinya. Kendrick benar benar tidak tau.
Elizabeth memungut lembaran uang kertas yang berserakan di lantai, hal itu sama juga merendahkan dirinya dan bersedia di beli oleh Kendrick untuk menuntaskan hawa napsunya.
Kendrick melepaskan celana yang di milikinya, hanya mengenakan celana putih di bagian dalam.
Elizabeth harus tetap berdiri hanya bersandar pada dinding tembok. Kalau tidak Kendrick akan memukulnya kembali dengan tali pinggang yang dimilikinya. Pakaian yang di gunakannya dalam keadaan basah, tetesan air masih saja terlihat. Pendingin ruangan membuat tubuh Elizabeth sedikit menggigil.
Kendrick menyandarkan kepalanya di sandaran dipan. Tanpa rasa bersalah dan menyesal dia menganggap tidak ada orang lain selain dirinya. Elizabeth selalu memandang ke lantai, kepalanya tertunduk seperti boneka yang tertancap pada kotak kaca. Dia tidak berani memindahkan bayangannya apalagi pandangannya.
"Kend..."
Kendrick terkejut, panggilan yang selama ini sudah kembali seperti dulu.
"Maafkan aku."
Elizabeth menyerah, menyerah dengan keadaan. Baginya tidak apa mundur selangkah dan akhirnya bisa maju beberapa langkah dan mendapat kemenangan.
Bahkan Kendrick merasa terkejut, hanya segitu saja perlawanan Elizabeth? Tubuh Elizabeth mulai limbung, ini belum memasuki seperempat malam. Tapi tubuhnya tidak kuat, bekas peluru yang melubangi tubuhnya menyisakan kesakitan. Perjuangannya membesarkan bayi dalam perutnya dengan keadaan luka tembak tidaklah mudah.
Dan sekarang rasa sakit di tubuhnya masih ada.
__ADS_1
Kendrick melihat wajah Elizabeth yang memucat. Bahkan tiba tiba matanya sedikit menguning. Keringat dingin mengalir di setiap pori porinya bahkan kesadarannya mulai berkurang.
Kendrick melihat itu, bahkan dia sempat menangkap tubuh Elizabeth yang roboh ke samping. Elizabeth tidak sadarkan diri. Seluruh tubuh Elizabeth basah dan lepek. Kendrick mengangkatnya dan merebahkannya ke atas tempat tidur serba merah itu.
Tidak mungkin bagi manusia untuk tidur dalam keadaan basah, maka Kendrick memerintahkan Marco untuk membawakan pakaian wanita dan minuman hangat untuk Elizabeth.
Kendrick mengganti pakaian tidur yang di pakai Elizabeth, dia melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Beapa terkejutnya Kendrick saat membuka semua kain yang menempel di tubuh Elizabeth. Sebuah sobekan lebar di bagian bawah perutnya. Dia tidak memperhatikan bekas luka lainnya.
Kendrick mengusap bekas luka itu. Garis memanjang tepat di bawah pusar. Luka apa ini, Kendrick benar benar tidak mengerti.
Sebagai laki laki normal, melihat wanita yang selama ini di carinya tengah terbaring tak berdaya tentu saja Kendrick merasa tergoda. Dia memandang tubuh Elizabeth di setiap inchinya. Merengkuhnya dalam dekapannya, dan ingin menelannya bulat bulat. Mengecup bibirnya dan mengusap rambutnya.
"Jangan pergi. Aku tak bisa hidup tanpamu. Jangan pisahkan aku dan dia. Sayang..." Ucap Elizabeth lirih, igauannya menyidihkan bahkan sungguh menyayat hati.
Mendengar rintihan wanita di depannya seperti itu. Kendrick mulai salah sangka. Menganggap Elizabeth takut di tinggalkan laki laki lain. Sebutan Nina tidak di dengarnya dengan jelas.
Kendrick mengusap kasar bibir Elizabeth dengan ibu jarinya. Gerakan kasar itu membuat Elizabeth tersadar. Elizabeth membuka matanya, menyadari dirinya tertidur tanpa memakai pakaian sedikitpun. Malu bercampur ketakutan. Dia beringsut ke bawah dan tidak berani menatap mata Kendrick.
"Jangan pukul aku."
"Tidak mau di siksa lagi kan? Kalau begitu cepat naik."
Elizabeth tidak berani membantah, menarik ujung selimut dan beringsut membungkus tubuhnya dengan selimut tebal itu.
"Bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah aku sentuh? Tidak usah berusaha menjadi kucing manis. Binal ya binal saja. Murahan!"
Ucapan Kendrick dengan kasar, dia tidak menyukai ucapan Elizabeth saat pingsan.
Elizabeth meletakkan tubuhnya di atas kasur merah menggoda itu. Dia tidak berani bergerak.
Kendrick mengecup bibir Elizabeth, ********** hingga Elizabeth kehabisan nafas. Bibir yang berbeda jika di bandingkan dengan perempuan lain. Elizabeth tidak berani menolak, bahkan rasa jijik dan mualpun Disingkirkannya.
"Mulai sekarang kamu akan menjadi jalangku. Ingat itu, kamu tidak di ijinkan protes. Kamu boleh melayani pria manapun. Tapi saat aku membutuhkanmu, kamu harus tetap ada untukku. Ingat itu. Wanita liar!"
Elizabeth menganggukkan kepalanya. Demi Nina apapun akan di lakukannya. Dia tidak tau takdir apa ke depannya yang akan di laluinya. Yang pasti untuk sementara ini Elizabeth mundur satu langkah.
__ADS_1
Bagaimana? Apa masih kurang greget peran Antagonis Kendrick? Kesal terhadap wanitanya karena menganggap kematian mamanya adalah karena wanita yang di cintainya. Sabar dulu. Jangan lupa Like Komen and Vote