Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Mama Yang Berubah Baik


__ADS_3

Juan!" Teriakannya terlambat, kalaupun teriakannya lebih awal toh Juan tidak akan sempat melarikan diri. Pecahan kaca terlempar hingga ke wajah Elizabeth.


Tempat kejadian bukanlah di daerah padat penduduk, tapi tepatnya di pinggiran kota Bogota. Seolah seperti di rencanakan, tidak ada satu kendaraanpun yang lewat. Bahkan manusia seakan terkunci di rumahnya.


Walaupun Elizabeth sempat menghindar, terguling guling di antara rumput dan tanaman, tangan dan lututnya yang masih terluka kembali berdarah. Namun tetap saja pecahan kaca itu membungkus semua kulitnya.


Sementara itu mobil milik Juan terdorong dan terpental beberapa puluh meter, kaca dan bodi mobil rusak parah.


Sekilas Elizabeth melihat Juan membentur kaca mobil dan terpental ke luar, kemudian jatuh di atas aspal. Darah mengalir menggenang di atas aspal, berubah merah dan tubuh Juan kejang kejang.


Menyaksikan tragedi itu Elizabeth histeris, teringat kembali depresi yang pernah di alaminya. Darah merah itu menakutkan. Elizabeth tak sadarkan diri dan tergolek tak berdaya.


Antara keadaan sadar dan tidak, Elizabeth sempat mendengar langkah sepatu mendekati dirinya. Dia belum sempat mengenali siapa orang itu hingga akhirnya dia benar benar tidak sadarkan diri.


Elizabeth menyerah, kesakitan karena benturan di kepalanya seakan terjatuh dari ketinggian gedung.


Setelah benturan keras itu jalanan kembali sunyi, samar samar terdengar suara beberapa orang berbicara. Elizabeth tidak bisa menggambarkan itu.


Dia tau keadaan Juan tidak baik baik saja. Walaupun juan bukanlah laki laki yang baik, penuh muslihat. Namun bagi Elizabeth dia adalah teman satu satunya selain Julia. Di tambah Juan memiliki rahasia tentang masa lalunya. Apakah itu sedikit ataupun banyak, Elizabeth tetap berharap Juan akan tetap baik baik saja.


Elizabeth sempat merintih memanggil nama Juan. Hingga akhirnya ingatannya mulai menghilang.


Di bawah alam sadarnya Elizabeth seolah bermimpi menaiki tangga kapas begitu lembut namun transparant. Udara lembab tapi hangat, tangga itu menuju ke sebuah bantaran rumput hijau berlumut namun seperti kertas terasa kering.


Saat kakinya menginjak rumput, rumput itu akan mengeluarkan suara srak srak, suara itu semakin terdengar jelas bahkan sedikit memekakkan telinga. Saat kepalanya menoleh tampak dari jauh seorang laki laki bergandengan tangan dengan seorang bocah laki laki seumuran Nina.


"Papa?" Ingin rasanya Elizabeth memanggil, namun suaranya tercekat di tenggorokan. James terlihat tampan dan gagah, dia datang bersama dengan anak laki laki berwajah tampan namun exotic, kulit putih, hidung mancung mata indah, bibir sedikit tebal, benar benar keluarga Chloe!


James dan Elizabeth berpelukan, Elizabeth menangis. Bibir James tertarik satu baris ke atas. Menggambarkan senyuman yang teduh. James tak menjawab apa apa. Keprihatinan terpancar di raut wajahnya. Lalu kemudian James memberikan tangan anak laki laki itu kepada Elizabeth. Elizabeth tidak mengerti mengapa papanya menyerahkan anak itu padanya. Tiba tiba kabut hitam menghalangi pandangan Elizabeth dan kemudian semua genggaman tangan terlepas dan anak laki laki itu terbawa angin. Elizabeth menangis tubuhnya terguncang hebat. Berteriak memanggil papa.


Mata Elizabeth terbuka, berusaha mengenali keadaan sekeliling. Bahkan sempat bersyukur, 'Hanya mimpi, hanya mimpi'.


Elizabeth terbaring lemah di kamar yang sama sekali tidak di kenalinya. Desain kamar yang terlihat megah, kamar ini mengaplikasikan dinding yang dipasang lampu warmlight sehingga suasana di dalam kamar terlihat lebih adem dan memberikan sensasi tersendiri. Perabotan tertata rapi, terbuat dari bahan kayu langka. Suasana kamar ini begitu menyenangkan.


Ada sebuah foto berpigura besar di atas kepalanya, Elizabeth tidak dapat melihat dengan jelas, siapa pemilik wajah yang terpampang di dalam foto itu. Dia sedikit mendongakkan kepalanya, tetap saja tidak dapat melihatnya. Elizabeth mengangkat sedikit kakinya, berusaha menggerakkan pelan pelan, namun terasa berat. Elizabeth sedikit panik. Berusaha bangun dari tempat tidurnya. Semakin di paksa, tulang pinggulnya seakan tersengat aliran listrik.

__ADS_1


'Aahh'.


Suara teriakannya menggema di seluruh ruangan. Ada bekas luka di telapak tangan dan lututnya, luka itu sudah mengering meninggalkan warna yang menghitam dan luka parut.


Elizabeth menyadari kalau luka itu adalah luka bekas kecelakaan yang terjadi saat bersama Juan. Kejadian itu belum lama terjadi, tetapi kenapa lukanya sudah mengering. Elizabeth sedikit bingung.


'Dimana Juan? Apa dia selamat dan masih hidup?' Elizabeth bahkan masih mengingat itu, masih jelas dalam benaknya bagaimana Juan terlempar dari mobil yang di kendarainya.


Bahkan Elizabeth menyadari kalau mobil barang itu sengaja menabrak mobil milik Juan.


Kemudian dia meraba wajahnya. Wajahnyapun masih tertutup perban. Berarti anggapannya benar. Luka di wajahnya di sebabkan pecahan kaca.


Elizabeth mulai panik, kenapa dengan kakinya, udara di kamar itu berubah tidak nyaman lagi, begitu panas hingga membakar otaknya. Padahal itu hanya perasaan saja. Suhu ruangan itu cukup dingin dan nyaman.


Elizabeth memukul mukul kakinya, air matanya mulai mengkristal, antara ketakutan dan kekawatiran.


Akhirnya dia tidak tau lagi harus bagaimana dan dengan sedikit dorongan menarik tubuhnya untuk bisa berdiri, dugaannya salah, Elizabeth terbanting ke bawah. Satu tangannya berpegangan pada sudut nakas, namun gerakannya tidak mendudung berat tubuhnya, hingga pegangannya membuat nakas itu terjatuh dengan keras.


Beberapa benda yang berada di atas nakas terjatuh berserakan. Suara benda jatuh menarik perhatian seluruh penghuni kastil.


Beberapa suara kaki berlari mendekat, memasuki kamar yang di tempati Elizabeth.


Bagaimana bisa ada fotonya di kamar yang sama sekali tidak di kenalnya. Sebenarnya ini kamar siapa?


Langkah kaki yang di dengarnya memasuki kamar Elizabeth.


Semua yang datang meneriakkan namanya.


"Elizabeth."


Elizabeth kebingungan, siapa orang orang ini. Kenapa semua meneriakkan namanya? Dan ada Luci! Mama yang selama ini membencinya.


Wanita itu terlihat menangis dan menghawatirkan Elizabeth. Ada apa ini. Angin dari mana yang sanggup merubah sikap mamanya. Mama yang tidak di temuinya selama hampir delapan tahun, terlihat sedikit lebih tua, namun kecantikannya tak berkurang sama sekali.


Elizabeth menarik tubuhnya agar menjauh dari Luci, dia tau kalau mamanya sangat membenci dirinya. Tapi wanita itu tidak menyerah, mencoba menenangkan Elizabeth.

__ADS_1


"Eli, ini mama sayang. Jangan takut."


Lagi lagi Elizabeth tidak percaya, bagaimana bisa mama yang selama ini membencinya bisa memanggil Elizabeth dengan sebutan sayang.


"Kamu tentunya masih bingung, pindah ke tempat tidur ya. Jangan di bawah, tulang pinggulmu masih belum sembuh. Ok!" Ucap Luci dengan wajah teduhnya.


Di samping Luci ada seorang laki laki tua dan pemuda tampan. Elizabeth sama sekali tak mengenalnya.


Tiba tiba lelaki tampan itu berteriak memanggil seorang pelayan. Bebarapa saat kemudian seorang pelayan wanita berlari sambil membawa lilin aroma terapi yang masih menyala. Kemudian di letakkan di atas nakas.


Elizabeth di angkat ke atas tempat tidur oleh lelaki tampan itu. Menutupi tubuh Elizabeth dengan selimut tebal.


"Mama." Panggil Elizabeth lirih, dia memastikan apakah hari ini bukanlah mimpi.


"Ya sayang. Istirahatlah, kamu tidak sadar lebih dari dua bulan. Jadi mungkin kakimu butuh penyesuaian. Jangan memaksa untuk bergerak. Karena tulang pinggulmu ada keretakan."


"Apa, dua bulan?"


"Ya dua bulan kamu koma."


"Lalu di mana Juan?"


"Juan siapa?"


"Juan yang bersamaku?"


"Kamu hanya sendiri. Kecelakaan itu bahkan hanyalah kecelakaan tunggal. Mobilmu tergelincir karena saat itu hujan."


"Tidak mungkin. Waktu kecelakaan aku tidak sendiri, tapi bersama Juan. Ada kendaraan lain yang menabrak mobil Juan."


"Tenanglah. Dokter akan memeriksa keadaanmu."


Luci memberikan kode kepada laki laki tampan itu untuk memanggil dokter.


Elizabeth tidak merasa nyaman dengan aroma terapi itu. Hati dan jantungnya gelisah. Elizabeth tidak bisa membedakan kejadian asli atau hanya ilusi. Memori di kepalanya tiba tiba kacau.

__ADS_1


ada apa ini?


Trimakasih yang menerima novelku dengan baik. Gracias. Jangan lupa Like ya.


__ADS_2