
Gudang sekolah yang gelap, tanpa pencahayaan sedikitpun. Pintu besar yang biasanya tergembok, kini di biarkan terbuka tanpa pengaman. Barang barang berserakan dan di susun namun tak rapi, berselimutkan debu yang tebal. Jaring laba laba bergantung di setiap sudut ruangan dan barang. Atap yang mulai keropos, kaca jendela tertutup kertas koran, membuat pencahayaan sulit menembus ke dalam. Suasana di dalam gudang yang lembab dan pengap, hal itu karena tidak adanya sirkulasi udara yang masuk.
Gudang penyimpanan perabotan sekolah yang tak terpakai ini jarang sekali dimasuki orang.
Di situlah murid laki laki yang menyebabkan Nina terjatuh dari ayunan. Anak laki laki itu menangis ketakutan, dia tidak berani keluar. Hingga penjaga sekolah menemukannya.
"Kalian harus bertanggung jawab pada cucuku, tidak perduli anakmu adalah pewaris kerajaan Kend." Ucap nenek tua itu, dia menuntut keadilan. Padahal pukulan Leyton tidak meninggalkan bekas apa apa, apalagi setelah pemeriksaan dokter tidak di temukan gangguan psikologis sama sekali.
Kendrick duduk di sofa besar tepatnya di dalam ruang kantor kepala sekolah. Awalnya kepala sekolah yakin bisa menarik perhatian Kendrick, tetapi setelah melihat status Kendrick yang tinggi dan berpangkat. Dia tidak berani lagi macam macam.
Tetapi nenek di depannya terlalu banyak omong, sebentar sebentar menangis dan meraung.
Kendeick hanya mengusap dagunya, mencari di mana kesalahan Leyton.
"Jika kalian tidak mau bertanggung jawab, aku akan memenjarakannya, bagaimana jika cucuku kenapa kenapa dan trauma." Teriak nenek.
"Nek, kamu jangan sembarangan. Dia adalah tuan Kend. Apa kamu tidak mengenal siapa tuan Kend?" Ucap Eva menghardik. Leyton hanya menundukkan kepalanya, di sampingnya adalah bocah kecil yang mendorong ayunan Nina. Nenek itu berusaha menarik tangan cucunya tapi anak kecil itu memberontak.
"Tentu saja aku kenal nama besarnya, tapi di sini aku memikirkan nasib cucuku."
Pintu ruang kantor di ketuk, tiga orang laki berperawakan tegap memasuki ruang kantor kepala sekolah, ternyata dia adalah Marco bersama dua orang polisi. Marco menyodorkan sebuah kertas dan rekaman ponsel kepada Kendrick. Kendrick membaca kertas itu tanpa melihat rekaman vidio, kemudian mengembalikan ke Marco.
"Kenapa kalian membawa polisi kemari?" Tanya nenek sangat terkejut. Tiba tiba tubuhnya bergetar, raut wajahnya tak segalak tadi.
__ADS_1
"Nek, kamu mencoba menipu kami? Dengan menggunakan cucumu sebagai umpan? Bukankah kejadian yang sama juga terjadi di sekolah sebelumnya? Dan nenek mendapatkan ganti rugi cukup besar. Apa nenek mau menginap di penjara?" Sindir Kendrick tanpa merubah mimik wajahnya, ingin rasanya mengasari nenek ini, tapi dia bukan pria sebengis itu, Kendrick masih menghormati nenek tua.
Ternyata berkas yang di bawa Marco adalah berkas yang di dapat dari kepolisian, anak lelaki itu memang murid pindahan. Di sekolah sebelumnya nenek dan cucu menuntut seseorang dengan kasus yang sama, dan nenek tua menerima ganti rugi tidak kecil jumlahnya. Kali ini nenek salah target. Bahkan tanpa membuka vidio di ponselpun, Kendrick tau ada sesuatu yang tidak beres.
Tiba tiba nenek itu menekan kaki bekas tendangan Leyton, wajahnya meringis kesakitan. Tapi Kendrick tidak memperdulukannya, kemudian dia memerintahkan polisi untuk menyeret nenek itu ke kantor polisi.
Menyadari kesialannya, nenek itu menjatuhkan tubuhnya dan bersujud memohon ampunan pada Kendrick, nenek meronta memohon ampun atas kesalahannya. Sesekali matanya melirik Eva seolah menyiratkan sesuatu. Eva mengepalkan tangannya, dia mulai berkeringat dingin.
"Nek kamu memang kurang ajar, sengaja menjebak putraku. Aku akan memukulmu! Teriak Eva kemudian menjambak nenek. Polisi bergerak cepat memisahkan mereka.
Saat rambut nenek di kepal oleh jari tangan Eva, kepala begitu dekat dengan dada Eva. Dia sempat membisikkan sesuatu.
"Awas kamu jika membocorkan masalah ini, cucumu yang akan jadi korban." Tentu nenek itu tidak berani, lagi pula dia sudah mendapatkan uang besar dengan melakukan kehebohan ini, kalaupun di penjara mungkin tidak akan lama, karena dirinya hanya seorang nenek tua yang melakukan kehebohan demi bertahan hidup. Sementara itu cucunya akan di asuh di panti sosial untuk sementara waktu.
Kendrick sama sekali tidak mencurigai Eva, karena di sekolah sebelumnya, nenek tua melakukan hal yang sama. Padahal Eva memilih nenek tua dengan pilihan acak. Keberuntungan ada di tangan Eva.
Sementara itu di rumah sakit besar Bogota, Elizabeth tengah menemani Nina bersama Julia, luka tidak begitu parah selain memar memar di lutut dan di siku. Bahkan lebam di dahi sudah sedikit mengempis.
Terdengar beberapa suara kaki yang melangkah melewati koridor rumah sakit, suara langkah kaki semakin mendekat. Pintu terbuka Lebar, Elizabeth dan Julia membalikkan kepala secara bersamaan. Ada Carlos dan Luci berdiri di ambang pintu. Sebagai anak yang berbakti tentu Elizabeth langsung menyapa ke duanya. Julia tidak mau menjadi pengganggu reuni keluarga, dia menarik diri meninggalkan Elizabeth.
"Mama?" Panggil Elizabeth, mulutnya masih kaku untuk menyebut Carlos dengan sebutan papa. Tapi Elizabeth tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya. Dia sadar diri kalau dia adalah anak hasil dari perselingkuhan, lalu apa yang harus di banggakan.
"Bagaimana kabar Nina?" Tanya Luci kaku, bagaimanapun juga dia tidak seakrab di banding dengan putrinya yang lain.
__ADS_1
"Tidak apa apa, hanya saja dia kecapean menangis dan sekarang sudah tertidur, sebentar lagi di perbolehkan pulang."
Carlos mengelus cucu satu satunya, Nina terlihat nyaman dengan usapan itu dan semakin mendengkur.
"Siapa yang memberi tau kalian?" Tanya Elizabeth tentang tragedi di sekolah Nina.
"Eva, sebenarnya dia tidak menceritakan tentang masalah Nina secara detail. Dia hanya menceritakan masalah Leyton yang menghajar nenek dan cucunya karena Nina. Itu saja, dan aku meminta pengawal untuk mengantarkan kami, mereka menunggu di lapangan parkir." Ucap Luci.
"Kendrick tidak menemanimu?" Tanya Luci menyelidik.
"Tidak, sepertinya masih di sekolah." Jawab Elizabeth ringan.
"Dasar Kendrick, dia lebih menyayangi anak dari Eva di banding putrimu!" Luci berargumen, Luci memang berubah karena posisinya sebagai nyonya Carlos. Tapi tidak hatinya, hati kecilnya masih menyayangi Eva. Hanya saja belakangan ini Eva semakin tidak terkendali. Dia harus memikirkan posisi yang aman.
"Tidak seperti itu, mungkin kasus Leyton lebih penting."
"Dari pada kesehatan Nina?"
"Mama sebaiknya kembali saja, sebentar lagi aku juga harus pulang, tinggal menunggu Nina terbangun." Ucap Elizabeth, wanita mana yang bisa bersaing dengan kakaknya sendiri. Apalagi sampai berbagi suami. Seperti hati yang tertusuk jarum, tidak luka tapi cukup berdarah. Perut Elizabeth menegang.
Di rasa tidak ada alasan lagi untuk berdiam di situ, Luci dan Carlos berpamitan, Carlos memeluk Elizabeth dengan erat, memisikkan ke telinga Elizabeth kata 'Maaf'.
Elizabeth memasang wajah datar, dia tak tau harus bersikap apa. Di banding menghadapi Carlos yang notabene adalah ayah kandungnya, dia lebih memilih berhadapan dengan Luci, ibu yang sudah menyiksanya.
__ADS_1
Keduanya memasuki lift kapsul, saat di tengah perjalanan, pintu lift terbuka, seorang laki laki dengan wajah tertutup masker memasuki lift, tak beberapa lama laki laki itu keluar. Tiba tiba ada asap tebal di dalam lift, dan pintu lift terkunci.