Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Lelaki Perampok


__ADS_3

Kendrick masih tidak percaya, Eliana yang penakut dan pemalu berubah seperti ini. Elizabeth sanggup menahan sakit pada lukanya, sikap yang seperti Elizabeth tidak ada lagi. Kendrick masih berdiri mematung, tak terkecuali Vito ataupun semua yang ada di situ terkejut melihat keberanian Eliana membuka kantong mayat dan menunjukkannya pada Kendrick.


Polisi menutup kembali plastik pembungkus mayat berwarna hitam, tidak ada yang aneh selain wajah laki laki yang sudah hancur. Lalu yang masih menjadi misteri siapa yang melakukan pembunuhan ini? Ataukah Eliana, atau ada laki laki lain yang membantunya. Kendrick masih bingung dengan keadaan ini. Kalau saja ada sesuatu yang bisa menjelaskan semuanya, ini saatnya!


Sementara itu Elizabeth bersimpuh di samping kantong mayat, dia menolak uluran tangan Kendrick.


Seorang polisi memegang dompet berwarna coklat, dan menunjukkannya kepada Kendrick.


"Kami mengambilnya dari saku celana laki laki yang wajahnya hancur." Ucap polisi itu.


Kendrick masih bersikap acuh, dia masih berkutat dengan pikirannya. Hingga Matheo yang merebut dompet itu dan melihat isinya.


"Marco kamu mengenali ini? Semoga keraguanku salah." Tanya Matheo sambil menunjukkan sebuah kartu warna merah yang terdapat gambar foto.


Kartu identitas seseorang, tapi memiliki alamat yang sama dengan Kendrick.


"Benar, dan aku mengenalnya."


Ucapan Matheo di dukung oleh dua orang sahabat Kendrick yaitu Marco dan Vito. Tiba tiba ke tiganya berpikiran sama. Bahkan Marco kembali memastikan rambut mayat dengan rekaman vidio dokter Noela. Marco menyimpulkan kalau sosok misterius yang melompat dari jendela kamar nyonya Kendrick adalah orang sama. Marco menarik napas berat. Terjadi lagi! Tapi laki laki yang di curigai Kendrick dan Marco malah mati.


Salah seorang polisi wanita memapah tubuh Eliana menuju apartemen milik Matheo, begitu pula Julia. Eliana sudah membersihkan tubuhnya, dan kali ini melakukan semua tanpa bantuan walaupun cara berjalannya masih terpincang.


Ketiganya berdiam di apartemen Matheo, dua orang polisi wanita menemani. Eliana tidak seperti biasa, dia cenderung menjauh daru Julia dan Nina. Bahkan saat Nina yang terbiasa bermain dengannya, kini seolah menjauh dan menghindar. Julia tidak mencurigai apapun, menganggap kemungkinan tragedi yang terjadi merubah karakter Eliana untuk sesaat.


Julia memiliki rutinitas, setiap hari dia akan mendatangi apartemen Kendrick demi bisa menjaga Elizabeth dan Nina. Ketiganya sangat senang dan bahagia. Bahkan sikap tertutup Eliana sedikit terbuka saat mereka berinteraksi dengan Nina.

__ADS_1


Seperti yang terjadi pada saat sore itu. Mereka bermain menemani Nina, menonton acara telenovela kesukaan Julia, dan bernyanyi karaoke bersama, Eliana atau Elizabeth sangat suka bernyanyi, suaranya terdengar merdu. Hingga saat malam menjelang Julia dan Eliana membuat masakan spesial dengan resep yang di dapatnya dari jejaring sosial. Awalnya adegan memasak itu seru dan menyenangkan. Candaan ringan di selingi tawa renyah ketiganya.


Tiba tiba pintu apartemen di ketuk dari sisi luar. Ketiganya menghentikan kegiatan, menganggap yang mengetuk pintu adalah Matheo karena tidak mungkin bagi Kendrick mengetuk pintu karena pasti dia memiliki key card ataupun akses sandi.


"Ada seseorang yang mengetuk pintu." Ucap Nina kepada ke dua wanita dewasa yang tengah berkutan dengan masakan.


Keduanya menghentikan kegiatan memasak dan saling memandang.


"Mungkin Kendrick, kebetulan sekali sebagian masakan sudah siap." Ucap Julia. Karena satu jam sebelumnya dia menghubungi Matheo agar mengajak Kendrick untuk cepat pulang demi makan malam bersama.


"Bukan, tidak mungkin Kendrick. Karena Kendrick memiliki key card." Jawab Eliana, dia menggeser sedikit tubuhnya ke arah kursi, karena cukup lama dia berdiri, kakinya merasa belum pulih benar.


"Oh, kalau begitu pasti Matheo." Ucap Julia, wajahnya tiba tiba terlihat senang.


"Bibi Julia, biar aku saja yang membukanya." Ucap Nina, gadis kecil itu sangat dekat dengan Matheo.


"Bibi, biar aku saja." Ucap Nina sambil tertawa menggoda Julia, ke duanya kemudian berlari menuju arah pintu tanpa memastikan siapa yang ada di baliknya.


Dan mereka sama sekali tidak menyadari kalau bahaya tengah mengintai nyawa mereka dan berencana melakukan kejahatan.


Pintu terbuka lebar, tampak seorang laki laki berperawakan tinggi besar menggunakan pakaian serba hitam mengacungkan sebuah pisau berbentuk bulan sabit, dan bergerigi di bagian atasnya. Jika saja seseorang terkena sabetan pisau itu, niscaya kulit dan dagingnya akan terkoyak tak ubahnya luka bekas cakaran seekor beruang dengan berat tubuh lima ratus kilo.


Julia benar benar ketakutan, menyembunyikan Nina di balik tubuhnya.


Lelaki itu masuk pandangannya tertuju ke pada Julia seolah memastikan. Kemudian dia menutup pintu dengan telapak kakinya tanpa harus menoleh.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan!" Teriak Julia pada laki laki asing itu.


Tubuh Julia bergetar hebat, menggigil ketakutan. Menggeser tubuh Nina agar berlindung di sampingnya. Julia menebak laki laki di depannya berniat merampok. Bahkan dia mengumpat petugas keamanan yang ceroboh sehingga perampokan bisa terjadi.


"Akan aku berikan apapun, aku punya uang dan perhiasan. Tapi..." Julia tersadar kalau ini bukan apartemen yang biasa di tempatinya. Paling tidak ada barang barang milik Kendrick yang akan di berikan pada perampok ini, dan yang penting hidupnya aman dan selamat.


"Aku tidak butuh!" Bentak laki laki itu.


"Lalu apa maumu? Jika kamu mecari yang lain, aku tidak memiliki apa selain itu." Jawab Julia mencoba bernegoisasi. Yang penting dia dan Nina selamat, tapi Julia lupa jika ada Eliana yang masih berada di dapur.


"Di mana nona Eliana!" Bentak Lelaki itu, kemudian mendorong Julia dengan kasar, karena Nina berlindung di sampingnya akhirnya membuat tubuh ke duanya tumbang.


"Eliana.... Eeee." Julia tiba tiba gagu, ngeri melihat pisau yang di gengam lelaki di depannya.


"Cepat katakan!" Bentak lelaki itu kemudian mencoba menarik tubuh Nina yang kecil.


"Tidak ada siapa siapa selain kita berdua." Ucap Julia terbata bata. Tangannya meraih apapun yang bisa di gunakan untuk memukul lelaki itu tapi dihil, hanya bantal yang berserakan.


Lelaki itu mendengar suara seseorang yang tengah bersenandung, arah suara itu terdengar berasal dari dapur.


Karena merasa di bohongi oleh Julia, lelaki itu memberikan tamparan yang keras di pipi Julia, telapak tangan yang besar dan berotot tepat mengenai rahang dan pipi Julia.


"Akh..!" Teriak Julia, pipinya membiru, kepalanya menggelap kemudian tidak sadarkan diri. Nina menjerit dan menangis. Memeluk tubuh bibinya. Eliana mendengar teriakan Nina, hati kecilnya menjerit, tiba tiba jantungnya seperti tertusuk besi yang panas. Ada kemarahan yang tiba tiba timbul. Dengan tertatih tatih dia melangkah menuju ke ruang tamu. Matanya langung menatap seorang laki laki yang berdiri tegap menghalangi jalannya. Ada hawa kejahatan di wajah laki laki itu. Ke duanya saling menatap.


Eliana tidak mengenali siapa laki laki yang ada di depannya.

__ADS_1


"Siapa kamu?" Bentak Eliana.


"Nona Eliana, ikut saya atau saya terpaksa membunuh nona!"


__ADS_2