Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Luka Parah


__ADS_3

Ke dua wanita itu menyeret Elizabeth ke luar dari ruangan VIP yang menyerupai ruang kantor. Berapa kali Elizabeth berusaha membenarkan bentuk kostumnya dan menutupi sebagian dadanya yang menyembul dengan ke dua telapak tangannya.


Perjuangannya demi untuk lepas dari jepitan juga cengkraman ke dua wanita itu percuma saja. Tubuhnya di seret dan di dorong, keringat dingin ke luar dari seluruh pori pori kulitnya. Ketakutan dan di lecehkan. Bagaimanapan juga dia bukanlah Elizabeth yang kuat dan tegar seperti dulu, ada nyawa yang harus dia lindungi. Alas kakinya sudah di ganti high heels warna merah, begitu mencolok jika di bandingkan warna kulitnya. Ikatan pada rambutnya di gerai hingga sebahu, bando putih berbentuk telinga kelinci bertengger di atas kepalanya. Pita merah besar bertengger di pinggangnya, mirip model sampul majalah dewasa.


Ini berlebihan jika di bandingkan dengan kostum purel lainnya. Apalagi Elizabeth hanyalah petugas kebersihan. Rasa malu tentu saja bahkan melebihi di lempar kotoran. Memandang wajah Matheo dengan harapan bisa menolongnya, sialnya saat tatapan mata mereka bertemu Matheo memalingkan wajahnya, menghindar dari perasaan bersalah. Matheo tidak sanggup jika harus melawan Kendrick. Di samping hubungan mereka sebagai sahabat tapi juga seluruh hidup Matheo yang membiayai adalah Kendrick dengan kata lain Matheo adalah bawahan Kendrick.


Lampu kelap kelip menyala otomatis dengan berbagai warna. Lantai dansa di penuhi hingar bingar manusia yang berjoget mengikuti irama musik, terdapat seperangkat meja kursi di setiap sudut ruangan. Aroma alkohol dan tembakau afrika sangat kentara masuk di hidung dan siap melumpuhkan paru paru. Penari erotis meliuk liuk di tiang besi berlapis emas. Berbagai pekerja mengenakan pakaian minim kain dan sangat terbuka. Tidak ada yang perduli saat mereka melihat seorang wanita di seret secara paksa hingga memasuki lift kapsul kemudian naik hinga ke lantai teratas, melewati lorong gelap dan panjang. Pintu pintu kamar VIP berbaris rapi dan mewah, setiap pintu di jaga oleh laki laki berperawakan tegap dan berbaju setelan safari warna hitam. Karpet merah membentang di atas lantai seolah olah mengucapkan selamat datang dan selamat menikmati. Benar benar dekorasi yang menyesatkan. Pintu paling ujung terbuka, ke dua purel itu melepaskan cekalannya dan mendorong Elizabeth hingga terjerembab. Kemudian salah satu wanita membanting pintu hingga terdengar suara 'Blam'.


Beberapa lelaki dengan penampilan seperti saudagar dari eropa mengenakan setelas jas armani, usia mereka tidak tergolong muda lebih tepatnya di atas setengah abad. Rata rata memiliki ciri yang sama yaitu perut buncit dan kepala botak. Di pangkuan mereka masing masing terdapat gadis yang mengenakan kostum yang mirip sekali dengan kostum yang dia pakai. Hanya saja mereka tidak menggunakan asesoris bando kelinci. Elizabeth membalikkan tubuhnya hendak melarikan diri. Memukul mukul pintu hingga menarik perhatian semua lelaki yang ada di sana.


Gelak tawa dan senyum manja seketika berhenti. Semua yang ada di situ seolah tak suka, Elizabeth mengubah mood para bos yang hadir. Semua purel melihat Elizabeth dengan senyum mecibir.


Elizabeth sempat mendengar ucapan Kendrick padanya sesaat sebelum dia di seret ke luar dari ruangan VIP.


'Kamu lebih menyukai bandot tua kan? Baik, akan aku turuti. Nikmati kado dariku'.


Salah satu pria berdiri mendekati Elizabeth, lelaki dengan memiliki perut terbesar di antara teman temannya. Dia Roberto pegawai pemerintahan tingkat tinggi yang mendapatkan kekuasaan penuh di wilayah Bogota, hanya saja semua kekuasaan masih di bawah tekanan Kendrick.


Elizabeth menekan tangannya di gagang pintu itu, dia sangat yakin di luar masih terdapat penjaga, berharap perduli kepada teriakannya. Tengkuknya terasa dingin dan kebas. Bulu kuduknya meremang, dia merasa kejadian ini lebih menakutkan di banding bertemu hantu vampir.

__ADS_1


Roberto memandang sinis, di pangkuannya seorang purel cantik memeluk manja Roberto, tangan kanannya memegang gelas berisi anggur merah. Roberto menyingkirkan wanita yang duduk di pangkuannya, wanita itu tidak begitu suka. Bagaimanapun wanita itu berharap mendapatkan uang yang banyak dari Roberto bos royal.


Roberto mendekati Elizabeth yang ketakutan, meremas ujung rambut Elizabeth menariknya kemudian mengendusnya.


"Wangi. Jadi kamu wanita yang di hadiahkan Kendrick untukku? Sungguh kebaikan yang tiada tara. Sini menurut padaku, kamu bisa mandi uang jika bisa menyenangkanku malam ini."


Ucapan Roberto dengan wajah mesumnya. Saat dia berbicarapun perutnya bergerak naik turun. Bau tubuhnya mirip seekor kerbau betina. Elizabeth bergidik ngeri, kakinya gemetar. Jika saja dia tidak bisa menahan diri mungkin saja dia pingsan sejak tadi.


"Jangan mendekat! Aku bukan wanita penghibur. Bukankah tuan Roberto sudah bersama mereka. Aku bukan bagian dari mereka."


Ucapan Elizabeth membuat mereka yang mendengarnya langsung kesal dan marah.


Roberto tidak mau mendengar alasan Elizabeth, dengan kasar Roberto membuang semua minuman yang ada di atas meja pendek, bahkan makanan ringan juga di sapunya menggunakan tangannya. Botol anggur pecah berkeping keping, lantai basah terkena minuman beralkohol, bercampur remahan makanan ringan. Lantai seketika menjadi licin.


Roberto menarik ujung rambut Elizabeth dengan genggaman tangannya. Elizabeth berteriak kesakitan, bahkan dia lupa cara menangis. Air matanya tiba tiba mengering.


"Tuan Roberto, tolong lepaskan aku, jangan seperti ini. Sakit!" Teriakan Elizabeth begitu menyedihkan. Selain Roberto ada beberapa bos di dalam ruang VIP yang sama, mereka tidak berani melerai. Wanita pemandupun juga sama, mereka terdiam melihat tontonan seperti itu. Sebenarnya mereka bukannya tidak berani dengan Roberto, hanya saja karena wanita itu adalah wanita Kendrick yang di hadiahkan untuk Roberto tentu saja mereka tidak mau berurusan dengan Kendrick.


Elizabeth di tarik dan di rebahkan di atas meja kaca pendek. Kaki dan tangannya berusaha memberontak, gerakan seperti itu tentu saja membuat rok pendek yang di kenakan sedikit terangkat, bagian dadanya semakin menyembul. Wajah laki laki di situ berubah senang melihat kulit seputih susu.

__ADS_1


Roberto menampar pipi kanan Elizabeth dengan keras. Tubuh Elizabeth terpelanting ke bawah. Pecahan kaca langsung menyambut tubuh Elizabeth. Darah mengalir deras. Tidak ada pergerakan sama sekali pada diri Elizabeth.


"Bos, apa dia mati?" Salah satu wanita pemandu.


"Mati dari mana, bahkan lubang hidungnya masih bergerak, coba kalian lihat. Aku semakin penasaran dengan wanita ini. Kalian mau melihat tontonan gratis?"


Ucapan Roberto di tujukan kepada semua yang ada di ruangan VIP. Atas perintah Roberto para pemandu mengangkat tubuh Elizabeth dan di letakkan kembali ke atas meja kaca pendek.


Roberto membuka satu kancing pakaian Elizabeth, baru saja dia hendak membuka kancing ke dua, Elizabeth terbangun dari pingsannya. Elizabeth seketika berdiri dan hendak melarikan diri. Lagi lagi Roberto menangkapnya, mendorong agar Elizabeth berbaring di atas meja.


"Bantu aku, pegang ke dua tangannya." Ucapan Roberto di tujukan pada semua laki laki yang ada di situ.


Roberto mendekati wajah Elizabeth hendak menciumnya. Tetapi dengan cepat Elizabeth menggigit daun telinga Roberto dengan keras. Ke dua barisan gigi menancap hingga ke dalam daging. Roberto berteriak keras meminta tolong. Elizabeth menghentikan gigitan itu setelah dia merasakan sobekan daging di mulutnya, bau besi karat menyebar di seluruh ruangan. Elizabeth meludahkan potongan daging kecil, benda itu jatuh tepat di depan kaki Roberto. Roberto meringis kesakitan. Tangannya menekan satu telinga yang sudah tidak utuh lagi, dari sela sela jarinya mengalir darah segar. Meja pendek yang terbuat dari kaca itu pecah. Serpihannya begitu tajam.


"Wanita bodoh!" Ucapan Roberto di barengi tarikan pada rambut Elizabeth. Dia kembali terpelanting di atas pecahan kaca, seluruh tubuhnya berubah warna merah. Wajahnya tidak berbentuk lagi. Elizabeth sudah tidak kuat. Jika dia mati di sini biarkan. Tetapi siapa yang akan menjaga anaknya.


Hingga sebuah dobrakan pintu mengagetkan semua, tiba tiba hening, pandangan Elizabeth kembali kabur, gelap. Deru nafasnya memburu, tidak tau lagi apa yang terjadi. Perih dan sakit sekujur tubuh.


"Ninaaaa..." Bibirnya mengeluarkan nama gadis kecil yang di rindukannya. Elizabeth terluka parah. Menyedihkan.

__ADS_1


Hai pembacaku yang baik. Apa novelku terlalu sadis? Tapi ciri khas novel San San memang begitu ya. Tapi yang penting happy ending. Jangan lupa Like Komen and Vote. GRACIAS😘😘


__ADS_2