
Julia terlihat kesal, mendengus dan sedikit bergumam, saat ini Nina tengah asik dengan televisi acara film kartun kesenangannya.
Nina memegang kantong kertas berisi cemilan yang di berikan oleh Matheo, dia sangat menyukai tortila aneka rasa sama seperti Elizabeth.
"Bukankah bibi Julia sudah memperingatkanmu, jangan sebut nama keluargamu, jangan katakan kalau kamu putri Elizabeth."
Nina menghentikan suapannya, wajahnya berubah masam, seakan menunjukkan kalimat protes.
"Tapi kenapa? Apa mama buruk?"
"Bukan seperti itu, ini demi kebaikan Nina dan mama."
Nina menganggukkan kepalanya, walaupun sebagai anak kecil dia belum bisa memahami situasi.
Sementara itu Kendrick sudah kembali ke kamar, berpapasan dengan istrinya tidak membuatnya damai, apalagi dengan sengaja wanita itu menggunakan gaun yang serba terbuka, tanda kepemilikan seolah di pamerkan.
Kendrick membiarkan kelakuan istrinya, bahkan dia bekerja sama bersama Matheo, membiarkan istrinya merasa menang untuk sementara waktu.
Festival mengejar banteng banyak di minati para penduduk. Di festival ini, peserta dikejar banteng yang berlari di antara jalanan kota.
Sebelum di mulai acara di meriahkan suguhan wine untuk para peserta kejar banteng. Bagai lautan bunga persik berwarna merah dan putih, para pengunjung basah oleh wine yang memadati jalanan Kartagena, suara para pengunjung sorak sorai dengan hadirnya seorang atlit pengejar banteng yang sudah menjadi idola. Sebagai pembuka festival kejar banteng di suguhkan kembang api dan ritual kusus peserta.
Hanya laki laki yang di ijinkan mengikuti pawai kejar banteng.
Di festival ini banteng dilepas di jalanan. Sang banteng pun berlari siap menerjang para peserta pawai yang memadati jalan. Dan peserta akan berlari menghindar dan menyelamatkan diri.
Teriakan tanda di mulainya pawai sudah di perdengarkan.
Para pencari hiburan dari seluruh penjuru dunia memadati balkon hotel.
Banteng mulai di lepaskan, para peserta yang berbaju putih dan berscarf merah mulai berlari meliuk liuk.
Leyton terlihat senang, beberapa kali tertawa jika salah satu peserta jatuh terkejar banteng. Kendrick selalu memperhatikan putra semata wayangnya yang sangat mirip dirinya.
"Kamu melihat apa?" Tanya Kendrick kepada Leyton.
"Siapa yang bersama paman Matheo?" Leyton menunjukkan arah di mana dua orang dewasa bersama anak kecil yang cantik berambut panjang, hidung mancung, mata biru.
"Kenapa paman Matheo terlihat sangat menyayanginya?"
"Oh gadis itu anak paman Matheo."
"Anak?"
Leyton bergumam. ' Sejak kapan paman Matheo memiliki anak?'
"Ya, anak. Kenapa? Sepertinya kamu tidak suka?"
"Tidak masalah."
Leyton mencoba tidak perduli dan acuh tak acuh. Tetapi dari ekspresi wajahnya dapat di tebak kalau Leyton merasa cemburu pada Nina, karena kedekatannya dengan Matheo.
__ADS_1
Selama ini Matheo sangat akrab dengan Leyton, bahkan tergolong paman terfavorit bagi Leyton.
Leyton seperti gigit jari melihat kebahagiaan mereka. Apalagi melihat mereka yang bercanda di atas balkon kamar hotel yang tak jauh dari kamar Leyton.
Tanpa sadar jari tangan Leyton mengepal, dia tidak suka dengan gadis yang tengah di pangku paman Matheo.
Menyadari Leyton dan Kendrick memperhatikannya, secara bersamaan Matheo dan Nina melambaikan tangan sambil tersenyum. Tetapi Julia mencoba menghalangi pandangan Kendrick dan Leyton dengan punggungnya. Kendrick di buat kesal dengan wanita Matheo.
Ada apa sih dengan Julia? Kenal saja belum lama, tapi sudah menunjukkan anti pati kepadaku. Awas saja kalau berani berniat buruk pada Leytonku, akan ku habisi nyawanya, tidak perduli dia kekasih Matheo. Tapi kenapa cara memandang Nina mirip sekali dengan Elizabeth. Bahkan lirikannya sama, keteduhan dan ingin selalu di lindungi, jika saja aku memiliki anak bersama Eli... Ahhh kenapa pikiranku seperti ini? Mana mungkin Elizabeth mau mengandung anakku, sedangkan selama ini aku menyiksanya.
"Papa." Panggil Leyton.
Tidak ada respon sama sekali.
"Papa! Papa!" Panggil Leyton berulang menyadarkan Kendrick dari lamunan.
"Ya Leyton."
"Kenapa paman Matheo tiba tiba memiliki anak sebesar itu?"
"Entahlah, kamu bisa menanyakannya langsung besok."
"Besok? Maksudnya kita akan menemui paman Matheo?"
"Ya, kamu senang."
Leyton tidak menjawab, memiliki rencana jahat dan pemikiran sendiri. Kendrick tidak mengetahui itu.
Kenapa Julia berusaha menghalangi saat Leyton melihat dari kejauhan kedekatan Nina dan Matheo? Julia terlalu protektif kepada Nina.
Awal kedatangan Julia ke kantor Matheo adalah sesuai pesan dan perintah dari Elizabeth, jika sesuatu terjadi pada dirinya ataupun Juan, Julia harus berusaha melarikan diri kepada Matheo. Pengacara eksentrik dan baik juga teliti.
Julia di tolak memasuki kantor Matheo karena belum ada appointment. Tentu saja staf kantor melarang Julia memasuki kantornya.
Hingga pada saat sudah putus asa, Julia menangis meraung raung di lobi kantor, hal itu menarik perhatian Matheo yang sedang rapat.
Matheo keluar dari ruang rapat kantor jaksa. Dia tidak mungkin mengabaikan teriakan wanita itu.
Awalnya Matheo hendak menyuruh petugas keamanan mengusirnya. Tapi tentu saja Julia tidak mau melewatkan kesempatan ini.
Dia langsung berteriak. "Elizabeth!"
Matheo mengurungkan niatnya, apalagi gadis kecil di sampingnya ketakutan dan menangis, karena usaha pengusiran yang di lakukan oleh para penjaga sedikit kasar.
Matheo menghentikan langkahnya, apa hubungan wanita ini dengan Elizabeth. Bagaimanapun juga sampai saat ini Kendrick belum menemukan wanita kesayangannya, demi menebus rasa bersalahnya.
Matheo berpikir dengan cepat.
"Katakan dengan cepat apa hubunganmu dengan Elizabeth, lima menit, kalau tidak pengawal akan mengusirmu sekarang."
"Dia Nina, putri Elizabeth!"
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lima menit, hanya dua kalimat yang membuat Matheo mengurungkan niatnya mengusir wanita ini.
"Masuk! Antarkan makanan, dua gelas air putih ke ruanganku sekarang." Teriak Matheo kepada sekretarisnya.
"Ikuti aku." Ucap Matheo kepada Julia. Ketakutan di wajah Nina belum mereda. Dia masih menyembunyikan wajahnya di dada Julia.
"Berikan padaku." ucap matheo, karena menyadari Julia yang bertubuh kecil terlihat kesusahan menggendong Nina.
Nina hanya menuruti sambil terisak. Lengannya sedikit membiru akibat cekalan bagian keamanan kantor. Pakaiannya robek di bagian punggung. Julia dan Nina masih ketakutan.
Sesampainya di dalam kantor Matheo, Matheo mempersilahkan duduk di sofa besar berwarna abu abu, meletakkan Nina di samping Julia.
Melepas jas yang di gunakannya dan di berikan kepada Julia, Julia sedikit tersentuh dan sentimentil, perlakuan Matheo mirip seorang kesatria perang, tapi kemudian pikirannya tersadar dan kembali memasang wajah kesal.
Seorang sekretaris wanita menyodorkan dua gelas air putih, Julia menghabiskan air putih itu hingga tandas.
Kekacauan ini mungkin saja bisa di hindari jika saja pegawai Matheo membiarkannya masuk.
Julia memeluk Nina dengan erat, kemudian memeriksa badan Nina dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Julia kepada Nina.
Nina menganggukkan kepalanya. Setelah memastikan Nina dalam keadaan baik baik saja. Julia membalikkan kepala, dia membuang pandangannya kepada Matheo yang tengah duduk di depannya sambil memegang dua buah gelas kosong, Matheo belum mendapatkan pencerahan apapun tentang ke duanya.
Merasa teriakan Julia menyebut nama Elizabeth adalah dugaan hanya untuk menyelamatkan diri.
"Apa lihat lihat? Pengecut, beraninya mengusir perempuan! Tidak tau ya kalau aku membawa anak kecil, main kasar!"
Matheo tidak sempat menjawab, Julia terus memarahinya masalah pengusiran tadi.
"Aku...."
"Aku apa? Tidak mengakui?"
"Tadi...."
"Tadi tadi apa?"
Matheo di buat gemas oleh Julia, mulutnya tak henti hentinya memarahinya. Hingga secara sepontan memasukkan satu buah anggur yang di suguhkan di atas meja.
'Pluk'
Buah anggur itu masuk ke dalam mulut Julia, seketika caci makinya berhenti dan Julia mulai mengunyah.
Julia tersadar setelah Nina berteriak.
"Paman jangan sakiti bibi!"
Trimakasih yang sudah setia menunggu Novelku. Jangan Lupa Like Komen and Vote.
Gracias
__ADS_1