
Rumah makan The Arturo adalah rumah makan termewah di bilangan komplek kota Bogota, restoran yang menyajikan makanan khas Amerika latin, Meskipun tempat ini terutama terkenal karena gaya barbekyu Argentina dan suasana pesta yang gila, sebenarnya rumah makan The Arturo memulai dengan masakan khas Kolombia dan sebagian besar hidangan klasik negri Kolombia. Tetapi setelah di beli oleh Kendrick, menu makanannyapun kian berkembang.
Kendrick menghabiskan biaya yang besar untuk merombak seluruh tampilan rumah makan, gaya klasik dan natural adalah pilihannya. Rumah makan dengan memiliki sebagian ruang terbuka.
Dekorasinya yang penuh warna meneriakkan budaya Kolombia Terletak di pusat kota dengan bangunan yang masih kuno, hingga menarik para wisatawan.
Matheo sudah memasuki rumah makan milik Kendrick, sesuai informasi yang di dapat dari pegawai rumah makan bahwa seseorang sudah menunggunya di meja tepat di samping kolam renang.
Matheo berjalan sesuai dengan arahan yang di katakan pelayan rumah makan. Dari belakang nampak seorang laki laki dan perempuan. Saat tiba di meja yang di tuju, betapa terkejutnya Matheo.
"Tuan Juan."
"Tuan Matheo." Ke duanya berjabatan tangan. Wajah Juan sedikit datar, ada bekas luka di pipinya. Tapi sama sekali tak mengurangi ketampanannya. Kemudian Matheo mengulurkan tangannya, menjabat tangan Elizabeth. Ada kekakuan di antara ke duanya. Tapi tidak dengan Juan.
"Bagaimana kabar anda hari ini? Tentunya baik bukan?" Tanya Juan kepada Matheo.
"Baik. Dan wanita di samping anda?" Tanya Matheo menyelidik.
"Pacar saya, dan kami akan segera menikah."
"Menikah?"
"Ya, setelah perwalian anak angkat kami beres, kita akan segera menikah."
Wajah Elizabeth berubah merah. Dia benar benar tidak tau kalau tujuan laki laki yang baru di temuinya berlaku seperti ini. Dan perwalian anak? Perwalian anak siapa? Jangan katakan kalau itu Nina. Elizabeth berubah tegang dan panik. Dari awal dia belum mengeluarkan suara sama sekali.
"Perwalian siapa?" Tanya Elizabeth.
"Anak kita? Sayang bagaimana kamu bisa lupa?" Ucap Juan, tangan kirinya berpindah ke pundak Elizabeth. Elizabeth menjadi semakin kikuk.
Matheo melihat ke duanya merasa muak, bagaimana bisa sahabatnya bisa tertipu dengan penampilan Elizabeth.
"Maaf tuan Matheo bisakah saya bicara berdua saja dengan tuan Juan." Ucap Elizabeth sedikit terbata.
"Silahkan." Ucap Matheo.
Elizabeth dan Juan berjalan menjauh dari Matheo, mencari tempat yang tenang untuk berbicara.
"Apa maksudnya? Jangan katakan anda menjadi wali Nina!"
"Bukankah saya sudah menyampaikannya lewat asistenku. Buat Kendrick secepatnya jatuh cinta padamu."
"Aku sudah berusaha. Tuan Juan, tolong jangan lanjutkan ini."
"Tentang perwalian? Tergantung, jika kamu bisa cepat mendekati Kendrick aku akan membatalkannya."
__ADS_1
"Aku janji."
"Bukankah kamu lebih senang, aku bisa membantumu lebih dekat dengan Kendrick. Dan tentunya membantumu membuat Kendrick cemburu."
"Tapi dia bukan Kendrick, dia hanya sahabatnya."
"Kamu jangan bodoh, bukan hanya telinga yang bisa mendengar, dan mata yang melihat. Tembok tanpa jiwa saja memiliki indra untuk menyampaikan berita ini. Tunggu saja betapa marahnya dia nanti. Dan ingat kamu tidak boleh jatuh cinta padanya."
Ucap Juan setengah mengintimidasi, ujung jari jarinya menyapu rambut Elizabeth, merapikan dan mengusap anak keringat yang ada di dahi wanita itu dengan sapu tangan miliknya. Siapapun yang melihatnya menganggap ke duanya adalah sepasang kekasih. Tak terkecuali dengan Matheo.
"Baik, aku akan bicara pada tuan Matheo, agar menunda rencana ini. Dan jika satu minggu ini kamu tidak bisa memberiku kabar baik, maka jangan salahkan perwalian Nina jatuh ke tanganku. Paham?"
Elizabeth menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Tiga jam sebelumnya, saat Elizabeth di jemput dengan mercedes hitam hatinya merasa tidak tenang, pria tampan berambut warna warni, dengan sedikit luka bekas sayatan di pipinya.
Gaun malam berwarna hitam pemberian Juan di kenakan Elizabeth begitu pas menempel di tubuhnya. Elizabeth memasuki mobil Mercedes hitam dengan perasaan takut dan cemas, seperti apa wajah orang yang sudah menindasnya. Seorang laki laki yang biasa menemuinya dan di kenalnya sebagai suruhan Mr X, membukakan pintu mobil untuknya. Mempersilahkan masuk dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Nona Eli, senang bertemu lagi dengan anda."
Elizabeth membalas hanya dengan sedikit senyuman, dia sama sekali tidak senang dengan keadaan ini. Elizabeth terlihat semakin tertekan.
Elizabeth memasuki mobil Mercedes itu, pertama kali yang di lihatnya adalah rambut laki laki yang terlihat aneh, warna biru elektrik, wajah orang itu menghadap ke arah kaca mobil. Salah satu kakinya di silangkan di atas kaki yang lainnya. Dia sama sekali tidak memperdulukan kedatangan Elizabeth. Ke duanya duduk berjauhan. Cukup lama tidak ada suara yang ke luar dari mulut ke duanya.
"Tidak usah takut dan menjauh, asal kamu tidak melakukan kesalahan, aku akan cepat membebaskanmu dan Nina."
"Kita akan ke mana?"
"Nanti kamu juga akan tau."
"Apa yang aku lakukan, dan pakaian seperti ini?"
"Sesuatu yang membuat dirimu senang."
"Tapi, teka teki kadang berdampak buruk. Bisakah anda menunjukkan tujuan kita ke mana?"
"Tidak usah takut, aku hanya memintamu menganggukkan kepala jika aku perintahkan, paham?"
Laki laki yang baru di temuinya kali ini begitu dingin, yang pasti di setiap pembicaraannya sangat tidak menyukai Kendrick, kemarahan dan dendam, luka apa yang di deritanya, antara ke duanya hanyalah rahasia semata.
Awal keduanya bersikap kaku dan tidak bersahabat. Lelaki misterius itu masih saja belum memperkenalkan dirinya. Perjalanan tidaklah terlalu jauh namun jalur yang di tempuh merupakan kawasan dengan lalu lintas yang cukup padat merayap.
"Namaku Juan."
Elizabeth tidak menjawab ucapan lelaki yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Aku hanya perduli mengapa anda menahan Ninaku. Itu saja, selebihnya aku tidak perduli. Bukankah kita tidak ada hubungan sama sekali?"
"Jangan terlalu naif, pada waktunya kamu akan perduli siapa aku, dan ada hubungan apa di antara kamu dan Kendrick."
"Kalau ini tentang Kendrick atau selebihnya, atau mungkin juga tentang balas dendam. Apapun itu bentuknya aku tidak perduli. Kamu salah alamat, aku dan Kendrick tidak ada hubungan sama sekali."
"Bagaimana kalau aku membuatnya ada."
"Maksud anda?"
Juan tidak melanjutkan pembicaraan itu, dia membiarkan Elizabeth dengan rasa penasaran.
Pertemuan dengan Matheo yang sudah di rencanakan oleh Juan sejak awal berjalan sesuai rencana. Dan akhirnya Elizabeth merasa di permainkan.
*****
Elizabeth kembali ke tempat duduk, sementara itu Juan berjalan di belakangnya.
Ketegangan di wajah Elizabeth, berbanding terbalik dengan tabiat Juan.
"Trimakasih tuan Matheo, sudah setia menunggu kami berunding. Sesuai kesepakatan antara saya dan tunangan saya. Kami tidak jadi melanjutkan hak perwalian anak angkat kami. Saya mohon maaf."
"Tidak masalah, tentunya anda sangat mencintai tunangan anda, hingga keputusan bukan di tangan anda. Lalu kuwajiban apa saya harus menemui anda, bukankah lebih baik saya tidur di apartemen dan tidak perlu mendengarkan masalah anda berdua."
"Maaf, sekali lagi saya minta maaf. Sebagai gantinya, bisakah anda memperkenalkan saya dan tuan Kendrick, saya tertarik berbisnis dengan dia."
"Tidak!" Ucap Elizabeth di tengah pembicaraan. Baik Matheo ataupun Juan saling memandang. Wajah Elizabeth kian menegang.
"Baik, lalu apa keuntungan buat saya? Tentunya segala usaha pasti ada hasil, dan bukankah anda berkewajiban mengganti waktu saya yang terbuang."
Ucap Matheo berusaha menggertak.
"Saya tau anda mencalonkan diri sebagai kepala asosiasi hukum di pemerintahan. Saya bisa membantu anda."
"Akan saya pikirkan." Ucap Matheo tegas.
"Anda begitu pintar." Juan mencoba memuji untuk menjatuhkan.
"Matheo, aku mohon. Berhenti sampai di sini. Kamu tidak tau dengan apa yang akan kamu hadapi." Bujuk Elizabeth.
"Wanita saya benar benar penuh pertimbangan. Ayo sayang kita pulang. Setelah ini kemasi barangmu kita ke istanaku ok."
Ucapan Juan begitu mengejutkan ke duanya. Terutama Elizabeth, apa maksud Juan sebenarnya. Bukankah seharusnya dirinya mendekati Kendrick? Kenapa malah menghentikannya sampai di sini?
Hmmm Jakarta PPKM lagi, jangan lupakan prokes. Semoga kita selalu di lindungi Allah. Amiiin. Trimakasih
__ADS_1