
Tidak ada yang bisa menghindari takdir, apalagi menghadang nasib baik. Semua sudah di gariskan oleh sang maha pencipta. Di saat kekalutan terjadi pada sang kepala mafia, putra kebanggaannya harus berada di ruang perawatan.
Terjadi malapetaka pada Elizabeth, janin yang seharusnya di lahirkan di awal bulan depan terpaksa harus di lahirkan sekarang.
Elizabeth terjatuh dari tangga rumah sakit, kejadian itu benar benar di luar kendali.
Awalnya Elizabeth berniat melihat kondisi Leyton, sikap diam Kendrick dan perasaan bersalah membuat Elizabeth semakin terpuruk. Diam diam tanpa sepengetahuan Marco dan para pekerja di kastil barat, Elizabeth pergi ke rumah sakit besar Kolombia dengan menaiki taxi.
Akhir akhir ini Elizabeth sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, perasaan bersalah pada Leyton semakin menusuk jantungnya.
Kedatangan Elizabeth benar benar tidak ada yang mengetahui. Di depan ruang rawat Leyton, Elizabeth berjalan mengendap endap, matanya nyalang ke sana kemari, memastikan keberadaan seseorang. Ternyata di dalam ruang rawat hanya ada Leyton seorang diri, Leyton tengah memainkan sebuah kubus warna warni atau yang di sebut rubik, rubik pemberian Elizabeth tempo hari sebelum Leyton di nyatakan sakit.
Dengan langkah kaki yang tertatih, Elizabeth mendekati Leyton, memeluk dan mencium. Menyadari seseorang dengan aroma tubuh yang sangat di kenali tengah memeluknya, seketika Leyton menangis, demikian juga Elizabeth.
"Bibi Eli, aku sudah menjaga Nina sesuai janjiku, kenapa kamu meninggalkan aku? Apa kamu marah karena aku sudah memukul anak yang mengganggu Nina?"
Elizabeth tidak menjawab, hanya terdengar suara isak tangis. Butiran kristal membasahi wajah Leyton, tubuh kurus dan menghitam, mata yang cekung dan bibir memucat.
"Maafkan bibi, bibi tidak marah." Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Elizabeth.
"Lalu mengapa bibi Eli tidak datang menjagaku?"
"Maafkan bibi, bukankah sudah ada mama? Bibi harus menemani Nina ke sekolah, kalau Leyton sembuh tentu Leyton yang akan menjaga Nina, kamu harus berjanji untuk sembuh ok!"
"Tapi badan Leyton sakit. Leyton tidak kuat."
"Harus kuat, ini hanya sementara, dokter akan menemukan obatnya."
"Tapi kata mama, sakit Leyton tidak akan ada obatnya dan pasti akan mati. Kata mama, Leyton tidak berguna." Nada suara Leyton dengan putus asa, menatap wajah Elizabeth berharap mendapatkan jawaban yang bisa menghiburnya.
__ADS_1
"Tidak, jangan percaya! Leyton pasti sembuh. Bibi akan mencari obatnya walaupun harus menukar dengan apapun!"
Keduanya kembali saling berpelukan, Leyton menangis, untuk kali ini Elizabeth menahan air matanya.
'Kenapa sesakit ini saat aku melihat kondisi Leyton, apa karena dia adalah keponakanku? Tapi kenapa aku tidak rela saat Leyton memanggil aku dengan sebutan bibi?' Batin Elizabeth.
"Bibi Eli, jika aku benar benar sembuh. Bolehkan aku memanggilmu dengan sebutan mama?"
"Kenapa harus bertanya? Kamu bisa memanggilku dengan sebutan apapun, yang penting kamu sembuh. Lagi pula kita sudah mengatakan ini sebelumnya?"
"Ya, tapi mama melarangnya, tapi kali ini aku tidak perduli. Bibi Eli aku merindukan kamu."
Tangan Leyton yang kecil itu mengusap pipi Elizabeth, air mata tumpah tak bisa tertahankan lagi. Elizabeth menggigit bibir bawahnya menahan luapan emosi, tapi gagal. Harusnya dia tegar, untuk apa dia datang kalau hanya menambah kesedihan Leyton.
"Kamu belum makan bukan? Bubur tepung sepertinya enak, bibi akan menyuapimu."
Leyton menganggukkan kepalanya. Elizabeth mengangkat mangkuk berisi bubur hangat dan kemudian meniupnya pelan pelan, Leyton menerima suapan Elizabeth.
"Hmmmm." Jawab Elizabeth. Elizabeth mengambil air putih kemudian di serahkannya pada Leyton, Leyton meminumnya sedikit.
"Bibi Eli, bagaiman kalau Leyton mati?"
"....." Elizabeth bungkam, tidak tau harus menjawab apa. Tapi dia tetap memcoba tersenyum.
"Tidak akan ada yang mati! Kamu harus hidup sehat, ingat janjimu untuk menjaga Nina, dan bayi dalam perut."
"Bibi Eli, Leyton lelah. Leyton ingin tidur." Leyton menarik selimut untuk menutupi kakinya, kemudian berbaring. Rubik hadiah dari Elizabeth masih di genggamnya. Tak berapa lama akhirnya Leyton benar benar tertidur. Elizabeth menaikkan selimut itu, agar menutupi seluruh tubuh Leyton, batinnya sedih, anak sekecil Leyton harus menderita sakit tapi di tuntut berpikir dewasa.
Elizabeth meletakkan mangkuk berisi sisa bubur ke atas nakas. Kemudian Elizabeth memutari brankar dan duduk di samping Leyton, dia tau kalau saat ini Eva yang seharusnya menemani Leyton, tapi setelah di tunggu lama belum juga nampak batang hidungnya.
__ADS_1
Sesekali perawat yang di tugaskan kusus untuk menjaga Leyton masuk untuk melihat cairan infus yang menempel pada tangan Leyton.
Elizabeth harus bergegas pulang, sebelum seseorang menyadari kepergiannya. Tapi saat mengingat akhir akhir ini Kendrick jarang memperdulikannya hatinya sedikit lega.
Setelah di rasa Leyton benar benar tertidur pulas, Elizabeth meninggalkan ruang rawat Leyton, langkahnya setengah berjinjit agar tidak mengganggu tidur Leyton.
Baru saja membuka pintu, langkah kakinya di hentikan oleh seseorang, cekalan tangan itu sangat keras bahkan membuat kulitnya membiru.
"Apa yang kamu lakukan di sini!" Bentak Eva, dia mencakarkan kukunya ke kulit tangan Elizabeth. Elizabeth tidak sempat menghindar, dia hanya mengikuti tarikan Eva.
"Aku melihat kondisi Leyton, lalu dari mana saja kamu? Bukanlah kamu jarus menjaganya?" Bantah Elizabeth, dia tidak menyukai sikap Eva yang seperti ini. Seorang ibu yang menjaga anaknya dengan dandanan yang super sempurna. Di tambah tercium bau alkohol ketika Eva mengucapkan kata kata.
"Apa perdulimu? Kamu tidak berhak mengatur, lagi pula masih ada perawat bayaran." Jawab Eva kasar.
"Perawat bayaran? Kamu bukan ibu yang bertanggung jawab!"
"Apa perdulimu? Leyton putraku dan Kendrick! Kamu tidak berhak mengaturku! Atur anak harammu Nina yang sudah menyulitkan Leyton."
Elizabeth mengepalkan tangannya, ingin rasanya menampar kakaknya tapi tentunya dia harus memikirkan kondisi kandungannya. Elizabeth tidak mau memancing kemarahan Eva.
Baru saja Elizabeth hendak meninggalkan Eva, tapi kalimat Eva menghentikan langkahnya.
"Apa kamu tau obat untuk Leyton yang di katakan Kendrick?"
Elizabeth menghentikan langkahnya tanpa menolehkan kepalanya. Penasaran? Tidak! Elizabeth hanya ingin memastikan kesombongan apa lagi yang akan di katakan Eva.
"Tali pusar bayi, dan bayi itu hanya bisa di dapat dari ayah dan ibu kandungnya. Kamu tau artinya? Aku dan Kendrick harus melakukan hubungan intim, ternyata sakitnya Leyton Memberi keuntungan buatku." Ucap Eva di selingi tawa menghina.
Elizabeth sangat terprofokosi, bukan karena kalimat melakukan hubungan intim, tapi keuntungan dari penyakit Leyton, darah Elizabeth mendidih. Elizabeth membalikkan badannya, mengangkat tangan, dan menjatuhkan telapak tangannya tepat di wajah Elizabeth.
__ADS_1
Eva terpelanting ke samping, seketika pipinya membekas tanda lima jari. Merasakan sakit dan malu, Eva membalas tamparan Elizabeth, dan lebih keras. Kondisi Elizabeth yang hamil besar, tentu membuatnya lemah, di tambah dia berdiri tepat di samping tangga, Elizabeth jatuh tepat di ujung tangga, kakinya tergelincir. Tubuhnya terpelanting dan menggelinding hingga melewati lima belas anak tangga. Darah tercecer di lantai.
Melihat pemandangan seperti itu, Eva merasa takut, memastikan tidak ada yang melihatnya, kemudian dia lari ke dalam kamar rawat Leyton.