
Ancaman Juan adalah gertakan sambal, sang penguasa kartel tidak goyah sama sekali. Mengetahui putra semata wayangnya dalam keadaan baik baik saja tentu sebagai orang tua merasa tenang. Tidak memikirkan lagi ucapan Juan. Menganggap ucapan Juan isapan jempol semata.
Barang dan uang yang di cari Juan dalam keadaan baik dan aman. Elizabeth sudah mencari di pelosok D'Oreon, ataupun kantor pusat Kend Grup tentu saja tidak di temukan. Semua pencariannya tanpa hasil. Tentu saja hasilnya sia sia karena sebenarnya Kendrick menyimpannya di tempat yang aman.
"Bagaiman? Apa barang itu masih aman?" Tanya Kendrick kepada Marco. Marco adalah orang kepercayaan Kendrick, mengenai ke dua barang itu tentu Marco penanggung jawabnya.
"Tidak berpindah, masih di tempat semula dan aman."
"Hmmm." Kendrick merasa puas, bagaimanapun dengan menyembunyikan uang dan barang haram itu adalah di anggapnya merupakan jalan teraman.
Sekretaris He berdiri dan menunggunya sedari tadi. Perintah mengalihkan saham lima persen untuk Leyton adalah atas permintaan Kendrick. Tentu saja di tanggapi oleh istrinya dengan gembira. Saham lima persen adalah hadiah ulang tahun untuk putra kesayangannya.
Karena masih di bawah umur maka Leyton masih memerlukan pendamping kuasa hukum yaitu ibu, istri dari Leyton.
"Surat surat sudah siap, berkas yang di perlukan sudah lengkap." Ucap sekretaris He. Untuk urusan berkas perusahaan Kendrick mengandalkan sekretaris He.
"Bagaimana dengan Matheo, apa dia sudah berada di ruangan."
"Sepertinya belum, tapi para direksi sudah menunggu di ruang rapat." Jawab Marco.
"Tapi tuan Leyton dan nyonya sudah berada di tiba. Mereka berada di ruang sekretaris."
"Apa sudah lama, bawa Leyton kemari?"
"Baik." Jawab Marco singkat, sejujurnya Marco tidak menyukai majikan perempuan, karena kesombongan dan angkuhnya. Tetapi bagaimanapun juga wanita itu adalah istri pemilik Kend Grup.
Leyton bersama wanita itu memasuki ruangan Kendrick, senyum dan wajah penuh kepura puraan di tampilkan oleh wanita itu. Kendrick sama sekali tidak suka. Hanya saja di depan Leyton dia harus menunjukkan keharmonisan.
Leyton tidak pernah banyak bicara, walaupun dia mengerti saham yang di berikan papanya adalah sebagai hadiah ulang tahun untuknya. Menganggap hal itu bukanlah sesuatu yang istimewa.
Leyton hanya meletakkan tubuhnya di sofa, menyapa Kendrick dengan ucapan yang singkat 'Hay Papa'.
__ADS_1
Tetapi berbanding terbalik dengan wanita itu, dia berjalan tanpa bisa menahan diri. Langkahnya begitu gemulai dan menggoda. Ketika dia bicara tidak ada satu orangpun yang tidak akan terpukau kecuali Kendrick dan Marco. Kendrick menganggap istrinya adalah rubah betina, tetapi sebagai wanita yang sudah melahirkan Leyton, tentu saja dia akan memberikan wanita itu tempat yang pantas.
Apa yang di lakukan wanita ini? Menjijikkan!
Tidak ada yang menarik dari wanita di depannyanya selain dia adalah ibu dari Leyton. Kendrick sama sekali tak tergoda. Wanita itu tidak berhasil mendekati Kendrick semua usahanya sia sia, kecuali satu yang sukses dalam usahanya, yaitu menjelek jelekkan nama Elizabeth.
Dari semua masalah ataupun ucapan yang di ucapkan dan sampai di telinga Kendrick, hanya satu yang di percanya. Tentang kejelekan Elizabeth.
Matheo sudah tiba di ruang rapat, Kendrick tengah menggandeng Leyton berjalan menuju ruang rapat di ikuti oleh wanita rubah kemudian di susul Marco dan sekretaris He.
Rapat penyerahan saham untuk Leyton berjalan cepat dan Lancar. Walaupun ada yang tidak di mengerti oleh Leyton namun wajah bocah itu terlihat bangga dan senang. Sementara itu wanita rubah yang duduk di samping Leyton juga terlihat sombong, bahkan menunjukkan sifat aslinya, tidak bersikap ramah kepada siapapun.
"Kendrick trimakasih sudah menghadiahkan Leyton saham lima persen. Kedepannya aku berharap bisa ikut andil di dalamnya." Ucap perempuan itu. Yang di maksud andil di dalamnya adalah pembagian saham untuk dirinya. Kendrick tidak memperdulikan, menganggap ucapan istrinya adalah tidak masuk akal.
"Tutup mulutmu, dan sadar di mana kamu saat ini berada." Ucap Kendrick mencoba mengingatkan istrinya. Karena memalukan baginya seorang istri ikut campur dalam pekerjaannya. Di tambah tidak ada kontribusi apapun di perusahaan itu. Bagi Kendrick cukup Leyton yang berhak mendapatkan semuanya." Wanita itu langsung terdiam, untung saja Kendrick mrngucapkan setengah berbisik jadi tidak ada satupun yang mendengarnya.
Di tempat lain di waktu yang sama, Elizabeth berhasil melarikan diri atas bantuan seseorang yang di perintahkan oleh Juan, sayangnya belum juga dia mencapai pintu besar D'Oreon seorang pekerja melihat dirinya. Tentu saja mereka langsung menangkap Elizabeth, dan orang suruhan Juan di tembak di depan mata Elizabeth, orang itu menggelepar meregang nyawa, kepala tertembus peluru panas, peluru yang di muntahkan dari pistol milik salah satu penjaga.
"Kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini."
Teriak Elizabeth, air matanya membasahi ke dua pipinya. Di depan matanya sesosok mayat laki laki terbaring bersimbah darah.
"Ini tugas saya." Ucap salah satu pengawal.
Elizabeth mencoba melarikan diri dan meronta, tetapi ke dua tangannya di pegang erat oleh ke dua orang pengawal.
"Lepaskan!"
"Nona lebih baik anda kembali ke dalam, kami akan membereskan kekacauan ini."
Belum selesai mereka berdebat, bahkan Elizabeth masih meronta. Marco datang tepat pada waktunya.
__ADS_1
"Lepaskan!" Ucap Marco tegas.
Suasana tidak menjadi hening, Elizabeth kian murka, mencoba mendekati Marco dan hendak menampar wajahnya. Namun dengan cepat Marco menangkap tangan itu.
"Nona, sebaiknya anda jangan seperti ini."
Seketika Elizabeth berhenti, dia menatap wajah Marco, rambut yang acak acakan, mata bengkak, pipi basah oleh air mata, Elizabeth sangat terpukul.
"Kamu! Kamu tau kan kalau Kendrick sudah mengusirku? Kenapa dia malah membunuh orang yang tidak berdosa dan masih menahanku?"
"Nona, sabar. Kenapa anda tidak pergi dengan terus terang? Kenapa harus sembunyi sembunyi? Bahkan membayar orang untuk membebaskan anda. Bukankah anda tau kalau bos Kendrick mengijinkan anda pergi dengan satu sayarat. Anda tau itu!"
Ucapan Marco tentu saja Elizabeth memahami.
"Marco! Aku tak menyangka kamu berubah seperti ini. Apa salahku padamu? Atau kamu menyalahkanku atas kematian Santa? Baik kalau begitu lebih baik aku menuruti tuanmu. Katakan pada tuanmu 'Jangan menyesal' Kamu juga akan menyesal karena memperlakukan aku begini." Ucap Elizabeth ber api api. Itu ancaman Elizabeth yang sanggup dia ucapkan saat ini.
"Maafkan aku, tapi memang itu peraturan dari bos."
Elizabeth tiba tiba menurunkan badannya, meletakkan ke dua lutut dan tangannya di lantai porselin, banyak tekanan dalam dirinya. Posisi itu tentu saja sangat dekat dengan mayat. Tidak menakutkan lagi!
Saat ini Elizabeth hanya menaruhkan tindakan ini, demi sebuah harapan membuka mata Kendrick di kemudian hari.
"Katakan pada majikanmu, aku sudah merangkak, melakukan apa yang di perintahkan dan aku harap kedepannya tidak ada hubungan lagi dengan dia, aku anggap dia mati selamanya. Katakan jangan menyesal."
Kemudian Elizabeth benar benar merangkak menuju ke luar gedung dan bahkan melewati area parkir. Untung saja ini siang hari, sehingga club belum di buka. Malu? Sudah tidak ada lagi. Kesakitan karena penghinaan, luka di telapak tangan maupun lututnya.
Lutut itu mulai mengeluarkan darah, bahkan jejaknya meninggalkan bekas berbentuk bulat, demikian juga kulit tangannya sudah mulai terkelupas. Kerikil kerikil tajam itu seolah mengolok dirinya.
Marco sebenarnya tidak tega, bagaimanapun juga Elizabeth baik pada dirinya.
"Tolong, anda menyerahlah. Dan katakan permohonan maaf pada bos Kendrick."
__ADS_1
Elizabeth mendengar itu hanya bisa mencibir. Meminta maaf? Salahnya di mana? Elizabeth terus maju, kepalanya menunduk menahan sakit. Air matanya tak berhenti mengalir. Menggigit bibir bawahnya demi menahan sakit.